Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Semua Demi Arumi


__ADS_3

Hari semakin gelap, sinar mentari perlahan mulai kembali ke peraduan. Langit cerah berwarna biru mulai berganti menjadi warna jingga. Burung-burung terbang, mencari tempat peristirahat masing-masing.


Jarum jam sudah menunjukan pukul lima lebih tiga puluh menit waktu setempat. Arumi sudah lebih dulu pulang ke apartemen dijemput oleh Burhan. Sedangkan Rayyan masih berada di kantor polisi, guna memberikan laporan terkait penahanan Naila atas tuduhan percobaan pembunuhan pada Arumi.


"Assalamu a'laikum," ucap Nyimas saat pertama kali masuk ke dalam apartemen milik Arumi. Wanita paruh baya itu segera bersiap setelah mendengar insiden yang terjadi menimpa Arumi dari menantu kesayangannya. Dengan diantar Burhan, ia tiba di apartemen sebelum hari semakin malam.


Rayyan memutuskan menghubungi Nyimas untuk meminta bantuan sang mertua untuk menemani Arumi selama mbak Tini tidak ada di rumah. Asisten rumah tangga Arumi sedang mengambil cuti karena ibu dari wanita setengah baya itu sedang sakit.


Mendengar suara Nyimas, Arumi meninggalkan sejenak kegiatan memasaknya di dapur. Masih mengenakan apron berwarna biru muda dengan motif kembang, wanita cantik itu menyambut kedatangan mama tersayang.


"Wa'alaikum salam. Mama?" Wanita cantik itu tampak terkejut melihat Nyimas sudah berada di apartemen. Ia pikir, tadi Rayyan-lah yang sedang memasukan kode apartemen milik mereka. Namun, rupanya mama tercinta yang datang. Meskipun terkejut akan kedatangan Nyimas di apartemen itu, Arumi tetap menyambut hangat kedatangan mama tercinta.


"Mama kok tidak kasih kabar kalau akan datang." Wanita itu merajuk seraya memeluk erat tubuh Nyimas. Mulai berubah menjadi anak-anak setiap kali di dekat mama-nya.


"Iya, Nak. Mama buru-buru soalnya. Setelah mendapat pesan dari Nak Rayyan, Mama bergegas menyiapkan segala keperluan selama tinggal di sini. Beruntungnya Pak Burhan sudah dalam perjalanan sehingga Mama tidak perlu repot memesan taxi online."


Untuk kali ini, Arumi wajib mengucapkan banyak terima kasih pada Rayyan karena pria itu sangat tahu apa yang dibutuhkan olehnya saat ini. Kehadiran Nyimas membuat wanita muda itu merasa lebih aman karena yakin sosok malaikat tak bersayap itu bisa melindunginya sama seperti saat dirinya masih remaja dulu.


"Oh ya, kamu dan ketiga cucu Mama, baik-baik saja 'kan?" Tampak segurat kecemasan terlukis di wajah Nyimas. Memindai setiap inci tubuh Arumi tanpa ada yang terlewatkan. Lalu, pandangan matanya berhenti tepat di bagian perut yang sudah mulai menonjol ke depan.


Arumi mengangguk cepat, paham jikalau Nyimas begitu mengkhawatirkan keadaan ia dan ketiga bayi mungil yang masih ada dalam kandungan.


Mengulurkan tangan ke depan, kemudian membawa tangan halus itu menyentuh permukaan perut. "Si Triplet baik-baik saja, Ma. Beruntungnya saat itu ada salah satu keluarga pasien dengan sigap menangkapku. Jika tidak, mungkin perutku ini sudah membentur lantai dan entah apa yang akan terjadi menimpa anak-anakku ini."


Nyimas mendengkus kesal. Ia tampak kesal karena Naila terus mengusik kehidupan rumah tangga Arumi. "Wanita itu selalu saja membuat masalah. Dari dulu tidak pernah membiarkan hidupmu tenang. Ada saja cara untuk menyakitimu."


"Tapi, beruntungnya ada Nak Rayyan dengan sigap memasang badan untuk melindungimu." Nyimas menghela napas panjang, merasa bersyukur karena menantunya bisa melindungi Arumi dari kejahatan Naila.

__ADS_1


Senyum samar terlukis di wajah. Arumi setuju dengan ucapan sang mama. Rayyan memang pria sejati. Walaupun terkesan arogan dan sombong, tetapi ia adalah sosok suami, menantu dan calon ayah idaman bagi anak-anaknya kelak.


***


Selepas bercengkraman bersama Nyimas, Arumi memilih melanjutkan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kemampuannya dalam mengolah makanan sudah tak perlu diragukan lagi. Meskipun hanya membuat bakmi goreng lengkap dengan sayuran, telor ceplok dan suwiran ayam, makanan itu terlihat lebih lezat karena diolah dengan penuh cinta.


Arumi dibantu Nyimas sedang menata semua hidangan di atas meja makan. Meletakan tiga buah piring, lengkap dengan gelas dan satu set peralatan makan seperti sendok dan garpu.


