Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Camilan Untuk Sang Kekasih


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, Kayla baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang. Selama Mahesa sarapan, wanita yang kini menyandang gelar nyonya muda Putra Adiguna bergeming. Ia masih sibuk berlayar hingga tak tahu jika suami tercinta telah berangkat bekerja.


Cahaya sinar matahari menerobos masuk melalui celah vitrase gorden. Perlahan, kelopak mata Kayla bergerak. Hal pertama yang ia lakukan setiap kali terbangun adalah ... mencari keberadaan Mahesa di sisi ranjang.


"Mas ... kamu sudah bangun?" lirih Kayla seraya meraba ruang kosong di sisi ranjang.


Tersadar jika tidak menemukan sosok suaminya berada di ranjang, wanita itu bangkit dari tidur. Ia duduk di sandaran headboard ranjang. Perlahan, ia membuka mata. Memindai isi ruangan. Sepi, itulah yang dirasakan oleh Kayla saat ini.


Sosok pria tampan yang begitu dicintai sudah tidak ada di dalam kamar. Dugaan semakin kuat ketika netranya melirik ke arah jam weker digital yang ada di atas nakas. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


"Pantas saja sepi, rupanya Mas Mahesa telah berangkat ke kantor," gumam wanita itu. Ia menyingkap selimut terbal yang membungkus tubuh kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, ia mengguyur tubuh sintal nan molek itu dengan air shower yang dingin. Membersihkan tiap inci tubuh dari peluh dan kotoran yang menempel.


Tak berselang lama, ia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang terlihat lebih segar. Aroma strawberi menguar dari tubuh serta rambut basahnya.


Ketika Kayla menggosok rambut basahnya, dering ponsel milik wanita itu berdering. Ia meraih telepon genggam di atas nakas. Sebuah pesan dari managernya muncul di layar ponsel membuat wanita itu menautkan kedua alis.


[Saat makan siang nanti, datanglah ke Restoran Shabu Nancy yang ada di Mall Indah Permai. Ada hal penting yang ingin kusampaikan terkait urusan pekerjaan. Datang tepat waktu!]


Setiap kalimat yang tertulis di layar ponsel membuat Kayla penasaran. Pikiran wanita itu berkelana, menerkan hal penting apa yang akan disampaikan oleh managernya tersebut.


Seharusnya tidak ada masalah terkait pekerjaan sebab ia tak melanggar kontrak apa pun selama berada dalam naungan agensi. Wanita itu menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang profesional dengan baik. Meskipun tak jarang tubuh terasa lelah karena harus melakukan pemotretan dari subuh hingga larut malam tetapi ia tetap memberikan yang terbaik selama melakukan proses pemotretan.


Tak ingin dibuat mati penasaran, Kayla mengirimkan pesan pada sang manager.


[Oke, aku akan datang tepat waktu. Sampai ketemu di restoran.]


Usai mengeringkan rambut serta menghias diri secantik mungkin wanita itu keluar kamar lalu melangkah menuju dapur. Di dalam dapur ada dua orang ART yang sedang sibuk mencuci piring serta peralatan masak yang digunakan untuk mengolah makanan.


"Kalian berdua, siapkan sarapan untukku!" pinta Kayla pada dua orang ART. Ia bersikap layaknya nyonya besar di rumah itu. "Jangan lupa, siapkan juga segelas susu hangat. Bawa semuanya ke taman belakang, aku ingin duduk santai di gazebo belakang."


Tanpa menunggu jawaban kedua ART itu, Kayla meninggalkan mereka yang masih bergeming di tempat.

__ADS_1


"Cih! Sombong sekali gadis itu. Baru menjadi istri siri saja sudah belagu apalagi kalau Den Mahesa menjadikannya istri sah. Bisa-bisa dia menggantikan posisi Bu Naila di rumah ini. Mengatur ini dan itu sesuka hati," gerutu salah satu ART dalam hati.


"Ya Allah, ternyata seperti ini jati diri Mbak Kayla yang sesungguhnya. Dulu kupikir dia gadis baik tetapi nyatanya kebaikan itu hanya kamuflase belaka. Dia hanya menggunakan kedok untuk menarik simpati semua orang," batin seorang ART paruh baya. Wanita itu sudah lama bekerja di kediaman Putra bahkan sejak Mahesa kecil.


Kendatipun kesal dengan sikap Kayla, kedua ART itu tak dapat berbuat apa-apa mereka hanya bisa menghela napas dan bersabar.


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Arumi sedang menyiapkan cemilan khusus untuk kekasih tercinta. Entah mengapa, melihat kemarahan Rayyan semalam saat di pesta ulang tahun si kembar membuat wanita itu terbesit sebuah ide untuk membuatkan sesuatu sebagai ucapan permintaan maaf. Meski hubungan mereka baru seumur jagung tetapi ia tetap menghargai pria itu sebagai imam untuk keluarganya kelak.


Sambil bersenandung, jemari lentik itu menyiapkan bahan makanan untuk Rayyan. Ia berencana membuatkan bakwan jagung serta pangsit khas negara tirai bambu isi ayam khusus untuk sang kekasih.


"Cukup tambahkan sedikit penyedap maka adonan bakwan jagung ini siap untuk digoreng," gumam Arumi. Ia menuangkan sedikit kaldu ayam ke dalam adonan, mengaduknya hingga rata. Setelah mencicipi rasa adonan tersebut, wanita itu menggorengnya di atas minyak panas.


