
"Rayyan, tunggu!" teriak Firdaus pada putra sulungnya. Emosi dalam diri pria paruh baya itu sudah di ubun-ubun. Sedari tadi ketika ia menaiki satu per satu anak tangga gejolak dalam dada terus menguasai diri.
Rayyan yang saat itu hendak memegang handle pintu segera menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Melihat pria paruh baya yang dulu pernah menjadi super hero dalam hidupnya berjalan mendekatinya dengan sorot mata memancarkan amarah.
"Ada apa, Pa? Papa masih belum terima jikalau ternyata menantu Papa bukan wanita itu?" Dengan santainya ia menunjukan ekspresi masa bodo bahkan berani menaik turunkan kedua alis bergantian. "Kalau Papa mau, kenapa tidak jodohkan saja dengan putra kesayangan Papa itu. Anak dari si Ja*ang!"
"Toh, usia mereka sepantaran. Lagi pula, buah cinta Papa bersama wanita itu sudah waktunya berumah tangga. Dan selama ini, dia terlalu sibuk bekerja hingga lupa diri bahwa usianya sudah matang tuk berumah tangga," timpal Rayyan.
Pria itu lupa jikalau dirinya pun berada di posisi yang sama dengan Raihan. Sama-sama sibuk bekerja hingga lupa bahwa usia mereka telah siap untuk berumah tangga. Tak memiliki waktu untuk berkencan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Jaga batasanmu, Ray!" bentak Firdaus dengan penuh emosi. Andai saja Lena tak mengancam akan pergi dari rumah itu jika Firdaus ringan tangan, mungkin sudah sedari tadi sebuah tamparan mendarat di pipi mulut anak sulungnya itu.
Namun, alih-alih menutup rapat mulutnya, Rayyan semakin berani menantang sang papa.
"Aku bisa menjaga batasanku, tapi tidak untuk wanita tua itu. Wanita yang telah merusak kebahagiaan keluargaku, memang pantas tuk diperlakukan layaknya seorang Ja*ang pada umumnya."
Habis sudah kesabaran Firdaus. Ingin sekali pria itu memberikan pelajaran kepada Rayyan, tapi lagi-lagi ucapan Lena terngiang di indera pendengarannya. Akhirnya, yang bisa dilakukan oleh Firdaus hanya menarik napas dalam seraya mengepalkan tangan di samping, mencoba mengurai emosi agar tak melakukan tindakan kekerasan pada anak sulungnya.
"Kenapa diam saja? Papa takut jika wanita itu benar-benar pergi dari rumah ini?" sindir Rayyan sambil menatap lekat wajah pria yang dulu teramat dikaguminya.
"Papa pilih kasih! Dulu, saat Mama mengancam akan pergi dari rumah, Papa diam saja. Lantas mengapa sekarang Papa malah takut kalau wanita itu pergi dari sini? Apa karena Mama tak memiliki arti apa pun di hati Papa?" tanya Rayyan dengan tatapan nanar. Bola mata pria itu mulai berkaca-kaca kala mengingat kejadian beberapa tahun silam, di kala rumah tangga kedua orang tuanya hancur karena kehadiran orang ketiga.
Flashback on
Saat itu, Rayyan baru saja menginjak masa remaja. Pemilik nama Muhammad Rayyan Firdaus adalah anak tunggal dari pasangan Muhammad Firdaus dengan seorang wanita berdarah Tionghoa. Pernikahan kedua orang tua Rayyan bukan atas dasar cinta melainkan sebuah perjodohan. Firdaus sama sekali tidak mencintai Mei Ling meski pernikahan mereka telah dikarunia seorang putra.
Selama pernikahan Mei Ling penuh dengan air mata, sebab Firdaus sama sekali tidak pernah mau menyentuh wanita itu. Hingga ia memutuskan menggunakan cara licik untuk memiliki pria itu seutuhnya. Akibat obat perangsang membuat Firdaus hilang akal dan ia melakukan hubungan suami istri bersama ibu kandung Rayyan.
__ADS_1
Pernikahan yang berjalan selama kurang lebih sepuluh tahun terasa hampa karena Firdaus tetap bersikap dingin dan acuh tak acuh. Sampai suatu hari, sebuah kejadian yang menjadi latar belakang hancurnya rumah tangga Mei Ling terjadi.
Ketika Firdaus tengah melajukan kendaraan roda empat miliknya, ia tak sengaja bertemu dengan seorang wanita sedang adu mulut dengan seseorang. Wanita asing itu berpakaian compang camping dengan wajah babak belur. Firdaus yang merasa kasihan turun dari mobil.
Ia berjalan mendekati sepasang pria dan wanita itu. "Hentikan! Jangan pernah berbuat kasar pada perempuan!" cergah Firdaus kala melihat pria asing itu hendak mendaratkan sebuah tamparan.
