Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sebuah Pesan Untuk Rayyan dan Raihan


__ADS_3

Jemari tangan nan lentik terus menari indah di atas sebuah layar telepon pintar (smartphone). Sudah sejak lima menit lalu, wanita berseragam putih mengetikan sebuah pesan, lalu menghapusnya secara berulang. Ia seakan ragu untuk mengirimkan pesan singkat kepada keluarga dari pasien yang dirawat olehnya.


Kebimbangan serta keraguan menelusup ke relung hati yang terdalam. Bagaimana kalau keluarga pasien tak ada satu orang pun yang bersedia datang, melihat kondisi pasangan paruh baya itu? Apakah Firdaus dan Lena akan menemui ajalnya tanpa didampingi oleh anak, menantu serta cucu-cucunya? Itulah yang dipikirkan oleh Puspa saat ini.


Duduk seorang diri di depan ruang ICU sambil menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat sambil membayangkan kedua pasiennya, membuat wanita berambut panjang sebahu semakin merasa bersalah karena telah menyebabkan kedua pasangan paruh baya itu menjadi korban kebakaran.


Menghela napas panjang dan dalam seraya memejamkan mata sejenak. Setelah merasa diri jauh lebih tenang, Puspa membuka kelopak mata secara perlahan. "Apa pun yang terjadi pokoknya aku harus mengirimkan pesan kepada keluarga pasien. Sekalipun mereka tidak datang, setidaknya aku telah memberitahu perihal kondisi Dokter Firdaus dan Bu Lena saat ini. Perkara datang atau tidak, sudah bukan lagi kuasaku," ucapnya sambil mengumpulkan keberanian dalam diri.


Maka, ia kembali menulis pesan 'tuk dikirimkan kepada Rayyan dan Raihan. Begini isinya ... .


[Selamat malam, perkenalkan saya adalah Puspa, perawat pribadi Bu Lena. Kondisi Dokter Firdaus dan Bu Lena saat ini kritis. Besar harapan saya agar Bapak dapat datang ke rumah sakit menemui pasien yang kini tengah dirawat di ruang ICU.]


[Jika berkenan, Bapak bisa langsung datang ke Rumah Sakit Harapan Indah, lantai tiga. Saya selalu stand by di sini, menunggu hingga Bapak datang membesuk kedua pasien tersebut.]


Pesan singkat telah Puspa kirimkan secara berantai. Ia berharap banyak kelak kedua pria berwajah rupawan datang ke sini menemui sepasang lansia yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Tuhan, bukakanlah pintu hati Dokter Rayyan dan Pak Raihan agar mereka mau datang ke sini. Hanya itu yang kuminta saat ini. Semoga Engkau mengabulkan do'aku," kata Puspa sambil meremas jemari tangan. Berharap kelak Tuhan mendengar do'anya.


.


.


.


Satu unit mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan 60 KM/jam membelah jalanan ibu kota. Seorang pria berhidung mancung dengan alis tebal dan melengkung indah di atas sepasang mata tajam dan memikat tengah melajukan kendaraannya memasuki salah satu ballroom hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Malam ini, ia akan menghadiri sebuah pesta pernikahan mantan teman kuliahnya dulu sewaktu mengenyam pendidikan S2 jurusan Magister Ilmu Keperawatan.


Saat ia tengah fokus mengendarai mobil kesayangannya, tiba-tiba dering ponsel berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk tanpa tahu siapa pengirimnya. Si pemilik mata tajam bagai seekor elang melirik sekilas pada benda berbentuk pipih yang diletakkan di atas dashboard mobil, tetapi tak ada niatan sedikit pun untuk membuka pesan tersebut. Ia lebih memilih terus melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju gedung resepsi pernikahan.


Tak lama berselang, ia telah tiba di sebuah hotel tempat diadakannya acara resepsi pernikahan. Dosen teladan dengan banyaknya penghargaan turun dari mobil. Mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dasi berwarna merah marun dipadu sepatu hitam mengkilat serta tatanan rambut rapi model short and spiky memberikan kesan maskulin dan tampak lebih gagah.

