
Kelopak mata Lena secara perlahan mulai terbuka, penglihatan wanita itu masih buram dan ia merasakan kepalanya terasa sakit sekali. Jemari tangan menyentuh bagian kepala yang dibalut perban berwarna putih. Pikiran wanita itu kosong, sama sekali belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi menimpa dirinya.
Netra wanita itu memindai seisi ruangan berwarna cat putih dipadupadan dengan warna hijau muda pada bagian gorden. Ruangan itu cukup luas, lengkap dengan segala furnitur ala hotel bintang lima.
"Sebenarnya, aku ini sedang di mana? Kenapa aku tidak ingat apa yang tengah terjadi padaku," gumam Lena.
Pandangan mata beralih pada jarum infus yang menancap di punggung tangan sebelah kiri. Dalam keheningan malam, ia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya sesaat sebelum dirinya tak sadarkan diri.
Secara perlahan, kepingan memori ingatan Lena mulai berputar bagaikan cuplikan film yang diputar di bioskop. Di mulai saat dirinya pulang dari rumah sakit membesuk Arumi yang baru saja melahirkan. Kemudian pertengkarannya dengan Raihan hingga menyebabkan anak kesayangannya itu minggat dari rumah karena merasa kecewa atas sikap dirinya dan Firdaus yang terkesan menyembunyikan kebenaran selama belasan tahun lamanya.
Bulir air mata kembali menggenang di pelupuk mata kala mengingat air muka penuh kekecewaan terlukis di wajah Raihan. Pertama kali dalam hidup, Lena melihat anaknya itu begitu kecewa terhadap dirinya. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia merasa sedih dan hatinya hancur berkeping-keping ketika bibir sang anak mengatakan bahwa dosen muda itu malu memiliki ibu seorang pelakor. Meskipun begitu, ia sudah memaafkan Raihan karena sadar jikalau masalah yang menimpanya saat ini adalah akibat perbuatannya di masa lalu.
Melirik ke atas nakas, terdapat telepon genggam miliknya di sana. Jaraknya cukup jauh dari jangkauan. Ia mengulurkan tangan ke depan, mencoba menggerakan bagian tubuhnya dari pinggang ke bawah. Akan tetapi, bagian tersebut tak dapat ia gerakan hingga membuat usahanya sia-sia.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa rasanya sulit sekali menggerakan bagian tubuh ini?" Masih bertanya pada dirinya sendiri mengapa tubuhnya sulit digerakan.
Lena tak pantang menyerah. Ia kembali merentangkan tangan kanannya ke samping, mencoba meraih telepon genggam itu. Mengerahkan kemampuan yang ada hingga wajah wanita itu kemerahan. Namun, lagi dan lagi usahanya gagal.
Merasa kesal dan putus asa, lantas ia menyibakkan selimut yang menutupi bagian tubuhnya dan hendak bangkit dari ranjang. Naasnya, anggota tubuh wanita itu tak bisa digerakan meski otaknya telah memerintah dirinya untuk bangkit segera.
"Mas ... Mas Firdaus!" Hanya nama itu yang mampu terucap dari bibir Lena. Memanggil nama Firdaus, sosok pria yang puluhan tahun telah menjadi pendamping hidup di kala suka maupun duka.
Namun, Firdaus tak kunjung masuk ke dalam kamar, sebab lelaki itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah membawa pakaian salin selama berada di rumah sakit.
"Suster! Suster!" Lena terus berteriak memanggil seseorang untuk memberikan penjelasan padanya.
Beruntungnya, saat itu ada salah satu perawat yang baru saja keluar dari ruang perawatan Arumi. Mendorong troli berisi sisa botol infus milik Arumi, perawat wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar VVIP setelah mendengar suara teriakan bersumber dari kamar Raflesia.
__ADS_1
"Bu Lena sudah siuman?" Wanita berseragam perawat mendekati ranjang Lena.
"Suster, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa ... aku susah sekali menggerakan tubuh ini," tanya Lena tanpa basa basi.
Mendapat pertanyaan itu, perawat berusia sekitar tiga puluh tahun tampak sedikit kebingungan. Tidak tahu harus memberitahu pasiennya yang terbaring lemah di atas ranjang mulai dari mana. Jika menjelaskan bahwa wanita itu lumpuh, apa yang 'kan terjadi. Masihkah Lena bisa bersikap tenang setelah tahu kalau selamanya ia tak bisa berjalan lagi seperti dulu?
Apabila menutupi kebenaran yang ada, bukankah itu sama saja seperti ia tengah melakukan sebuah kebohongan besar terhadap sang pasien terlebih pasien itu adalah istri dari direktur rumah sakit terdahulu.
