
"Oh ya, bagaimana dengan acara aqiqahan ketiga anakmu, Ray? Kamu sudah menentukan hari dan tanggalnya?" tanya Rio. Sesaat setelah dia, Arumi dan Rayyan sudah berkumpul di ruang tamu.
Sedangkan Indah sedang berada di kamar si kembar ditemani Nyimas. Gadis kecil berusia enam tahun, tampak sibuk bermain di kamar bayi. Ia begitu bahagia karena mempunyai teman dengan jenis kelamin sama dengannya.
Saat Rini mengandung, berharap adiknya itu berjenis kelamin perempuan, tetapi rupanya tidak sesuai harapan. Sedikit kecewa, namun ia kembali bersemangat setelah tahu jikalau salah satu bayi dalam kandungan Arumi berjenis kelamin perempuan. Maka dari itu, Indah sangat menyayangi dan mencintai Zahira seperti adik kandungnya sendiri.
"Sudah. Acara akan diadakan akhir pekan ini di rumah Mama Nyimas, genap di usia dua minggu ketiga anakku," jawab Rayyan. "Sebenarnya, ingin sekali mengadakan acara aqiqah tepat di hari ketujuh, tapi keadaan tak memungkinkan. Kondisi Arumi masih kurang sehat pasca operasi, ditambah riwehnya mengurus bayi kembar tiga sekaligus. Jadi, aku baru sempat menghubungi EO dan meminta mereka mengurusi segala keperluan anak-anakku."
Rio terkekeh mendengar keluhan sahabatnya. "Ya ... ya ... aku pernah berada di posisimu dulu. Setiap malam ikut begadang karena Indah dan Bagus terus menerus merengek secara bergantian. Beruntungnya Mama ikut membantu kami. Kalau tidak, entahlah. Mungkin aku dan Rini akan mengalami baby blues karena terlalu stres mengurusi dua bayi kecil secara bersamaan."
"Namun, saat mereka beranjak dewasa, perasaan itu akan sangat kita rindukan. Andai waktu dapat diputar, aku ingin Indah dan Bagus kembali seperti dulu. Menjadi bayi mungil dan menggemaskan," sambungnya. Menceritakan betapa ia sangat merindukan moment saat dirinya dan Rini terbangun di malam hari hanya untuk menggantikan popok ataupun memberikan ASI pada Indah dan Bagus kecil.
"Jadi, karena alasan ini kamu meminta Rini melepas IUD yang melekat pada dirinya, begitu?" tanya Arumi penuh selidik.
IUD adalah singkatan dari Intrauterine Device merupakan salah satu alat kontraspesi dalam rahim. Dapat mencegah kehamilan hingga 99%. Selain itu, tidak menyebabkan kenaikan berat badan, aman bagi ibu meny*s*i, dan sangat direkomendasikan bagi pasien yang mempunyai riwayat penyakit tertentu, seperti penyakit darah tinggi.
Rio menyeringai kuda seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Merasa bersalah karena suatu hari pernah merengek pada Rini agar melepas alat kontrasepsi pada rahim sang istri agar keluarga kecil mereka diberikan lagi anggota baru berupa malaikat kecil dalam wujud seorang bayi mungil nan menggemaskan.
Hanya lewat sikap Rio, Arumi sudah tahu jawabannya. Lantas, ia mencebikkan bibir sambil berkata. "Pantas saja Rini secara mendadak memintaku menemaninya menemui Dokter Laras. Rupanya kamu merayu sahabatku agar bersedia melepaskan alat kontrasepsi dan mengandung anak ketiga!" Arumi menuangkan kembali dua gelas jus jeruk ke dalam gelas.
Rayyan mendengkus kesal atas sikap Rio karena sahabatnya terkesan memaksa agar Rini mau mengandung anak ketiga mereka. "Kalau aku tahu sebelumnya kamu memaksa istrimu mengandung anak ketiga, sudah kulayangkan sebuah kepalan keras di wajahmu yang jelek itu!"
