Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Obatnya Hanya Satu, yaitu ... Arumi


__ADS_3

Kedua orang tua Mahesa berjalan bersisian, menyusuri lorong rumah sakit yang tampak lebih ramai dari hari biasa. Maklum, hari ini bertepatan dengan hari senin--hari pertama di awal minggu sehingga banyak pasien yang berdatangan.


Sepasang suami istri paruh baya itu berjalan tergesa-gesa menuju lift yang akan membawa tubuh mereka menuju ruang ICU. Tampak air muka cemas bercampur penuh pengharapan terlukis di wajah masing-masing.


"Mas, menurutmu apakah Mahesa benar-benar sudah siuman sekarang?" tanya Naila ketika ia dan Putra sudah berada di dalam lift. Sikap wanita itu begitu ramah dan hangat, seakan lupa bahwa baru beberapa menit lalu keduanya sempat cekcok karena masalah uang.


Putra yang saat itu masih kesal terhadap Naila hanya mengangkat kedua bahu ke atas dan menjawab. "Tidak tahu! Aku bukan paranormal yang dapat melihat sesuatu di masa depan!" Pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah istrinya.


Merasa diacuhkan, Naila geram namun tak berani berbuat macam-macam. Ia hanya memutar bola mata malas seraya mencebikkan bibir.


'Dasar suami bodoh! Ditanya begitu saja tidak bisa menjawab! Pantas saja perusahaan langsung oleng setelah kamu handle kembali, rupanya otakmu sudah kosong melompong!' maki Naila dalam hati. Hanya bisa ngedumel di dalam hati tanpa berani mengutarakannya di hadapan Putra.


Kedatangan Naila dan Putra telah dinanti oleh dokter Samuel yang merupakan dokter penanggung jawab selama Mahesa dirawat di rumah sakit.


Saat sepasang suami istri itu telah tiba di depan ruang ICU, Kiki menyambut kedatangan Naila dan Putra.


"Dokter Samuel menunggu Bapak dan Ibu di ruangan. Silakan masuk!" Kemudian Kiki membukakan pintu ruangan, tempat di mana Samuel beserta dokter jaga lainnya beristirahat sambil menunggu shift selesai. Perawat wanita itu menggeser tubuhnya, dan mempersilakan kedua orang tua Mahesa masuk ke dalam ruangan.


Melihat Putra dan Naila datang, Samuel bangkit lalu tersenyum ke arah pasangan suami istri itu. "Selamat pagi, Bapak Putra dan Bu Naila. Apa kabar?" sapanya ramah. Lalu mengulurkan tangan ke depan.

__ADS_1


Putra, sebagai kepala rumah tangga menjabat tangan pria itu seraya berkata, "Selamat pagi, Dokter Samuel. Kabar saya dan istri baik-baik saja." Ia dan Naila duduk setelah dipersilakan oleh Samuel.


Setelah mereka semua duduk berhadapan, Putra membuka suara. "Kalau boleh saya tahu, ada hal penting apa yang ingin disampaikan oleh Dokter Samuel kepada kami? Apakah ini berkaitan dengan kondisi Mahesa--anak saya?"


Dokter Samuel melirik sekilas ke arah Naila lalu kembali menatap Putra. Kabar terbaru tentang kondisi Mahesa yang sempat menggerakan jemari tangan merupakan sebuah kemajuan selama hampir lima bulan mantan suami Arumi dirawat di ruang ICU. Sebagai seorang dokter, tentu saja ia bahagia karena akhirnya Mahesa menunjukan tanda-tanda bahwa ia sebentar lagi akan siuman.


"Apakah yang dikatakan oleh ART saya itu benar kalau Mahesa telah siuman?" tanya Naila yang mulai gelisah karena Samuel belum juga memberitahu kabar terbaru dari Mahesa--anak kesayangannya.


Melihat ekspresi cemas di wajah keduanya membuat Samuel tidak tega. Akhirnya pria itu membuks suara.


"Pak Putra, dan Bu Naila, kabar yang kami sampaikan pada asisten rumah tangga Anda benar adanya. Beberapa jam sebelum kedatangan kalian, kedua perawat yang berjaga hari ini melihat jemari tangan Pak Mahesa bergerak. Meskipun gerakan itu lemah, tapi bagi kami merupakan sebuah kemajuan yang patut disyukuri."


