Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Calon Menantu Keluarga Wijaya Kusuma


__ADS_3

"Sebab Arumi seorang janda?" tebak Lena. Tanpa mendengar jawaban Firdaus pun Lena sudah tahu alasannya mengapa suaminya itu tidak setuju jikalau Rayyan menikahi Arumi.


Tangan wanita itu terulur ke atas, mengusut butiran kristal yang membahasi pipi. Walaupun mata sembab akibat menangis dan suara parau, Lena tetap mengungkapkan isi hatinya.


"Sepertinya Papa lupa, dulu saat menikahiku bukankah Mama juga seorang janda? Papa ingat tidak, awal pertemuan kita bagaimana?" Lena mencoba mengingatkan kembali pertama kali mereka bertemu. Kenangan itu masih membekas di memori ingatan wanita itu.


Wanita itu menatap Firdaus dengan sorot mata yang tak terbaca. Lalu, detik berikutnya ia tersenyum masam.


"Janda ataupun perawan itu hanya status belaka. Meskipun perawan, tidak menjamin gadis itu mampu membuat hati Rayyan yang dingin sedingin es bisa mencair. Buktinya saja, kemarin sore ada seorang gadis yang masih perawan datang ke sini berniat melamar Rayyan, tapi ternyata hati anak kita tidak tergerak sedikit pun. Rayyan lebih memilih pergi dari rumah ini daripada harus menikahi gadis pilihan Papa."


"Itu membuktikan bahwa di mata Rayyan, seorang gadis yang masih perawan tak memiliki arti apa pun dibandingkan wanita yang pernah menikah. Lagi pula, menurut Mama, Arumi adalah wanita baik. Dia bisa mengayomi Rayyan meski usianya lebih muda dari anak kita."


"Dan yang terpenting adalah, Rayyan nyaman berada di sisi Arumi. Bukankah itu sudah lebih dari cukup bagi kita sebagai orang tua, melihat anak-anak kita bahagia dengan pasangan pilihannya sendiri."


Firdaus berjalan perlahan mendekati jendela kamar. Mengarahkan mata ke satu titik tepat di hadapannya.


Menghela napas panjang seraya berucap, "Memang benar, Arumi adalah wanita baik. Memiliki prestasi gemilang di dunia medis, tapi Papa masih ragu apakah ia bisa membahagiakan anakku, Ma. Sedangkan kita tahu, Arumi berpisah dari suaminya karena ia tak kunjung hamil."


Raut kekecewaan kembali terlukis di wajah. Baru beberapa menit berada dalam satu kamar, membahas banyak hal wanita paruh baya itu dibuat kecewa tuk kedua kali oleh suami tercinta.


Lena memejamkan mata singkat, berusaha mengendalikan emosi yang dibendung dalam dirinya. Lalu, ia kembali menatap dengan tatapan nanar ke arah Firdaus.


"Memangnya kadar kebahagiaan seseorang ditentukan oleh ada tidaknya seorang anak dalam sebuah keluarga? Papa bisa menjamin, Rayyan akan bahagia bila menikahi Naura sementara saat itu gadis pilihan Papa itu telah memberikan anak untuk Rayyan?" cecar Lena.


Wanita itu bangkit berdiri, merapikan gaun panjang yang dikenakan. "Pa, aku tahu betul bagaimana Naila memperlakukan Arumi selama ini. Meskipun aku berusaha untuk menutup telinga saat bergabung dengan teman-teman sosialitaku, tapi jiwa kepoku mengalahkan semuanya."


"Temanku itu selalu menghina, membandingkan Arumi dengan Kayla dan dia juga selalu bersikap kasar terhadap Arumi. Aku yakin, karena itulah mengapa Arumi belum juga hamil. Banyaknya tekanan dari Naila begitu besar hingga membuat kejiwaan Arumi terganggu. Seandainya saja Naila memperlakukan Arumi dengan baik, aku jamin Dokter Cantik itu bisa hamil dan melahirkan anak-anak yang lucu dan menggemaskan."


"Aku ingin membuktikan teoriku itu benar, Pa. Teori yang mengatakan kalau Arumi adalah wanita normal, yang dapat hamil sama seperti wanita di luaran sana. Berhubung Rayyan mencintai Arumi, mengapa tidak kita bantu wanita itu untuk membungkam mulut jahat orang-orang itu. Papa mau 'kan merestui mereka?"

__ADS_1


Meraih tangan Firdaus, lalu menggenggam erat jemari itu dengan penuh cinta. "Mama mohon, izinkan Rayyan menikahi Arumi demi kebahagiaan anak kita. Mama yakin, dengan cinta dan kasih sayang yang kita berikan pada Arumi, suatu saat nanti, wanita itu akan hamil. Asalkan kita tidak memberikan tekanan padanya."


Bola mata Lena penuh pengharapan. Tatkala wanita itu mengucapkan permohonan agar Firdaus mengizinkan Rayyan menikahi Arumi, tak ada sedikit pun niat buruk dalam hati wanita itu. Lena benar-benar tulus menyayangi Rayyan dan menginginkan anak tirinya itu hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya.


Lagi-lagi Firdaus menghela napas dalam dan menatap Lena. "Baiklah, aku meretui Rayyan menikahi Arumi. Dan aku juga akan menerima wanita itu sebagai bagian dari keluarga Wijaya Kusuma."


Wanita dalam balutan gaun panjang berwarna hijau tosca itu tersenyum. Dadanya terasa ringan seperti sebuah bongkahan batu besar telah diangkat dalam dirinya.


