Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pertemuan Dua Lelaki


__ADS_3

Saat pintu lift terbuka, Rayyan segera berlari menyusuri koridor rumah sakit. Jemari tangan si cantik jelita pemilik bola mata indah dan bulu mata lentik terus menggenggam tangan sang suami. Ia mengekori ke mana pun pria itu melangkah tanpa melepaskan genggaman tangan. Dua sejoli saling menautkan tangan sepanjang perjalanan menuju ruangan ICU.


Dari jarak tak terlalu jauh, Rayyan melihat seorang wanita berseragam perawat tengah duduk seorang diri sambil termenung di depan ruang ICU. Tatapan mata kosong, seakan jiwanya melayang pergi entah ke mana.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Papa, hem? Kenapa bisa jadi begini? Seingatku, Papa mempunyai perawat pribadi, lalu kenapa tidak menyelamatkannya pada saat kejadian!" cecar Rayyan ketika ia telah sampai di depan ruang ICU.


Puspa yang masih belum tersadar sepenuhnya dari lamunan, tampak seperti orang linglung. Bola mata bergerak tak tentu arah. Dicecar oleh berbagai pertanyaan membuat pikiran wanita itu kosong melompong.


Arumi yang berdiri di samping Rayyan mengusap bahu suaminya. "Mas, sebaiknya kita masuk ke dalam. Setelah melihat kondisi Papa, baru kamu intogasi perawat ini. Namun, jangan gunakan kekerasan. Kasihan dia pasti masih shock atas insiden kebakaran tadi pagi."


Rayyan menarik napas beberapa kali mengurai rasa cemas yang ia rasakan. Lalu melirik ke arah Puspa sambil berkata, "Tunggu saya di sini! Jangan pernah mencoba kabur dari saya, sebab saya akan terus mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun!" ancamnya dengan tatapan tajam.


Wanita berseragam perawat mengangguk lemah setelah tahu jikalau pria dan wanita yang ada di hadapannya adalah anak serta menantu dari salah satu pasien yang tengah terbaring di dalam sana.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, Arumi menyentuh bahu Puspa. "Jangan takut, kami hanya ingin meminta keteranganmu saja. Apabila suamiku hilang kendali, aku akan menolongmu." Mengusap lembut bahu wanita itu. "Duduklah! Tenangkan dirimu!"


Perasaan tak tenang diselimuti rasa bersalah yang mendalam membuat Puspa terlihat sangat shock atas kejadian menimpa Firdaus dan Lena. Namun, ketika mendengar suara lembut bagai alunan musik intrumental membuat wanita muda itu sedikit jauh lebih tenang dari sebelumnya. Bagi wanita itu, tutur kata Arumi terdengar begitu merdu hingga membuat sel-sel dalam darah serta otot yang tegang menjadi kendur dan terasa lebih rileks.


Bola mata indah, tutur kata lembut ibunda Triplet seakan mampu menyihir semua orang yang tengah mengalami masalah. Itulah sebabnya mengapa Rayyan sangat suka sekali menatap iris coklat istrinya, karena di sana ia menemukan keteduhan serta tiap untaian kalimat yang terucap mampu membuatnya tenang kembali.


Tubuh Rayyan mematung ketika melihat seseorang tengah terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan selang infus menancap di punggung tangan, serta alat bantu napas melingkar di kepala. Sebuah alat monitor berada di atas meja, di samping ranjang rumah sakit. Walaupun menyaksikan pemandangan itu lewat jendela transparan, penghubung antara ruangan ICU dengan ruang lain tetap saja membuat perasaan Rayyan campur aduk.


Di depan sana, seorang pria paruh baya yang tak lain merupakan ayah kandung dari seorang pemimpin rumah sakit bertaraf international dan begitu termasyhur se-pulau Jawa bahkan terkenal hingga ke luar pulau sedang terbaring lemah dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Sebagian wajah terkena luka bakar, begitu pun dengan kaki dan tangannya menjadi mangsa dari si Jago Merah.

__ADS_1


Rayyan menatap Firdaus dengan tatapan hangat. Namun, saat bayangan wajah Mei Ling melintas di benaknya rasa benci yang telah mendarahdaging selama belasan tahun kembali muncul ke permukaan, membuat gejolak amarah dalam diri terus membuncah. Ego pria itu terlalu tinggi hingga mengalahkan akal sehat serta hati nuraninya sebagai manusia.


Ibu dari tiga bayi kembar baru saja masuk ke dalam ruangan ICU. Hatinya mencelos selama beberapa saat kala netranya menyaksikan sendiri betapa memprihatinkan keadaan sang mertua saat ini. Pria jangkung, bertubuh tegap dengan penampilan yang selalu keren meski usia sudah tak lagi muda kini sudah tak ada lagi. Yang ada hanya sosok pria lumpuh dengan luka bakar di mana-mana bahkan wajahnya pun nyaris tak dikenali.


Tanpa sadar, air mata Arumi meluncur begitu saja tanpa dapat dibendung lagi. Hati terasa seperti disayat oleh sebilas pisau yang begitu tajam. Walaupun tahu bila Firdaus adalah pria berengsek seperti mantan suaminya yang tega selingkuh sementara di rumah ada seorang wanita tengah menunggunya dengan setia tetapi nalurinya sebagai manusia masih berfungsi baik sehingga bisa merasakan rasa sakit ketika menyaksikan sendiri penderitaan orang lain terlebih itu adalah mertuanya sendiri.


Menarik napas dalam, lalu mengusut butiran kristal yang sempat meluncur di kedua pipi. "Mas, ayo temui Papa!" ucap Arumi dengan bibir gemetar. Wanita itu telah menggenggam tangan suaminya, tetapi tubuh sang dokter tampan berdarah Tionghoa tak mau beranjak sedikit pun tetap membeku di tempat.