Menarik napas dalam, seraya mengembuskan secara perlahan. Menyentuh bahu Lena sambil berkata. "Maafkan saya, Bu Lena. Akibat kecelakaan yang menimpa Anda, bagian tubuh Ibu mengalami kelumpuhan. Kemungkinan besar untuk Ibu dapat beraktivitas lagi seperti sedia kala, nihil. Dokter Naura dan yang lain tak bisa berbuat apa-apa."
Bagai didorong ke sebuah jurang yang sangat dalam, tubuh Lena membeku. Dada wanita itu terasa sesak. Sesaat tak tahu harus bereaksi apa, karena pikirannya saat ini kosong.
Hingga beberapa saat berlalu ....
"Tidak! Aku tidak mungkin lumpuh! Kamu ... pasti sedang bergurau! Iya, 'kan?" teriak Lena histeris. Tangan wanita itu melempar selimut dan bantal yang berada di dekatnya hingga kedua benda itu berserakan di lantai. "Suster, kamu jangan main-main denganku! Aku tidak suka dipermainkan seperri ini olehmu!"
"Tidak! Kamu pasti berbohong! Cepat, panggilkan dokter ke sini! Aku ingin mendengarnya secara langsung!" Lena masih belum percaya dengan kabar yang ia dengar dari perawat itu. Dalam hati masih ada secercah harapan besar kalau dirinya tidak benar-benar lumpuh.
"Tapi, Bu ... saya ...."
"Pergi! Cepat pergi kamu dari sini! Panggilkan aku dokter!" Lena histeris dan semakin kalap. Ia meronta, dan menggerakan anggota tubuhnya mulai dari pinggang ke atas. Sementara pinggang ke bawah diam, tanpa ada gerakan apa pun.
Perawat wanita itu tampak panik, sebab Lena telah mencabut jarum infus yang menancap di punggung tangan. Lantas, ia bergegas mendekati sang pasien menahan agar Lena tak semakin mengamuk.
Berada di dalam benda persegi yang membawa tubuhnya naik ke lantai VVIP, membuat wajah Firdaus semakin frustasi. Dalam hati bertanya, bagaimana memberikan penjelasan pada Lena tentang kondisi wanita itu saat ini. Sang istri pasti sangat kecewa setelah tahu jikalau selamanya wanita itu tak dapat lagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, sesuai dengan amanat Mei Ling sebelum meninggal dunia.
Amanat Mei Ling yang meminta Lena untuk bersedia menikah dengan Firdaus. Membahagiakan, menjaga dan merawat lelaki yang begitu dicintai oleh wanita keturunan Tionghoa asli dari kedua orang tuanya serta menjadi ibu sambung yang baik bagi Rayyan. Tinggal di rumah yang menyimpan kenangan manis saat ibunda tercinta Rayyan pertama kalinya disentuh oleh Firdaus meski dalam pengaruh obat perangs@ng.
__ADS_1
Meskipun Lena berusaha menolak, tetapi Mei Ling tetap memaksa. Ia merelakan Firdaus untuk menikahi wanita lain yang dicintai oleh pria itu. Membangun sebuah keluarga penuh cinta dan kasih sayang.
Suara derap langkah kaki menggema memenuhi lorong rumah sakit. Suasana cukup sepi, karena di lantai itu hanya terdapat lima buah kamar rawat inap khusus bagi Firdaus dan keluarganya.
Mendengar suara teriakan histeris bersumber dari dalam kamar Lena, Firdaus mempercepat langkahnya. Ia mendekati istrinya, kemudian membawa tubuh itu dalam pelukan.
"Ma, tenangkan dirimu. Tenanglah dulu," bisik Firdaus semakin mengeratkan pelukan. "Semua akan baik-baik saja."
Tubuh Lena tak lagi meronta. Ia hanya menangis sesegukan dalam pelukan Firdaus. "Kenapa semua ini menimpa diriku, Mas? Kenapa?"
Mengusap lembut punggung istrinya dengan penuh cinta. "Sabar, Sayang. Anggap saja semua ini teguran karena dulu kita pernah melukai hati Mei Ling. Sudah ya, jangan bersedih lagi."
"Tapi, Mas, bagaimana aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri jika aku lumpuh?"
Firdaus mengurai pelukan. Ditatapnya lekat manik coklat milik Lena. Air mata terus membasahi pipi. Wajah ceria yang sering ditunjukan pada pria itu telah tertutupi oleh kabut hitam. Tak ada lagi sinar di sana.
Walaupun begitu, di mata Firdaus, Lena tetaplah wanita cantik yang telah menemaninya menjalani sisa hidupnya di dunia ini. Sungguh tidak adil rasanya, jikalau ia meninggalkan Lena di saat wanita itu sedang terpuruk.
"Jangan khawatir. Kamu tetap bisa menjalankan tugasmu sebagai seorang istri. Cukup berada di dekatku selamanya, itu sudah lebih dari cukup, Lena." Tersenyum manis ke arah istrinya. Berharap, agar Lena dapat berlapang dada menerima musibah yang menimpa wanita itu
.
.
.
__ADS_1