Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Mister R


__ADS_3

Naura berjalan tergesa-gesa di antara banyaknya mahasiswa yang hendak memasuki gedung empat tingkat sebuah kampus terkenal di Jakarta. Bermodalkan informasi dari orang yang dipercaya, gadis itu melangkah menuju ruang dosen. Tekadnya sudah bulat ingin menemui pria asing yang menyebut dirinya dengan nama mister R untuk minta pertanggung jawaban.


"Awas saja kalau dia sampai tidak mengaku jika telah memperk*saku maka bersiaplah menerima tamparan keras yang akan kudaratkan di pipinya!" sungut Naura sambil terus melangkah maju menuju ruang dosen. Ia semakin bersemangat kala netranya melihat sebuah tulisan menempel di depan pintu masuk ruangan dosen.


Setelah tiba di depan ruang dosen, gadis itu berhenti sejenak. Tangan Naura sibuk membuka pesan yang dikirimkan oleh seseorang, lalu merekam wajah pria yang ada dalam foto ke dalam memori ingatannya.


"Oke, aku sudah tahu wajah pria itu seperti apa."


Kemudian, ia memasukan kembali benda pipih itu ke dalam tas. Tangannya mulai mengetuk pintu, setelah itu barulah ia masuk ke dalam. Meskipun telah merekam jelas wajah pria asing yang telah menyelematkannya sekaligus merampas kehormatannya, tidak menjamin Naura dengan mudah menemukan pria itu.


Ruang dosen itu cukup luas dan terdapat sekat pada masing-masing meja sehingga Naura mengalami kesulitan saat mencari keberadaan mister R. Beruntungnya saat itu ada salah satu dosen pria yang melintas di hadapan Naura.


"Permisi, Pak. Kalau meja mister R, di mana?" tanya Naura ramah.


Dosen pria berambut keperakan itu mengernyitkan alis, petanda bingung. Selama mengajar di kampus itu, ia sama sekali belum mendengar nama dosen yang dijuluki mister R.


"Maaf, Mbak. Di sini tidak ada dosen yang biasa dipanggil Mister R. Mungkin Mbak salah ruangan."


Bola mata Naura terbelalak kala mendengar jawaban pria berambut keperakan di depannya. Ia sudah menduga jika mister R itu hanya nama samaran saja untuk menyembunyikan identitasnya yang asli. Namun, akal sehat Naura kembali bekerja. Buru-buru ia menunjukan foto yang dikirim oleh orang kepercayaannya.


"Kalau pria ini, apakah Bapak mengenalnya?" Naura menyodorkan benda pipih berukuran 6.2 inci ke depan pria paruh baya.


Saat melihat foto pria yang dimaksud, pria tua itu menatap Naura penuh selidik. Lalu, dia berkata. "Kalau pria yang dimaksudkan oleh Mbak adalah Pak Raihan, ruangannya ada di sebelah sana. Ruangan khusus kepala Kaprodi Fakultas Keperawatan."


Naura kembali dikejutkan oleh fakta yang ada. Satu demi satu identitas pria asing itu mulai terungkap. Baru saja ia membuka mulut, tiba-tiba saja suara berat pria paruh baya itu menghentikan gadis itu.


"Sudah dulu ya, Mbak. Saya buru-buru." Tanpa menunggu jawaban Naura, pria berambut keperakan itu berlalu begitu saja.


Gadis keturunan setengah Arab itu membeku di tempat, pikirannya kosong seketika. Semua fakta yang ada membuat Naura terkejut. Bagaimana mungkin pria terhormat seperti mister R melakukan tindakan asusila? Ia mulai menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.

__ADS_1


Tak ingin membuat waktu terlalu banyak, Naura melangkah maju menuju ruangan khusus yang ada di sudut ruangan. Di depan pintu ruangan yang terbuat dari kaca almunium, ia dapat melihat pria itu tengah membelakangi pintu sehingga putri kesayangan pasangan Arya dan Cahaya tak dapat melihat jelas wajah pria itu.


"Finally, I got you!" ucap Naura sembari menerobos masuk ke dalam ruangan. Membanting pintu cukup keras hingga membuat Raihan menoleh ke sumber suara.


"Hei, mau apa ka--"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Raihan. Pria itu terkesiap, pun begitu dengan Naura.


Kelopak mata gadis itu mengerjap beberapa kali saat melihat wajah Raihan dari jarak sedekat ini. Wajah tampan rupawan itu mengingatkannya pada sosok pria yang telah menolak lamarannya beberapa waktu lalu.


Naura baru sadar jika wajah Raihan begitu mirip dengan Rayyan. "Rayyan," ucapnya lirih.


Menatap dengan tatapan lekat, mengamati setiap inci bagian wajah pria itu. Mulai dari wajah dan hidung begitu mirip dengan Rayyan.


