
Setelah menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara sepasang kekasih itu, Rayyan mengajak Arumi masuk ke dalam sebab ia tidak ingin membuat orang lain berpikiran negatif tentang mereka. Bagaimanapun status Arumi saat ini masih menjalani masa iddah, pria itu tidak mau nama baik sang pujaan hati jelek di hadapan orang tua Rio dan juga Nyimas.
Saat Arumi melewati ruang keluarga, Nyimas baru saja selesai berbincang dengan Mama Rio. Kening wanita itu mengerut hingga terlihat garis halus di sana. Belum mendapat jawaban atas pertanyaan yang ada dalam benak, ia kembali dikejutkan akan sosok Rayyan yang mengekor di belakang Arumi.
"Kenapa pria itu masuk ke dalam ruangan berbarengan dengan anakku? Apakah mereka saling kenal?" batin Nyimas sambil memperhatikan gerak gerik kedua insan manusia beda jenis kelamin itu.
Sikap yang ditunjukan oleh Arumi serta Rayyan begitu mencurigakan. Bagaimana tidak, pria berwajah oriental itu sesekali mencuri pandang ke arah Arumi. Lalu, detik berikutnya tersenyum simpul. Raut wajah Arumi pun sama. Wajah putri tercinta bersemu malu layaknya ABG yang sedang jatuh cinta.
"Aduh, maaf ya sudah menunggu lama," ujar Rini.
Wanita itu dibantu seorang ART mendorong troli mendekati meja yang ada di tengah ruang keluarga. Troli itu berisi ice cream cake rasa rasa cokelat dan vanila. Krim vanila sebagai topping dan dihias dengan kepingan coklat. Kue itu berbentuk silinder dengan tinggi sekitar 20 cm dan diameter 20 cm. Dibagian tengah kue bertuliskan "Happy Birthday Indah dan Bagus".
"Lebih baik sekarang kita tiup lilin bersama. Indah dan Bagus pasti sudah tidak sabar 'kan ingin mencicipi kue ini," goda Rio. "Tuh lihat bahkan air liur mereka sudah mengalir."
Seketika suasana menjadi ramai oleh suara gelak tawa berasal dari bibir semua orang. Tak terkecuali Arumi. Terlalu bahagia hingga membuat ia memegangi perutnya yang terasa sakit akibat rasa yang menggelitik. Namun, saat melihat raut wajah Rayyan mulai berubah, wanita itu langsung diam. Ia menggigit bibir agar tawanya tak lagi pecah.
"Hu ... memang apa hebatnya Rio. Perasaan tidak ada hal istimewa melekat dalam diri pria itu. Hanya menang tampang, selebihnya nothing!" gerutu Rayyan dalam hati.
"Masih lebih baik diriku. Aku pintar, tampan, berkarisma dan juga laki-laki tulen karena belum pernah tersentuh oleh wanita mana pun kecuali Mama." Pria itu masih bergumam dalam hati.
Semakin lama berdekatan dengan Rio membuat hatinya semakin terbakar api cemburu. Melihat Arumi tertawa setelah mendengar celotehan tak jelas dari bibir sang sahabat dadanya semakin sesak.
"Awas kamu, Rio. Akan kubalas perbuatanmu ini karena telah merebut perhatian Arumi. Setelah menemukan waktu yang tepat, aku akan mengajakmu balapan mobil di sirkuit." Tangan pria itu mengepal. Ia meyakinkan diri untuk membalas dendam karena merasa di nomor duakan oleh Arumi. Pria itu sama sekali tidak mau menjadi nomor dua. Rayyan ingin selalu menjadi nomor satu di hati pujaan hati.
Selamat ulang tahun kami ucapkan
Selamat panjang umur kita kan do'akan
Selamat sejahtera sehat sentosa
Selamat panjang umu dan bahagia
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk si kembar. Meski hati Rayyan dibakar api cemburu, pria itu berusaha meredam percikan api yang nyaris membuatnya hilang akal.
"Ayo, sekarang giliran Indah dan Bagus membuat permohonan sebelum meniup lilin," ujar Rini sebagai MC malam itu.
Sepasang anak kembar itu saling bertatapan, melempar senyum satu sama lain. Lalu, mereka memejamkan mata. Merapalkan do'a di dalam hati.
"Semoga Aunty Arumi diberikan dedek bayi kembar seperti aku dan Bagus," pinta Indah dalam hati.
"Ya Tuhan, berikan dedek bayi yang lucu dan menggemaskan untuk Aunty Arumi agar Bagus dan Indah bisa bermain bersama," do'a Bagus.
Usai merapalkan do'a, kelopak mata Indah dan Bagus terbuka. Kedua anak kembar saling menatap. Terlahir kembar membuat bocah kecil berusia lima tahun itu tersenyum seolah tahu isi hati masing-masing.
"Kita hitung mundur bersama-sama. Tiga ... dua ... satu ...."