__ADS_1


Seorang petugas keamanan menyambut kedatangan Raihan kala pria itu memasuki lobi hotel. "Selamat malam, Pak. Ballroom resepsi pernikahan ada di sebelah sana. Bapak tinggal melangkah lurus kemudian belok ke kanan. Nanti akan ada penerima tamu yang memandu Bapak masuk ke dalam ruangan," paparnya. Memberikan arahan kepada tamu undangan sebelum mereka bertanya.


Raihan mengangguk tanda mengerti. "Baik, terima kasih!" Lantas, ia mengayunkan kaki mengikuti instruksi yang diberikan oleh pria berseragam hotel.


Berjalan dengan gagah berani memasuki gedung mewah itu tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Seorang penerima tamu pria menuntun Raihan menuju meja khusus yang berada di barisan terdepan.


"Bapak bisa duduk di sini. Jika Bapak ingin mengkonsumsi makanan ataupun minuman, standnya ada di sebelah sana." Pria berjas abu-abu menunjuk ke arah beberapa stand yang berada di samping kanan kiri. "Sebelum saya kembali, apakah ada yang ingin Bapak tanyakan?"


"Tidak ada. Terima kasih," jawab Raihan singkat. Suasana hati pria itu sedang tak tenang. Entah kenapa, sudah tiga hari belakangan ini ia selalu memimpikan sang mama. Rasa rindu akan sosok wanita itu memuncak kala ia membayangkan sorot mata teduh tengah tersenyum hangat ke arahnya.


Semenjak meninggalkan rumah peninggalan Mei Ling, Raihan terus memikirkan sang mama. Walaupun ia begitu membenci wanita yang telah melahirkannya ke dunia, tetapi jauh di lubuk sanubari yang terdalam, pria itu begitu merindukan belaian kasih sayang tulus dari mama-nya.


"Baiklah. Kalau tidak ada yang mau ditanyakan, saya permisi dulu." Penerima tamu itu segera pamit undur diri dari hadapan Raihan. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya, mengarahkan para tamu undangan penting ke meja yang telah disediakan.


Raihan mengedarkan pandangan ke segala pencudu ruangan, mencari keberadaan teman-temannya. Berada tepat di sudut ruangan, dua orang pria melambaikan tangan ke arahnya. Lantas, ia bangkit dan menghampiri mereka.


"Widih, Pak Dosen. Semakin hari semakin gagah saja nih tampaknya!" goda mantan rival Raihan saat masih duduk di bangku kuliah. Fahmi merupakan saingan terberat Raihan ketika mereka mengambil S2 jurusan Magister Ilmu Keperawatan dulu.


Di saat Andika dan Fahmi tertawa terpingkal-pingkal mendengar guyonan yang dilontarkan oleh pria berdarah blasteran, Raihan tak terlihat sedikit pun menaikkan sudut bibirnya ke atas. Ia memberikan tatapan dingin pada dua sosok pria di hadapannya.


"Ck! Raihan. Kamu ini masih saja seperti dulu, dingin dan mahal senyum. Pantas saja di usiamu yang ke-26 tahun ini masih jomblo, rupanya sikapmu tak berubah sedikit pun!" dengkus Fahmi kesal karena selalu mendapatkan tatapan dingin dari teman kuliahnya. Ia paling tidak suka bila ada seseorang menatapnya dengan tatapan tajam seolah ingin menghabisinya saat ini juga.


Andika yang melihat kedua sahabatnya yang sedari dulu terkenal sering beradu argumen dalam segala hal menghentikan tawanya sebelum resepsi pernikahan berujung pada debat yang tak berkepanjangan. Ia menangkap sinyal berbahaya jika tidak segera dipisahkan.


Pria itu mengulurkan tangan ke depan, lalu menepuk pundak Raihan dan Fahmi hampir bersamaan. "Ayolah, guys! Jangan tegang begitu. Kita baru berjumpa lagi setelah hampir satu tahun sibuk dengan urusan masing-masing. Masa baru beberapa menit saja kalian sudah bersiap adu otot sih!" keluh Andika. "Kita semua datang ke sini, untuk memberikan do'a restu kepada kedua mempelai, bukan untuk melihat kalian adu argumen seperti saat masih kuliah dulu."


Andika melirik ke arah Fahmi sambil berkata, "Fahmi, kamu jangan merasa tersinggung kala ditatap begitu oleh Dosen Tampan kita ini. Dia sejak dulu memang sering memberikan tatapan mematikan, bukan? Jadi, anggap saja tatapannya barusan adalah bentuk kasih sayang yang sengaja dia tunjukan kepadamu," ucapnya disertai kekehan ringan. "Bukan begitu, Pak Dosen?"


