
Arumi mengeluarkan satu kotak kecil susu khusus bagi wanita yang sedang merencanakan program hamil dari dalam kantong belanjaan. Bumi tempatnya berpijak rasanya berhenti berputar tatkala jemari lentik itu menggenggam erat kotak susu rasa vanilla.
Memang terkesan aneh dan tak masuk akal. Mengapa seorang pria yang belum resmi menjadi suami dari Arumi membelikan susu tersebut pada wanita itu? Rayyan memang sengaja melakukan itu, sebab ia ingin memberikan kode atau isyarat pada kekasihnya agar setelah akad nikah berlangsung, mereka tidak menunda untuk segera memiliki momongan atau dengan kata lain langsung nana nini malam itu juga.
Maklum saja, seumur hidup Rayyan belum pernah berpacaran sehingga gejolak dalam diri pria itu membara tatkala berada di sisi Arumi. Selain ingin menuntaskan hasraatnya kepada kekasih halalnya itu, ia pun ingin membuktikan pada semua orang jikalau Arumi bukan wanita mandul seperti tuduhan semua orang.
Arumi bergeming. Tatapan wanita itu masih tertuju pada kardus susu di depan sana.
Rayyan melirik sekilas ke arah Arumi, lalu mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut. "Susu itu bisa kamu simpan sampai hari pernikahan kita tiba. Setelah itu, baru kamu bukan dan langsung mengkonsumsinya agar di dalam rahimmu itu segera tumbuh buah cinta cinta."
Kali ini perut Rayyan berpindah ke bagian perut Arumi. Mengusap lembut perut itu seolah di dalam sana telah hadir kehidupan baru, hasil kerja keras Rayyan yang rela lembur setiap malam agar Arumi segera mengandung.
Entah mengapa, kalimat itu terdengar sedikit ambigu di indera pendengaran Arumi. Seperti mengandung konotasi berbeda jika di ucapkan oleh orang dewasa.
"Segera tumbuh, buah cinta kita." Kalimat itu terus berulang bagai kaset kusut hingga membuat pikiran Arumi menjelajah ke mana-mana.
Wanita itu menelan saliva dengan susah payah, lalu menggelengkan kepala kala ia membayangkan dirinya tengah terbaring bersama Rayyan di atas ranjang yang sama dan mereka--
"Bodoh! Apa yang sedang kamu pikirkan, Rumi. Bagaimana bisa memikirkan hal mesum seperti itu." Arumi merutuki diri sendiri, karena telah lancang membayangkan momen di mana ia dan Rayyan akan menghabiskan waktu bersama setelah pesta pernikahan berlangsung.
Arumi berdehem guna menyingkirkan benda asing yang menyangkut di tenggorokan, lalu ia memberanikan diri untuk berucap. "Tapi, kurasa ini terlalu berlebihan, Ray."
"Baik kamu maupun aku belum memberitahu kedua orang tua kita jika di antara kita berdua telah terjalin hubungan percintaan. Bagaimana jikalau orang tuamu tidak setuju karena kamu menikahi seorang janda? Selain janda, aku pun belum tentu dapat memberikan keturunan kepadamu. Dokter Firdaus dan Mamamu pasti kecewa dengan keputusanmu itu, Ray."
Rayyan mendengus kesal, karena untuk kesekian kali Arumi bicara jikalau ia tidak akan pernah dapat memberikan keturunan padanya. Padahal, pria itu begitu yakin jika Arumi bisa hamil dan memberikan keturunan padanya.
"Cih! Peduli apa dengan mereka. Mau mereka setuju ataupun tidak, aku akan tetap menikahimu sesuai dengan janjiku tempo hari. Kita akan menikah dengan atau tanpa restu Papa dan si ******* itu." Keukeh Rayyan. Ia memantapkan hati untuk tetap menikahi kekasihnya itu meski nanti Firduas tak memberikan restu padanya.
__ADS_1
Selama ini Rayyan telah menuruti semua keinginan Firdaus. Ia berubah menjadi anak penurut saat sang papa menentukan masa depan bagi anak sulungnya itu. Meski pada dasarnya Rayyan bukanlah anak patuh yang menuruti semua keinginan orang tuanya tapi untuk urusan masa depan, pria itu bersedia melepaskan cita-citanya sebagai seorang pengacara demi menjaga peninggalan Mei Ling agar tidak jatuh ke tangan Lena dan Raihan--adik tirinya.
Melihat respon dan ekspresi kekesalan Rayyan yang terpancar dari raut wajah pria itu serta bahasa tubuh, Arumi dapat menyimpulkan bahwa saat ini Rayyan sedang kesal. Entah mengapa, hingga detik ini rahasia dibalik kebencian pria itu terhadap Firdaus dan Lena belum juga terpecahkan.
Arumi menghela napas panjang, lalu menaruh kardus susu itu di atas dashboard. Memberanikan diri melingkarkan tangan di lengan yang mencengkram erat stir mobil, lalu bergelayut manja di samping Rayyan.
