
Tak terasa waktu terus berputar dengan cepat. Hari ini adalah hari yang sangat dinanti oleh Rayyan, di mana ia akan meminang Arumi dan menyematkan cincin berlian sebagai pengikat bahwa wanita itu telah resmi menjadi calon istrinya. Pria itu bukan hanya ingin meminang Arumi tapi juga berniat melakukan acara pertunangan dalam waktu bersamaan agar jalan menuju ke pelaminan semakin dekat.
Segala kebutuhan yang diperlukan sudah selesai. Mulai dari seserahan, cincin serta bingkisan yang akan diberikan kepada Nyimas telah diurus. Pastinya bukan Rayyan yang mengurusi semua kebutuhan itu melainkan Rio beserta istri tercinta-lah yang turun tangan membantu pria berdarah Tionghoa itu dalam proses persiapan lamaran sekaligus pertunangan. Rayyan hanya bertugas memilih cincin yang cocok untuk Arumi sesuai dengan instruksi Rini--sahabat sejati calon istrinya itu.
Berbekal informasi dari Rini, akhirnya Rayyan menemukan sebuah cincin berlian berbentuk tention setting. Cincin berlian yang terbilang cukup unik, karena dua ujung cincin tersebut seolah-oleh ditekan kemudian dipersatukan oleh permata berlian di bagian tengah.
Ada filosofi sendiri mengapa Rayyan memilih cincin model tersebut. Ia mengibaratkan kedua ujung tersebut sebagai dirinya dan Arumi. Dua insan manusia yang memiliki sifat, karakter dan budaya berbeda tapi pada akhirnya bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Walaupun harganya cukup mahal, tapi tak masalah sebab Rayyan ingin memberikan yang terbaik bagi calon istrinya itu.
"Bagaimana, Ray, kamu sudah siap?" Rio memperhatikan penampilan sahabatnya itu dari pantulan cermin yang ada di ruang tamu kediamannya.
Sejak pukul tujuh pagi, Rayyan telah tiba di rumah Rio. Ia sengaja datang ke sana memastikan tidak ada satu hal pun yang terlewatkan selama proses lamaran dan pertunangan berlangsung.
Meskipun terlihat gugup, Rayyan berusaha bersikap tenang di hadapan sahabatnya.
"Ehm ... sudah," jawabnya singkat. Ia kembali merapikan kemeja warna coklat yang membalut tubuh kekar nan atletis.
Tampaknya Rayyan tengah dilanda kegugupan yang berada dibatas level tertinggi. Terlihat dari gerakan tubuh yang terus bergerak dengan gelisah serta telapak tangan basah dan keringat dingin mulai bercucuran sebesar biji jagung.
Gerakan itu sukses menarik perhatian Rio. Pria yang berprofesi sebagai pengacara di salah satu firma hukum ternama di Jakarta, menarik sudut bibirnya seraya menatap ke arah Rayyan.
Perlahan, ia melangkah mendekati sahabatnya. Lalu, berdiri di belakang Rayyan. Tangan kanan menepuk pundak sahabatnya seraya berkata, "Penampilanmu sudah oke. Tubuhmu pun begitu harum. Aku yakin, Arumi akan semakin tertarik kepadamu."
"Percayalah padaku, dia pasti langsung menerima lamaranmu detik itu juga," goda Rio disertai kekehan ringan.
Rini yang kebetulan saat itu tengah berdiri di depan pintu penghubung antara ruang keluarga dan ruang tamu ikut menimpali. "Benar yang dikatakan suamiku, Ray. Penampilanmu hari ini begitu sempurna. Apalagi jika kamu tersenyum, aku yakin akan banyak kaum Hawa yang jatuh hati padamu."
Alih-alih terhibur oleh gurauan Rini, Rayyan bersikap sebaliknya. Ia menghunuskan tatapan tajam lewat pantulan cermin.
Tak ingin mood sahabatnya hancur karena gurauan sang istri, Rio mengalihkan perhatian Rayyan. Pria itu melirik ke arah benda bundar yang melingkar di pergelangan tangan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Semakin cepat tiba di rumah Tante Nyimas, akan semakin cepat juga Rayyan mempersunting Arumi."
Maka, berangkatlah Rayyan beserta keluarga Rio. Si kembar pun ikut serta dalam acara bersejarah itu. Indah dan Bagus berada di mobil Rio ditemani Rini. Sementara Rio dan Mama Rio berada di mobil Rayyan, menemani calon mempelai pria yang sebentar lagi melangkah menuju pelaminan.
Sepanjang perjalanan, Rayyan tak henti-hentinya menarik napas dalam secara perlahan. Beberapa kali ia terlihat mengusut peluh yang mengumpul di kening pria itu.
Beruntungnya Rio berinisiatif mengendarai mobil milik Rayyan sehingga pria berwajah oriental itu dapat leluasa melakukan gerakan yang dapat mengurai rasa gugup tanpa takut diklakson oleh pengendara lain akibat tidak fokus pada jalanan di depan sana.