Pria tampan dalam balutan tuxedo abu-abu dengan dasi kupu-kupu mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Ia khawatir kedua sahabatnya itu terpancing emosi lalu terjadilah perdebatan di antara mereka. Akan jadi apa resepsi pernikahan Jonatan bila kedua sahabatnya berdebat di acara yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi kedua pengantin.

__ADS_1


Raihan mendesaah panjang. Ia sadar bila situasi saat ini terjadi disebabkan oleh kesalahannya. Tak ingin merusak suasana suka cita yang dirasa oleh dua sahabatnya, sang dosen tampan berkata, "Maafkan aku bila membuat kalian berdua merasa tidak nyaman." Berucap penuh penyesalan.


Usai mengucapkan kalimat terakhir, Raihan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Perubahan raut wajah serta tatapan mata pria itu tertangkap oleh ekor mata Andika, si pria berwajah bule.


Di antara dia, Fahmi dan Raihan, memang hanya lelaki keturunan setengah Belanda itulah yang lebih peka di antara dua sahabatnya sehingga saat terjadi perubahan ekspresi wajah pada anak bungsu Firdaus, ia menyadari jika pria bermata bulat tengah dilanda masalah. Pria itu menyenggol siku Fahmi serta memberikan isyarat kepada sang sahabat lewat gerakan mata. Lantas, kedua pria tampan itu saling menatap satu sama lain.


Lewat tatapan mata tersebut Fahmi dan Andika seakan sedang berkomunikasi. Cukup lama beradu pandang, hingga suara deheman si tengil Andika memecah keheningan suasana. "Guys! Bagaimana kalau kita duduk di sana sambil menikmati hidangan yang telah disediakan oleh pemilik hajat," ujarnya. Ia melirik ke arah Fahmi. "Mi, bukankah tadi kamu bilang haus. Sudah sana ambil minuman. Sekalian tolong ambilkan untuk Dosen kita!"


"Ah iya. A-aku haus sekali. Ya sudah, kalian duluan saja nanti aku menyusul." Fahmi membiarkan Raihan dan Andika berduaan, sebab jika ada dirinya di antara mereka sudah dapat dipastikan kalau adik kandung Rayyan tak 'kan mau berkata jujur.


Setelah Andika dan Fahmi duduk berhadapan, pria berwajah bule dengan rambut pirang kecoklatan membuka suara. "Rai, aku perhatikan sepertinya kamu sedang ada masalah. Kalau boleh tahu, ada apa? Tumben sekali wajahmu kusut dan tatapan matamu kosong."


Raihan melirik ke arah Andika sekilas, lalu menghela napas panjang. Sepintar apa pun ia menyembunyikan sesuatu bila berhadapan dengan pewaris tunggal salah satu pemilik stasiun televisi terkenal di tanah air maka terbongkar pula. Jadi, lebih baik mengaku daripada pria itu mencari tahu sendiri. Siapa tahu berbicara dengan orang lain, masalah yang tengah dialami bisa terpecahkan. Ada beberapa solusi, saran yang dapat dipertimbangkan olehnya.


"Memang benar, aku sedang ada masalah besar. Ini berhubungan dengan kedua orang tuaku." Raihan mendongakan kepala dan menatap lekat mata hazel milik pria di sebelahnya. "Sudah lama sekali aku pergi dari rumah dan selama itu pula aku tak pernah menghubungi Mama dan Papa-ku," ucapnya lirih.


"Hah? Apa katamu?" Andika tercengang. Pasalnya, selama ini ia tahu jika Raihan sangat dekat dengan kedua orang tuanya terlebih lagi ... Lena. Dosen teladan sekaligus Ketua Kaprodi Keperawatan di salah satu universitas terkenal di Jakarta begitu menyayangi sang mama.


Jadi tidak heran saat Raihan cerita kalau dia sudah lama tak menghubungi orang tuanya, Andika sangat terkejut hingga mata hazelnya nyaris copot dan menggelinding ke lantai.


Pergi dari rumah?


Lama tak menghubungi kedua orang tua?


Bagaimana bisa!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2