
Rayyan menatap tajam pada Raihan yang merupakan adik satu bapak dengannya. Detik berikutnya dia kesal sendiri karena saat menatap wajah pria itu, dia seolah sedang berdiri seraya menatap pantulan dirinya di depan sebuah cermin.
'Berengsek! Kenapa aku seakan melihat diriku sendiri saat menatap wajah Bocah Ingusan itu!' batin Rayyan. Dia merasa kesal karena paras Raihan begitu mirip dengannya. Hanya satu yang membedakan, yaitu bentuk mata Raihan lebih bulat sementara bola mata Rayyan sipit. Jika kedua pria itu berjejer bagai pinang dibelah dua. Bahkan orang awam akan mengira bahwa mereka adalah saudara kembar.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku tidak ada urusan dengan kalian berdua!" ujar Rayyan menaikan nada bicaranya. Meskipun sedang emosi, tetapi dia masih dapat mengendalikan diri terlebih saat ini Arumi tengah berbadan dua. Dia tidak mau terjadi hal buruk menimpa ketiga buah hatinya.
"Kamu!" Raihan sudah mengepalkan telapak tangan dan bersiap melayangkan sebuah kepalan tangan ke wajah Rayyan, namun segera dihentikan oleh Lena.
"Kendalikan emosimu, Nak. Tidak baik bertengkar dengan Rayyan di tempat umum. Bagaimanapun, dia adalah Kakakmu, orang yang harus kamu hormati." Lena menasihati buah hatinya agar tak tersulut emosi dan dia berharap agar Raihan dapat meredam amarah.
Meskipun gejolak amarah dalam dada Raihan masih ada, tetapi dia mencoba mendengarkan ucapan sang mama. Perlahan, dia melepaskan kepalan tangan seraya menarik napas dalam untuk mengurai emosi.
"Mama baik-baik saja 'kan? Dia tidak melukai Mama?" tanya Raihan memastikan bahwa Lena tidak terluka sedikit pun.
Rayyan berdecak kesal melihat sikap Raihan yang terkesan berlebihan. "Otakku masih dapat berpikir jernih. Jadi tidak mungkin melukai Ibumu yang merupakan seorang J--"
"Mas Rayyan!" sergah Arumi cepat. Wanita itu menggelengkan kepala seraya mengerjapkan mata, memohon agar pria itu tak melanjutkan perkataannya.
Melihat binar mata penuh pengharapan, akhirnya Rayyan tak berani melanjutkan ucapannya.
Dia menghela napas kasar, lalu berkata. "Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Buah-buahan serta bingkisan untuk Mama sudah kubeli." Lantas, pria itu menggenggam jemari Arumi melewati Lena dan Raihan yang masih membeku.
Ketika Arumi dan Rayyan melewati Lena beserta Raihan, dokter cantik yang saat ini tengah berbadan dua menoleh ke arah Lena. Di saat bersamaan, Lena pun menoleh ke arah menantu kesayangannya itu.
Kedua netra saling memandang, lalu Arumi tersenyum dan mengucap tanpa suara. "Tante, aku pamit dulu."
"Iya. Hati-hati di jalan. Jangan lupa sampaikan salam Tante untuk Mama-mu," jawab Lena.
***
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya Rayyan dan Arumi telah tiba di kediaman Nyimas. Kedatangan mereka berdua telah dinanti oleh ibu angkat Arumi.
"Mbak Arumi sudah sampai toh!" seru si Mbok, asisten Nyimas yang sudah lama bekerja di rumah itu bahkan saat mendiang ayah angkat Arumi masih ada di dunia ini. Wanita paruh baya itu menyambut hangat kedatangan Arumi beserta Rayyan.
"Mama ada di dalam 'kan, Mbok?" tanya Arumi. Kemarin lusa, dia sudah memberitahu Nyimas bahwa hari sabtu akan menginap di Tangerang. Namun, Arumi memastikan Nyimas tiba-tiba saja pergi secara mendadak tanpa memberitahu terlebih dulu.
"Bu Nyimas ada di dalam, Mbak. Beliau sedang menggoreng bakwan jagung untuk Mas Dokter," jawab si Mbok malu-malu. Menundukan kepala karena tak kuasa menatap ketampanan wajah suami dari anak majikannya.
Arumi mengulum senyum melihat sikap malu-malu si mbok yang seperti anak ABG ketika bertemu dengan sang pujaan hati. Sementara Rayyan hanya melirik sekilas memperhatikan gerak gerik wanita paruh baya itu.
"Ya sudah, kalau begitu aku dan Mas Rayyan masuk ke dalam dulu."
