
Seorang wanita berwajah ayu berjalan menyusuri lorong apartemen. Suara derap langkah sepatu pentofel warna hitam mengkilap beradu dengan lantai menuju ke sebuah unit apartemen milik sang pasien. Berpakaian serba putih dengan rambut diikat menggunakan hairnet wanita itu melangkah dengan penuh percaya diri sambil sesekali memberikan senyuman ramah kepada security dan petugas yang berjaga di meja informasi.
Siang itu, usai menghabiskan satu bungkus cilok bumbu kacang dan bergosip ria bersama rekan se-profesinya, Nesa dijemput oleh mang Ujang menuju kediaman Firdaus. Ia akan menjalankan tugasnya sebagai perawat pribadi dan menjalankan salah satu misi tersembunyi untuk memberikan sedikit pelajaran bagi ibu tiri Rayyan.
Saat berada di depan pintu unit apartemen milik Firdaus, ia memastikan kembali penampilannya agar terlihat lebih rapi. Setelah itu, barulah memberanikan diri menekan bel yang terdapat di depan pintu kayu berwarna putih.
"Selamat siang, Bu. Perkenalkan, nama saya, Nesa, perawat yang diminta oleh pihak rumah sakit untuk merawat Bu Lena." Wanita berseragam perawat memperkenalkan diri pada sosok wanita paruh baya di balik pintu.
Sebelumnya, Firdaus sudah memberitahu mbok Darmi kalau ada perawat yang 'kan datang ke sana. Oleh karena itu, saat melihat Nesa mengenakan pakaian perawat lengkap dengan name tag di bagian dada, ia sudah bisa menebak kalau wanita muda itulah yang kelak akan merawat sang majikan. Meskipun begitu, ia tetap menjalankan wejangan dari majikannya sebelum mempersilakan tamu masuk ke dalam apartemen.
"Mbak Nesa dari Persada International Hospital, ya?" ucap Mbok Darmi untuk memastikan bahwa wanita itu adalah Nesa yang dimaksud oleh Firdaus.
Dengan ramah serta lemah lembut, Nesa menjawab. "Benar, Bu." Terus mengulum senyum manis di wajah.
Jemari tangan mbok Darmi memutar benda terbuat dari logam, diputarnya handle pintu tersebut hingga membuat pintu terbuka lebar.
"Silakan masuk, Mbak Nesa. Pak Firdaus sudah menunggu di dalam." Lalu, Mbok Darmi menggeser tubuhnya ke kanan agar Nesa bisa masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Berjalan bersisian dengan mbok Darmi menuju ruang tamu, sambil sesekali melihat-lihat keadaan tempat tinggal mantan pemimpin rumah sakit tempat Nesa bekerja. Seulas senyum smirk terlukis di wajah kala melihat sebuah figura foto berukuran besar yang memperlihatkan sepasang suami istri dengan satu orang anak laki-laki tampak tersenyum manis ke arah kamera. Foto itu diambil saat sang anak baru saja menyelesaikan program S1 di salah satu universitas terkenal di kota Jakarta.
'Ck! Dasar pasangan tidak tahu malu! Hidup bahagia di atas penderitaan orang lain!' gumam Nesa dalam hati. Namun, ia tak berani menyuarakan isi hatinya di depan orang lain apalagi di hadapan Firdaus dan Lena. Untuk hari pertama, biarlah dia memasang wajah manis dan ramah sebelum akhirnya memberikan pelajaran pada pasangan suami istri tak tahu malu seperti Lena dan Firdaus.
"Permisi, Pak Firdaus. Suster yang diutus oleh pihak rumah sakit sudah tiba. Saya membawanya ke sini sesuai permintaan Bapak."
Firdaus yang sedang duduk di sofa single dalam kamar utama sembari memeriksa laporan hasil pekerjaan milik Rayyan menghentikan sejenak aktivitasnya ketika mendengar suara mbok Darmi dari ambang pintu. Ia meletakkan semua dokumen di atas meja panjang terbuat dari kaca, kemudian menoleh ke sumber suara.
