
Keesokan paginya, sudah ada dokter yang berjaga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Arumi termasuk memeriksa keadaan luka bekas operasi caesar. Dokter itu tampak begitu tegang dengan tangan yang terlihat gemetar saat mengeluarkan benda berbentuk bundar dan terbuat dari logam lalu menempelkannya di dada pasien. Wajah dokter wanita itu berubah pucat pasi dan peluh yang secara tiba-tiba muncul di permukaan pori.
Dinginnya suhu ruangan semakin membuat bulu kudu berdiri. Sorot mata tajam, bagaikan seekor elang yang siap menangkap mangsa membuat dokter wanita itu menelan saliva dengan susah payah.
"Tolong periksa dengan seksama, apakah luka bekas jahitan istri saya tidak terjadi infeksi. Saya tidak mau, akibat kelalaian kalian malah merugikan orang lain. Ingat, nyawa pasien begitu berharga. Jadi, kerjakan tugas kalian dengan baik!" ucap Rayyan dengan tegas.
Semenjak tanggung jawab rumah sakit sepenuhnya diserahkan pada Rayyan, ia semakin mendisplinkan para karyawan di rumah sakit itu. Siap bertindak tegas apabila kedapatan salah satu petugas medis berleha-leha di jam kerja ataupun membeda-bedakan pasien yang sedang berobat di rumah sakit tersebut. Ia tidak mau, jikalau citra rumah sakit yang didirikan oleh sang mama hancur akibat kinerja buruk para pekerjanya.
"B-baik, Dokter Rayyan," jawab dokter jaga dengan suara terbata-bata.
Setelah memastikan kondisi Arumi dalam keadaan baik-baik saja, dokter wanita dan seorang perawat yang bertugas mencatat laporan hasil pemeriksaan pasien, undur diri dari ruangan itu. Kedua tenaga medis itu tidak sanggup kalau harus terlalu lama berada dalam ruangan yang sama dengan Rayyan. Mereka merasa seperti seorang tahanan berpakaian orange yang tengah diadili di sebuah ruangan kecil, minim pencahayaan hingga membuat dadanya terasa sesak akibat kekurangan pasokan oksigen.
"Mas, kamu sudah memberitahu Papa tentang kelahiran si kembar?" tanya Arumi. Tidak ada niatan menyinggung apalagi meminta suaminya secara halus untuk mengundang mertuanya datang ke rumah sakit. Hanya sekadar bertanya.
Kalaupun memang belum memberitahu keluarga dari pihak Rayyan, Arumi tidak akan memaksa suaminya untuk meminta Firdaus dan Lena datang membesuk. Wanita itu menyerahkan segala keputusan pada sang suami karena tak mau lagi dianggap egois, mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Rayyan yang saat itu sedang mengupas kulit apel untuk Arumi, melirik sekilas lalu melanjutkan kembali kegiatannya. "Sudah. Pukul enam tadi aku mengirimkan pesan untuk Papa. Aku tidak tahu, apakah pria tua itu akan datang ke sini atau tidak," jawab Rayyan. "Kalau tidak datang pun tidak masalah. Ada atau tidak adanya Papa, bagiku sama saja karena sejak kecil aku sudah terbiasa tanpanya."
Arumi menerima sepotong buah apel yang telah dikupas oleh Rayyan, lalu mengunyahnya dengan sangat pelan. "Namun, aku berharap semoga kelak kamu akan selalu ada untuk ketiga anak-anak kita, Mas. Aku akan meminta Rio untuk menghukummu kalau ketahuan kamu bersikap acuh terhadap si kembar. Biar dia memukulmu hingga babak belur."
Rayyan meletakkan pisau dan piring berisi buah apel ke atas nakas, kemudian membungkukan sedikit badannya ke depan. Ia menyapukan hidung ke hidung Arumi. Perkataan istrinya ibarat sebuah peringatan baginya untuk tidak melupakan tiga malaikat kecil yang kini telah lahir ke dunia. Bukti nyata dari besarnya cinta dan kasih sayang antara Rayyan dan Arumi.
__ADS_1
"Kalau urusan itu, mana mungkin aku acuh. Aku bukan tipe pria yang mudah mencampakkan seseorang setelah dapat apa yang kuinginkan. Jadi, jangan pernah berpikir aku 'kan mengacuhkan kedua jagoan dan bidadari kecilku."
Arumi tersenyum samar mendapat perlakuan seperti itu. Meskipun sudah tak lagi hidup berdua karena telah ada tiga bayi mungil nan mengemaskan di tengah rumah tangga mereka, Rayyan tetap memperlakukan istrinya dengan sangat baik dan penuh perhatian.
"Babe, kamu mau makan sekarang?" tawar Rayyan. Perawat sudah mengantarkan sarapan untuk Arumi dan wanita itu pun sudah diperbolehkan makan.
"Boleh deh, Mas. Perutku sudah lapar sekali. Memberikan ASI bagi tiga bayi sekaligus sering membuatku terasa lapar," kekeh Arumi. Beruntungnya ASI wanita itu segera keluar sehingga triplet tak perlu mengkonsumsi susu formula. Salah satu nikmat yang patut disyukuri lagi oleh pasangan itu.
