Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Permintaan Terakhir Lena


__ADS_3

Setelah insiden kebakaran yang menghanguskan seluruh barang berharga milik Firdaus, Raihan memutuskan mengajak Lena tinggal bersama dengannya di unit apartemen yang telah disewanya selama satu tahun ke depan. Sebagai tanda bakti seorang anak terhadap orang tua, ia berkeinginan untuk merawat Lena meski rasa sakit hati itu masih ada di dalam dada. Dosen tampan itu berpikir, seandainya bukan dia yang merawat sang mama, lalu siapa lagi? Sementara di dunia ini, Lena hidup sebatang kaya tanpa ada sanak keluarga selain Raihan, selaku anak kandung.


Saat Raihan baru saja masuk ke dalam apartemen, ia melihat Puspa mengayunkan kakinya menuju dapur dengan membawa nampan berisi bubur ayam serta segelas air putih. Akan tetapi, mangkuk dengan gambar ayam jago di bagian pinggirannya masih tersisa banyak bahkan takaran air putih di dalam gelas pun tak berkurang sama sekali.


Puspa menggeleng cepat sambil menjawab, "Benar, Pak. Bu Lena bahkan tak melirik sedikit pun pada nampan yang saya bawa. Tatapan mata Ibu kosong seakan jiwanya tak lagi ada di sini."


Raihan menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Inilah yang dia takutkan setelah Lena pulang dari rumah sakit, sang mama tak bisa melupakan kenangan saat Firdaus masih hidup di dunia ini. "Ya sudah, letakkan saja bubur itu ke dalam lemari pendingin. Beberapa menit lagi baru dihangatkan dan suguhkan ke hadapan Mama. Jangan sampai tidak ada asupan energi sama sekali yang masuk ke dalam tubuh Mama."


Puspa menganggukan kepala sambil berucap, "Baik, Pak. Nanti saya coba lagi." Setelah pamit undur diri dari hadapan Raihan, Puspa kembali ke dapur untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan sedangkan anak kandung dari pasangan Firdaus dan Lena melanjutkan langkah menuju ruang keluarga.


Raihan menghampiri Lena yang sedang duduk di kursi roda, menghadap ke arah luar jendela. Selain duduk termenung seorang diri, tak ada lagi kegiatan yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu. Hingga detik ini, tampaknya ibu kandung Raihan masih belum bisa move on atas meninggalnya suami tercinta.


"Mama kenapa kok tidak mau makan sama sekali? Memangnya semua masakan yang dimasak oleh Mbok Darmi tidak lagi sesuai dengan selera Mama, begitu? Kalau iya, Mama boleh request makanan yang diinginkan biar nanti aku meminta si Mbok membuatkannya khusus untuk Mama," ucap Raihan panjang lebar. Menawarkan alternatif lain agar mama tercinta mau makan.


Namun, lagi dan lagi, Lena melakukan hal yang sama, tak mau menjawab pertanyaan siapa pun termasuk sang anak.


Terdengar helaan napas panjang bersumber dari bibir Raihan. Dosen tampan dengan segudang prestasi di bidang akademik tampaknya harus lebih bersabar menghadapi Lena. Ia ulurkan tangan ke depan, mengusap bahu mamanya dengan lembut. "Ya sudah, nanti aku coba minta si Mbok membuatkan makanan kesukaan Mama."


Lalu, pria itu menatap ke atas langit. Langit mulai kelabu, sinar matahari diselimuti awan tebal. Angin berembus sangat kencang hingga membuat tubuh terasa dingin sampai ke tulang sumsum yang terdalam.

__ADS_1


"Kita masuk ke dalam yuk, tampaknya sebentar lagi hujan deras turun. Jika Mama terus berdiam diri di sini nanti malah kena tampias hujan dan masuk angin, bagaimana? Aku tidak mau Mama sakit," ucap Raihan lembut.


Saat Raihan hendak menarik kursi roda milik mama tercinta, tiba-tiba saja Lena berkata, "Biarkan saja Mama sakit agar lekas menyusul Papa-mu di surga. Hidup Mama terasa hampa semenjak Papa meninggal. Dengan begitu, langkah Mama semakin dekat menyusul Papa-mu di sana."


Raihan bergegas berjongkok di samping kursi roda Lena dan menjawab, "Tidak! Mama jangan bicara sembarangan!" seru lelaki tampan berhidung mancung. "Di dunia ini masih ada aku. Memangnya Mama tidak kasihan padaku jikalau aku hidup sebatang kara di dunia ini? Bukankah Mama juga pernah bilang di depan pusara Papa bahwa akan terus bertahan demi aku, lalu kenapa sekarang Mama berkata omong kosong seperti ini. Kenapa, Ma?"


