Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Semua Tinggal Kenangan


__ADS_3

Malam itu juga, Kayla terpaksa meninggalkan rumah mewah dua lantai yang selama ini menjadi rumah kedua baginya. Rumah yang beberapa tahun ini menjadi tempat bernaung dari panasnya terik sinar matahari dan guyuran air hujan. Dulu, meskipun ia belum resmi menjadi istri siri Mahesa tetapi wanita itu sering menginap di rumah tersebut bahkan beberapa kali pernah tidur bareng dengan suami tercinta di kamar yang sama. Tidur bareng dalam artian yang sesungguhnya, bukan konteks yang berbeda.


Setelah pertengkaran hebat antara Naila dan Kayla, wanita yang berprofesi sebagai seorang model langsung menghubungi Mona--sang asisten. Ia meminta teman sekolahnya itu untuk menjemput dirinya di kediaman Adiguna.


Sejujurnya Kayla enggan meninggalkan rumah itu tetapi Naila sudah lebih dulu bertindak. Ia meminta dua orang ART yang bekerja di rumah itu untuk mengobrak abrik isi lemari pakaian milik nyonya muda keluarga Adiguna, mengacak-acak peralatan make up serta sepatu mahal milik sang model di walk in closet. Beruntung mereka tidak memecahkan botol parfum dan skin care mahal yang harganya sampai jutaan rupiah.


Mona segera melanjukan kendaraan roda empat milik Kayla yang dibeli oleh hasil kerja keras temannya itu selama bekerja di dunia model. Biasanya Mona akan meminta sang sopir untuk mengantar jemput tapi karena pria paruh baya itu sedang ada urusan, mau tidak mau wanita berambut pendek sebahu itu yang melajukan mobil berwarna silver tersebut.


Kayla sedang memasukan pakaian miliknya ke dalam koper besar. Ia memungut satu per satu pakaian yang berserakan di lantai.


"Kenapa Mama tega sekali padaku? Apakah memang seperti ini sikap Mama yang sebenarnya?" lirih Kayla diiringi derai air mata yang semakin deras mengalir.


"Padahal aku sungguh-sungguh menyayangi Mama Naila seperti orang tuaku sendiri." Wanita itu bermonolog sambil memasukan semua barang miliknya. "Tapi kenapa Mama malah mengusirku dari rumah ini?"


Mona berdiri di ambang pintu. Sejak beberapa menit lalu ia berdiri di ambang pintu, memperhatikan gerak gerak temannya itu dari jarak sekitar dua meter.


'Kayla ... ternyata dugaanku benar 'kan. Ternyata kehadiranmu sudah tak dibutuhkan lagi di rumah ini setelah kamu kehilangan janin dan rahimmu dalam waktu bersamaan,' batin Mona. Tanpa disadari, wanita itu pun ikut meneteskan air mata. Namun, buru-buru ia mengusut cairan itu karena tak mau membuat Kayla merasa dikasihani bahwa dirinya sedang dikasihani.


"Kayla ...." ucap Mona lirih. Melihat Kayla terus menangis tanpa henti, membuat wanita itu tak tahan lagi.


Ia tahu Kayla telah banyak berdosa karena tega merampas suami sahabatnya sendiri tetapi sebagai seorang teman dekat wanita itu, Mona prihatin atas semua musibah yang menimpa sang model. Satu harapan Mona, Kayla dapat bertaubat dan kembali menjadi pribadi yang baik.


Mendengar namanya dipanggil, Kayla menoleh ke sumber suara. Bola mata indah wanita itu terus mengeluarkan cairan kristal hingga pandangannya buram. Kendati begitu, ia dapat mengetahui jika suara itu adalah suara temannya--Mona.


Kayla segera berhambur dalam pelukan kala Mona telah duduk di sisinya. "Mon ... Tante Naila. Dia--" Kalimat itu menggantung di udara. Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Hanya air mata sebagai bukti bahwa perasaan wanita itu tidak baik.


Dengan lembut Mona menepuk punggung Kayla. "Sudah. Hentikan air matamu itu, Kay. Jangan lagi menangis, nanti matamu semakin bengkak."


Alih-alih menghentikan air matanya, Kayla semakin menangis sesegukan dalam pelukan Mona. Seketika sang pelakor yang terkenal dengan sikap angkuh dan selalu meremehkan orang lain berubah menjadi wanita lemah.


"Dasar bodoh! Sudah kukatakan hentikan tangisanmu, malah semakin kencang," ujar Mona setengah bercanda. Namun, Kayla tak memedulikan ucapan Mona. Wanita itu terus saja menangis, mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


Lama sudah Kayla menangis dalam pelukan Mona. Setelah air mata wanita itu tak lagi jatuh berderai, Mona mengurai pelukan. Kini, posisi mereka berdua berhadapan. Tangan wanita itu terulur ke depan, mengusut sisa butiran kristal di sudut mata.


"Aku bantuin kamu merapikan semua barangmu, ya? Setelah itu kita langsung pulang ke apartemen. Kamu pasti sangat merindukan kasur empuk dan boneka beruangmu itu 'kan?" Mona terkekeh ringan di tempat.


Kayla mengangguk pelan, kemudian ia dibantu Mona merapikan kembali semua barang-barangnya ke dalam koper.


Hampir satu jam Kayla merapikan semua barang-barang miliknya ke dalam koper. Ada satu buah koper besar berisi pakaian, dua buah storage berisi sepatu-sandal serta satu buah koper kecil berisi alat make up serta skin care milik wanita itu.


Dibantu dua orang security serta kedua ART di kediaman Adiguna, Kayla membawa semua barang-barangnya ke dalam bagasi mobil dan sebagian lagi ke kursi penumpang.


