Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Hilton Tokyo Odaiba, Jepang


__ADS_3

Destinasi pertama yang akan dikunjungi oleh Arumi dan Rayyan adalah Jepang, salah satu negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasifik.


Di negara sakura itulah, suami baru Arumi mengenyam pendidikan dan mengabdikan diri sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit yang ada di Tokyo. Sebenarnya ia ingin sekali pulang dan bekerja di rumah sakit yang didirikan oleh mendiang mama tercinta. Akan tetapi, pria berdarah setengah Tionghoa itu belum siap bila bertemu kembali dengan Lena. Oleh karena itu, Rayyan lebih memilih bekerja dan menetap di sana selama beberapa tahun.


"Honey, kapan kita akan sampai di bandara Tokyo Narita?" tanya Arumi. Wanita itu tengah merebahkan tubuh di kursi penumpang.


Saat ini, pasangan suami istri itu tengah berada dalam pesawat kelas bisnis yang akan mengantarkan mereka ke bandara Tokyo Narita.


Rayyan yang tengah sibuk membaca buku kedokteran, mengalihkan pandangannya kala mendengar suara merdu Arumi. Pria itu menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.


Mengulum senyum hangat ke hadapan sang istri. "Kenapa, kamu sudah lelah berada di dalam pesawat terus hem?" Rayyan duduk di sebelah Arumi. Hanya dipisahkan oleh meja kecil yang menjadi pembatas antara kursi miliknya dan kursi milik Rayyan.


"Memangnya kamu tidak bosan duduk terus di kursi penumpang selama hampir enam jam?" Bibir wanita itu mengerucut ke depan. Ia sedikit bosan karena sejak tadi terus berada di dalam pesawat. Meskipun disediakan berbagai fasilitas tapi tetap saja Arumi merasa bosan.


Rayyan terkekeh pelan. Tangan pria itu menutup buku tebal yang sengaja ia bawa sebagai pengusir kebosanan selama berada dalam pesawat. Ini merupakan pengalaman ketiga kali Rayyan naik pesawat dengan waktu tempuh yang cukup lama. Oleh karena itu, ia sengaja membawa buku untuk dibaca di dalam pesawat agar tidak bosan.


"Tentu saja aku bosan. Buktinya, sejak tadi aku sibuk membaca buku," jawab Rayyan lembut. Pria itu memutar tubuhnya menghadap ke arah Arumi. Mengulurkan tangan ke depan, lalu menangkup wajah sang istri. "Kalau bosan, kamu bisa tidur dulu. Setelah tiba di bandara, akan kubangunkan."


Arumi mengembuskan napas panjang. Lalu menyentuh pergelangan tangan Rayyan yang menangkup wajahnya, mengusap lembut seraya menatap intens bola mata milik suaminya. Netra keduanya saling memandang satu sama lain. Sorot mata itu memancarkan kilatan penuh cinta dari keduanya.


"Ya sudah, kalau begitu aku tidur dulu. Kamu juga jangan lupa istirahat. Tidak boleh memaksakan diri untuk terus membaca buku."


Rayyan terdiam beberapa saat. Sentuhan lembut itu membuat dirinya merasa nyaman. Tanpa sadar, ia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Arumi.


"Baik. Sebentar lagi aku akan menyusulmu tidur. Sampai bertemu di alam mimpi."

__ADS_1


Arumi merebahkan tubuhnya di kursi penumpang, mencari posisi nyaman agar bisa terlelap. Lampu temaram dan suasana cukup sepi karena waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam Waktu Indonesia Barat membuat wanita itu memejamkan mata. Tak lama kemudian, ia mulai tertidur dengan wajah menghadap ke arah suaminya.


Setelah memakan waktu kurang lebih selama tujuh jam dua puluh lima menit, akhirnya pesawat yang membawa beberapa penumpang telah tiba di bandara Tokyo Narita. Saat tiba di sana, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam waktu setempat.


Selama berbulan madu, Rayyan dan Arumi akan menginap di hotel yang ada di kawasan Tokyo. Bukan tanpa alasan Rayyan memesan hotel di ibu kota Jepang, sebab di kota ini keamanan dan kenyaman bagi para wisatawan sangat terjamin.


"Tolong antarkan kami ke Hotel Hilton Tokyo Odaiba," pinta Rayyan dalam Bahasa Jepang.


Sebelum memutuskan melanjutkan kuliah di Jepang, Rayyan banyak mengikuti kursus bahasa Jepang sebagai model dasar pria itu saat kuliah nanti. Beruntungnya kecerdasan Rayyan di atas rata-rata sehingga tak perlu membutuhkan waktu lama bagi pria berusia dua puluh tujuh tahun itu tuk bisa menguasai bahasa asing selain Bahasa Indonesia, Mandarin dan Bahasa Inggris. Sehingga saat kembali ke negeri sakura, ia tidak mengalami kesulitan sama sekali saat berinteraksi dengan penduduk setempat.


"Baik, Tuan." Sopir yang duduk dibalik kemudi segera menginjak pedal gas menuju sebuah hotel yang berada di pinggiran laut kota Tokyo.


