Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Jatuhkan Talak, Saat Ini Juga!


__ADS_3

Sepuluh bulan lamanya terbaring di ranjang rumah sakit, kini Mahesa sudah dapat menghirup kembali segarnya udara di sekitar rumah yang selama puluhan tahun ditinggalinya saat ia masih lajang dulu. Ditemani Putra dan istri sirinya, Mahesa masuk ke dalam bangunan megah berlantai dua yang ada di komplek perumahan elite.


Jika dulu saat pertama kali masuk ke dalam bangunan itu disuguhkan oleh guci antik kuno dengan harga milyaran rupiah, kini digantikan oleh frame foto berukuran 20×24 yang di senderkan ke dinding berwarna putih. Melangkah masuk ke ruangan keluarga, banyak lukisan karya seorang seniman terkenal serta  barang-barang mewah lainnya sudah tak ada lagi di tempat. Semua barang itu telah habis dijual demi membiayai biaya perawatan Mahesa selama di rumah sakit.


Hati Mahesa terasa disayat oleh sebilah pisau tajam. Rumah megah serta barang-barang berharga yang sempat diagungkan oleh sang mama sudah raib tak tersisa. Padahal dulu, di setiap sudut ruangan terdapat tiga hingga empat buah barang mewah yang sengaja dipajang agar membuat siapa saja yang datang merasa iri akan kejayaan keluarga Adiguna. Akan tetapi, kejayaan, kesombongan serta keangkuhan para penghuni rumah itu telah kandas bersamaan dengan kebangkrutan yang dialami oleh perusahaan.


"Papa ...." Hanya kalimat itu yang mampu diucapkan oleh Mahesa saat melihat ruangan yang biasa digunakan untuk berkumpul bersama keluarga nyaris tak ada furnitur mewah seperti dulu.


Tersenyum ikhlas tanpa merasa menyesal karena sudah menjual hampir sebagian harta berharga di rumah itu. "Tidak masalah, Nak. Papa rela melakukan apa pun asalkan kamu sembuh. Kalau saja nyawa ini dapat dijual dengan harga ratusan milyar, sudah Papa jual sebelumnya."


"Namun, rupanya nyawa ini tidak laku dijual. Jadi, Papa menjual apa saja yang sekiranya dapat menghasilkan uang." Terkekeh pelan, menyembunyikan perasaan bersalah karena menjual harta peninggalan berharga milik kedua orang tuanya.


Kayla yang melihat situasi berubah melow, segera menginterupsi kedua lelaki itu. "Papa, apa tidak sebaiknya kita bawa Mas Mahesa masuk ke dalam kamar. Dia baru saja keluar rumah sakit, dan pasti butuh istirahat yang cukup."


"Mbok, tolong kamu bawakan koper Dek Mahesa ke dalam kamar," pinta Putra pada seorang ART yang masih dipertahankan untuk bekerja di kediaman Adiguna. Sedangkan sisanya sudah diberhentikan karena sang empunya rumah tak lagi mampu menggaji mereka.


Dengan patuh wanita paruh baya itu mengangguk kepala. "Baik, Pak Putra. Segera saya laksanakan."


Mahesa duduk manis di atas kursi roda dengan Kayla di belakangnya. Sementara Putra berjalan di samping kursi roda sang anak.


Sementara waktu, Mahesa akan tinggal di kamar tamu untuk memudahkan Putra, Kayla maupun asisten rumah tangga saat hendak membawa pria itu pergi check up jalan dan melakukan terapi.


"Hati-hati, Mas!"


Kayla membantu tubuh Mahesa naik ke atas tempat tidur. Ruangan yang tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk ditinggali berdua oleh pasangan suami istri itu. Mantan model itu menyusun beberapa bantal di punggung agar Mahesa nyaman saat duduk.

__ADS_1


Sedangkan Putra tampak tersenyum tipis melihat bagaimana Kayla dengan telaten mengurusi Mahesa. Walaupun kedekatan mereka diawali oleh sebuah kesalahan, tetapi setidaknya kesalah itu dapat dijadikan pembelajaran oleh semua orang.


"Aku akan minta si Mbok membuatkan wedang jahe dan kopi untuk Papa." Sebelum beranjak dari kasur, Kayla menyelimuti bagian paha hingga ke ujung kaki. Setelah itu barulah ia melangkah keluar kamar.


"Papa bahagia karena akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat untuk melepaskan Arumi hidup bahagia bersama dengan Dokter Rayyan. Papa yakin, kelak hidupmu pun akan bahagia bersama Kayla."


Pria paruh baya itu tersenyum kecil, merasa kini hatinya lebih lapang setelah mendengar bahwa Mahesa memilih mundur dan mencoba mengikhlaskan mantan istrinya 'tuk hidup berbahagia dengan suaminya yang baru. Bersyukur karena Tuhan telah membuka mata hati anaknya tercinta untuk melepaskan apa yang sudah bukan lagi menjadi milik Mahesa.


Mahesa mengembuskan napas kasar. "Mana mungkin aku hidup bahagia bersama orang yang tidak kucintai, Pa. Papa 'kan tahu, kalau di hatiku ini masih ada Arumi. Walaupun aku sudah merelakan dia bersama si Berengsek, bukan berarti nama mantan istriku itu hilang dari dalam hatiku. Selamanya, aku 'kan terus mencintainya."