Naila sedari tadi duduk di sofa ruang keluarga melirik sekilas saat Kayla menuruni anak tangga. Kala pandangan mereka beradu, wanita itu mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


"Mona, kamu tunggu aku di mobil. Aku ingin berbicara dengan Mama dan Papa sebentar," bisik Kayla pada Mona.


"Tapi, Kay. Bagaimana kalau mertuamu menyakitimu lagi?" Mona menarik lengan Kayla saat wanita itu hendak mendekati sofa.


Kayla menggeleng kepala cepat. Walau hatinya sakit atas penghinaan serta perlakuan kasar Naila, entah mengapa ia tetap menyayangi sang mertua. Ia tetap menghormati Naila sebagai ibu mertua kendati wanita paruh baya itu telah menorehkan luka di dalam dadanya.


Kayla membalikan tubuh. Perlahan, ia melangkah mendekati Naila dan Putra yang saat itu tengah menonton televisi di ruang keluarga.


"Mama ... Papa ... aku pamit dulu." Memberanikan diri mengulurkan tangan ke depan. Ia hendak meraih tangan Naila tapi wanita paruh baya itu menepis tangan Kayla cepat.


"Saya tidak sudi disentuh oleh seorang pelakor sepertimu!" sungut Naila. "Lebih baik kamu pergi sekarang dan jangan pernah injakkan kaki lagi di rumah ini sebab kamu bukan lagi istri Mahesa."


Kayla menggelengkan kepala cepat, wanita itu tidak mau berpisah dengan suami tercinta. Ia menatap nanar wajah Naila. Wajah wanita yang begitu disayangi olehnya.


"Ma, aku tidak mau berpisah dengan Mas Mahes. Aku masih ingin menjadi istri Mas Mahes." Kelopak mata indah itu mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar kala mengucapkan kata-kata itu.


Wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa membalas tatapan Kayla sinis. Ia mendecak kesal seraya melipat tangan di depan dada.


"Tampaknya akibat kecelakaan itu bukan hanya membuat rahimmu rusak tapi juga otakmu bergeser beberapa senti dari tempatnya!" sindir Naila. "Kamu pikir, Mahesa akan tetap menerimamu setelah dia tahu jika kamu mandul?"

__ADS_1


"Kayla ... Kayla ... wanita licik sepertimu kenapa berubah menjadi bodoh begini!"


Naila bangkit dari duduk. Ia berdiri di hadapan Kayla, menghunuskan tatapan tajam ke arah sang model.


"Heh! Kamu tahu 'kan alasan Mahesa mau berpacaran denganmu karena dia mengharapkan anak dari rahimmu. Jika rahimmu diangkat, mana mungkin anakku mau denganmu lagi. Kamu akan menjadi barang rongsokan karena selamanya tidak bisa memberikan manfaat bagi siapa pun!"


Naila yang muak dengan sikap Kayla dan dendam karena telah diperlakukan kasar oleh mantan menantunya itu meluapkan kekesalannya di hadapan Kayla. Entah di mana sosok Naila yang dulu. Yang selalu menyambut hangat dirinya, memberikan senyuman, pelukan serta memperlakukan dirinya layaknya seorang ibu pada anaknya sendiri.


Kayla membeku di tempat. Ia tak lagi mampu berucap. Lidah wanita itu kelu. Jikalau dulu Kayla yang menjadi saksi betapa kejamnya Naila pada Arumi, kini ia sendiri berada di posisi mantan istri pertama sang suami.


Air mata wanita itu kembali berderai. Hatinya terasa sakit bagai ditusuk ribuan jarum. Dada sesak seperti ada bongkahan batu besar terjatuh mengenai tubuhnya.


"Walaupun saat ini Mahesa tak sadarkan diri tapi saya dan suami sudah tak menganggapmu sebagai menantu di keluarga Adiguna. Statusmu bukan lagi Nyonya Mahesa melainkan Nyonya Mandul." Naila menekankan kalimat terakhir seraya menatap tajam ke arah Kayla.


Kayla menatap Naila dengan mata sendu. Lalu beralih ke arah Putra. Pria payuh baya itu bergeming seolah ia tak mendengar jika saat ini dirinya sedang membutuhkan pembelaan dari ayah mertuanya itu.


Naila menaikkan sudut bibirnya ke atas sambil berkata, "Jangan harap suami saya akan membelamu. Dia hanya menuruti perintah dan kemauanku seorang."


Wanita cantik yang baru saja keluar dari rumah sakit hanya dapat menghela napas kasar. Ia berusaha tegar meski hatinya sakit. Pada dasarnya Kayla adalah wanita kuat tak mudah ditindas semenjak kedua mantan sahabatnya pergi meninggalkan panti asuhan. Akan tetapi, untuk malam ini mentalnya menjadi lemah. Kecelakaan yang merenggut kebahagiaannya telah merubah Kayla menjadi lebih sensitif.


"Mama boleh saja tak menganggapku sebagai menantu lagi di keluarga ini tapi aku tetap menjadi menantu dan istri bagi Mas Mahes. Selama belum ada kata talak dari suamiku, aku akan terus berada di sisinya."


Untuk terakhir kalinya, Kayla menatap wajah kedua orang dewasa di hadapannya. Kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Bola mata indah itu beralih ke lantai dua, tempat di mana ia dan Mahesa menghabiskan waktu bersama-sama.


"Semua tinggal kenangan," ucapnya lirih. Kayla membalikan tubuh. Ia mengayunkan kaki jenjang itu melangkah keluar rumah Adiguna.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2