"Silakan, Mbak Arumi dan Mas Dokter." Si Mbok mempersilakan Arumi dan Rayyan untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamu a'laikum, Ma!" ucap Arumi ketika melihat Nyimas tengah sibuk menggoreng salah satu makanan kesukaan Rayyan.
"Rumi, kamu sudah datang rupanya." Nyimas langsung menyambut hangat anak tercinta beserta pria tampan yang kini menjadi menantu di rumah itu. Arumi dan Rayyan secara bergantian mencium punggung tangan Nyimas.
"Iya dong, aku 'kan sangat merindukan Mama. Jadi, mana mungkin tidak datang ke sini." Arumi mulai bersikap manja. Wanita cantik itu bergelayut sambil merangkul sang mama.
Nyimas terkekeh melihat sikap manja anak kesayangannya. Padahal baru satu minggu lalu bertemu tapi tetap saja rasa rindu dalam diri wanita muda itu tak terbendung. Maklum saja, Arumi adalah anak tunggal di keluarga itu jadi sering bersikap manja apabila berada di dekat sang mama.
"Dasar nakal. Sudah punya suami masih saja manja." Nyimas menyentuh ujung hidung Arumi dengan jari telunjuk.
Dengan santai Arumi berkata. "Biarkan saja. Toh, Mas Rayyan tidak merasa keberatan kok." Wanita itu mendongakan kepala, menatap wajah Rayyan yang masih ditekuk.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Nyimas, Rayyan masih kesal karena tanpa sengaja bertemu Lena beserta Raihan di sebuah mall. Dan anehnya lagi, dari sekian banyaknya mall yang ada di Jakarta mengapa harus di mall itu dia bertemu istri kedua dari sang papa.
"Benar 'kan, Honey!" imbuh Arumi. Mencoba mengalihkan perhatian Rayyan agar suaminya tidak terus merasa kesal karena harinya yang baik telah dirusak oleh kehadiran Lena dan Raihan di Angrek Mall.
__ADS_1
Rayyan melirik Arumi. Rasa kesal dalam diri sedikit berkurang melihat kedekatan istrinya dengan Nyimas, wanita cantik dalam balutan hijab berwarna merah marun.
"Saya tidak keberatan sama sekali jika Arumi bersikap manja bila di dekat Mama Nyimas, sebab dengan begitu saya dapat melihat sosok lain dari seorang wanita cantik yang kini menjadi pendamping hidupku."
Bagai mendapat angin segar, Arumi semakin bangga karena rupanya Rayyan mendukung dirinya dan tidak protes sama sekali bila dia bersikap kekanak-kanakan saat bersama sang mama.
Nyimas menghela napas dalam. Rasanya akan sulit berdebat dengan kedua dokter hebat di hadapannya. Terpaksa mengalah karena sadar, sampai kapan pun tidak mungkin bisa memenangkan perdebatan itu.
"Baiklah. Terserah kalian saja. Mama mengaku kalah." Lantas, Nyimas meminta mbak Tini dan si mbok untuk melanjutkan menggoreng bakwa jagung kesukaan Rayyan. Sementara dia beserta Arumi dan Rayyan duduk di ruang keluarga.
Kini Nyimas beserta Arumi dan Rayyan sudah berada di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu duduk di samping Arumi, sedangkan Rayyan duduk di sofa tunggal di sebelah istrinya. Beberapa kali netra wanita itu tanpa sengaja menangkap gelagat aneh berasal dari kedua insan manusia itu. Pasangan suami istri itu saling menatap lekat, kemudian melempar senyum satu sama lain.
Tak ingin mati penasaran, Nyimas membuka suara. "Mama perhatikan, tampaknya hari ini kalian bahagia sekali. Kalau boleh tahu, apa yang membuat kalian begitu bahagia?"
Rayyan kembali memandangi Arumi dengan sorot mata yang memancarkan penuh cinta. Tangan kekar itu menggenggam tangan Arumi. "Sebenarnya, ada kabar bahagia yang ingin kami sampaikan, Ma. Ini soal Arumi."
Alis Nyimas saling bertaut petanda bingung, sambil meneliti wajah Rayyan yang tampak sangat serius. Ingin mencoba menebak apa yang ingin disampaikan oleh menantunya itu. Kemudian dia refleks menatap Arumi yang saat ini sedang mengulum senyum. Wajah wanita itu begitu berseri tanpa merasa ada beban sama sekali.
"Kabar apa?" Nyimas kembali membuka suara.
"Beberapa hari lalu, Arumi memeriksakan diri ke poli obgyn dan dokter itu mengatakan bahwa ... saat ini ... Arumi sedang hamil."
"Apa? H-hamil?"
.
.
.
__ADS_1