
Happy reading 🍃
Semua orang yang ada dalam kamar menoleh ke sumber suara. Di sana, Naila berdiri dengan angkuh sambil menatap Arumi dengan sinis. Tangannya terlipat di dada dan tak lupa senyuman smirk terlukis di wajah.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Arumi. Memandangi penampilan sang menantu dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Tidak ada yang salah pada penampilan wanita di hadapannya tetapi entah kenapa setiap kali melihat wajah Arumi, timbul kebencian yang teramat mendalam.
"Kenapa, kamu pasti terkejut 'kan setelah tahu bayi yang dikandung Kayla adalah anaknya Mahesa, cucu saya."
Naila merogoh isi tas lalu mengeluarkan sebuah foto USG berwarna hitam, putih, lalu menyerahkan benda itu ke Arumi. "Kamu lihat, ini calon cucu saya. Usianya sudah memasuki tujuh minggu. Kata Dokter, dia tumbuh sehat di dalam rahim Kayla."
Arumi menerima lembaran foto itu dengan tangan gemetar. Ia terkesiap melihat lingkaran kecil di dalam gambar itu. Sebuah titik samar yang jika diperkirakan sebesar buah blueberry. Masih sangat mungil tetapi perkembangan yang dialami janin itu sangat pesat.
'Ya Tuhan, janin ini masih sangat kecil. Aku nyaris saja melenyapkan bayi ini,' batin Arumi. 'Meskipun aku membenci dua makhluk di hadapanku ini tetapi bayi ini tidak berdosa. Aku tidak boleh menyakitinya.'
"Bagaimana, kamu bisa tidak memberikan hasil foto yang sama persis seperti milik Kayla?" Naila menaik turunkan alisnya bergantian. "Pasti tidak bisa 'kan! Makanya, jangan marah kalau saya meminta Mahesa berselingkuh."
Setelah puas memprovokasi Arumi, Naila menarik foto USG itu dengan kasar kemudian menyimpannya lagi ke dalam tas. "Berhubung Kayla hamil oleh anak saya maka secepatnya ia akan dinikahi oleh Mahesa dan itu artinya--"
__ADS_1
"Aku tidak sudi dimadu!" sergah Arumi. "Oleh karena itu, aku akan menggugat cerai Mas Mahes."
Arumi mengerti maksud dari perkataan mertuanya. Meskipun tidak diucapkan secara jelas tetapi ia yakin, Naila menginginkan pernikahan yang telah dibina oleh dirinya dan Mahesa selama lima tahun berakhir dengan kata cerai. Kendatipun rasa cinta di dalam hati wanita itu masih ada tetapi melihat perselingkuhan antara suami dan sahabatnya membuat ia harus merelakan pernikahannya berakhir. Apalagi ada kehidupan baru di dalam rahim Kayla, hasil perbuatan zina yang dilakukan oleh dua iblis itu.
Ia berpikir, mungkin inilah jalan terbaik bagi semua orang. Lagipula, Arumi tidak mau kalau sampai bayi dalam kandungan Kayla disebut sebagai anak haram yang terlahir tanpa ada pengakuan dari siapa pun.
"Tidak. Aku tidak akan menceraikanmu, Rumi!" seru Mahesa seraya berhambur menghampiri Arumi. Diraihnya jemari lentik itu lalu ia mendaratkan sebuah ciuman. "Aku tidak mau bercerai, Sayang."
Tangan kekar itu menangkup wajah Arumi, membelai pipi dan wajah mulus milik sang istri. "Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi istriku karena aku mencintaimu," ucapnya lirih.
Ucapan itu terdengar bagaikan sebuah alunan musik yang merdu, menentramkan jiwa dan menghanyutkan Arumi. Dalam sekejap, wanita berparas cantik bagai Dewi Aphrodite terbuai oleh kata-kata manis yang terucap di bibir Mahesa. Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut dari tangan sang suami.
Wanita itu mundur beberapa langkah, menjauhi Mahesa hingga tubuhnya membentur dinding. Dengan bibir gemetar Arumi berkata, "Jika memang kamu mencintaiku, lalu kenapa kamu selingkuh?"
"Itu ... karena ... aku--" Entah kenapa rasanya lidah pria itu sulit berucap. Padahal ia sudah memiliki jawaban untuk bisa disampaikan pada Arumi. Namun, nampaknya semesta tak mengizinkan Mahesa untuk menjelaskan apa pun sebagai pembelaan atas kesalahan yang diperbuat olehnya. Pria itu bergeming dengan tatapan kosong.
Melihat kemesraan Arumi dan Mahesa, membuat Kayla terbakar api cemburu. Tangannya mengepal meremas sisi bed cover yang dikenakan olehnya demi mengurai rasa marah yang seakan mampu meledakan hati. Namun, ia sadar bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat bagi gadis itu untuk melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1
Akhirnya ia menggunakan taktik licik yaitu berpura-pura menjadi gadis lemah agar mendapatkan simpati dari Naila dan juga Mahesa.
"Sudahlah, Mas. Kalau memang Arumi menginginkan perpisahan, kabulkan saja keinginan wanita itu."
Kayla menyentuh dada bidang Mahesa dengan lembut, memberikan rangsangan di titik sensitif pria itu. Memainkan puncak benda kecil tersebut lalu memelintirnya hingga membuat Mahesa mengerang akibat bagian paling sensitif pada pria itu dipermainkan oleh kekasih gelapnya.
Merasa jijik dengan sikap dua manusia iblis di hadapannya, bulu roma Arumi berdiri.
"Kalian berdua memang serasi. Sama-sama tidak tahu malu," sindir Arumi. "Dan kamu, Mas, baru saja mengucapkan kata cinta padaku tapi setelah jemari lentik sahabatku bermain cantik di dadamu, kamu sudah terangsaang. Dasar laki-laki Brengsek!"
Sebuah tamparan mendarat di pipi Mahesa. Tamparan itu cukup keras hingga meninggalkan noda di wajah pria itu.
"Itu tidak sebanding dengan pengkhianatanmu padaku. Pokoknya, aku akan tetap bercerai darimu!" tukas Arumi.
Wanita itu hendak meninggalkan kamar hotel yang menjadi saksi betapa bejatnya kelakukan dua insan manusia yang tengah dimabuk cinta.
Merasa ada suatu hal yang masih mengusik pikiran, Arumi berhenti sejenak. Kemudian ia memandangi Mahesa, Kayla dan Naila satu persatu.
__ADS_1
"Kalian semua akan menerima balasan atas apa yang telah diperbuat kepadaku. Di saat waktunya tiba, aku adalah orang pertama yang akan menyaksikan kehancuran keluarga Adiguna," tuturnya sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Cuih! Berani-beraninya dia mengancamku." Naila membanting bagian bokoongnya dengan kasar di atas sofa lalu ia berucap, "Dasar menantu mandul!"