Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Berubah Agresif (18+)


__ADS_3

Rayyan terbangun dari tidurnya yang panjang. Pria itu duduk seraya menyenderkan punggung di headboard ranjang. Ia melakukan peregangan sebelum memulai aktivitas seperti biasa.


Lima menit berlalu, pria itu pun memutuskan masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuh di bawah segarnya air dingin akan membuat pikirannya kembali segar. Akan tetapi, baru saja ia hendak bangkit dari ranjang, telepon genggam miliknya bergetar. Dengan gerakan cepat, ia meraih benda pipih itu. Seulas senyum terlukis kala melihat nomor kekasih tercinta terpampang di layar kaca.


[Aku buatkan kamu sarapan spesial. Jadi, dari rumah jangan makan makanan berat ya.]


Senyum semakin melebar setelah membaca pesan singkat tersebut. "Aku curiga, jangan-jangan Arumi memiliki kekuatan telepati sehingga dapat mengetahui isi hati dan keadaanku saat ini. Jika tidak, mengapa ia bisa tahu kalau saat ini di apartemenku tidak ada makanan sama sekali. Bahan makanan pun tidak ada."


"Atau, jangan-jangan kami memang berjodoh. Buktinya, Arumi sudah menyiapkan sarapan khusus untukku," cetus Rayyan seraya mengetik balasan untuk kekasih tercinta.


[Oke, Babe. Sampai ketemu di rumah sakit.]


Tak mau membuat waktu terlalu lama, Rayyan memutuskan segera masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu mengayunkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sekitar lima belas menit berlalu, Rayyan telah kembali dari kamar mandi. Tubuhnya pun telah segar kembali, lalu ia mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan ke rumah sakit. Setelah memastikan penampilannya rapi, tak ada cela sedikit pun, ia bergegas menuju basement--tempat terparkirnya kendaraan roda empat miliknya.


Hanya memakan waktu tiga puluh menit, mobil yang dikendarai oleh Rayyan telah tiba di parkiran rumah sakit. Arloji mahal merk terkenal yang melingkar di pergelangan tangan pria itu sudah menunjukan pukul delapan pagi. Dengan langkah tegap berani, Rayyan melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Tatapan mata fokus, lurus ke depan. Ia sama sekali tak menoleh ke kanan maupun ke kiri. Bahkan, saat berpapasan dengan Naura, ia pun bergeming. Pria itu lebih memilih melanjutkan langkah kaki menuju ruangan khusus miliknya.


'Aku penasaran, siapakah wanita yang kamu sukai, Dokter Rayyan. Apakah benar Dokter Arumi?' Naura bermonolog seraya menatap punggung Rayyan yang menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu lift.


Suara lembut seseorang mengembalikan lagi pikirannya yang sempat menerawang. "Dokter Naura, ada pasien kecelakaan!" seru seorang perawat berseragam putih.


Naura menganggukan kepala. Meskipun pikirannya sedang kacau akibat lamarannya ditolak, tapi ia tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pasien yang membutuhkan.


***

__ADS_1


Saat tiba di depan ruangan kepala bangsal Bougenville, Rayyan segera memutar handle pintu. Dan ketika pintu berhasil terbuka, pria itu masuk ke dalam ruangan.


Rupanya di dalam ruangan itu ada cleaning service tengah membersihkan barang-barang milik Rayyan. Melihat ada bosnya masuk ke dalam ruangan, gadis itu menundukan pandangan.


"Selamat pagi, Dokter Rayyan." Gadis itu meremaas jemarinya yang terbalut sarung tangan, mengurai rasa takut di dalam diri. Ia takut jika Rayyan akan memarahinya sama seperti saat pertama kali dirinya membersihkan ruangan tersebut.


Namun, alih-alih membalas sapaan cleaning service itu, Rayyan memperhatikan gadis yang berdiri di hadapannya. Ia memandangi gadis itu mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Kemudian, pandangan mata pria itu berhenti tepat di telapak tangan. Sepasang sarung tangan medis menutupi jemari gadis dalam balutan seragam biru langit dengan bagian dada terdapat logo rumah sakit.


"Jangan takut. Saya tidak akan memarahimu selama kamu menggunakan sarung tangan ketika membersihkan ruangan ini."


Suara dingin Rayyan membuat bulu kudu cleaning service itu merinding. Suasana ruangan itu berubah mencekam kala tatapan mata elang menatap tajam ke arahnya.


"Jika kamu telah selesai dengan pekerjaanmu, sebaiknya kembali ke pantry. Saya ingin istirahat sejenak sebelum melakukan tindakan operasi."