"Nak Rayyan, jangan terlalu gugup. Jika terlalu gugup Tante khawatir semua rencana yang telah disiapkan oleh kamu akan berantakan."
Suara merdu Mama Rio dari kursi penumpang sedikit memberikan ketenangan pada diri Rayyan. Entah mengapa, setiap kali berada di sisi wanita paruh baya yang usianya tidak jauh berbeda dari mendiang mama tercinta membuat Rayyan merasakan kehadiran Mei Ling di sisinya. Sikap lembut, suara merdu dan tutur kata wanita itu mampu mengurangi kerinduan dalam diri Rayyan terhadap sosok sang mama.
"Baik, Tante. Aku akan berusaha fokus lagi." Rayyan mengangguk dan tersenyum hangat sambil menatap wanita paruh baya itu dari kaca spion di depan sana.
Hampir memakan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit, akhirnya dua unit mobil mewah milik Rayyan yang dikendarai oleh Rio dan mobil mewah milik Rio yang dikendarai oleh sang sopir telah memasuki perumahan milik Nyimas.
'Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku memberikan susu itu kepada Arumi. Benar-benar absurd!' gumam Rayyan dalam hati. Menggeleng kepala dengan ekspresi tak percaya jika pria yang terkenal pandai dalam dunia kedokteran akan melakukan perbuatan bodoh ketika berada di dekat kekasih pujaan hati.
Rio melirik ke sisi kiri. Kening pria itu mengerut, bingung. Ia sempat bertanya dalam hati mengapa sikap Rayyan berubah dalam waktu bersamaan. Apakah mungkin Rayyan mengalami gangguan kejiwaan karena terlalu stres menghadapi rencana pertunangan ini ataukah ada hal lain yang memicu dirinya seperti itu? Namun, sebuah palu besar menghantam kesadarannya. Ia kembali tersadar jika dulu pria itu pun pernah mengalami hal serupa.
Rio tersenyum dan melirik sekilas Rayyan. "Persiapkan mentalmu, Ray! Sebentar lagi si Loly (nama kesayangan mobil Rayyan) akan memasuki area pekarangan kediaman Tante Nyimas."
Rayyan membalas ucapan Rio dengan santai. "Aku sudah siap bertemu dengan calon mertuaku untuk meminta Arumi menjadi istriku."
"Bagus! Aku do'akan, semoga perjuangan terakhirmu membuahkan hasil terbaik." Do'a tulus bagi Rio untuk sahabat terbaiknya.
Sementara itu, di rumah Nyimas, Arumi tengah sibuk membuatkan pangsit kuah isi ayam serta bakwan jagung. Kedua resep makanan itu sukses membuat Rayyan semakin jatuh cinta padanya. Hingga membuat hubungan mereka semakin erat layaknya perangko.
Nyimas melangkah masuk ke dalam dapur, memperhatikan penampilan Arumi mulai dari atas rambut hingga ujung kaki. Penampilan putri tercintanya itu begitu memesona dalam balutan dress di bawah lutut berwarna coklat-warna senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Rayyan. Riasan make up yang tak terlalu menor serta tatanan rambut yang dicempol ala wanita Korea semakin memancarkan aura kecantikannya.
__ADS_1
"Kamu sedang membuat apa, Nak? Mama perhatikan sejak tadi subuh, kamu sudah sibuk di dapur. Memangnya akan ada tamu istimewa datang ke rumah?" tanya Nyimas penuh selidik.
Wanita itu berjalan mendekati meja makan, menuangkan air dari dalam teko ke gelas panjang yang tergeletak di atas nampan.
Arumi menoleh ke arah Nyimas sembari menjawab, "Eh ... Mama. Aku pikir Mama masih tidur." Wanita muda itu terkekeh ringan. "Iya nih, Ma. Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin membuatkan camilan untuk Rayyan padahal baru beberapa hari lalu aku membuatkan pangsit kuah dan bakwan jagung. Dan kebetulan, katanya hari ini Rayyan akan datang ke rumah."
Jemarin lentik itu begitu lincah bermain dengan peralatan masak. Tak terlihat canggung sedikit pun. Ia begitu menikmati setiap gerakan tubuh dan tangannya kala bergerak kesana dan kemari.
Tatapan mata Nyimas masih tertuju pada sosok wanita cantik di sisinya. Wanita paruh baya itu sudah membuka mulut, bersiap mengajukan pertanyaan lagi. Akan tetapi, suara Mbak Tini mengalihkan perhatian kedua wanita beda generasi itu.
"Bu ... Bu Rumi!" seru Mbak Tini dari teras rumah. Suara nyaring wanita itu memecah keheningan suasana di pagi hari.
Ia berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Deru napas wanita itu tak beraturan.
"Bu ... di luar. Di luar--"
Arumi menghentikan sejenak kegiatannya. Ia menoleh ke arah Mbak Tini dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Di luar ada siapa?" tanya Arumi kesal. Ia merasa terganggu karena ritualnya menyiapkan makanan kesukaan untuk kekasih tercinta terganggu.
"A-anu, Bu ... Ada--"
.
.
.
__ADS_1