Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Hanya Ingin Bertemu Arumi dan Triplet


__ADS_3

Sungguh, Rayyan tak tahu harus berkata apa. Dia dilema antara memaafkan sang papa atau terus memendam rasa benci terhadap lelaki paruh baya yang ada di hadapannya.


Ia menarik napas dalam seraya memejamkan mata, mencoba menjernihkan pikiran agar kelak dapat mengambil keputusan tepat. "Pa ... aku akan mencoba memaafkanmu. Belajar melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu meski tak tahu kapan rasa sakit di dalam hatiku sembuh. Aku ... memaafkanmu atas nama Mama. Berharap semoga Mama pun mau memaafkan kesalahan Papa."


Luruh sudah air mata Firdaus. Buliran kristal itu jatuh membasahi pipi. Dada terasa lapang seolah beban hidup yang dipikul selama belasan tahun terangkat semua. Kini ... dia bisa merasakan kembali sentuhan lembut penuh kasih sayang dari anak sulungnya.


"Terima kasih, Nak. Papa merasa beruntung karena bisa meminta maaf dan mendapatkan maaf dari kamu. Bila esok atau lusa Tuhan menjemput, Papa bisa meninggal dalam keadaan tenang," ucap Firdaus lemah. Pria itu menatap langit-langit ruangan sambil tersenyum tipis sampai tak ada satu orang pun melihat senyuman tersebut.


Rayyan menggeleng cepat sambil berkata, "Jangan bicara omong kosong! Papa ... pasti sehat seperti dulu. Kalau perlu, kita pergi ke Jepang untuk berobat. Di sana kemajuan pengobatan kedokteran sudah lebih maju dibandingkan di sini. Aku yakin, rekan sesama dokter di sana dapat membantu menyembuhkan Papa."


Mendengar ucapan Rayyan, Firdaus mengalihkan pandangan dari langit-langit ruang ICU ke arah iris coklat milik sang direktur. Cahaya lampu sekitar menerpa wajah sebelah kiri sang anak. Paras rupawan dengan alis terbal melengkung di atas sepasang mata sipit, hidung mancung serta sorot mata teduh mengingatkan Firdaus akan sosok mendiang istri pertamanya, Mei Ling. Namun, dalam versi seorang lelaki.


"Tidak perlu menghambur-hamburkan uang demi menyembuhkan penyakit Papa. Lebih baik kamu simpan uangmu dengan baik untuk membiayai istri beserta anak-anakmu kelak. Jangan biarkan mereka hidup serba kekurangan. Papa sudah tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini selain melihatmu hidup bahagia bersama keluarga kecilmu."


Dada Firdaus terasa nyeri ketika dia menarik napas dalam, mungkin efek terlalu banyak menghirup asap kebakaran hingga menyebabkan saluran pernapasan terganggu.


"Papa, kenapa? Apa yang sakit. Katakan padaku?" tanya Rayyan cemas. Begitu pun dengan dokter Imam yang masih setia berdiri di samping Rayyan. Dokter senior itu hendak memberikan pertolongan lagi kepada pasiennya.


Namun, kepala Firdaus menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja. Sungguh," kilahnya. Menyembunyikan apa yang dirasakan oleh pria itu. Tak mau membuat Rayyan cemas dan terus memikirkan dirinya.


Baik Rayyan maupun dokter Imam kembali ke tempat masing-masing. Meskipun melihat Firdaus tengah meringis menahan rasa sakit, tetapi mereka mencoba berpikir positif mungkin saja itu hanya efek sesaat.

__ADS_1


Menggerakan kepala secara perlahan ke kanan kiri, seolah sedang mencari keberadaan seseorang. Gerakan tersebut tertangkap oleh netra Rayyan meski cahaya ruangan ICU begitu temaram.


Lantas, suami Arumi Salsabila bertanya, "Papa sedang mencari apa kok tampak begitu gelisah sekali?"


Firdaus menoleh ke arah sang anak dan menjawab, "Istrimu di mana, Nak? Bukankah tadi dia bersamamu? Lantas, di mana dia sekarang?" cecarnya. "Seingatku, saat masih tak sadarkan diri, Papa seakan mendengar suara seorang wanita yang begitu familiar. Papa pikir itu adalah suara Arumi, apakah benar?" tanyanya memastikan kembali jika yang didengar oleh pria itu saat sedang tak sadarkan diri bukan halusinasi.