Sudah hampir dua jam lamanya ia berada di dapur, berkutat dengan bahan-bahan makanan untuk membuat dumpling dan bakwan jagung. Kedua jenis makanan tersebut merupakan makanan kesukaan Rayyan. Bermodalkan ilmu yang bersumber dari aplikasi YouTube, wanita cantik itu begitu telaten menyiapkan kulit dumpling buatan sendiri.


Nyimas memperhatikan gerak gerik Arumi dari ambang pintu. Gadis cantik yang kini bertransformasi menjadi wanita karir dengan IQ tinggi serta memiliki prestasi bagus di rumah sakit, begitu piawai kala jemari lentik itu melipat kulit adonan yang telah diisi daging ayam. Meskipun ini kali pertama Arumi membuat dumpling khusus untuk kekasihnya tapi wanita itu sama sekali tidak gugup sedikit pun. Bahkan sesekali terdengar suara nyanyian merdu dari bibir sang putri.


Wanita itu mencemaskan kejiwaan Arumi sebab selepas pulang dari acara pesta, bibir mungil wanita itu tak henti-hentinya mengulum senyum.


Untuk memastikan dugaannya, Nyimas mendekati Arumi yang tengah sibuk membalikan bakwan menggunakan spatula. Wanita paruh baya itu berdiri si sisi Arumi.


"Kamu masak apa?" tanya Nyimas tiba-tiba seraya menatap intens wajah Arumi.


Tubuh Arumi terjingkat akibat suara Nyimas yang tiba-tiba. Tanpa sengaja tangan wanita itu menyentuh wajan panas hingga membuatnya memekik.


"Aw!" Suara pekikan menggema memenuhi ruangan. Kulit tangan wanita itu memerah dan terasa panas.


"Arumi!" Rahang Nyimas terbuka lebar dan ia semakin terkejut ketika melihat tangan Arumi memerah. Tanpa membuang waktu, wanita itu menyalakan kran air lalu membawa tangan putri tercinta di bawah alir mengalir selama hampir 20 menit.


Arumi meringis ketika merasakan kulit tangannya terasa panas meski sudah dialiri air selama 20 menit.


"Mbak ... Mbak Tini ...." seru Nyimas dari dapur.

__ADS_1


Tini berjalan tergopoh-gopoh. Wanita itu mendekati sang majikan. "Ada apa, Nyonya?"


"Tolong kamu ambilkan salep luka bakar di kotak P3K," titah Nyimas panik.


"Baik, Nyonya."


Arumi dibantu Nyimas duduk di kursi makan. Dengan teliti Nyimas mengobati luka bakar di tangan putri tercinta.


"Kamu itu kenapa sih? Masak kok malah melamun." protes Nyimas. Luka bakas Arumi telah selesai diobati. Nyimas pun menutup luka Arumi dengan perban steril yang tidak lengket.


"Aku tidak melamun, Ma. Hanya kaget saja ketika tiba-tiba Mama datang lalu bertanya padaku."


Disaat bersamaan, Tini membawakan segelas air putih lalu menggesernya di hadapan Arumi. "Diminum dulu, Bu Rumi agar tidak syok."


Arumi meraih gelas itu lalu meneguknya hingga habis tak tersisa. Memasak di dapur selama 2 jam membuat tenggorokannya kering. Ketika disuguhkan air minum, ia seperti orang kerasukan hingga mampu menghabiskan satu gelas air putih dalam sekali teguk.


Nyimas merubah posisi duduk. Ia menghadap Arumi. "Memangnya tadi kamu tidak mendengar derap langkah Mama saat masuk ke dapur?"


"Hah?" Kelopak mata Arumi melebar sempurna. "Eh ... itu ... tadi ... ah sudahlah, lupakan saja."


"Nanti siang Mama ada jadwal check up 'kan dengan Dokter Hans." tanya Arumi mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Namun, itu semakin membuat Nyimas yakin bila Arumi telah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku sangat yakin jika saat ini Arumi sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa?" Nyimas bermonolog. Tatapan matanya tak teralihkan dari sosok wanita dewasa di depan sana. "Secepatnya aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh anakku."


"Iya, benar. pukul sebelas nanti Mama akan ke rumah sakit bertemu Dokter Hans. Kenapa? Kamu keberatan bertemu Mama di rumah sakit?"


Arumi memutar bola mata malas. Kendati rasa panas masih terasa namun ia masih dapat memiliki energi untuk menunjukan kekesalannya pada Nyimas. Kesal karena sang mama beranggapan bila dirinya tidak menyukai kehadiran Nyimas di rumah sakit itu. Padahal ia sangat senang bisa bertemu dengan mama tercinta di sana karena kehadiran Nyimas dapat menjadi penyemangat dalam menjalankan tugas sebagai seorang dokter.


"Mama itu aneh, mana mungkin aku tidak suka bertemu Mama di rumah sakit. Seandainya saja aku memiliki keberanian untuk mengobati jantung Mama maka akan aku lakukan. Hanya saja aku gugup bila harus menangani pasien yang tak lain orang itu adalah orang tuaku sendiri," tutur Arumi.


Nyimas terkekeh mendengar penuturan Arumi. Ia mengusap punggung tangan yang tak terkena luka bakar kemudian berucap, "Mama paham maksudmu. Sudah sana, kamu siap-siap. Biarkan Mbak Tini yang menyiapkan semua makanan itu ke dalam kotak makan."


Arumi mengangguk patuh. Melangkah naik menuju kamar di lantai dua.

__ADS_1


__ADS_2