Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Bukan Cobaan dari Tuhan, Melainkan ... Karma!


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian ....


Pasangan paruh baya, Firdaus beserta istri tercinta masih dirawat di rumah sakit. Dokter yang bertugas saat itu meminta kedua pasien untuk rawat inap guna memantau kesehatan mereka sebelum memberikan izin pulang ke rumah.


Selama itu, baik Rayyan ataupun Raihan, tak ada satu orang pun yang sudi datang membesuk meski mbok Darmi sudah mengirimkan pesan singkat kepada dua pria tampan yang sukses dalam karir masing-masing. Pun begitu dengan Arumi. Untuk kedua kali, wanita itu tidak diberitahu oleh sang suami jikalau mertuanya tengah dirawat di Rumah Sakit Citra Asih.


"Mbok, Mas Firdaus kemana kok belum membesukku? Apakah dia sedang asyik bermesraan dengan perawat itu?" tanya Lena penasaran, sebab selama ia masuk rumah sakit pria yang telah menikahinya puluhan tahun lalu tak pernah menampakkan batang hidungnya.


Beberapa hari dirawat di rumah sakit, ia sama sekali belum bertemu dengan suaminya. Setiap kali bertanya pada mbok Darmi, dokter ataupun perawat yang bertugas, mereka selalu mengalihkan topik pembicaraan. Mereka bukannya ingin menyembunyikan keadaan pasien, namun lebih menjaga mental karena saat itu Lena pun sedang dalam kondisi terluka.


Mbok Darmi masih mengaduk-aduk mangkuk bubur agar semua toping tercampur menjadi satu. Entahlah, rasanya bibir wanita itu sulit 'tuk berucap. Mungkin karena tidak tega memberitahu keadaan Firdaus kepada Lena, sebab sebelum kejadian mereka sempat bertengkar dan akhirnya masuk rumah sakit.


Lena mendengkus kesal. Seandainya saja ia tidak lumpuh, mungkin saat itu juga sudah berhambur mencari keberadaan sang suami. Melabrak, menampar bahkan menjambak Nesa karena sudah berani mendekati suaminya. Namun sayang, ia sudah tak mampu lagi melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain.


"Mbok, jawablah pertanyaan saya. Dimana Mas Firdaus? Sejak kemarin saya tanya, kamu terkesan tengah menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan!" Lena kembali bersuara, penasaran kenapa Firdaus tak ada di sisinya.


Isi kepala telah dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif, bayangan saat Firdaus memeluk Nesa kembali menari indah di pelupuk mata. Sekujur tubuh terasa panas. Api cemburu dalam diri semakin bergejolak dan tak bisa dibendung lagi.


Lantas, ia kembali berkata. "Jangan-jangan, Mas Firdaus tidak ada di sini karena dia dan perawat itu sedang melangsungkan akad nikah, iya?" tanyanya seraya memicingkan mata. Sungguh, Lena sudah tak bisa berpikir dengan jernih. Rasa takut akan kehilangan Firdaus bergelayut manja di dalam dada. Tidak rela, jikalau suaminya menikah lagi tanpa izin darinya.


Mbok Darmi menghentikan kegiatannya. Kedua alis saling tertaut petanda bingung. Ia menatap lekat manik coklat majikannya. Tampak sedang berpikir keras, ada apakah gerangan di antara Lena, Firdaus dan Nesa? Kenapa majikannya itu begitu membenci Nesa padahal wanita muda itu begitu baik dan tak pernah neko-neko.


Tak ingin mati penasaran, mbok Darmi memberanikan diri bertanya kepada Lena. Dengan lirih ia berucap, "Bu ... kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi antara Ibu dengan Mbak Nesa? Setahu saya, perawat pribadi Ibu sangat baik, perhatian dan begitu cekatan bekerja tapi kenapa Bu Lena seperti membencinya?


