
Hari yang dinantikan pun tiba, Rayyan dan Arumi telah berada di kediaman Nyimas sejak kemarin siang. Segala kebutuhan yang diperlukan sudah selesai. Mulai dari tenda, dekorasi, katering, bahkan pemuka agama yang bertugas memimpin acara pengajian pun telah diundang dalam tasyakuran 4 bulan-an.
Para tetangga di sekitar rumah Nyimas turut berbahagia ketika mendengar kabar baik itu. Namun, ada juga yang memang tidak suka mendengar kabar tersebut, mereka lebih memilih tetap menggunjingkan Arumi karena rasa benci, iri dan dengki telah tumbuh subur di dalam sanubari. Meski Nyimas ataupun Arumi telah mencoba menjadi tetangga baik bagi semua orang, namun rupanya tak cukup untuk membungkam mulut mereka yang memang pada dasarnya memiliki penyakit hati yang sukar dihilangkan.
Hari ini penampilan Arumi cukup memukau, mengenakan kaftan berwarna putih dengan jilbab warna senada penutupi rambut hitam panjang miliknya. Perutnya yang semakin buncit memberikan kesan seksi dan aura kecantikannya pun semakin terpancar.
"Wow! Penampilanmu begitu berbeda, Babe. Kamu terlihat lebih cantik dan semakin glowing," puji Rayyan tanpa mengalihkan pandangan dari sosok wanita cantik di hadapannya.
Mata berbinar bahagia ketika netranya turun ke bagian perut sang istri. Di dalam sana, ada tiga bayi yang kelak menjadi penyemangat hidup di kala lelah melanda. Sungguh, pria itu sangat bersyukur karena Tuhan telah menitipkan malaikat kecil di dalam rahim Arumi.
Mendapat pujian dari suami tercinta, membuat wajah Arumi merah merona. Ia tersenyum simpul karena Rayyan terus menghujaninya dengan pujian serta gombalan yang mematikan. Selain mampu mengobati pasien, rupanya Rayyan pun pandai menggombal hingga tak jarang membuta hati wanita itu meleleh seketika.
"Jangan bicara begitu ah, Mas. A-aku ... jadi malu mendengarnya." Lantas, Arumi menundukan pandangan, tak kuasa menatap bola mata milik suami tercinta.
Rayyan yang saat itu tengah duduk di tepian ranjang bergegas bangkit dan mendekati sang istri. Ia berdiri di belakang Arumi, lalu meletakkan ujung dagu di pundak wanita itu sementara kedua tangan melingkar di pinggang wanitanya.
"Aku bersungguh-sungguh, Babe. Kamu ... tampak berbeda mengenakan pakaian ini. Lebih terlihat anggun dan membuat jiwaku semakin damai." Kalimat itu murni berasal dari lubuk hati yang terdalam. Rayyan tidak sedang memuji apalagi menggombal agar ia mendapatkan pelayanan plus-plus dari sang istri.
Arumi melepaskan tangan kokoh Rayyan yang melingkar di pinggang, lalu membalikan badan. Kini posisi mereka saling berhadapan.
"Mas, pujianmu tidak ada maksud apa-apa 'kan?" tanyanya penuh selidik. Ia cemas jikalau Rayyan meminta sesuatu yang dirinya sendiri belum siap lahir dan batin.
__ADS_1
Pria jangkung putra dari pendiri rumah sakit Persada International Hospital mengernyitkan alis, tak mengerti maksud pembicaraan Arumi. "Maksud ucapanmu tadi, apa? Kamu pikir aku memujimu karena ada maksud lain?"
Arumi mengangguk cepat. "A-aku takut kalau kamu memintaku mengenakan pakaian muslimah dalam keseharianku. Kamu tahu sendiri, aku belum siap jika diminta menutup bagian-bagian tertentu dengan pakaian tertutup."
Pupil mata Rayyan membulat, tak percaya dengan apa yang dikatakan Arumi. Ia belum terpikirkan untuk meminta sang istri merubah penampilannya meski tahu anjuran mengenakan jilbab tertuang dalam kitab suci Al-Qur'an. Mungkin saat ini belum, tetapi tidak tahu esok atau lusa.
"Astaga! Jadi, kamu pikir aku memujimu karena mempunyai maksud terselubung, begitu?" Rayyan tak kuasa menahan senyum di wajah. Lantas, ia menarik pinggang Arumi hingga tubuh mereka saling menempel. "Dengarkan aku baik-baik. Perintah menutup aurat memang tercantum dalam pedoman hidup bagi umat muslim, namun aku tak mau memaksamu untuk merubah penampilanmu dalam waktu dekat."