Mendengar nama sang kakak disebut, ekspresi wajah Raihan berubah. Tatapan mata pria itu penuh kebencian. Rahang pria itu mengeras, kedua tangan pun mengepal sempurna. Ia memutar badan, membelakangi Naura.


Naura tampak terkejut akan sikap yang ditunjukan oleh pria yang menyebut dirinya adalah mister R. Merasa diusir secara halus membuat gadis itu naik pitam.


"Kamu harus bertanggung jawab padaku. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menikahiku!" ujar Naura tanpa berpikir panjang. Gadis itu bertolak pinggang seraya menatap Raihan dengan sorot mata penuh kebencian.


Berbicara lantang dan tegas, meminta pertanggung jawaban pada pria asing yang telah menolong gadis itu tanpa meminta penjelasan terlebih dulu, benar-benar konyol!


Lantas, Raihan membalik tubuh. Rasa sakit bekas tamparan Naura masih terasa hingga detik ini. Seumur hidup, baru kali ini mendapat tamparan keras dari lawan jenis. Biasanya bogeman mentah yang ia terima dari Rayyan, namun kali ini tangan halus nan lembutlah yang mendarat di pipi pria itu.


Pria itu menatap sinis ke arah dokter cantik di hadapannya. Tak terima jika gadis aneh yang ditolong olehnya malah memberikan tamparan, bukan ucapan terima kasih yang terucap dari bibir dokter bermata bulat.


Perlahan, Raihan melangkah maju mendekati Naura. Awalnya Naura bersikap biasa saja, tapi semakin lama jarak di antara mereka semakin dekat. Hingga tanpa sadar, kini tubuh gadis itu telah mentok di dinding.

__ADS_1


Naura mengerjapkan mata kala menyadari tatapan mata Raihan memancarkan aura yang berbeda. Ruangan itu terasa dingin, membuat bulu kudu gadis bermata bulat itu merinding.


Di depan sana, Raihan tersenyum smirk. Lantas, ia mengungkung Naura dengan meletakkan kedua tangan ke dinding. Posisi dua insan manusia itu begitu intim hingga mereka dapat merasakan embusan napas masing-masing.


"Atas dasar apa aku menikahimu? Bukankah pertemuan kita hanya ketidaksengajaan saja? Lalu, mengapa aku harus menikahimu?" tanya Raihan dingin. Memberikan tatapan mata tajam, sama seperti tatapan yang sering diberikan oleh Rayyan pada Naura.


Mata bulat Naura semakin melebar sempurna. Tak mengira jika pria itu benar-benar tak berniat bertanggung jawab atas apa yang diperbuat olehnya.


Kedua tangan mengepal di samping, memasang wajah tak bersahabat. Dengan ketus Naura menjawab. "Tentu saja kamu harus bertanggung jawab, sebab kamu sudah merenggut kesucianku tadi malam!" pekiknya.


Raihan terdiam sejenak. Lalu, detik berikutnya ia tertawa lepas. Ia merasakan ada tangan tak kasat mata menggelitik perut, terasa geli dan membuatnya ingin terus tertawa.


Tubuh pria itu berguncang hebat di depan Naura. Saat tatapan Naura tak sengaja menatap wajah Raihan, ia merasa ada gelenyar aneh menelusup masuk ke dalam relung hati. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Degup jantung gadis itu pun mulai memompa lebih cepat dari biasanya. Tubuh Naura sedikit menegang kala cahaya matahari menerobos masuk melalui dari kaca jendela, menerpa wajah Raihan dari sisi kanan. Ia terpesona akan ketampanan pria itu. Parasnya tidak kalah tampan dari sang kakak.


Saat Raihan tertawa, sosok pria dingin dengan sorot mata tajam telah berubah menjadi pria hangat yang mampu menggetarkan jiwa. Naura berdebar hingga kakinya terasa lemas. Apakah mungkin ia telah jatuh cinta pada Raihan? Ataukah itu hanya perasaannya saja karena wajahnya mirip dengan Rayyan?


Tatkala Naura tengah sibuk dengan pikirannya, Raihan kembali menatap gadis aneh di hadapannya. Melihat mata bulat seperti bola ping pong, Raihan terkesiap beberapa saat. Ia tersadar ini merupakan pertama kalinya pria itu tertawa lepas di depan seorang gadis. Biasanya anak bungsu Firdaus akan sulit tertawa lepas jika bersama seorang gadis.


Saat tatapan mata mereka bertemu di udara, tampak jelas sorot mata keduanya memancarkan sesuatu yang berbeda, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka saja.


'Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta pada pria ini,' batin Naura seraya memalingkan wajah ke sisi lain.


Sementara Raihan lebih memilih duduk kembali di kursi kebanggannya. Ia merasakan jantungnya mau melompat keluar dari terlalu lama bersitatap dengan si pemilik mata bola ping pong.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2