
Bola mata dokter Helen bergerak kala membaca setiap kalimat yang tertulis di kertas berwarna putih itu. Kemudian berhenti tepat di saat sebuah pernyataan dari rumah sakit yang menyatakan bahwa hasil kemoterapi pasien dinyatakan ... gagal.
Dokter senior itu menatap wajah pasiennya yang tampak gelisah dan pucat. Apakah mungkin pasien di depannya mempunyai firasat kalau kemoterapi yang dilakukannya akan gagal hingga menunjukan ekspresi begitu? Muncul berjuta bertanyaan dalam benak wanita paruh baya berusia lima puluh tahun.
Merasa ada sesuatu yang aneh, akhirnya Lena membuka suara. "Dokter, bagaimana hasil kemoterapi saya, apakah sesuai dengan yang diharapkan?"
Ada rasa kecewa menyelinap masuk ke dalam relung hati yang terdalam, sebab pada percobaan pertama rupanya obat-obatan tersebut tidak mempan melawan sel kanker dalam diri sang pasien. Kendati begitu, Helen terus berusaha menolong Lena hingga semua rangkaian pengobatan telah diberikan.
"Untuk kemoterapi kita yang pertama, tampaknya sel kanker dalam diri Ibu Lena tak berhasil kita lawan. Tapi Anda tidak perlu khawatir masih ada kemoterapi selanjutnya yang 'kan kita jalankan. Semoga pada kemoterapi yang mendatang dapat berhasil," ucap Dokter Helen penuh keyakinan.
Lena terlihat pasrah ketika mendengar jawaban dari dokter di depan sana. Rupanya apa yang ia takutkan akhirnya terjadi. Kemoterapi tak mampu membunuh sel kanker dalam dirinya.
"Bu Lena jangan pesimis, masih ada serangkaian terapi yang bisa kita lakukan. Saya yakin pengobatan yang akan dapat berhasil dan membantu Ibu sembuh dari penyakit ini," tutur Puspa. Tangan wanita itu mengusap lembut kedua pundak Lena, mencoba menenangkan pasiennya agar dapat berpikir positif dan kondisi tubuh si pasien tak semakin melemah.
Lena tak sanggup berkata-kata. Lidah terasa kelu dan harapannya untuk sembuh semakin pupus. Tak ada lagi yang diharapkannya di dunia ini, semua sudah musnah ketika kebenaran itu terbongkar dan membawa Raihan pergi dari kehidupannya.
Bagi seorang ibu, di dunia ini tak ada yang lebih pedih selain ditinggalkan oleh anak tercinta. Tak lagi diakui hingga dirinya merasa sebatang kara di atas bumi yang dipijak olehnya saat ini. Sembilan bulan mengandung dalam keadaan susah dan lemah, akibat satu kesalahan telah menghancurkan semuanya. Meskipun begitu, Lena mencoba ikhlas menganggap semua ini adalah bagian dari skenario yang telah Tuhan tuliskan kepadanya.
"Dua minggu lagi kita melakukan kemoterapi yang kedua ya, Bu. Nanti, saya temani Ibu lagi pergi ke sini." Sepanjang jalan Puspa terus menguatkan Lena agar pasiennya tak larut dalam kesedihan.
Lena mengangguk pasrah. Biarlah ia mengikuti amanah suaminya sebelum pria itu jatuh sakit hingga membuat mantan direktur itu tak lagi dapat berbicara.
Kursi roda itu terus bergerak menyusuri lorong rumah sakit. Saat pintu lift terbuka, Puspa mendorong kursi roda tersebut keluar dari kotak persegi terbuat dari besi. Akan tetapi, saat melewati meja pendaftaran bagi pasien baru, langkah kaki terhenti saat netra tak sengaja menangkap sosok seorang wanita sedang melangkah maju ke depan.
__ADS_1
Dari jarak tak terlalu jauh, Lena melihat menantu kesayangannya tengah berjalan bersama seorang asisten rumah tangga dengan membawa dua buah stroller bayi. Wajah murung seketika berubah bersinar saat melihat ketiga cucunya berada dalam stroller.
"Arumi!" ucap Lena lirih. Bibir gemetar, bola mata berkaca-kaca merasa bahagia dapat melihat menantu dan ketiga cucu kembarnya.
Arumi terkesiap beberapa saat. Mata indah istri tercinta dari pemilik rumah sakit beradu pandang dengan wanita yang telah menjadi penyebab meninggalnya ibunda kandung dari sang suami.
"Tante Lena!" gumam Arumi.
Mbak Tini pun cukup terkejut atas pertemuan tak terduga ini. Niat hati membawa Triplet imunisasi, mereka malah bertemu dengan Lena, ibu tiri dari Rayyan. Salah satu orang yang paling di benci di dunia ini.
