
Kini, di dalam lift itu hanya tersisa Kayla dan Mona. Kedua wanita cantik itu sedang menunggu benda persegi terbuat dari besi membawa tubuh mereka menuju ruang perawatan Mahesa. Selama berada di dalam lift, mereka tampak asyik berbincang hingga tak terasa tersisa satu lantai lagi Kayla dan Mona tiba di ruang perawatan Mahesa.
Ketika lift berdenting dan terbuka, Mona segera mendorong kursi roda milik Kayla keluar dari benda persegi terbuat dari besi. Mereka menyusuri lorong rumah sakit yang begitu sepi karena lantai itu diperuntukan khusus bagi pasien yang memerlukan perawatan intensif.
Sebelum masuk ke dalam ruang ICU (Intensive Care Unit), Kayla menghampiri seorang perawat yang bertugas di balik meja kerja.
"Permisi, Mbak. Saya, Kayla Lestari, istri dari salah satu pasien bernama Mahesa Putra Adiguna. Saya ingin membesuk suami saya," tutur Kayla mengutarakan maksud kedatangannya ke ruangan itu pada salah satu perawat yang berjaga.
Perawat wanita itu mengernyitkan kening petanda bingung. Pasalnya, selama beberapa hari Mahesa dirawat di rumah sakit, Kayla tidak pernah membesuk suami tercinta. Begitu pun dengan pihak keluarga. Saat orang tua Mahesa berbincang, salah satu dari mereka tidak ada yang menyinggung atau membicarakan menantu keluarga Adiguna. Jadi, tak heran jikalau perawat wanita itu kebingungan.
Melihat raut wajah kebingungan perawat wanita yang bekerja di balik meja, Kayla seakan mengerti arti dari air muka perawat itu. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas selempang. Membuka kunci benda pipih itu lalu menggesernya ke depan perawat itu.
"Ini foto pernikahan saya dan pasien satu bulan lalu. Di dalam sini ada banyak foto saya bersama suami. Mbak bisa memeriksanya sendiri." Kemudian, perawat itu pun menggeser layar ponsel milik Kayla.
"Bagaimana, Mbak. Sekarang sudah percaya 'kan jika pasien itu adalah suami saya?" tanya Kayla setelah perawat itu selesai memeriksa semua foto yang ada dalam galeri.
"Alasan saya mengapa baru membesuk suami karena saya pun menjadi korban dalam kecelakaan itu. Selama beberapa hari ini saya fokus dengan kesembuhan, setelah itu barulah menyempatkan diri menemui suami saya."
Perawat wanita itu menganggukan kepala sebagai responnya. "Kalau begitu, Ibu bisa masuk ke dalam. Silakan ke sebelah sini!" Bangkit dari duduk, keluar dari ruang jaga dan membukakan pintu ruang ICU.
Mona mendorong kursi roda Kayla, menuju pintu masuk ruang ICU. Di depan sana sudah ada perawat yang berjaga.
"Sebelum Bu Kayla masuk, ada beberapa aturan yang perlu saya jelaskan pada Ibu terkait aturan saat membesuk pasien."
__ADS_1
"Pertama, Ibu terlebih dulu mencuci tangan sebelum dan sesudah masuk ke dalam ruang ICU. Bertujuan untuk penyebaran infeksi. Dilarang mengaktifkan telepon genggam agar tak mengganggu kerja alat penunjang medis," papar perawat itu. "Satu hal lagi, hanya Ibu saja yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan."
Setelah memastikan Kayla mematuhi aturan yang ditetapkan sebelum masuk ke dalam ruang ICU, perawat yang berjaga memperbolehkan istri siri Mahesa masuk ke dalam ruangan.
Menggunakan kursi roda, Kayla perlahan menggerakan alat bantu yang dikenakan olehnya untuk sementara waktu. Ia terus memutar roda pada kursi tersebut hingga tersisa jarak dua meter, suara monitor menjadi sambutan pertama bagi model cantik itu.
Hati wanita itu mencelos kala melihat suami tercinta terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Berbagai selang menempel di tubuh kekar pria yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan, menggantikan sang papa.
Selang infus menancap di punggung tangan. Peralatan monitoring lima parameter berada di sisi ranjang pasien. Layar monitoring memperlihatkan kondisi detak jantung, tanda-tanda vital dan suhu tubuh pasien. Alat bantu pernapasan, selang makanan yang dimasukan ke dalam hidung dan tak lupa selang kateter.
Tubuh Kayla merosot melihat pemandangan di depan sana. Ia menatap sendu ke arah suaminya. Pelupuk mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Tak menyangka akibat kecemburuannya membuat ia dan suami tercinta harus mengalami insiden kecelakaan beberapa waktu lalu.