Arumi menyodorkan segelas jus jeruk kepada Rayyan, dan gelas satunya ia geserkan ke hadapan Rio. Kemudian duduk di samping suaminya. "Merencanakan untuk memiliki anak lagi harus dibicarakan secara matang oleh kedua belah pihak, tidak bisa diputuskan secara mendadak, sebab banyak faktor yang mesti dipersiapkan. Salah satunya adalah mental si ibu, apakah dia siap untuk mengandung lagi atau tidak."
"Jangan karena ego semata, si suami malah merugikan istrinya sendiri," tambah Arumi. Mengutarakan isi hati dan pendapatnya di hadapan Rio. Secara tidak langsung, mengingatkan kembali pada Rayyan agar pria itu ingat kesepakatan bersama sebelum Triplet lahir ke dunia. Kesepakatan untuk menunda kehamilan dan baru memprogramkan kembali setelah usia Ghani, Zavier dan Zahira berusia lima atau enam tahun.
Merasa dipojokkan, Rio mendengkus kesal. "Ck! Kalian berdua ini bekerjasama menjadikanku bulan-bulanan!" Sang pengacara meraih gelas yang telah diisi jus jeruk oleh Arumi. "Asal kalian tahu, aku tidak memaksa Rini melepaskan IUD yang ada dalam dirinya kok. Aku memberikan kebebasan kepadanya."
Pria itu menyesap secara perlahan minuman dingin yang ada di tangannya. "Apabila dia sendiri setuju, lalu aku harus bagaimana?" ucapnya seraya meletakkan kembali gelas minumannya di atas meja.
Rayyan memicingkan mata ke arah Rio. "Yakin kamu tidak memaksanya? Atau ... kamu mengeluarkan jurus mautmu sehingga Rini luluh dan bersedia mengandung lagi." Sangat yakin kalau sahabatnya itu bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Sang pengacara pasti telah melakukan segala macam cara sampai tujuannya tercapai.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Rio menyeringai karena tak dapat menyembunyikan sesuatu dari Rayyan, pria yang telah lama menjadi sahabatnya. "Ehm ... aku sempat merengek sambil memberikan janji-janji manis kepada istriku," ucapnya lirih.
"Dasar! Itu sama saja dengan memaksa!" cibir Rayyan seraya melemparkan bantal sofa kepada Rio. Namun, segera ditangkis oleh ayah tiga orang anak.
"Ye ... bedalah! Kalau memaksa itu, aku bersikap tegas dan mengancam Rini. Sedangkan aku, malah memberikan janji manis kepadanya. Jika memaksa, tentu dia tidak bersedia menuruti keinginanku. Buktinya, dia suka rela melepas IUD dalam rahimnya. Itu membuktikan bahwa dia ikhlas mengandung anak ketigaku tanpa ada keterpaksaan!" Rio masih berusaha membela diri dan tidak mau disebut telah memaksakan kehendaknya terhadap sang istri.
"Dasar keras kepala!" sindir Rayyan ketus.
"Cih! Memangnya kamu tidak keras kepala, hem!" balas menyindir Rayyan. "Kamu juga keras kepala, sama sepertiku!"
"Kamu!" Rayyan meletakkan gelas jus ke atas meja. Ia merubah posisi duduk dan bersiap melemparkan batal sofa lain ke wajah Rio. Akan tetapi, suara Arumi menghentikan gerakannya.
"Hentikan! Mau sampai kapan kalian begini? Tidak mau kalau dilihat Indah dan Mama Nyimas?" sergah Arumi sebelum situasi semakin memanas. Meskipun tahu tidak akan terjadi adu jotos, tetapi ia tak mau apabila ketiga anak-anaknya terbangun dan menangis karena mendengar suara gaduh berasal dari ruang tamu.
Layaknya seorang anak SD yang ditegur oleh guru di sekolah karena telah melakukan kesalahan, Rio dan Rayyan bungkam seketika. Mulut terkunci rapat dan tak berani bersuara.
"Nah, kalau tenang begini 'kan enak. Kita bisa berbincang tanpa harus mengeluarkan energi berlebih. Simpan energi kalian untuk membantu kami, para kaum Hawa saat mengurusi anak-anak. Jangan mau enaknya saja. Giliran susah, malah lepas tangan!"