"Itu semua berawal dari kedua perawat yang berjaga di shift pagi. Ketika menjalankan tugasnya sebagai seorang perawat, memonitor tanda-tanda vital pasien, tanpa sengaja mereka membicarakan Dokter Arumi. Entah bagaimana ceritanya, Pak Mahesa memberikan reaksi tak terduga. Jemarinya bergerak setiap kali kedua perawat itu menyebut nama Dokter Arumi."


"Lalu, kesimpulannya apa?" tanya Naila tak sabaran. Wanita itu selalu tersulit emosi setiap kali ada seseorang yang membicarakan Arumi, mantan menantunya yang tak pernah dianggap ada di keluarga Adiguna.


Dokter Samuel menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan apa yang ada dalam benak pria itu saat ini. Ia memang tidak tahu pasti ada masalah apa antara keluarga Putra Adiguna dengan rekan sejawatnya, namun melihat video yang beredar di dunia maya ia dapat menyimpulkan bahwa hubungan mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja. Terlebih berita pernikahan Rayyan dan Arumi yang baru-baru ini digelar di sebuah gedung hotel bintang lima, membuat pria itu menyadari telah terjadi hal serius di antara mereka semua.


"Saya menyarankan, Pak Putra dan Bu Naila meminta bantuan Dokter Arumi untuk membesuk Pak Mahesa karena saya yakin, yang dibutuhkan oleh putra kalian saat ini adalah kehadiran Dokter Arumi. Dengan begitu, kita berharap Pak Mahesa dapat bangun dari koma," papar Dokter Samuel tegas.

__ADS_1


"Apa saya tidak salah dengar. Dokter ... meminta kami menemui si Mandul itu?" tanya Naila memastikan jika pendengarannya tidak salah. Dokter Samuel mengagguka kepala sebagai jawaban.


"Cih! Jangan harap! Sampai kapan pun, saya tidak sudi menemui wanita sial itu dalam keluarga kami lagi. Sekalipun itu adalah cara terakhir, maka saya menolaknya!" sungut Naila. Tidak terima jika Dokter Samuel meminta dirinya ataupun Putra membawa Arumi ke hadapan Mahesa. Susah payah wanita itu menjauhkan Arumi, namun bila pada akhirnya ia juga yang membawa mantan menantunya itu hadir kembali di kehidupan Mahesa maka usahanya akan sia-sia.


"Tapi, tidak ada salahnya jika kita mencobanya, Bu. Siapa tahu berhasil." Dokter Samuel mencoba membujuk Naila agar wanita itu bersedia menemui Arumi dan meminta tolong mantan menantunya itu agar bersedia menemui Mahesa yang tengah terbaring di ruang ICU.


"Saya tidak peduli! Pokoknya, saya tidak akan pernah meminta bantuan wanita sialan itu!" sembur Naila dengan nada tinggi. Tampak kilatan penuh emosi bersinar di bola mata wanita itu.


Naila bangkit dari kursi, menatap sinis ke arah Dokter Samuel seraya berucap. "Sekalipun si Mandul itu merupakan satu-satunya obat agar Mahesa bisa lekas siuman, saya tidak mau bertemu dengan mantan menatuku yang tidak berguna itu!" Kemudian wanita itu berlalu begitu saja tanpa undur diri pada Samuel.


Kini, hanya tersisa Putra dan Dokter Samuel di dalam ruangan. Ruangan itu kembali hening beberapa saat.


"Apakah tidak ada cara lain selain membawa Arumi ke sini, Dokter? Jujur saja, kami agak keberatan dengan saran dari Anda, Dok. Terlebih melihat sejarah kelam di antara kami, membuat saya ataupun istri saya sungkan menemui Dokter Arumi." Berbeda dari Naila, sikap Putra lebih dewasa. Mampu menahan emosi dan tidak mudah tersulut emosi saat mendengar nama Arumi disebut.


Dokter Samuel menggelengkan kepala singkat. "Untuk sementara ini, hanya itu satu-satunya cara kita untuk membuat Pak Mahesa sadar dari koma."


Tubuh Putra terasa lemas, mendengar jika hanya Arumi-lah satu-satunya harapan mereka untuk mengembalikan lagi kesadaran anak semata wayangnya. Seandainya saja ada cara lain, mungkin saat ini ia sudah meminta Aldo--asisten Mahesa untuk mencarikan obat agar Mahesa lekas siuman. Namun, apabila cuma Arumi yang mampu menyadarikan anak kesayangannya dari koma, ia harus berdiskusi terlebih dulu dengan Naila. Bagaimanapun, Naila pun mempunyai hak suara dalam menentukan apa yang terbaik bagi Mahesa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2