Rayyan menganggukan kepala sambil berucap, "Benar. Aku ke sini ditemani oleh Arumi. Namun, karena sudah malam, aku memintanya pulang ke rumah. Kasihan anak-anak jika tengah malam terbangun dan tak menemukan Bunda-nya di rumah. Mama Nyimas dan Mbak Tini pun pasti kerepotan. Walaupun ada banyak stock ASI di lemari pendingin tetap saja Triplet selalu ingin didekat sang Bunda."


Firdaus kembali menghela napas dalam kemudian mengembuskan secara perlahan. Ia menatap iris coklat milik putranya dengan lekat.


Sejujurnya, ia ingin sekali meminta Rayyan memanggil Arumi, membawa serta Triplet datang ke rumah sakit. Sudah lama ia tidak bertemu dengan menantu dan ketiga cucu kembarnya. Ia ... begitu merindukan mereka bertiga. Akan tetapi, mungkin Rayyan mengabulkan permintaan Firdaus sementara dulu dirinya pernah melukai hati dan perasaan mendiang Mei Ling. Namun, kerinduan dalam diri pria paruh baya itu tak bisa terbendung lagi.


Dengan sedikit keraguan menyelimuti diri, Firdaus berkata, "Seandainya Papa meminta satu permintaan padamu, apakah boleh?" ucapnya dengan penuh pengharapan. Ia pula menyiapkan diri bila seumpama Rayyan menolak permintaan yang diucapkan olehnya.


"Jikalau Papa minta kamu menghubungi Arumi dan membawa Triplet ke sini, apakah kamu keberatan? Papa ... sangat merindukan ketiga anak-anakmu itu."


Rayyan terhenyak untuk beberapa saat ketika mendengar permintaan sang papa. Ia pandangi netra Firdaus dengan tatapan lekat. Bola mata pria itu mengerjap penuh pengharapan.


Lantas, ia menghela napas dalam dan menjawab, "Boleh. Besok pagi aku akan meminta Arumi membawa anak-anak ke sini menemui Papa. Mereka pasti senang dapat berjumpa kembali dengan Kakeknya."


Setelah percakapan singkat antara ayah dan anak, dokter Imam memeriksa kesehatan Firdaus yang baru saja melewati masa kritis. Kondisi si pasien tak banyak perubahan meski dia sudah sadarkan diri.

__ADS_1


"Pak Firdaus, saya undur diri dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," ujar Dokter Imam sebelum meninggalkan ruang ICU.


"Baik, Dokter. Silakan."


Saat hendak meninggalkan ruangan, dokter Firdaus berbisik di telinga Rayyan. "Pak Rayyan, bisa ikut saya keluar sebentar. Ada hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda."


Sontak, Rayyan memicingkan mata menatap tajam ke arah dokter Imam. Sorot mata tajam bagai seekor elang yang siap menerkam musuhnya detik ini juga. Namun, dokter Imam tak merasa takut sedikit pun. Ia sudah terbiasa ditatap setajam itu oleh keluarga pasien maupun sang pasiennya sendiri.


"Papa istirahat dulu di sini. Aku mau ke toilet sebentar. Setelah itu baru kembali lagi ke sini. Malam ini, aku akan tinggal di rumah sakit."


Firdaus mengangguk mematuhi perintah Rayyan. Sejujurnya, ia pun merasa mengantuk dan ingin terlelap.


Saat ini, Rayyan dan dokter Imam sudah berada di lorong rumah sakit. Tampak wajah serius terlukis di wajah sang dokter.


"Apa yang ingin Dokter sampaikan kepada saya? Apakah ini mengenai kondisi Papa?"


Dokter Imam memangguk cepat. Toh, Rayyan pun pasti tahu betul bagaimana kondisi Firdaus saat ini. "Benar, Pak Rayyan. Tanpa saya jelaskan secara detail, Anda pasti tahu apa yang terjadi dengan Pak Firdaus. Terlebih, pengalaman Pak Rayyan lebih luas daripada saya sehingga tak banyak kata yang harus terucap dari bibir saya." Dokter senior itu menepuk pundak anak dari sang pasien sambil berkata, "Persiapkan mental Anda dan keluarga. Bila waktunya tiba, lepaskan beliau agar langkahnya semakin mudah untuk menghadap Sang Khalik."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2