"Butuh persiapan matang serta mental yang kuat karena banyak yang akan berubah saat kamu memutuskan mengenakan hijab. Oleh karena itu, pelan-pelan saja ya sambil kita belajar bersama agar dapat terus berada di jalan yang benar," tukas Rayyan seraya mengusap puncak kepala Arumi yang ditutupi jilbab.
Tanpa pikir panjang. Arumi mendaratkan kepalanya di dada bidang Rayyan. "Terima kasih karena kamu mau mengerti aku."
...***...
"Selamat ya, Rumi. Akhirnya setelah penantian panjang kamu diberikan amanah juga oleh Tuhan." Husna, Tante angkat Arumi memeluk erat keponakannya itu. Meskipun Arumi hanya anak angkat tetapi seluruh saudara dari kedua belah pihak sangat menyayangi dan menerima kehadiran wanita cantik itu menjadi salah satu bagian anggota keluarga mereka.
"Terima kasih, Tante. Aku senang sekali karena Tante Husna dan Om Hasan mau meluangkan sedikit waktu datang ke acara tasyakuran 4 bulananku."
"Jangan sungkan, Nak. Kalau Om dan Tante tidak sibuk, kami pasti menyempatkan diri menghadiri undangan. Om juga ingin menyampaikan permintaan maaf dari saudara yang ada di Bandung karena tidak bisa hadir. Namun, do'a tulus mereka panjatkan untuk ketiga anak-anakmu." Hasan, adik kandung Zidan ikut menimpali.
Nyimas tampak bahagia karena keluarga dari pihak Zidan masih menganggap dirinya sebagai salah satu bagian dari mereka, walau mendiang suami tercinta telah lama meninggal dunia tapi tali persaudaraan tidak pernah putus. Sementara Rayyan hanya memperhatikan saja, tidak ikut terlibat dalam percakapan mereka.
__ADS_1
Tak berselang lama, pembawa acara mengumumkan bahwa acara segera dimulai. Seluruh tamu undangan telah duduk di tempat masing-masing. Banyak untaian do'a yang diucapkan oleh para tamu undangan, mereka turut berbahagia karena setelah sekian lama, akhirnya kebahagiaan itu datang menghampiri keluarga kecil Arumi.
"Kupikir, Mbak Arumi itu mandul karena sudah lama menikah tapi belum juga hamil," celetuk salah satu tamu undangan yang hadir di acara tasyakuran 4 bulanan Arumi. Wanita berpakaian merah marun itu berucap lirih di telinga temannya.
"Benar. Aku pun berpikiran seperti itu sebelumnya. Setelah mendapat undangan, aku cukup terkejut ternyata dugaanku salah selama ini. Mbak Arumi itu wanita sehat sama seperti anak-anak kita." Wanita paruh baya yang mengenakan kaftan warna coklat menyetujui perkataan temannya.
Isu tentang Arumi yang belum juga hamil santer terdengar di kalangan ibu-ibu komplek perumahan tempat Nyimas tinggal. Tak jarang dari mereka menjadikan kabar itu menjadi bahan gunjinggan. Beruntungnya Nyimas tipe wanita cuek sehingga tak terlalu memedulikan ucapan mereka, sebab baginya tak penting mengurusi mulut pedas dari orang-orang yang memang jelas tak menyukai Arumi, anaknya tercinta.
Acara inti telah selesai, kini tiba saatnya sesi ramah tamah. Seluruh tamu undangan dipersilakan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Rayyan dan Arumi tengah duduk berdua di kursi yang telah disediakan. Tampak rona kebahagiaan terlukis di wajah keduanya.
Senyum mengambang di bibir pasangan suami istri itu. Arumi merasa terharu. Kali ini impiannya untuk bisa memiliki keturunan terkabul. Kebahagiaannya semakin lengkap setelah kehadiran buah cintanya bersama Rayyan.
"Kamu menyukai konsep yang kupilihkan?" tanya Rayyan seraya menggenggam jemari Arumi dengan erat. Tubuh tegap dengan pahatan otot di mana-mata tampak gagah dalam balutan atasan berwarna putih dan celana kain berwarna hitam.
"Tentu saja. Kamu memang selalu tahu apa yang kuinginkan. Ya, walaupun terkesan sangat berlebihan karena meminta jasa EO untuk mengurusi semua persiapan namun aku tahu, kamu cuma ingin memberikan yang terbaik bagi ketiga anak kita." Arumi terdiam sejenak, lalu melirik Rayyan sebentar. "Terima kasih, Ayah."
"Demi kamu dan buah cinta kita, aku rela melakukan apa pun. Sekalipun nyawa taruhannya, aku siap berkorban demi kalian semua." Pria itu mengecup punggung tangan Arumi sambil memberikan tatapan penuh cinta.
Percakapan mereka terhenti saat seseorang datang seraya berteriak secara lantang. "Arumi!"
.
__ADS_1
.
.