"Mas Mahes," ucap Kayla lirih. Ia kembali memutar ban roda menggunakan tangan mendekati ranjang pasien.
Kayla terpaku di tempat. Merasa bersalah karena telah menyebabkan suami tercinta dirawat di rumah sakit. Ia ingin menangis tetapi rasanya air mata milik wanita itu telah habis, meratapi kemalangan yang menimpa dirinya.
"Akibat kecelakaan itu, anak kita harus pergi untuk selama-lamanya." Air mata wanita itu berderai membasahi pipi. " Aku minta telah menyebabkan kecelakaan ini terjadi. Sungguh, aku benar-benar menyesal."
Terdengar suara isak tangis memenuhi ruang ICU. Meskipun terdengar lirik tetapi begitu menyayat hati.
"Selain itu, aku pun harus kehilangan rahimku. Itu artinya, aku tak 'kan bisa memberikan keturunan padamu, Mas. Selamanya kita tidak akan memilik anak." Lagi-lagi air mata Kayla mengalir deras di antara kedua pipi.
Di hadapan Mahesa, wanita itu mencurahkan isi hatinya tanpa memedulikan apakah saat ini suaminya itu dapat mendengar curahan hatinya atau tidak. Yang ia inginkan saat ini hanyalah menangis di dekat suami tercinta."
__ADS_1
"Padahal, banyak impian yang ingin kuwujudkan ketika bayi ini lahir. Aku ingin melimpahkan kasih sayang pada anak kita ketika ia terlahir ke dunia ini. Mendidik anak kita dengan baik agar menjadi anak yang membanggakan pada orang tua serta Kakek dan Neneknya. Bahkan aku rela pensiun dari dunia model demi membesarkan buah cinta kita, Mas."
"Namun, semua impian itu sirna setelah kecelakaan itu terjadi. Aku harus mengubur dalam semua impian itu, Mas." Kembali terisak. Tubuh wanita itu gemetar hebat dan pundaknya naik turun. "Seandainya saja kamu tidak mengungkit nama wanita itu mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Kita berdua tidak terbaring di rumah sakit dan buah hati kita pun masih ada di dalam perutku."
"Asal kamu tahu, Mas. Aku sangat membenci Arumi, mantan istrimu itu." Kayla mendongakan kepalanya ke atas dan tersenyum perih. "Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik buatmu. Berubah menjadi wanita agresif agar kamu tak merasa bosan saat kita bercintaa. Namun, ternyata, itu semua tidak mampu menyingkirkan nama Arumi dari hati dan pikiranmu."
"Rasa cintamu pada mantan istrimu itu semakin tumbuh dan bersemi setiap hari hingga membuat aku cemburu. Padahal kini, aku tengah mengandung benih yang telah kamu tanamkan."
Isak Kayla begitu pilu. Betapa hatinya sakit kala mengetahui nama mantan sahabatnya masih bersemayam di dalam hati dan pikiran sang suami. Ia pikir, cinta dan kasih sayang Mahesa hanya untuk dia seorang. Namun, rupanya nama Arumi pun masih merajai hati pria itu. Cinta Mahesa terbagi dua, untuknya dan juga untuk Arumi.
"Sakit, Mas. Hatiku benar-benar sakit saat itu." Kayla menyentuh letak hatinya berada. Ia tersedu dalam suara rintihan yang pelan. "Kupikir, aku telah memenangkan hatimu tapi ternyata aku hanya kamu jadikan sebagai pelampiasan. Cintamu kepadaku tidak sebesar cintamu pada wanita itu."
Kayla menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen. "Tapi, bodohnya aku meski aku tahu cintamu terbagi dua, hati ini masih dimiliki olehmu. Kamulah satu-satunya pria yang ada di hatiku. Hanya kamu pria yang sangat kucintai."
"Kamu dengar itu, Mas. Aku begitu mencintaimu. Sangat ... sangat ... mencintaimu. Jadi, kumohon cepatlah sadar. Aku janji, jika kamu sadar nanti aku akan melupakan semua kesalahan yang pernah diperbuat olehmu. Kita memulai semuanya dari awal."
Kayla tersenyum. Mengingat betapa harmonisnya mereka dulu saat masih menjalani masa penjajakan. Selalu bergandengan tangan, berpelukan serta menghabiskan malam bersama hingga hari berganti.
"Aku rindu kamu, Mas," lirih Kayla. Dengan sekuat tenaga, ia mencondongkan wajah ke depan. Lalu mencium kening suami tercinta. "Aku selalu menunggumu, Mas."
Wanita itu mengusut air mata yang jatuh membasahi pipi menggunakan tisu yang ada di atas nakas dekat ranjang pasien. "Besok aku akan membesukmu lagi. Beristirahatlah dengan tenang."
.
__ADS_1
.
.