
Tatkala Kayla sedang dirundung kesedihan, berbeda halnya dengan Arumi. Wanita cantik itu tengah berbunga-bunga sebab malam ini ia akan pergi berkencan dengan sang kekasih.
Malam ini adalah malam minggu pertama bagi sepasang kekasih itu menghabiskan waktu bersama.
Semenjak memutuskan berpacaran, Arumi dan Rayyan belum sekali pun pergi berkencan. Akibat terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga membuat mereka tak memiliki kesempatan untuk pergi bersama seperti pasangan kekasih pada umumnya. Oleh karena itu, di saat Rayyan tidak sedang sibuk, pria bertubuh jangkung itu memaksa Arumi menemaninya makan di luar. Ia ingin bisa merasakan malam mingguan bersama orang terkasih.
Saat ini, Rayyan sedang berdiri di depan cermin. Pria bertubuh jangkung itu tengah memperhatikan penampilannya lewat pantulan diri di depan sana.
"Kalau dipikir-pikir, tampangku cukup keren. Hidung mancung seperti perosotan, mata sipit dan tentunya berkharisma. Sangat wajar jika Arumi jatuh hati padaku," gumam pria itu. "Aku yakin, setelah menikah nanti jika Tuhan menitipkan benih di dalam rahim Arumi, anak-anak kami akan tampan dan cantik seperti Papa dan Mamanya."
Senyum semakin mengembang di sudut bibir pria itu. Membayangkan ia hidup berumah tangga bersama Arumi membuat wajahnya merah merona.
"Kapan waktu itu tiba? Aku sudah tak tahan ingin segera mempersunting Arumi dan menjadikannya Ratu di istanaku."
Namun, mendadak senyum yang terlukis di wajah pria itu memudar kala teringat bahwa di rumah itu ada wanita yang sangat dibenci olehnya. Bagaimana ia bisa membina rumah tangga bersama Arumi jika pria itu masih tetap tinggal satu atap dengan ibu tirinya? Sedangkan hubungan di antara mereka saja tidak pernah akur.
Apakah mungkin Arumi akan aman jika ditinggal sendirian di rumah? Jikalau nanti Lena dan Raihan membalaskan dendam pada istri tercinta, apakah Arumi bisa membalas perbuatan mereka? Sementara wanita itu memiliki sifat lemah lembut serta penyayang.
Rayyan menarik napas dalam dan menghembuskan secara perlahan. "Tidak ada cara lain selain membeli apartemen untuk kutinggali bersama Arumi kelak. Ya ... aku harus mulai mencari tempat tinggal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit dan rumah Tante Nyimas agar sewaktu-waktu beliau atau Arumi ingin berkunjung tak perlu memakan waktu lama."
"Atau kalau perlu, aku akan mengajak Tante Nyimas tinggal bersama kami." Rayyan menjentikan jemarinya sehingga menimbulkan bunyi di antara jari-jari tangan. "Ide brilian! Aku yakin, Arumi pasti senang jika ia tahu rencanaku untuk masa depan kami."
Senyuman yang sempat hilang kini terbit kembali bahkan semakin mengembang seperti adonan kue.
__ADS_1
Setelah memastikan penampilannya cukup rapi, Rayyan menyemprotkan parfum sebagai pelengkap penampilan. Aroma parfum kesukaannya telah berubah menjadi candu bagi Arumi. Oleh karena itu, di saat ia telah tahu jika Arumi menyukai aroma parfum miliknya, Rayyan akan mencari kesempatan agar wanita itu dapat memeluk tubuhnya dengan erat.
Ah ... pria itu bisa saja mencari kesempatan dalam kesempitan.
Ia melewati Firdaus serta Lena yang tengah duduk bersantai di sofa panjang. Kedua orang tua itu sedang menghabiskan waktu bersama sambil menonton film keluarga. Sementara Raihan, adik tiri Rayyan yang berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas terkenal di kota Jakarta selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia dan Rayyan sama-sama gila pekerjaan (workaholic) hingga lupa jika usia mereka sudah waktunya berumah tangga.
"Ray! Kamu mau ke mana?" seru Firdaus. Kerutan tipis terlukis di kening kala melihat penampilan Rayyan begitu keren, necis serta klimis.
Mendengar seruan dari sang papa, mau tidak mau Rayyan menghentikan sejenak langkahnya. Ia menghembuskan napas kasar sebelum menoleh ke arah sang papa.