Memakan waktu sekitar kurang lebih lima puluh tiga menit dan jarak tempuh sekitar 68,5 KM, akhirnya taxi yang ditumpangi oleh pasangan suami istri itu telah tiba di depan pintu lobi Hotel Hilton Tokyo Odaiba. Seorang petugas hotel membantu Rayyan menurunkan koper dari dalam bagasi. Sementara Rayyan tengah sibuk mengeluarkan uang dari dalam dompet.


"Rayyan, aku perhatikan jarak hotel ini dari Bandara Tokyo Narita cukup jauh. Ehm ... sekitar hampir satu jam. Kenapa kita tidak memesan hotel dekat bandara saja, kan tidak perlu jauh-jauh saat hendak melanjutkan bulan madu kita ke Cina." Arumi mengungkapkan isi hatinya. Sejak tadi wanita itu ingin bertanya pada Rayyan namun karena terlalu asyik memandangi keindahan kota Tokyo hingga membuatnya lupa niatannya tersebut.


"Aku memang sengaja memilih hotel ini meski tahu jaraknya cukup jauh dari Bandara Narita karena lokasi hotel ini berada di pinggir laut dengan pemandangan menghadap kota Tokyo dan jembatan pelangi atau yang biasa disebut Rainbow Brigde."


"Tapi ... bukankah itu sama saja seperti menghambur-hamburkan uang untuk hal sepele. Kamu itu sudah banyak menghabiskan uang untuk biaya pernikahan kemarin loh. Ingat, zaman sekarang cari uang itu susah. Jangan dihabiskan untuk hal tidak penting."


Rayyan mendengus kesal karena tak terima dengan ucapan Arumi. Ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk sang istri, tapi siapa sangka Arumi malah memarahinya.


"Memangnya aku salah memberikan yang terbaik untuk istriku sendiri?" Rayyan menghentikan langkahnya sambil menatap tajam ke arah Arumi.


Sorot mata tajam seperti seekor elang yang siap menghabisi nyawa mangsanya. Seketika, bulu kudu Arumi merinding ditatap sedemikian intens.

__ADS_1


Memberanikan diri menangkup pipi suaminya. Memaksakan untuk tersenyum meski hatinya sedang berparade ria. Walaupun statusnya kini sudah sah menjadi istri Rayyan, tidak menutup kemungkinan pria itu bersikap kasar lagi seperti dulu kala sebelum mereka memutuskan untuk menikah.


Arumi menggelengkan kepala cepat. "Tidak kok. Kamu tidak salah, Honey. Hanya saja, aku takut disebut sebagai wanita matre karena memanfaatkan harta yang kamu miliki. Kamu tahu sendiri, mulut netizen itu pedas seperti seblak level 10. Benar-benar pedas dan sangat menyakitkan."


Wajah wanita itu berubah murung, membayangkan dulu ia sering digunjingkan oleh para tetangga saat sedang berkumpul dengan mereka berbelanja di tukang sayur keliling. Hanya karena belum hamil, Arumi menjadi sasaran empuk tuk digunjingkan oleh mereka. Hati Arumi begitu sakit, tanpa mereka tahu bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan keturunan seperti apa. Banyak cara sudah dilakukan, mulai dsri cara medis hingga tradisional sudah dilakukan tapi tetap saja hasilnya nihil.


Rayyan melihat perubahan raut wajah itu segera tersadar jika ia tanpa sengaja menyinggung istrinya.


Pria itu melepaskan sebelah tangan yang saat itu tengah memegang koper. Menaikan kedua tangan, menyentuh ujung dagu Arumi. Hatinya terasa sakit bagai ditusuk jarum kala melihat bola mata indah sang istri mulai berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Babe, jika ucapanku menyinggungmu. Tapi sumpah, aku tak memiliki tujuan lain selain ingin membahagianmu dengan memberikan sesuatu yang istimewa khusus bagi istri tercintaku. Itu saja."


Melihat perubahan air muka suaminya membuat Arumi mengerti isi hati pria itu. Hatinya menjadi melemah dan menahan agar butiran kristal tak meluncur membasahi pipi. Ia pun membuang jauh kenangan buruk di masa lalu, saat orang-orang itu menghina dirinya dengan mengatakan jika Arumi 'mandul'.


"Aku mengerti. Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi." Wanita itu menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh cinta. "Ayo kita check in, aku sudah tak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya bercinta dengan pemandangan kota Tokyo. Pasti sangat mengasyikan."


Senyuman kembali terlukis di wajah Rayyan. Ia mencubit hidung istrinya seraya berkata, "Kamu semakin agresif saja. Namun, aku menyukaimu yang begini." Pria itu mendekati Arumi, lalu berbisik, "Kamu semakin seksi saat sedang agresif."


Tanpa membuang waktu, sepasang suami istri itu melangkah maju menghampiri meja resepsionis. Melakukan check in dan setelah itu barulah naik ke lantai tujuh, letak kamar yang dipesan oleh Rayyan.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2