Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tersadar dari Koma?


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Rayyan melaju tenang di jalanan kota Jakarta. Karena memang jarak antara apartemen dengan rumah sakit tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit menggunakan kendaraan roda empat. Namun, jika menggunakan kendaraan roda dua membutuhkan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Oleh sebab itu, Rayyan melajukan kendaraannya dengan santai karena ia yakin akan tiba di rumah sakit tepat waktu.


Sepanjang perjalanan, Rayyan terus mengulum senyum tiada henti. Hatinya begitu berbunga-bunga karena kini ia dapat membina rumah tangga bersama wanita yang dicintai. Walau banyak rintangan menghadang sebelum ikrar suci pernikahan diucapkan, pada akhirnya kisah mereka berakhir di KUA (Kantor Urusan Agama).


"Selamat pagi, Dokter Rayyan." Salah satu security yang berjaga di depan pintu masuk lobi utama menyapa putra dari pemilik rumah sakit tempat pria berseragam navy itu bekerja.


Rayyan mengangguk singkat, lalu melanjutkan kembali langkahnya. Ia masuk ke dalam gedung bangunan yang selama kurang lebih lima bulan belakangan menjadi tempatnya mengais rezeki serta mengamalkan ilmu yang didapat selama masih kuliah dulu.


"Eh ... lihat, bukankah itu Dokter Rayyan?" bisik salah satu wanita berseragam perawat kepada teman sesama perawat yang berjalan di sisinya. Dua dari empat wanita itu merupakan perawat yang bekerja di ruang ICU.


Mereka tak sengaja melihat Rayyan baru saja keluar dari dalam lift sambil membawa kantong besar berisi oleh-oleh untuk tenaga medis yang bekerja di bangsal Bougenville.


"Benar. Itu Dokter Rayyan. Lama tidak bertemu, penampilannya semakin memesona dan membuat jantungku berdegup lebih kencang," timpal Lisa salah satu yang berbisik di sana.


"Hu ... mata jelalatan mulu! Ingat, yang sedang kamu kagumi adalah suami orang! Jangan jadi pelakor berkedok perawat! Kena karma baru nyaho!" kata perawat berkacamata seraya menyenggol bahu rekannya.


"Cih! Hanya memagumi belum tentu menyukai!" elak Lisa--perawat yang bekerja di ICU sambil merapikan seragam yang dikenakan.


"Alasan!" ucap perawat IGD.


"Sudah-sudah. Hentikan! Kenapa kalian malah ribut sih. Kita 'kan awalnya baik-baik saja kok jadi bertengkar cuma karena Dokter Rayyan. Ada-ada saja kalian ini!"


"Tapi ... aku perhatikan, wajah Dokter Rayyan memang lebih berseri dari sebelumnya. Walaupun tidak pernah tersenyum tapi aura ketampanannya semakin bersinar." Kiki--salah satu perawat ICU ikut membenarkan ucapan Lisa.


"Benar 'kan kataku. Dokter Rayyan itu semakin memesona setelah menikah dengan Dokter Arumi. Kalian mau tahu alasannya apa?" celetuk Lisa, wanita yang mengagumi ketampanan Rayyan.


Sontak, ketiga perawat wanita itu menoleh bersamaan kepada perawat ICU. Wajah mereka begitu penasaran sambil menatap serius ke arah perawat itu.


"Karena ... Dokter Rayyan hampir setiap malam selalu meminta jatah pada Dokter Arumi." Lisa terkekeh pelan.


"Sok tahu kamu! Menikah saja belum tapi sok-sok-an mengerti tentang urusan orang dewasa."

__ADS_1


"Ye ... aku 'kan cuma mengemukakan pendapatku saja. Jangan marah gitu dong!" sungut Lisa. Tak terima jika dikatakan sok tahu oleh rekan kerjanya.


Situasi semakin tidak kondusif, membuat Kiki berinisiatif melerai dua rekan kerjanya yang tengah beradu mulut. Kebetulan saat itu mereka telah tiba di depan ruang ICU.