"Terima kasih, Pa. Mama yakin, Rayyan akan senang karena telah mengantongi restu dari Papanya tercinta." Sebuah ciuman Lena berikan di pipi Firdaus.


***


"Arumi, Tante sudah tahu kalau saat ini kamu tengah menjalin kasih dengan Rayyan," ucap Lena kala ia telah duduk bersama dengan Arumi di sebuah coffee shop di dekat rumah sakit.


Arumi mengerutkan kening, berusaha mengingat kapan ia memberitahu Lena perihal masalah pribadinya itu. Seingat Arumi, hanya Nyimas, Rini dan Rio saja yang tahu bahwa ia dan Rayyan memiliki hubungan khusus selain atasan dan bawahan.


Lena terkekeh pelan. Sebelum menjawab pertanyaan yang muncul dalam benak Arumi, Lena terlebih dulu meraih cangkir kopi yang ada di atas meja. Menyesapnya secara perlahan sambil menikmati semerbak harum khas kopi pilihan.


"Maksud, Tante, bagaimana? Aku tidak mengerti." Arumi mengerutkan kening hingga terlihat garis halus di sana. Ia bingung dengan arah pembicaraan wanita paruh baya yang duduk di hadapannya.


Senyuman terlukis di wajah Lena. "Oh ... rupanya Rayyan belum memberitahumu." Kepala wanita itu turun dan naik. Lalu, ia kembali berkata, "Wajar sih kalau anak itu tak memberitahumu, sebab hubungan di antara kami tidak begitu dekat."


Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan ke depan, memberikan isyarat pada Arumi untuk menjabat tangan.


"Perkenalkan, saya adalah Lena--ibu sambung dari Muhammad Rayyan Firdaus yang tak lain adalah kekasih dan calon suamimu, Rumi."


Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Arumi lemas seketika mendengar penuturan Lena yang mengatakan bahwa wanita baik itu adalah ibu tiri dari kekasihnya. Mata Arumi terbelalak sempurna dan rahang terbuka lebar. Ia tak mengira jika wanita yang selama ini disebut ja*ang dan sering dicaci maki oleh bibir seksi milik sang kekasih ternyata wanita yang selalu membela Arumi kala ia dihina dan dibully oleh Naila dan teman-teman mantan ibu mertuanya.


Lena kembali tersenyum melihat ekspresi calon menantunya. Wajah ketika Arumi tengah kebingungan tampak begitu menggemaskan. Pantas saja Rayyan tergila-gila pada janda kembang itu.

__ADS_1


"Kamu pasti sudah banyak mendengar cerita tentang Tante dari Rayyan 'kan? Bagaimana buruknya Tante di mata anak itu." Kekehan pelan terdengar. "Namun, Tante sama sekali tidak pernah menyalahkan anak itu, sebab semua yang dikatakan olehnya benar adanya."


"Tapi, maksud dan tujuan Tante mengajakmu ketemuan bukan untuk membahas masa lalu apalagi mencari pembenaran atas sebuah kesalahan. Tante ke sini hanya ingin menyampaikan amanah dari mendiang ibunya Rayyan."


Tangan wanita itu meraih tas yang ada di sisi kanannya. Lalu, merogoh sebuah kotak berwarna coklat dan meletakkannya di atas meja.


"Di dalam sini ada sebuah cincin warisan yang diberikan secara turun menurun kepada calon menantu keluarga Wijaya Kusuma. Sebelum Mbak Mei Ling meninggal, dia menitipkan ini agar kelak diberikan pada calon istri Rayyan."


"Sudah bertahun-tahun, Tante menyimpan cincin ini dan Tante rasa inilah waktu yang tepat untuk menyerahkannya pada wanita yang memang berhal untuk memakainya," tutur Lena panjang lebar.


Belum usai keterkejutan Arumi atas kenyataan bahwa wanita yang duduk di hadapannya merupakan ibu sambung dari calon suaminya. Kini ia dikejutkan lagi dengan sebuah fakta jika di dalam kotak kecil di atas meja itu bersemayan sebuah benda warisan keluarga yang kelak akan dikenakan oleh Arumi sebagai simbol bahwa dirinya-lah calon menantu dari keluarga Wijaya Kusuma.


"Tante ... i-ini--" ucap Arumi terbata-bata kala jemari lentik wanita itu membuka kotak kecil yang ada di hadapannya.


Seulas senyuman terlukis di wajah. Lena mengangguk seraya menatap Arumi dan kotak kecil itu secara bergantian.


Entah bagaimana ceritanya, cincin warisan keluarga itu telah melingkar di jari manis Arumi. Cincin itu begitu memukau dan sangat pas di jemari lentik milik Arumi.


"Bersamaan dengan melingkarnya cincin ini, Tante mewakili Mas Firdaus dan Mbak Mei Ling, menyatakan bahwa kamu adalah wanita yang kelak akan menjadi menantu keluarga Wijaya Kusuma selanjutnya. Semoga kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk Rayyan."


Arumi tak tahu harus menjawab apa. Sudut mata wanita itu nyaris meneteskan air mata. Tak mengira bahwa akan mendapatkan sebuah kejutan manis dari wanita baik yang selalu membelanya di saat semua orang menggunjingkannya. Sungguh, ia merasa beruntung karena ternyata Lena dan Firdaus merestui hubungannya bersama Rayyan.


"Selamat datang di keluarga Wijaya Kusuma, Arumi." Lena beringsut ke kursi sebelah, lalu memeluk erat tubuh Arumi dengan penuh cinta.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2