***
"Mbak Nesa, Mbok tinggal ke minimarket sebentar ya. Ada barang yang mau Mbok beli soalnya," ucap Mbok Darmi sebelum meninggalkan unit apartemen yang ditinggali oleh Firdaus. "Mbak Nesa, tidak masalah 'kan kalau menyiapkan sendiri makan siang untuk Bu Lena?"
Pemilik wajah ayu tersenyum ke arah mbok Darmi. "Tidak masalah kok, Mbok. Di rumah, saya sudah terbiasa menyiapkan sarapan, dan makan malam untuk Ibu dan adik-adik saya."
"Ya sudah, kalau begitu si Mbok tinggal dulu. Titip Bu Lena sebentar, ya, Mbak."
"Iya, Mbok, hati-hati di jalan." Setelah kepergian mbok Darmi, Nesa kembali melanjutkan kegiatannya memasak di dapur. Ini merupakan hari kelima dia bekerja di apartemen Firdaus sebagai seorang perawat.
Hari pertama hingga detik ini, sang perawat tampak bekerja dengan bersungguh-sungguh tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Namun, untuk hari ini, ia ingin membuat sebuah pertunjukan kecil di rumah itu.
"Sudah saatnya aku beraksi. Selagi Mbok Darmi tidak ada di rumah, aku bisa leluasa melancarkan aksiku," gumam Nesa lirih. Ia tersenyum smirk sambil membayangkan tindakan apa yang 'kan dilakukan agar membuat Lena semakin cemburu kepadanya.
__ADS_1
Lalu, sebuah ide terlintas dalam benak wanita muda itu. Ia mematikan kompor dan meletakkan semua hidangan ke atas meja makan. Setelah itu, ia menyiapkan cangkir dan menuangkan kopi kesukaan Firdaus ke dalamnya.
Melangkah dengan anggun, menghampiri mantan direktur rumah sakit di ruang kerja. Pria itu sedang sibuk memantau perkembangan rumah sakit meski sudah lengser dari jabatannya.
"Permisi, Dokter Firdaus. Saya membawakan kopi serta camilan untuk Anda." Wanita itu masuk ke dalam ruangan, setelah dipersilakan masuk oleh si pemilik rumah.
Firdaus mendongakan kepala sambil membenarkan posisi kacamata baca yang bertengger di hidungnya yang mancung. "Terima kasih banyak, Suster Nesa. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan minuman untuk saya."
Nesa terkekeh pelan. "Hanya segelas kopi hangat dan camilan saja kok, Dok. Tidak membuat saya repot."
Dengan sangat hati-hati Nesa membawa nampan itu mendekati meja kerja Firdaus. Akan tetapi, saat di tengah ruangan, tubuh wanita tidak seimbang. Hingga membuat nampan dalam tangannya terjatuh ke lantai. Terdengar suara benda pecah di dalam ruangan itu. Disusul tubuh perawat wanita itu membentur lantai.
"Aduh!" pekiknya ketika merasakan pecahan gelas mengenai telapak tangan. Darah segar keluar dari permukaan kulit.
Melihat seseorang terjatuh dan mengalami kecelakaan di depan mata, membuat Firdaus tidak tega. Lantas, ia bangkit dari kursi, melangkah mendekati Nesa yang terkulai di lantai.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya seraya membungkukan sedikit badannya. Posisi pria itu di samping Nesa, membelakangi pintu.
Meringis kesakitan karena merasa kulitnya terluka akibat terkena serpihan gelas pecah. "Hanya sedikit sakit, Dokter." Netranya memperhatikan tangannya terkena pecahan gelas.
"Ayo bangun, saya bantu obati lukamu!" Mengulurkan tangan ke depan, berniat membantu Nesa berdiri.
Tanpa pikir panjang, Nesa menerima uluran tangan itu. Bangkit secara perlahan, tetapi tubuhnya kembali tak seimbang. Refleks, Firdaus menarik tubuh wanita itu hingga sang perawat berada dalam dekapannya.
"Papa!" seru Lena dengan nada cukup tinggi.
.
.
.
__ADS_1