"Aku suapi, ya?" Kamu tinggal duduk manis, buka mulut biarkan tanganku yang bergerak dengan sendirinya." Rayyan mengambil nampan yang ada di atas nakas. Dengan teliti dan penuh perhatian, pria itu menyuapi istrinya hingga bubur di dalam mangkok ludes tak bersisa.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada dua pasang mata tengah memperhatikan sepasang suami istri itu dari daun pintu yang tak tertutup rapat. Perlakuan manis Rayyan tidak luput dari penglihatan Firdaus dan Lena. Sebagai orang tua, pria paruh baya itu terlihat senang karena anak kesayangannya telah menemukan tambatan hati dan kini keluarga si anak semakin bahagia atas kelahiran bayi kembar tiga.
Firdaus beruntung karena dulu Lena sempat menegurnya karena secara sepihak menerima tawaran perjodohan antara Rayyan dan Naura. Jikalau tidak, mungkin ia akan menyesali perbuatannya seumur hidup karena telah mengulang kisahnya di masa lalu. Kisah kelam yang membuatnya hidup dalam penyesalan tak berujung.
Pria berusia hampir kepala lima tampak linglung bagaikan orang yang mengalami disorientasi ruang dan waktu. Tatapan mata kosong disertai bola matanya yang memerah. "T-tadi, kamu bicara apa, Ma? Aku tidak mendengarkan. Maaf."
Menarik napas panjang, lalu mengembuskan secara perlahan. "Mama bertanya pada Papa, mau masuk ke dalam sekarang atau menunggu hingga mereka menyelesaikannya kegiatannya?"
Firdaus tersenyum kaku seraya menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Kita tunggu hingga satu jam ke depan. Setelah itu, baru datang ke sini lagi. Ayo, kita pergi dari sini. Biarkan Rayyan menikmati kebersamaannya bersama anak dan istrinya."
Dengan sangat hati-hati, pria itu menutup pintu hingga tertutup rapat. Tak ingin membiarkan orang lain mengganggu kebahagiaan anaknya tercinta beserta keluarga kecilnya.
__ADS_1
Kini, sepasang suami istri paruh baya itu berjalan bersisian menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sepi, sebab ruang VVIP berada di lantai khusus berada di sebelah barat gedung utama. Lokasinya berada persis di dekat taman rumah sakit.
"Tidak terasa ya, Pa, akhirnya anak sulungmu itu telah menjadi seorang ayah dari tiga anak kembar. Perasaan Mama, baru kemarin melihat dia masih mengenakan seragam SMP. Rayyan ... tumbuh dengan cepat hingga tanpa sadar dia telah memiliki keluarganya sendiri." Lena tersenyum lebar sambil menatap lurus ke depan. Merasakan hatinya tengah berbunga-bunga atas kabar bahagia yang datang menghampiri anak tirinya.
Wanita itu masih belum percaya kalau sekarang ia telah menjadi seorang nenek dari tiga bayi kembar. Anak-anak yang terlahir dari menantu yang begitu ia sayangi dan sebentar lagi si triplet akan memanggil dirinya nenek. Akan tetapi, senyuman itu seketika sirna kala mengingat hasil diagnosa yang dokter berikan kepadanya kemarin. Hasil diagnosa kesehatan Lena menyatakan bahwa ia tengah mengidap penyakit kanker stadium 4 dan harapan hidup wanita itu tidak sampai setahun.
Mungkinkah ia masih diberikan kesempatan untuk mendengar ketiga cucunya memanggil dirinya dengan sebutan nenek? Ataukah mungkin Tuhan akan mencabut nyawanya sebelum Ghani, Zavier dan Zahira genap berusia satu tahun? Entahlah, wanita paruh baya itu pun tidak tahu. Ia hanya bisa pasrah atas takdir yang akan Tuhan berikan kepadanya.
Firdaus tersenyum sambil menekan tombol lift, yang 'kan membawa ia dan istrinya menuju kantin rumah sakit. "Benar sekali, Ma. Dunia berputar dengan cepat dan itu artinya, kita semakin tua karena rupanya anak-anak kita telah tumbuh dewasa tanpa kita sadari."
"Dulu, kita masih muda dan anak-anak masih kecil. Namun, kini kita yang berubah menjadi semakin tua dan mereka menjadi semakin dewasa." Pria paruh baya itu terkekeh membayangkan sewaktu dulu Rayyan masih bayi, ia begitu menyayangi anak sulungnya itu.
Meskipun Rayyan terlahir ke dunia ini atas bantuan obat perangs*ng, tetapi Firdaus benar-benar tulus mencintai anak kandungnya itu dengan sepenuh hati. Menjaga, merawat dan mendidiknya hingga tumbuh menjadi lelaki bertanggung jawab dan sangat membanggakan orang tua.
'Semakin tua dan pada akhirnya meninggal dunia,' batin Lena.
.
.
.
__ADS_1