"Di dunia ini aku hanya mempunyai Mama dan Kak Rayyan. Namun, Kakakku sendiri memintaku menjaga jarak demi kebaikan bersama. Jika sudah begini, aku tak bisa memaksa dia untuk menerimaku sebagai saudara. Bila dipaksa, aku khawatir Kak Rayyan semakin membenciku," ucapnya lirih. Bibir pria itu gemetar disertai dada yang terasa sesak bagai dihimpit oleh bongkahan batu besar.


Lena menoleh ke samping kiri, menatap lekat iris coklat Raihan. "Maksudmu, Rayyan meminta agar kita menjauh dari keluarganya, begitu?"


Raihan mengangguk cepat. "Benar. Saat pemakaman Papa, aku telah berbicara empat mata dengannya. Pada kesempatan itu, aku meminta maaf karena selama ini telah membenci Kak Rayyan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pikir, dia membenci Mama tanpa alasan trtapi rupanya di masa lalu kedua orang tuaku telah melakukan suatu kesalahan besar hingga menyebabkan seorang anak remaja harus kehilangan sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini."


Raihan menarik napas dalam seraya memejamkan mata sejenak. "Kak Rayyan sudah memaafkanku, tetapi dia memintaku dan membawa serta Mama agar pergi jauh dan tak pernah menampakkan batang hidung di hadapannya. Dia ingin kehidupan rumah tangganya damai tanpa kehadiran orang-orang yang berkaitan dengan masa lalunya."


Lena kembali menatap lurus ke depan, senyuman tipis terlukis di wajah. "Begitu rupanya. Jadi dia ingin memutuskan hubungan di antara kita," ucap wanita itu lirih. Hatinya terasa sakit ketika mendengar perkataan Raihan.


Jauh di lubuk hati yang terdalam, di situasi seperti ini ia ingin sekali Raihan dan Rayyan bersatu, hidup akur tanpa adanya rasa dendam sedikit pun di dalam hati. Akan tetapi, mengingat semua yang terjadi di masa lalu, membuat ibu kandung Raihan tersadar jika semua itu hanyalah angannya saja dan tak kan pernah terjadi.


Lena kembali berkata, "Lantas, apa yang akan kamu lakukan. Apakah kamu bersedia menuruti permintaan Rayyan, pergi jauh dari kota ini?"

__ADS_1


Raihan bangkit dari posisinya saat ini. Ia mendudukan bokongnya di atas ayunan yang terbuat dari rotan. "Aku sudah memikirkannya dengan matang. Tampaknya, kita memang harus pergi dari sini. Di kota ini banyak sekali kenangan buruk yang membuat dadaku terasa nyeri, hatiku pun sakit setiap kali mengingat kejadian dulu."


"Oleh karena itu, aku telah membuat keputusan, lebih baik kita menuruti permintaan Kak Rayyan demi kebaikan kita bersama. Bagaimana menurut Mama?" tanya Raihan, memberikan kesempatan pada Lena untuk mengemukakan pendapat sebelum keputusan diambil.


Lena memejamkan mata sejenak. Telapak tangan meremas bagian sandaran lengan kursi roda. Sungguh, ini merupakan keputusan berat yang diambil oleh wanita itu. Bila ia menyetujui keputusan Raihan, itu artinya dia tak 'kan pernah lagi bertemu dengan ketiga cucu kesayangannya. Triplet, bayi lucu dan menggemaskan itu tidak dapat lagi ditemuinya.


Namun, bila ia tetap berada di Jakarta maka selamanya luka di hati Rayyan tidak pernah sembuh karena kemungkinan besar mereka dapat bertemu di suatu tempat.


Membuka kelopak mata secara perlahan. Menarik napas dalam, lalu berkata, "Jika itu yang terbaik maka Mama setuju. Tapi, sebelum pergi Mama ingin bertemu Triplet untuk terakhir kali. Bisakah kamu mengabulkan permintaan ini, Nak? Setelah itu, Mama ikhlas mengikutimu ke mana pun kamu pergi."


Raihan memandangi punggung Lena dari belakang. Sebuah senyuman getir tergambar jelas di wajahnya yang tampan. "Aku usahakan ya, Ma. Tapi aku tidak bisa janji. Ya, semoga saja Kak Rayyan bersedia mengabulkan keinginan Mama."


Wanita paruh baya yang duduk di kursi roda tersenyum samar bahkan nyaris tak terlihat. Ia tahu persis permintaannya ini tidaklah mudah tetapi jika tak mencobanya sampai kapan pun ibu kandung Raihan tidak pernah tahu jawaban yanh diberikan oleh anak tirinya kelak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2