Nyimas melirik ke arah jarum jam. "Sayang, tumben sekali jam segini Rayyan belum pulang. Kamu tidak coba mengirimkan pesan padanya?" Jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh malan, tetapi tidak ada tanda-tanda kalau menantu kesayangannya itu tiba di apartemen.


"Aku sudah mengirimkan banyak pesan pada Mas Rayyan, tetapi tidak ada satu pesan pun dibalas olehnya. Mungkin setelah ini aku coba menghubungi Mas Rayyan lagi."


Tak berselang lama, terdengar seseorang tengah memasukan kode apartemen milik Arumi. Dan wanita itu yakin kalau di luar itu adalah suaminya.


"Mas, kamu sudah pulang?" Arumi tersenyum lembut sambil menyambut kedatangan suami tercinta.


Rayyan menatap Arumi dengan perasaan sayang, lalu mengusap puncak kepala wanita itu. "Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Aku dan Pak Putra terjebak beberapa jam lamanya di kantor polisi. Setelah itu aku pun diminta Papa kembali ke rumah sakit dimintai keterangan terkait keributan yang terjadi di bangsal Bougenville."


"Tunggu! Tadi katamu, k-kantor polisi? Untuk apa kamu ke sana, Mas?" tanya Arumi tergagap.


Rayyan menghela napas dalam dan menatap Arumi. Sejak meninggalkan Arumi di ruangannya, ia sama sekali tak memberitahu apa yang dilakukan olehnya selama berada di luar. Termasuk penyakit aneh yang kini sedang kambuh akibat menyentuh tubuh wanita lain.


"Aku melaporkan Bu Naila pada polisi, atas tuduhan percobaan pembun*han."


"Apa?" Arumi terbelalak disertai rahang terbuka lebar mendengar kabar yang disampaikan oleh suaminya. "Jadi ... kamu benar-benar melaoprkan Tante Naila pada pihak berwajib. Begitu?"


Rayyan mengangguk kepala pelan. "Benar, Babe. Tekadku sudah bulat untuk menjebloskan wanita itu ke dalam penjara. Sudah cukup banyak hinaan, cacian dan makian dia tujukan kepadamu. Dan aku, tidak bisa mentolerirnya lagi. Oleh karena itu, aku langsung menghubungi salah satu teman SMA-ku dulu. Kebetulan dia menjabat sebagai salah satu orang penting di kantor polisi tempat Bu Naila mondok saat ini."

__ADS_1


Detik itu juga tubuh Arumi lepas tak bertulang. Tungkainya terasa tak mampu menopang beban tubuh wanita itu. Hampir saja terjatuh ke lantai jika Rayyan tidak segera menangkap wanita itu dan membawanya dalam dekapan.


"Ya Tuhan. Mas ... jadi, kamu betulan menjeblosakan Tante Naila ke penjara?" Sekali lagi bertanya untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar. Rayyan, nekad memenjarakan Naila ke penjara demi dirinya?


Arumi tak mampu berkata-kata. Bahkan, ia hampir lupa bagaimana cara bernapas saat menyadari jika suami itu melakukan sesuatu di luar dugaannya.


"Aku tidak tahu harus dengan cara apa lagi menjauhkan wanita itu dari hidupmu, Rumi. Saat itu, yang terlintas dalam benakku adalah memasukan Bu Naila ke dalam sel tahanan agar dia membusuk selamanya sampai malaikat maut menjemput."


"Akan tetapi, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Tiba-tiba saja dia bersikap seperti orang gila. Menjerit dan menangis histeris di hadapan semua orang."


Sumpah demi apa pun, rasanya Arumi tidak tahu harus berkata apa di depan Rayyan. Informasi ini terjadi begitu saja hingga membuat otak wanita itu tak dapat berpikir dengan jernih.


Kantor polisi? Orang gila? Semua kalimat itu berputar seperti kaset rusak yang menari indah di kepalanya.


Menciumi puncak kepala nan harum. Aroma shampo perpaduan rosemary dan gingseng menguar, memanjakan indera penciuman sang lelaki.


"Namun, kamu tidak usah khawatir. Pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan terlebih dulu sebelum memutuskan apakah wanita itu benar-benar mengalami gangguan jiwa atau hanya sekadar tipu muslihat, sebab selama ini Pak Putra tak menemukan tanda-tanda kalau istrinya mengalami gejala ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa)."


"Ya penting, sementara waktu ini kamu aman. Terhindar dari wanita gila itu. Selama pemeriksaan berlangsung, aku akan meminta Pak Burhan mencarikan pengawal sekaligus sopir wanita untuk mengawalmu selama aku tidak ada di sisimu."


Mengangguk tanpa mampu berkata-kata. Wanita itu masih belum mampu berpikir jernih. Namun, ia menyerahkan semua keputusan di tangan Rayyan. Ia tahu, kalau pria itu akan melakukan yang terbaik bagi dirinya dan juga ketiga bayi dalam kandungannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2