Cleaning service itu menganggukan kepala sebagai respon. Detik itu juga ia keluar ruangan tanpa mengangkat wajah di hadapan Rayyan.


"Andai saja Dokter Rayyan tidak dingin, aku sudah pasti menyukainya. Namun, pria itu dingin sedingin beruang kutub," celetuknya. "Oleh karena itu, dia tidak masuk kriteria pria yang ingin kudekati."


Sontak, perkataan itu membuat Arumi ingin sekali tertawa. Akan tetapi, ia berusaha mengatupkan bibir agar gadis yang bekerja sebagai cleaning service itu tak menyadari kehadirannya.


"Sebaiknya aku kembali bekerja. Siapa tahu ada dokter tampan yang jatuh hati padaku," gumamnya. Lantas, ia meninggalkan lorong rumah sakit itu dan kembali menyelesaikan tugasnya.


Setelah memastikan gadis itu pergi, Arumi keluar dari persembunyiannya. Menggelengkan kepala kala mengingat kejadian tadi.


"Sampai kapan pun, kamu ataupun wanita lain di luaran sana tidak akan mampu mendapatkan Rayyan, sebab hanya aku-lah wanita satu-satunya yang tak membuat pria itu dingin seperti beruang kutub." Arumi terkekeh pelan.


Detik selanjutnya, Arumi melangkah masuk ke dalam ruangan Rayyan. Setelah dipersilakan masuk, wanita itu berjalan dengan gerakan slow motion. Mengibaskan rambut panjang hitam tergerai ke sisi kanan dan kiri. Aroma parfum lily of valley menyeruak menguarkan wewangian khas bunga lily memenuhi ruangan.

__ADS_1


Rayyan yang tengah mengecek email masuk lewati layar monitor segera menoleh. Alangkah terkejutnya pria itu melihat penampilan Arumi yang terlihat begitu cantik dan seksi. Susah payah ia menelan saliva guna membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Selamat pagi, Dokter Rayyan yang tampan. Apakah semalam tidurmu nyenyak?" tanya Arumi sedikit menggoda. Tak lupa, ia menyampirkan rambut hitam itu di pundak sebelah kanan sehingga Rayyan dapat melihat leher jenjang nan mulus milik kekasih tercinta.


Derap langkah bersumber dari high heels sepanjang lima senti menggema memenuhi ruangan. Langkah anggun bagai putri keraton mendekati kursi kebangaan Rayyan. Bola mata pria itu semakin melebar kala tubuh seksi bak gitar Spanyol itu duduk di tepian meja kerja. Kemudian, kaki jenjang itu mendarat indah di pundak sebelah kanan.


"Coba aku tebak, sepertinya tidurmu nyenyak. Sampai-sampai, rambutmu ini basah," bisik Arumi tepat di telinga Rayyan. "Kamu ... pasti bermimpi indah ya. Mimpi tentang--"


"Stop, Arumi! Jangan teruskan lagi." Suara berat Rayyan menginterupsi wanita itu. Ia sudah tak tahan lagi menahan gejolak di dalam dada.


Suara lembut nan menggoda membuat Rayyan kegerahan. Sentuhan lembut jemari Arumi yang bermain indah di punggung tangan Rayyan memberikan sensasi berbeda. Rasa panas menjalar dari daun telinga merambat ke seluruh tubuh, membuat sesuatu di balik celana bahan mulai bereaksi.


"Kenapa aku harus berhenti berbicara, Honey? Bukankah kamu menyukai aku yang agresif seperti ini hem?" Wanita itu menaik turunkan kedua alis. Aroma parfum milik Arumi menggelitik indera penciuman Rayyan.


Rayyan membisu. Lidah pria itu terasa kelu. Semua perkataan yang terucap dari bibir mungil sang kekasih memang benar adanya. Ia menyukai sifat Arumi yang agresif seperti ini.


"Bicaralah, Honey. Kamu menyukainya 'kan?" tanya Arumi sekali lagi. Kali ini ia berbicara dengan nada suara sesensual mungkin.


'****!' Rayyan mengumpat dalam hati kala Arumi menggodanya. Benteng pertahanan pria itu roboh. Terus menerus digoda oleh kekasih tercinta membuatnya berga*rah. Apalagi penampilan Arumi hari ini begitu menawan.


Dengan gerakan cepat, Rayyan menarik tubuh sang kekasih hingga wanita itu duduk di atas pangkuan. Lantas, ia ******* bibir ranum nan seksi milik Arumi dengan rakus. Mengabsen satu per satu rongga mulut wanita itu. Saling membelit, saling mengecap hingga suara nakal memenuhi ruangan. Akan tetapi, pangutan itu harus terhenti kala suara seseorang menghentikan kegiatan panas mereka.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2