"Bu Arumi mau menyapa Bu Lena sebentar atau langsung menuju poli anak?" bisik Mbak Tini persis di telinga Arumi.
Dokter cantik itu berucap, "Saya mau menyapanya dulu, Mbak. Tidak enak hati kalau berpapasan tanpa menyapa Tante Lena. Bagaimanapun, dulu dia begitu baik kepadaku selalu membela di saat semua orang menghujat."
"Iya, Mbak. Kamu tenang saja. Saya cuma menyapanya sebentar. Ya sudah, ayo!" ajak Arumi. Lantas, kedua wanita itu mendorong stroller bayi mendekati Lena.
"Halo, Tante, apa kabar?" sapa Arumi hangat sambil tersenyum lebar.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, Nak."
Tampak kening mengerut, iris mata coklat tak pernah lepas dari sosok wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda. Penampilan Lena yang sedikit berbeda. Tubuh ibu tiri sang suami terlibat lebih kurus, kuyu dan lemah. Tidak ada lagi Lena yang ceria, dan energik.
Sempat bertanya dalam hati kenapa kondisi istri kedua mertuanya jauh berbeda dari dulu. Mustahil jika apa yang ia lihat adalah dampak dari kelumpuhan yang dialami oleh Lena. Hingga detik ini, tak ada satu pun tahu jika Lena mengidap penyakit kanker darah selain Firdaus dan Puspa, sang perawat.
__ADS_1
"Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali tak mengirimkan pesan kepada Tante," sambung Lena mengalihkan perhatian Arumi. Tidak mau dikasihani atas musibah yang menimpanya saat ini.
Arumi kembali tersenyum. Akan tetapi, senyumannya kali ini terlihat seperti dipaksakan. "Maaf ya, Tante. Semenjak melahirkan, aku jadi semakin sibuk mengurusi Triplet hingga tak mempunya waktu mengirimkan pesan. Setelah masa cutiku habis, aku pun disibukkan oleh urusan pekerjaan," tuturnya menjelaskan. Walaupun sedikit berbohong, tetapi lebih banyak apa yang dikatakan merupakan sebuah kebenaran.
"Kamu benar. Mengurus anak itu memang banyak menyita waktu terlebih mengurus tiga bayi kembar secara bersamaan. Pasti terasa sekali capeknya." Lena terkekeh pelan. Wajahnya tak menampakkan lagi raut kesedihan. Wanita itu mengalihkan pandangan pada tiga bayi montok bermata sipit yang sedang asyik bermain sendiri. "Halo, Triplet. Nenek senang sekali dapat bertemu kalian bertiga."
Zavier dan Zahira menyambut sapaan Lena dengan sebuah senyuman. Namun, tidak bagi Ghani. Kakak pertama terlihat cemberut dan mengalihkan perhatian ke sekitar seolah mengerti bahwa wanita di depannya merupakan orang yang dibenci oleh sang ayah.
"Ketiga anak-anakmu tampak sehat dan lebih berisi. Kamu pintar sekali merawat mereka, Nak." Puji Lena kepada Arumi. Merasa takjub karena menantunya itu bisa merawat tiga bayi kembar dalam waktu bersamaan.
"Tante terlalu memujiku. Aku masih tahap belajar untuk menjadi ibu yang baik bagi Ghani, Zavier dan Zahira. Masih butuh bimbingan dari orang-orang yang berpengalaman." Arumi merendah di hadapan Lena. Tak ingin besar kepala hingga membuatnya lupa bahwa di atas langit masih ada langit.
Lena mengangguk seraya mengulurkan tangan menyentuh tangan Arumi. "Ini bukan cuma pujian semata, Rumi, melainkan sebuah kenyataan. Tante yakin, kelak anak-anak merasa bangga karena terlahir dari rahim wanita hebat sepertimu."
Arumi mengusap lembut punggung tangan Lena sambil berkata, "Terima kasih atas pujian Tante. Aku merasa tersanjung mendengarnya."
Usai menyapa Lena, Arumi kembali melanjutkan langkahnya menuju poli anak. Hari ini adalah jadwal imunisasi si kecil di usianya yang ke-3 bulan berupa imunisasi DPT/HB/Hib 2 dan polio 2. Arumi tak sedikit pun melupakan jadwal imunisasi ketiga anaknya, ia selalu mencatat serta mengingat hal penting yang berkaitan dengan buah cintanya itu.
Sementara Lena memutuskan pulang ke rumah. Sedikit terhibur setelah bertemu dengan Arumi, beserta ketiga cucunya.
.
.
__ADS_1
.