Kedua iris coklat saling memandang satu sama lain dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan mata Nesa begitu kagum melihat sosok mantan direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Di usia yang hampir mendekati kepala lima, tubuh Firdaus masih terlihat gagah meski rambut pria itu mulai ditumbuhi warna keperakan.
Seandainya saja Nesa tidak tahu sejarah kelam masa lalu ayah kandung dari seorang dokter bedah terkenal di Persada International Hospital, mungkin ia sudah jatuh pada pesona pandangan pertama pria paruh baya itu. Namun, otaknya masih dapat berpikir jernih sehingga tak tergoda untuk menjerat pria kaya yang sudah berumur dan memiliki istri yang tak lain adalah mantan seorang pelakor.
Lena yang kebetulan sedang menoleh ke arah Firdaus tampak tidak suka melihat sorot mata penuh kagum ditujukan sosok wanita muda di ambang pintu sana. Hati mulai gelisah, air muka kecemasan terlukis di wajah. Tubuhnya di selimuti rasa ketakutan berlebih apabila suami tercinta bermain api di belakangnya.
Tak ingin hatinya semakin dikuasai percikan api cemburu yang secara perlahan mulai menjalar ke seluruh tubuh, Lena berdehem guna mengalihkan perhatian Firdaus.
"Jadi ... kamu yang bernama Nesa? Perawat yang direkomendasikan oleh Suster Sarah untuk merawat saya?" ucapnya, membuat Firdaus mengerjapkan mata serta mengalihkan pemandangan ke arah lain.
__ADS_1
"Benar sekali, Bu Lena. Nama saya, Vanessa Karmila. Seluruh perawat di rumah sakit lebih sering memanggil saya dengan nama, Nesa. Namun, apabila Ibu ingin memanggil dengan nama Vanessa ataupun Karmila, silakan saja." Memberikan senyuman ramah pada Lena dan Firdaus secara bergantian. Hati berbunga-bunga karena dapat melihat jelas kilatan api cemburu di bola mata Lena.
"Saya merasa beruntung sekali karena diberikan kesempatan untuk merawat Ibu. Semoga Ibu merasa puas atas kinerja yang saya lakukan saat memberikan perawatan kepada Bu Lena," ucapnya lagi.
"Kamu bekerja di sini, mulai pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Namun, sebelum pukul lima apabila seluruh pekerjaanmu telah selesai dan kamu mau pulang, silakan saja. Saya akan meminta sopir mengantarkanmu pulang ke rumah."
"Setiap hari minggu dan tanggal merah, kamu boleh libur. Di saat sakit, boleh mengajukan cuti tetapi harus disertai keterangan dari rumah sakit dan cap Suster Sarah selaku atasanmu. Mengenai penghasilan, kamu pasti sudah tahu nominal yang didapat selama satu bulan bekerja di sini," papar Firdaus panjang lebar. Kembali mengingatkan beberapa point penting selama bekerja sebagai perawat pribadi. "Sampai sini, apakah ada yang ingin ditanyakan?"
Nesa menggelengkan kepala sebagai jawaban. Semua aturan kerja yang disebutkan oleh Firdaus termasuk penghasilan selama bekerja di apartemen itu dapat dipahami oleh wanita kelahiran dua puluh lima tahun silam sehingga tak ada pertanyaan yang terlintas dalam benaknya.
"Bagus. Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, Mbok Darmi akan mengajakmu berkeliling ruangan serta memberitahu di mana segala keperluan milik istri saya diletakan. Setelah itu tolong siapkan makan siang untuk istri saya."
"Baik, Dokter Firdaus." Lantas, Mbok Darmi keluar kamar disusul Nesa yang mengekori di belakang.
.
.
__ADS_1
.