Istri kedua Firdaus terkekeh mendengar penuturan mbok Darmi. Perutnya terasa geli bagai digelitik oleh tangan-tangan tak kasat mata. Seandainya mbok Darmi tahu betapa liciknya Nesa dan busuknya hati wanita muda itu, apakah asisten kepercayaannya akan tetap menilai jikalau perawat berwajah ayu itu adalah wanita baik, mempunyai hati sesuci malaikat?


"Tidak usah mengihkan perhatian segala, Mbok! Sudah, lekas katakan padaku, di mana Mas Firdaus sekarang? Minta dia menemaniku di sini!"


Tampak mbok Darmi menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Bu Lena ... sebenarnya telah terjadi hal buruk menimpa Pak Firdaus."

__ADS_1


"M-maksudmu apa, Mbok? Katakan padaku, apa yang terjadi?" Suara Lena bergetar. Jantung pun mulai berdetak tak beraturan. Pikiran negatif yang sempat menghampiri telah sirna tergantikan oleh rasa cemas yang menyelimuti diri.


"Dokter mengatakan bahwa saat ini Pak Firdaus dinyatakan stroke dan beliau mengalami kelumpuhan pada seluruh anggota tubuhnya," cicit Mbok Darmi menunduk. Tak kuasa menatap bola mata sang majikan.


"A-apa, Mbok! Lumpuh? Kamu pasti bercanda 'kan! Suamiku itu masih tetap gagah dan perkasa seperti belasan tahun lalu." Lena tidak langsung menelan mentah-mentah kabar yang disampaikan kepadanya.


"Maafkan saya, Bu. Tapi, memang itulah kenyataannya. Pak Firdaus sudah tak bisa melakukan kegiatan apa pun. Beliau dinyatakan lumpuh akibat penyakit stroke yang dideritanya." Mbok Darmi masih menunduk. Ia tak mau melihat manik coklat milik majikannya. Tak mau melihat betapa rapuhnya Lena saat tahu kalau Firdaus sama seperti wanita itu. Menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi tanpa dapat beraktivitas seperti dulu.


"Tidak! Suamiku tidak mungkin lumpuh, Mbok! Mas Firdaus pasti baik-baik saja." Lena menggelengkan kepala tanda tak percaya dengan apa yang didengar barusan. Ibu satu orang anak berharap semoga ini hanyalah mimpi dan ia segera bangun dari tidurnya.


"Bu Lena, apa yang Ibu lakukan?" ujar Mbok Darmi saat melihat Lena mencubit bagian lengannya.


"Aku sedang memastikan jikalau saat ini diriku tengah bermimpi. Mimpi buruk yang tak pernah sama sekali aku harapkan!"


"Bu, sudah hentikan! Jangan diteruskan lagi!" sergah sang asisten rumah tangga. Ia tidak tega melihat betapa frustasinya Lena setelah mengetahui kabar buruk yang menimpa Firdaus.


Mbok Darmi mencegah Lena untuk terus mencubiti tubuh majikannya. Kulit putih nan mulus bagai porselen terlihat memerah.


"Tidak, Bu. Ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang harus Ibu terima." Mbok Darmi memeluk tubuh Lena dengan erat.


Tubuh ringkih semakin terlihat tak berdaya. Bulir air mata mulai mengalir secara perlahan di antara kedua pipi, bibir gemetar hebat disusul suara isak tangis menyayat kalbu.


Wanita paruh baya itu sesegukan dalam pelukan mbok Darmi. "Katakan padaku, Mbok, ini cuma mimpi 'kan? Ayo, Mbok, katakan padaku!" ucapnya lirih di sela isak tangisnya.


Dengan penuh kasih sayang, mbok Darmi mengusap punggung Lena berharap agar majikannya tabah menghadapi musibah yang menimpa mereka. Ia bisa merasakan betapa terpukulnya hati ibu kandung Raihan saat ini.


Di usia senja, di mana Lena dan Firdaus seharusnya hidup berbahagia bersama anak dan cucu, kesunyian menjadi makanan sehari-hari. Tak ada anak-anak yang datang mengunjungi, bahkan untuk mengirimkan pesan singkat saja tidak. Ujian hidup pun datang silih berganti menyapa pasangan paruh baya itu. Sungguh, benar-benar mengenaskan!