Refleks, pria dan wanita itu menoleh ke arah Firdaus. Wanita yang diketahui bernama Lena bergegas bangkit dan bersembunyi di belakang tubuh Firdaus.
"Heh, kamu siapa? Berani-beraninya ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain!" hardik suami Lena.
Firdaus menatap pria itu dan Lena bergantian. Rasa bimbang menyelimuti diri. Memang tidak sepantasnya ikut campur dalam rumah tangga orang lain tapi apakah ia harus diam saja melihat seorang wanita terus disiksa dan dipukuli meski pria itu adalah suaminya sendiri.
Di tengah kegundahan merajai hati, Lena berucap seraya menangkupkan kedua telapak tangan ke depan. "Pak ... tolong saya. Pria itu selalu memukuli saya. Saya takut, Pak." Dengan bibir gemetar dan diselimuti ketakutan, Lena memberanikan diri meminta tolong pada pria asing yang tak sengaja melintas di jalanan sepi.
"Heh, Lena! Kemari, kamu! Aku belum selesai memberi pelajaran padamu!" tunjuk pria itu. Ia adalah suami Lena. Pria yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan itu terus melakukan KDRT jikalau kalah berjudi.
"Tidak mau! Aku tidak mau, Mas. Aku sudah tak tahan hidup berumah tangga denganmu. Kamu kasar dan selalu ringan tangan," jawab Lena. Tubuh wanita itu gemetar ketakutan tatkala netranya menatap wajah suaminya merah padam.
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah menyakiti fisik seorang wanita sekalipun itu adalah istrimu!" sungut Firdaus berapi-api.
Mata suami Lena terbelalak sempurna. Telapak tangan mengepal. Ia tak terima ada orang lain ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Dengan sekuat tenaga, ia melayangkan bogem mentah di perut Firdaus. Namun, pria yang berprofesi sebagai dokter di rumah yang baru saja dirintis bersama Mei Ling dapat menangkis pukulan tersebut.
Maka, terjadilah pertarungan sengit antara suami Lena dan Firdaus. Di mana saat itu Firdaus lebih unggul, sebab suaminya Lena tengah dalam keadaan setengah mabuk sehingga akal sehatnya tengah terganggu.
Setelah perkelahiran itu, Firdaus membawa Lena pulang ke rumah.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Mei Ling tatkala suami tercinta masuk ke dalam rumah sederhana berlantai satu.
__ADS_1
Walaupun Lena terlahir dari keluarga berada, tapi ia memilih hidup sederhana bersama Firdaus. Rasa cintanya terhadap pria yang telah menanamkan benih dalam rahimnya itu begitu besar bahkan luasnya samudera pun tak mampu mengimbangi kadar cinta Mei Ling kepada Firdaus.
Alih-alih menjawab pertanyaan Mei Ling, Firdaus malah mempersilakan Lena masuk ke dalam rumah itu. Alangkah terkejutnya wanita itu tatkala melihat suami tercinta membawa wanita lain ke dalam istananya.
"Mas, wanita ini siapa?" Walau benaknya dihinggapi berjuta pertanyaan, namun Mei Ling bersikap biasa saja di hadapan Firdaus.
"Aku bertemu dengannya di jalan. Dia korban KDRT dan aku berencana memperkerjakannya di rumah sakit untuk membantu pekerjaanku."
"Tapi, Mas--"
Belum usai Mei Ling mengutarakan keberatannya akan keputusan Firdaus, pria itu sudah kembali berkata. "Ini keputusanku, tidak bisa diganggu gugat. Sebaiknya siapkan kamar untuk Lena!" Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar.
Mei Ling terpaku dan membisu. Tak mampu berkata-kata, hanya bisa menuruti semua perintah Firdaus.
Mei Ling menghela napas kasar, lalu melirik ke arah wanita yang tengah menundukan pandangan. Pakaian compang camping dan wajah kebiruan akibat kekerasan yang dilakukan oleh suaminya. Kendati berat menerima kehadiran orang lain di rumah itu, tapi nalurinya sebagai sesama wanita tak tega bila melihat ada wanita lain dalam kesusahan.
"Siapa namamu?" tanya Mei Ling penuh selidik.
Dengan gemetar Lena menjawab, "Na-nama saya, Lena, Bu."
"Ya sudah. Mari saya antar kamu ke kamar. Kebetulan ada tiga kamar di rumah ini." Mei Ling melangkah ke depan, ke sebuah kamar kosong yang biasa digunakan oleh tamu. Ruangan kosong yang diperuntukkan khusus bagi sanak saudara, orang tua maupun mertuanya saat sedang menginap di sana.
Flashback off
.
.
__ADS_1
.