"Kami masuk duluan ya. Sampai ketemu lagi." Kiki menarik tangan Lisa agar rekannya itu ke dalam ruangan. Kiki khawatir jika perselisihan antara Lisa dan perawat IGD semakin melebar ke mana-mana.


Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan ICU. Suasana seketika hening kembali, karena hampir seluruh pasien yang ada di ruangan itu tak sadarkan diri.


"Kamu itu kenapa meleraiku sih! Seharusnya tadi kamu biarkan saja aku melabrak mulutnya yang menyebalkan itu!" sungut Lisa seraya memasukan barang bawaannya ke dalam loker yang diperuntukan khusus bagi perawat ICU. Mulutnya terus mengoceh meski mereka tengah bersiap memeriksa kondisi pasien.


Kiki memutar bola mata malas. Jika satu shift dengan Lisa, maka dara cantik berusia dua puluh empat tahun itu harus mempunyai tabungan kesabaran yang banyak sebab emosi dalam diri rekan kerjanya itu sering meledak-ledak apabila bertemu dengan Dina--satu dari dua perawat yang jaga di IGD.


"Lisa, jika aku tidak melerai kalian maka bisa dipastikan detik itu juga kita semua akan kena masalah. Karir kita sebagai perawat di rumah sakit ini terancam. Memangnya kamu mau dipecat cuma gara-gara hal sepele?" tanya Kiki seraya memakai pakaian khusus perawat di ICU.


"Kalau aku sih ogah! Aku masih ingin bekerja di rumah sakit ini. Bapak, ibu dan dua adikku membutuhkan uang dariku. Jika aku dipecat, mereka mau makan apa!" sahut Kiki tak kalah ketus.


Lisa terdiam beberapa saat. Mencerna semua perkataan rekan kerjanya itu.


"Ehm ... ya ... aku juga tidak mau kalau sampai dipecat dari pekerjaanku. Aku pun membutuhkan uang untuk kukirimkan ke kampung. Si Mbok pasti jatuh sakit karena memikirkanku kalau tahu aku dipecat dan jadi gelandangan di kota ini." Tertunduk karena merasa bersalah.


"Nah, berarti aku tidak salah 'kan mengambil keputusan untuk segera mengeretmu masuk ke dalam ruangan ini!" Kiki meraih catatan medis milik beberapa pasien yang ada dalam ruangan itu.


Lisa tersenyum seraya memeluk Kiki dengan erat. "Tentu tidak. Malah aku mau berterima kasih karena telah membantuku terhindar dari masalah besar."


"Sudahlah, lupakan saja. Sebaiknya kita berkeliling sebelum dokter jaga datang." Maka, Kiki dan Lisa mulai menjalankan tugasnya sebagai perawat di ruangan ICU.


"Ki, Dokter Rayyan beruntung ya menikahi Dokter Arumi," celetuk Lisa kala ia dan Kiki tengah menulis tanda-tanda vital pasien di sebuah buku khusus. "Kendatipun Dokter Arumi janda, tapi dia pandai merawat diri. Di usianya yang hampir mendekati kepala tiga tapi wajahnya masih seperti gadis berusia 20-an."


Kiki yang sedang melakukan pekerjaan yang sama menoleh sekilas ke arah Lisa, lalu menjawab. "Namanya juga jodoh, semua orang di bumi ini tidak akan pernah tahu siapa yang akan menjadi pendamping kita di kemudian hari. Kamu maupun aku, kita tidak tahu apakah kelak akan menikahi seorang jejaka ataupun seorang duren atau duren beranak. Jika ternyata jodoh kita bukan seorang jejaka maka menerimanya dengan lapang dada, sebab jodoh, maut, rezeki seseorang adalah rahasia Tuhan. Tidak ada satu orang pun tahu."


