
Resepsi pernikahan putra sulung pemilik Persada International Hospital berlangsung dengan sangat meriah. Banyak kerabat, teman, kenalan dan para tetangga yang hadir dalam pesta tersebut. Mereka memberikan do'a restu bagi kedua mempelai.
Di antara tamu undangan yang hadir, satu di antaranya adalah Naura. Gadis cantik yang beberapa hari lalu datang ke rumah Firdaus, berniat melamar Rayyan tuk dijadikan suami. Walaupun hatinya masih terasa sakit, tapi gadis itu tetap menghadiri resepsi pernikahan rekan sejawatnya.
Cahaya sinar matahari menerobos masuk melalui celah vitrase membuat seorang gadis berwajah khas keturunan Arab terbangun dari tidurnya yang panjang.
"Eugh! Mama ... tolong tutup gordennya. Aku masih ingin tidur," gumam Naura dengan mata terpejam.
Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang menuruti perintahnya membuat gadis itu kesal. Ia mengerjapkan mata secara perlahan, lalu duduk dan bersandar di headboard ranjang seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Setelah nyawa gadis itu berkumpul kembali dengan raganya, bola mata bulat itu terbelalak sempurna.
"Oh astaga! Apa yang sebenarnya terjadi?" jerit gadis itu histeris. Rasa cemas datang menghampiri kala melihat keadaan kamar hotel berantakan seperti kapal pecah.
Saat ini Naura sedang berada di sebuah kamar hotel bintang lima dalam keadaan tubuh hanya mengenakan gaun malam berwarna hitam dengan bagian renda di bagian depan. Wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat. Keringat dingin mulai membasahi kening dan tubuhnya pun gemetar hebat.
Sekelebat kejadian tadi malam melintas dalam benak gadis itu. Kejadian di mana Naura tengah duduk sendirian dan tiba-tiba saja ada sekelompok preman datang menghampiri. Mereka berniat melakukan tindakan asusila terhadap putri semata wayang Arya dan Cahaya.
Namun, usaha mereka gagal sebab di saat yang bersamaan datang seorang pria yang menolong dirinya dari kepungan orang jahat. Sebelum pingsan, ia hanya mengingat bahwa dirinya jatuh dalam pelukan pria yang telah menolongnya.
"Sial! Jangan-jangan, pria itu mengambil kesempatan di saat aku sedang tak sadarkan diri! Benar-benar berengsek!" maki Naura.
Tak mau terus dihantui rasa bersalah karena tak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, ia bangkit dari ranjang. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan pikirannya pun sedang kacau.
Usai membersihkan diri, gadis itu mengeringkan rambut menggunakan hairdryer yang ada di dalam laci westafel. Saat sedang sibuk menyisir rambut panjang hitam miliknya, suara bel kamar hotel berbunya. Gadis itu bergegas membukakan pintu.
"Selamat pagi, Bu. Saya dari room service ingin mengantarkan makanan." Seorang petugas hotel wanita tersenyum ramah. Di samping wanita itu terdapat satu buah troli terbuat dari stainless berisi beberapa hidangan khusus untuk tamu di kamar presidential suite.
__ADS_1
Kening Naura mengerut. Gadis itu bingung, sebab ia tidak pernah meminta room service datang ke kamar untuk mengantarkan makanan.
Seakan mengerti isi pikiran Naura, pelayan wanita itu kembali berucap. "Sebelum Mister R pergi meninggalkan kamar hotel, dia berpesan pada saya untuk mengantarkan makanan tepat pukul delapan pagi. Atas permintaannya, saya datang ke sini, mengantarkan sarapan untuk Ibu."
Naura mencebik. "Dasar pria tidak bertanggung jawab. Benar-benar berengsek!" ucapnya lirih. Gadis itu merutuki kebodohannya karena telah menganggap pria asing itu sebagai seorang penyelamat namun ternyata dia sama saja seperti para preman semalam. Sama-sama bejat dan tak bisa menahan hasr*t tuk bercinta dengan wanita selain pasangannya.
"Bagaimana, Bu, makanannya mau saya taruh di dalam kamar?" tanya pelayan wanita, mengembalikan pikirannya yang sempat kosong beberapa saat.
Naura tersenyum kaku, lalu berusaha bersikap tenang seperti biasa. "Ehm ... ya, bawa masuk semua makanan ini dan tolong tata dengan rapi. Saya akan segera kembali."