Pelukan pun terurai. Butiran kristal masih terus berjatuhan. Dengan lirih Lena berucap, "Mbok, bisa tolong antarkan aku menemui Mas Firdaus. Aku ingin bertemu dengannya."

__ADS_1


"Baik, Bu. Kalau begitu, saya panggilkan perawat dulu ya." Lena hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


***


"Mas Firdaus!" seru Lena seraya menggerakan benda berbentuk bundar besar terbuat dari karet. Mbok Darmi dan seorang perawat mematung di ambang pintu, menyaksikan pertemuan haru antara pasangan suami istri itu. "Maafkan aku, Mas. Semua ini terjadi akibat kesalahanku." Kembali terisak karena tak kuasa melihat tubuh suaminya yang lemah terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Jemari tangan Lena terulur ke depan, membelai wajah suaminya yang tengah tertidur pulas.


Merasakan ada seseorang yang menyentuh permukaan wajah, mantan direktur rumah sakit Persada International Hospital membuka kelopak mata secara perlahan. Mencoba melihat siapakah gerangan yang berani menyentuh tubuhnya di saat ia tengah tertidur.


"Mama! Sudahlah, jangan merasa bersalah. Ini semua bukan salahmu,"" ucap Firdaus dengan nada suara pelo atau tidak jelas. Wajah pria itu tak simetris dengan bagian bibir mengarah ke kanan. Ia berusaha sekuat tenaga mengerahkan kemampuan untuk menyentuh istrinya, tapi sayang tangan pria itu sama sekali tak terangkat.


"Papa, kamu bicara apa? Atau ... kamu membutuhkan sesuatu?" Lena menghentikan gerakannya saat mendengar suara Firdaus. Akan tetapi, ia sama sekali tak mengerti suaminya itu sedang bicara apa.


"Tidak!" Pria itu menggelengkan kepala. Walaupun seluruh tubuhnya dinyatakan lumpuh, namun bagian kepala pria itu masih bisa digerakan.


Lena memperhatikan gerakan kepala suaminya. "Lalu, kamu mau bicara apa, Pa? Mama tidak mengerti maksudmu."


"Maksudku, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua murni karena kecelakaan." Itulah yang ingin dikatakan oleh Firdaus. Namun, yang terdengar oleh indera pendengaran Lena hanya suara desisan saja tanpa ada yang tahu maksud ucapan pria paruh baya itu.


Lena tampak kebingungan mengartikan sendiri apa yang dikatakan oleh suaminya. Menoleh ke belakang, meminta bantuan pada perawat yang berdiri di ambang pintu. Sorot mata penuh permohonan.


Merasa tidak tega melihat dua sejoli yang mengalami kelumpuhan, seorang wanita berseragam perawat berjalan mendekati ranjang. Lalu, ia berucap. "Bapak mau bicara apa, biar saya bantu sampaikan pada istri Anda."


"Sampaikan kepadanya, dia tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas musinah yang menimpaku. Anggap saja ini ujian hidup yang Tuhan berikan. Belajar untuk ikhlas agar hati semakin lapang." Kemudian, perawat itu menyampaikan apa yang ingin diucapkan oleh Firdaus.


Bola mata Lena mulai berkaca-kaca kala mendengar pesan yang disampaikan oleh Firdaus. Ia sadar memang semua ini merupakan bentuk ujian kehidupan yang Tuhan berikan kepadanya. Namun, jauh di lubuk hati yang terdalam, wanita itu merasa kalau ini bukanlah bentuk ujian dari Tuhan melainkan karma atas perbuatan yang mereka lakukan di masa lalu. Karma telah menyakiti perasaan Mei Ling hingga ibunda Rayyan meninggal bersamaan dengan rasa sakit yang ia bawa hingga ajal menjemput.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2