Rayyan menoleh ke arah Firdaus dan tak sengaja netranya bertemu pandang dengan ibu tirinya. Ia segera mengalihkan tatapan ke arah lain.
"Aku akan bertemu dengan temanku, Pa," ucap Rayyan dingin. "Jika Papa ingin mendiskusikan tetang pekerjaan, tunggu sampai besok pagi. Malam ini, aku sedang tidak ingin membahas pekerjaan."
"Bocah kenthir!" pekik Firdaus. Ia mengeram sambil mencengkram pinggiran sofa yang diduduki. "Berani-beraninya pergi di saat aku belum selesai bicara!"
Sedari tadi Lena mencuri pandang ke arah Rayyan. Memperhatikan penampilan pria itu mulai dari atas kepala hinga ke ujung kaki. Rapi dan sangat memesona.
"Kamu tampan sekali malam ini. Apakah kamu akan pergi berkencan dengan seseorang?" Ingin rasanya Lena menyuarakan pertanyaan itu. Akan tetapi, mengingat hubungannya dengan Rayyan tak pernah akur, akhirnya kalimat itu terhenti di kerongkongan.
Suara pekikan Firdaus sukses mengembalikan kesadaran Lena. Wanita itu menoleh ke arah sang suami. Raut wajah pria itu memancarkan kemarahan. Dadanya kembang kempis dan telapak tangan mengepal di samping.
"Sabar, Mas. Jangan marah-marah terus. Nanti tensi darahmu naik loh!" Lena mengusap lembut punggung Firdaus dengan lembut. "Tidak lucu jika seorang direktur rumah sakit dan dokter kandungan hebat sepertimu dirawat di rumah sakit hanya karena tensi darah naik."
__ADS_1
"Tapi aku kesal, Ma! Sikap Rayyan tidak pernah berubah meski bertahun-tahun menetap di Jepang," dengus Firdaus kesal. Tangan pria itu semakin mencengkram pinggiran sofa.
Dengan penuh sabar, Lena kembali meredakan emosi dalam diri Firdaus. "Bukankah sikap Rayyan memang begitu sejak dulu? Jauh sebelum dia pergi ke Jepang pun sikap anak sulungmu dingin, keras kepala dan sedikit susah diatur. Jadi, untuk apa sekarang kamu memarahinya lagi? Sedangkan kamu tahu sifat anakmu seperti apa."
Lena mencoba menenangkan Firdaus agar pria itu tak tersulut emosi sebab ia cemas kemarahan itu akan berakhir dengan sebuah pertikaian yang melibatkan suami dan anak tirinya.
"Lebih baik sekarang kita kembali fokus pada tayangan di depan sana. Sayang, acara bagus malah dianggurin." Lena tersenyum seraya merangkul lengan Firdaus. Dengan begini, pria itu tak akan lagi mengomel seperti tadi.
"Sial!" umpat Rayyan seraya memukul stir mobil dengan kencang. "Kenapa harus bersitatap dengan Ja*ang itu sih! Benar-benar merusak mood-ku saja!"
Beruntungnya di waktu bersamaan, telepon genggam Rayyan berbunyi. Sebuah notifikasi pesan dari kekasih pujaan hati terpampang di layar ponsel.
Telepon genggam itu menggunakan aplikasi face unlock sehingga Rayyan tinggal memposisikan wajah dengan baik di layar benda pipih itu kemudian secara otomatis kunci terbuka dengan sendirinya.
Ia membaca pesan yang dikirim lewat aplikasi WhatsApp.
[Ray, kamu sudah sampai mana? Kalau kamu sudah memasuki kawasan perumahan Mamaku, tunggu saja di depan mini market dekat rumah. Nanti aku akan datang ke sana.]
Senyuman tipis terlukis di wajah. Pesan itu sukses mengembalikan perasaan Rayyan yang sempat tak karuan. "Kamu hadir di waktu yang tepat, Babe."
Tangan kekar itu segera mengetikkan balasan terhadap pesan yang dikirim oleh Arumi. Jemari Rayyan menari indah di atas layar ponsel berukuran 6.2 inci.
[Baiklah, jika itu maumu. Aku baru saja keluar rumah. Mungkin sekitar satu jam baru tiba di lokasi. Jika sudah sampai, akan kukabari lagi.]
__ADS_1
Setelah pesan terkirim, Rayyan menyalakan mesin kendaraan. Menginjak pedal gas menuju kediaman Nyimas. Seperti biasa, pria itu akan memutar musik kesukaannya sebagai teman setia selama dalam perjalanan.