Pintu kamar terbuka lebar. Naura menggeser tubuhnya sehingga pelayan wanita itu masuk ke dalam kamar.
Tak memerlukan waktu lama, pelayan wanita itu pun telah selesai menatap semua hidangan di atas meja. Hari ini, pihak hotel menyediakan menu andalannya berupa nasi goreng seafood lengkap dengan brokoli, wortel yang telah direbus, satu gelas jus segar, air mineral dalam kemasan serta buah-buahan segar yang telah dipotong kecil-kecil.
Sebelum beranjak meninggalkan kamar, pelayan wanita itu menyodorkan paper bag berwarna coklat ke hadapan Naura. "Di dalam paper bag ini ada satu set pakaian untuk Ibu. Mister R yang telah membelikannya khusus untuk Ibu."
Meskipun ia tampak kecewa karena pria itu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan kepada dirinya, Naura tetap menerima paper bag tersebut. Jika tidak, ia tak kan dapat pulang ke rumah hanya mengenakan gaun malam berwarna hitam. Pakaian perang yang biasa digunakan oleh seorang wanita ketika hendak memberikan service untuk suami tercinta.
"Terima kasih."
Setelah sarapan, Naura memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia yakin, kedua orang tuanya telah menunggu di rumah dengan harap-harap cemas. Beruntungnya, kunci mobil milik gadis itu serta barang-barang yang ada di dalam tas masih utuh, tidak ada satu barang pun yang hilang termasuk telepon genggam dan dompet.
Di perjalanan, Naura mencoba mengingat kembali wajah pria asing yang telah merenggut kesuciannya. Akan tetapi, semakin ia berusaha mengingat paras si mister R itu yang ada malah sekelebat wajah menyeramkan para preman jahat muncul dalam benaknya.
"Sialan, kenapa yang muncul malah wajah para preman jahat itu sih!" dengus Naura kesal. Sangat membenci situasi seperti ini.
__ADS_1
Naura berpikir, bagaimana ia meminta pertanggung jawaban mister R jika wajah pria itu saja gadis itu tak mengingatnya. Apa yang akan dikatakan oleh Arya dan Cahaya jika tahu anak kesayangan mereka sudah tak suci lagi? Apakah kedua orang tuanya akan mengusir dirinya setelah tahu ia tak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita? Bagaimana jika ia hamil dan pria asing itu tak kunjung ditemukan.
"Pokoknya, aku harus menyelidiki siapa dan di mana pria itu tinggal. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya kepadaku." Lalu, Naura pun mulai memikirkan cara untuk mencari informasi pria asing itu.
Mobil yang dilajukan oleh Naura mulai memasuki pekarangan rumah mewah di perumahan elite di kawasan Jakarta Pusat. Terlahir dari keluarga berada membuat orang tua Naura tak kesulitan tuk membeli rumah di pusat kota. Walaupun harganya mencapai milyaran, tapi pasangan suami istri itu mampu membelinya.
Naura berjalan masuk ke dalam rumah. Detak jantung gadis itu berdegup lebih kencang, kecemasan pun menyelimuti diri. Sepanjang perjalanan gadis itu mempersiapkan mental dan mencari jawaban tepat untuk menjawab pertanyaan yang pasti ditanyakan oleh orang tuanya.
Ia semakin gugup kala melihat sang mama tengah duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan ponsel.
Dari jarak tiga meter, suara lembut Cahaya sayup-sayup terdengar di indera pendengaran Naura.
"Astaga, aku tak menyangka jika selama ini dia ternyata seorang pelakor. Pantas saja istrinya marah besar setelah tahu sahabat dan suaminya berselingkuh. Wanita itu tidak pantas menjadi teman putriku!"
Deg!
Langkah kaki Naura terhenti. Ucapan sang mama membuat jantungnya terasa berhenti berdetak. Mungkinkah Cahaya sudah tahu jika Kayla adalah seorang pelakor? Jika iya, wanita paruh baya itu tahu dari mana? Sedangkan seingatnya tidak ada informasi apa pun yang tengah hangat diperbincangkan di dunia hiburan tanah air.
Gadis itu memberanikan diri mendekati Cahaya. Dengan lirih ia berucap, "Mama kenapa? Ada masalah apa?"
.
.
.
__ADS_1