Maka dihitungan ke satu, kedua anak kecil itu meniup lilin hingga padam. Detik itu juga, semua orang yang hadir memberikan tepuk tangan.
Rio membantu kedua anaknya memotong kue. Kemudian meletakkanya di atas piring kertas berwarna gold.
Bola mata Indah dan Bagus bergerak, menatap semua orang yang hadir dalam acara tersebut. Sebagai anak sulung, Indah diberikan kesempatan oleh Bagus untuk menjawab.
Dengan lirih gadis kecil itu menjawab, "Untuk Aunty Arumi sebab bagi Indah, Aunty adalah wanita terhebat setelah Mama. Aunty Rumi selalu baik pada Indah dan Bagus. Memberikan hadiah yang banyak pada kami. Pokoknya, Aunty is the best." Ibu jari gadis itu terangkat ke udara. Seulas senyum tercipta di bibir mungil itu.
Suasana bahagia berubah menjadi haru biru. Tanpa sadar Arumi meneteskan air mata. Wanita itu tak menyangka jika selama ini posisinya di hati si kembar begitu istimewa.
"Meskipun aku belum diberikan keturunan oleh-Mu, Tuhan, tetapi Engkau telah menitipkan anak-anak yang begitu baik dan tulus menyayangiku seperti ibu kandung mereka. Terima kasih, Tuhan karena Engkau telah memberikanku kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu walau hanya sesaat."
Lalu, apakah Rini marah karena potongan pertama diberikan pada Arumi? Tentu saja, tidak! Wanita itu sama sekali tidak marah ataupun cemburu pada sahabatnya. Ia malah bersyukur karena kedua anak-anaknya telah melakukan perbuatan terpuji. Perbuatan yang akan memberikan kebahagiaan pada Arumi di tengah kesedihan pasca perceraiannya dengan Mahesa.
"Ooh ... Mama benar-benar bangga pada kalian berdua." Rini memeluka kedua anaknya. Memberikan kecupan penuh cinta di puncak kepala si kembar.
Kini tiba sesi makan malam. Semua orang yang hadir duduk di kursi makan yang ada di taman belakang dekat kolam renang. Mengusung konsep outdoor dinning, Rini menyulap taman belakang terlihat lebih cantik.
__ADS_1
Arumi duduk di hadapan Rayyan. Netra pria itu tak mau lepas dari bidadari cantik yang ada di hadapannya. Ia terus memandangi wajah pujaan hati tanpa berkedip sama sekali.
Merasa diperhatikan sedemikian intens, membuat Arumi malu. Ia menundukan wajah karena tak tahan bila ditatap terus menerus oleh sang kekasih.
Tak berselang lama, dua orang ART mendorong troli makanan ke taman belakang. Lalu meletakan piring berisi hidangan di hadapan para tamu undangan.
"Mohon perhatiannya sebentar." Rio mengetuk gelas menggunakan sendok sehingga perhatian semua orang tertuju padanya.
Sebagai kepala keluarga, Rio mendapatkan hak penuh untuk mewakili anggota keluarga untuk mengucapkan sepatah kata pada hadirin yang datang.
"Terima kasih aku ucapkan pada Tante Nyimas, Arumi dan juga sahabtku, Rayyan karena kalian bertiga bersedia hadir dalam acara tasyakuran kecil-kecilan ulang tahun Indah dan Bagus."
"Kalian pasti bertanya-tanya mengapa acara kali ini begitu sederhana. Padahal aku adalah seorang pengacara terkenal, sedangkan istriku adalah seorang psikiater sukses. Benar 'kan?"
Lagi-lagi sikap narsis Rio muncul. Ia tak ada maksud menyombongkan diri di hadapan semua orang sebab ada Dzat yang lebih pantas menyombongkan diri selain dirinya, yaitu Sang Pencipta. Rio hanya berniat menghibur semua tamu undangan.
Pria itu kembali menatap para hadirin satu persatu. "Alasannya hanya satu yaitu aku ingin menghormati Arumi karena dia baru saja berpisah dari si Berengsek itu."
"Setiap pasangan yang menikah kemudian memutuskan untuk berpisah pasti meninggalkan kesedihan mendalam di dalam hati orang tersebut. Begitu pun dengan Arumi. Hati sahabat dari istriku ini begitu lembut selembut sutera. Apabila tergores sedikit maka akan berdarah."
"Mengingat Arumi dan si Berengsek itu telah lama berhubungan pasti akan meninggalkan memori yang sukar di lupakan. Oleh sebab itu, aku sengaja mengadakan acara ulang tahun ini dengan sederhana untuk menghargai perasaan Arumi yang saat ini sedang terluka. Aku tidak mau, kedua anakku bahagia sementara Aunty kesayangan mereka bersedih," tutur Rio panjang lebar.
"Hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Terima kasih atas waktu kalian. Dan ... selamat menikmati semua hidangan ini," ucap Rio mengakhiri pidatonya.
TBC
.
.
.
__ADS_1