"Mahesa, kenapa tidak kamu coba belajar mencintai Kayla lagi, Nak! Bukankah dulu kamu pernah mencintai wanita itu?" Putra duduk di tepian ranjang, lalu memperhatikan air muka Mahesa yang berubah murung.


"Benar, aku dulu pernah mencintai Kayla. Namun, rasa cintaku kepada wanita itu tidak sebanding dengan rasa cintaku kepada Arumi. Posisi wanita itu hanya 10% saja di dalam hatiku, sisanya untuk Arumi. Terlebih saat itu Kayla sedang mengandung anakku, jadi ya kadar cintaku kepadanya bertambah 5%."


"Lantas, setelah Kayla mengalami keguguran dan rahimnya diangkat, kamu sudah tak mencintainya lagi?"


Dengan cepat Mahesa menjawab, "Tidak, Pak. Rasa cintaku kepada Kayla sudah hilang. Meskipun dia begitu setia menjagaku saat dirawat di rumah sakit, tetapi hatiku hanya untuk satu wanita dan itu bukan Kayla."


"Aku sempat berpikir, untuk berpisah dengan Kayla. Terlebih pernikahan kami dilakukan karena saat itu dia sedang hamil. Kini, bayi itu telah menghilang jadi tidak ada alasan bagiku untuk terus bersamanya."


"Mahesa!" pekik Putra. Suara bariton pria itu tercekat di tenggorokan. Tak pernah sekalipun berpikir kalau anaknya itu akan menjadi duda 'tuk kedua kali. Meskipun status pernikahan dengan Kayla siri, tetap saja Mahesa akan menduda kembali.


"Kenapa, Pa?" tanya Mahesa dengan meninggikan nada suaranya. "Aku sudah enggan hidup berumah tangga dengan Kayla. Dia bukanlah wanita baik, tidak pantas 'tuk dijadikan sebagai seorang istri."


"Tapi dia yang selalu mendampingimu di saat Papa dan Mama tidak bisa datang ke rumah sakit," ucap Putra lirih.

__ADS_1


Mahesa berdecak kesal. "Ck! Hanya karena itu, Papa memintaku terus bertahan dalam pernikahan yang sama sekali sudah tidak ada rasa cinta di dalamnya, begitu? Pria itu menggelengkan kepala. "Itu artinya Papa egois. Memaksakan kehendak kepadaku."


"Aku tidak yakin, apakah Papa akan tetap memuji Kayla setelah tahu bagaimana sifat dia yang sesungguhnya." Mahesa menjeda kalimatnya sejenak, lalu mengingat kembali setiap kalimat yang diucapkan oleh wanita itu. "Saat aku koma, dia banyak bercerita kepadaku. Termasuk kesalahannya yang telah dengan sengaja memfitnah Arumi agar aku semakin membenci wanita itu."


"Dan bukan cuma itu saja, dia juga sengaja mengirimkan pesan kepada Arumi. Meminta mantan istriku datang ke hotel dan menyaksikan bagaimana pergulatan kami di atas ranjang. Apakah wanita seperti dia bisa dikatakan wanita baik? Sedangkan hatinya telah dipenuhi oleh kebencian yang mendarah daging."


"Pa, aku tidak mau lagi hidup bersama dengan wanita jahat sepeti dia. Terlebih lagi, kini dia sudah tak bisa memberikanku keturunan. Jadi, untuk apa lagi dipertahankan."


"Mahesa!" Putra kembali berteriak di hadapan ananknya. Sungguh, sikap Mahesa setelah tersadar dari koma sering sekali membuatnya naik pitam. Semua kemarahan dalam diri pria itu berkumpul di satu titik pusat. Semakin lama semakin membuat kepalanya mau pecah.


"Aku berkata jujur. Daripada rumah tanggaku tidak bahagia, lebih baik bercerai. Aku ingin menjalani kehidupanku yang baru tanpa ada bayangan masa lalu. Jika terus bersama wanita itu, aku 'kan terus merasa bersalah pada Arumi." Mahesa mengutarakan apa yang ada dalam hati, berharap agar Putra mengerti mengapa ia tak mau meneruskan pernikahan sirinya bersama Kayla.


"Nak, tapi kamu tahu, Kayla itu tulus mencintaimu. Dia rela menggelontorkan banyak uang asalkan bisa bertemu denganmu di rumah sakit."


Saat dokter Samuel mengatakan bahwa hanya Arumi-lah satu-satunya wanita yang dapat membantu Mahesa tersadar, di situlah dokter senior itu bercerita jika selama ini Kayla secara diam-diam menemui Mahesa tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Wanita itu bahkan rela menguras saldo rekening agar dapat menutup mulut orang-orang yang saat itu tengah bertugas.


"I don't care! Aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Kayla dan menjatuhkan talak padanya." Tekad Mahesa sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. Lelah, ia ingin bisa sepenuhnya lepas dari bayangan masa lalu. Ia sudah terlepas dari Naila dan kini saatnya melepaskan ikatan pernikahan dengan Kayla. Setelah itu, barulah ia hidup tenang sambil menikmati penyesalannya.


"Tidak perlu mencari waktu yang tepat. Jika kamu mau, jatuhkan talak saat ini juga kepadaku!" seru Kayla yang tengah berdiri di ambang pintu. Bola mata berkaca-kaca, cuping hidung kembang kempis. Bibir gemetar, menahan isak tangis agar tak menggema memenuhi penjuru ruangan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2