"Iya ... aku tahu, kamu pasti akan tetap menikahiku sesuai janjimu itu 'kan?" Arumi sengaja membuat suaranya terdengar sedikit lebih manja, berharap emosi dalam diri Rayyan beredup seperti lilin yang ditiup.
Terserah orang mau bilang Arumi adalah janda genit atau wanita kegatelan karena bersikap manja di hadapan Rayyan. Bagi wanita itu yang terpenting adalah mood Rayyan kembali lagi seperti semula dan mereka bisa menikmati malam minggu bersama dengan penuh cinta.
"Seandainya di kemudian hari Mama tahu tentang hubungan kita dan tidak merestui kamu menjadi pendamping hidupku, maka aku akan berusaha meyakinkan beliau bahwa kamu adalah pria terbaik yang pantas menjadi pengganti mantan suamiku. Kamu adalah pria yang tepat untuk menemaniku menghabiskan masa tua nanti."
Suara merdua Arumi berhasil memadamkan emosi dalam diri Rayyan. Perlahan, deru napas pria itu mulai teratur dan cengkraman tangan pada stir mobil mulai melonggar.
Menghela napas kasar seraya memejamkan mata sejenak. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mencoba mengendalikan diri agar tak tergoda oleh iblis yang bersemayam dalam diri pria itu.
"Ya. Kita akan menghabiskan waktu bersama hingga sang surya kembali menampakkan wajahnya!" seru wanita itu antusias. Kemudian, ia mengerjap saat menyadari ucapannya. Wanita itu melirik sekilas Rayyan yang tersenyum simpul. "Maksudku-- kita akan kembali sebelum pukul sebelas malam."
Rayyan tertawa, membalas dengan kelakar. "Ya ... aku tahu maksudmu. Aku akan memulangkanmu sebelum tengah malam agar Cinderella kita yang satu ini tidak berubah menjadi Dewi Aphrodite." Rayyan mengerlingkan sebelah mata, ia menggoda Arumi hingga membuat wajah wanita itu merah merona.
***
Tibalah mereka di sebuah warung tenda di pinggir jalan. Arumi terkesiap beberapa saat. Tatapan wanita itu menerawang jauh, seolah jiwanya tersesat ke masa lampau.
"Aku sengaja mengajakmu makan di sini, sebab banyak ulasan dari beberapa pengunjung mengatakan bahwa rasa dari nasi goreng di warung ini begitu nikmat dan lezat. Walau harganya sedikit mahal dibanding warung yang lain tapi bagiku tak masalah. Asalkan rasanya benar-benar lezat, berapa pun harganya, aku sanggup membayar."
Akan tetapi, Arumi tak merespon perkataannya. Ia masih bergeming dengan tatapan kosong ke depan.
__ADS_1
"Rumi ... Rumi!" seru Rayyan. Tangan pria itu melambai ke depan.
"Arumi Salsabila!" Rayyan sedikit meninggikan nada suaranya sehingga membuat wanita itu terlonjak kaget.
"Rayyan!" pekik Arumi histeris. Refleks, tangan wanita itu memukul lengan sang kekasih.
"Aaahhh!" teriakan Rayyan berhasil mengembalikan kesadaran Arumi. Rahang wanita itu terbuka lebar dengan bola mata terbelalak sempurna. Tak menyangka jika gerakannya itu menyebabkan lengan pria itu kesakitan.
"Ray!" Tangan Arumi mengusap lembut lengan Rayyan. "Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja. Sungguh." Ia diliputi kekhawatiran tatkala jemari Rayyan terus memegangi lengannya.
"Kamu itu sedang mikirin apa? Aku cerita hingga mulutku berbusa, kamu malah diam saja. Maka dari itu, aku sengaja meninggikan nada suaraku agar kamu mendengarnya. Eh ... kamu malah memukulku."
"Iya ... maafin aku ya. Soalnya tadi aku sempat melamun. Jadi, tidak mendengar semua perkataanmu." Arumi masih mengusap-usap lengan Rayyan sambil sesekali meniupinya.
Rayyan mengerutkan kening petanda bingung. Pria itu penasaran hal apa yang membuat Arumi sampai melamun di saat wanita itu sedang bersama dengannya.
"Melamunin apa?" tanya Rayyan lirih. Suara itu terdengar sedikit gemetar, sebab ia khawatir jika Arumi masih belum bisa move on dari mantan suaminya.
"Tidak perlu dibahas. Itu hanya masa lalu!" sergah Arumi cepat seraya melambaikan tangan di udara.
Kendatipun Rayyan penasaran tetapi pria itu menghargai privasi Arumi. Ia tak mau wanita itu merasa tidak nyaman jika ia terus mengorek masa lalu.
Melihat ada kesempatan untuk menjaili Arumi, Rayyan mulai melancarkan aksinya. Ia pura-pura kesakitan agar terus diusap oleh jemari lentik kekasihnya itu.
.
.
__ADS_1
.