"Begitu pun dengan Dokter Rayyan. Awalnya datang ke rumah sakit ini ingin mengamalkan ilmu yang didapat selama kuliah dan bekerja di Jepang, eh malah bertemu jodoh. Dia menikah dengan Dokter Arumi di saat hati wanita itu terluka akibat dikhianati oleh suami dan mantan sahabatnya."

__ADS_1


Pandangan mata Kiki mengarah pada sosok pria yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai selang terpasang di tubuh.


"Jika bukan karena ada campur tangan Tuhan, mana mungkin mereka berdua menikah. Kamu tahu sendiri kabar burung yang beredar di luaran sana mengatakan bahwa Dokter Firdaus sempat tidak setuju karena Dokter Arumi adalah seorang janda. Namun, ternyata hati Dokter Firdaus luluh dan merestui pernikahan mereka. Kamu mengerti 'kan maksudku?"


Lisa mengangguk tanda mengerti dengan perkataan yang diucapkan oleh Kiki. Tampak perawat wanita itu ikut mengarahkan tatapannya pada Mahesa yang masih tak sadarkan diri dari koma.


"Aku yakin, mereka berdua pasti menyesal telah menusuk Dokter Arumi dari belakang." Entah mengapa, kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Lisa. Membayangkan berada di posisi Arumi membuat hatinya seperti ditusuk oleh sebilah pisau, hingga menancam ke tulang sumsum.


Sebagai sesama wanita, tentu saja Lisa prihatin mendengar kabar Arumi yang dikhianati oleh dua orang yang begitu disayanginya. Suami dan sahabatnya berselingkuh di belakang wanita itu. Dan kejamnya lagi, mertua dari Arumi-lah mencetuskan ide gila itu.


Sekalipun ia sempat mengagumi Rayyan, bukan berarti ingin merebut dokter tampan itu dari Arumi. Rasa dalam wanita itu cuma sebatas kagum dan tak berniat menjadikan Rayyan sebagai pelabuhan terakhirnya.


"Sudahlah, sebaiknya kita lanjut bekerja lagi. Terlalu lama menggunjingkan orang, pekerjaan kita tidak akan pernah ada habisnya," cetus Kiki.


Ia sudah bersiap membalikan tubuh, meninggalkan ranjang Mahesa. Namun, tiba-tiba saja mantan suami Arumi menggerakan jemari tangannya secara perlahan. Gerakan itu berhasil tertangkap oleh netra Kiki.


Melihat gerakan lemah pria itu, membuat Kiki mendekatkan tubuh ke ranjang pasien. Lalu mengamatinya secara perlahan.


"Ini ... bukan halusinasiku. Namun, benar-benar terjadi," gumam Kiki lirih.


Lisa pun melihat gerakan samar itu. Lantas berhambur mendekati rekan kerjanya. "Ki, itu tadi tangan Pak Mahesa bergerak?" Kiki menjawab dengan anggukan.


"Pak Mahesa, apakah Bapak dapat mendengar saya?" tanya Kiki memastikan jika Mahesa telah tersadar dari tidurnya yang panjang. Akan tetapi, gerakan pelan itu terhenti.


"Kita harus memberitahu kabar ini pada Dokter Samuel," ujar Kiki. Wanita itu berlalu meninggalkan Lisa yang masih membeku di tempat.


Kiki melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan, tempat di mana pesawat telepon berada. Jemari tangan wanita itu menekan satu persatu angkat tersebut. Menelepon Samuel yang hari itu berjaga di ruang ICU.


Sementara itu, Lisa masih memandangi wajah Mahesa dengan tatapan nanar. Ia bergumam, "Tampaknya Dokter Arumi masih menempati singasana tertinggi di hati Anda, Pak. Namun, sayang. Sepertinya Pak Mahesa akan sangat kecewa setelah tahu jika Dokter Arumi telah berbahagia dengan pria lain. Pria yang tulus mencintai wanita baik seperti Dokter Arumi."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2