"Aku tidak sanggup bertemu dengan pria yang telah membunuh, Mamaku, Babe. Aku ... tidak sanggup." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rayyan. Kepala menggeleng lemah ke sisi kanan dan kiri.


Bibir boleh berkata iya, tetapi hati rasanya sulit sekali memaafkan karena sekelebat bayangan saat Firdaus sedang bermesraan dengan Lena terus terekam jelas di memori ingatannya. Cuplikan kejadian itu terus menghantui Rayyan dan selalu hadir dalam mimpi buruknya.


Arumi mengerti bagaimana perasaan Rayyan saat ini. Melihat seseorang yang pernah menorehkan luka di hati sedang tak sadarkan diri ditambah terdapat luka bakar nyaris di sekujur tubuh pasti sedikit banyak membuat suami tercinta terguncang hebat. Namun, jauh di lubuh hati yang terdalam, ia yakin bahwa ayah dari ketiga anaknya sangat ingin bertemu dengan Firdaus.


"Tapi kalau kamu memang tidak sanggup menemui Papa, lebih baik kita pulang sekarang. Daripada membuang waktu di sini hanya melihat orang lain tertidur tidak ada gunanya. Mendingan kamu istirahat di rumah, rehat sejenak setelah disibukan oleh berbagai aktivitas di rumah sakit," tutur Arumi. Tak mau memaksa suaminya untuk tetap berada di rumah sakit jika memang pria itu tidak sanggup bertemu Firdaus secara empat mata.


Arumi membalikan badan, hendak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, tangannya dicekal oleh sang suami. "Tetaplah di sini! Temani aku menemui Papa."


Wanita bermata indah tersenyum tipis, merasa puas karena berhasil menggunakan siasat terselubung untuk menggertak sang suami secara halus. Terkesan licik tetapi ia terpaksa melakukan itu semua demi meredam ego dalam diri suaminya.


***


Setelah mengganti sandal dan jubah steril berwarna hijau yang diperuntukan khusus untuk masuk ke ruang ICU, Rayyan menghampiri Firdaus. Berbagai peralatan medis terpasang di tubuh renta itu. Wajah pucat yang nyaris tak dikenal membuat tubuh dokter tampan pemilik mata sipit hampir ambruk ke lantai. Tungkai tak lagi mampu menopang tubuh. Beruntungnya Arumi terus menggenggam jemari tangan itu seakan menyalurkan kekuatan yang dimiliki untuk suami tercinta.

__ADS_1


Rayyan duduk di samping ranjang, tatapan mata menatap lurus pada sosok pria paruh baya yang tengah tak sadarkan diri. "Pa, ini aku, Rayyan," ucapnya lirih. Suara gemetar ayah kandung Triplet menggema memenuhi penjuru ruangan.


"Sudah lama sekali kita tak bertemu. Kalau tidak salah, terakhir kali bertemu saat Papa membesuk Arumi di rumah sakit pasca melahirkan Triplet." Menjeda sejenak kalimatnya. "Papa tahu, kini mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sangat menggemaskan. Mereka sudah mulai mengoceh setiap kali kami ajak bicara." Rayyan tertawa lirih, menahan air mata agar tak membasahi pipi. Berusaha tegar di hadapan Firdaus karena tidak ingin terlihat lemah.


"Ghani, Zavier dan Zahira tumbuh besar dengan kepribadian masing-masing meski terlahir dari rahim yang sama tetapi rupanya karakteristik mereka berbeda. Di antara ketiga cucu Papa, hanya Zahira yang paling rusuh. Dia tak pernah membiarkan aku leluasa mendekati Arumi bila bayi montok bermata sipit belum terlelap. Tampaknya, dia teguh memegang prinsip tidak mau jadi kakak sebelum genap usia lima tahun."


Sunyi. Hanya terdengar suara peralatan medis yang mendominasi ruangan. Firdaus masih setia memejamkan mata seakan pria itu lelah menghadapi kerasnya dunia ini. Sementara Arumi, duduk manis di sebelah suaminya dengan terus menggenggam erat suaminya sambil sesekali mengusap punggung pria itu.


"Papa pasti kecewa 'kan, karena saat itu aku tidak membiarkan tubuh ketiga anakku berada dalam gendonganmu dan wanita itu? Aku terpaksa melakukan semua itu demi menghindari tangan kotor kalian menjamah tubuh anak-anakku yang masih suci." Rayyan menjeda sejenak kalimatnya. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan perlahan. "Untuk alasannya kenapa, Papa sudah tahu jawabannya tanpa perlu aku jelaskan."


"Aku cuma tidak mau ketiga anakku mencontoh perbuatan keji yang telah Papa lakukan di belakang Mama. Sebagai seorang Ayah, aku mau Ghani dan Zavier menjadi pria setia, bertanggung jawab serta tulus mencintai pasangannya. Hanya itu saja, Pa. Jadi, apakah aku salah bila sedari kecil mencegah mereka melakukan tindakan yang dapat membuat perasaan orang lain terluka?"


Lagi dan lagi hanya keheningan yang didengar oleh Rayyan. Ini pertama kalinya dia terlihat frustasi dan sangat kesal karena Firdaus tak merespon sedikit pun apa yang diucapkan kepadanya.


"Jawab aku, Pa. Jangan diam saja! Apakah Papa tidak mau bertengkar denganku? Tidakkah tangan Papa merasa gatal karena sudah lama tidak mendarat di pipiku yang mulus seperti jalan tol?" tanya Rayyan dengan meninggikan nada bicaranya. Berharap Firdaus bangun dan menjawab semua ucapannya.


Rayyan menghela napas kasar. Matanya menatap layar monitor dan sosok Firdaus secara bersamaan. Degup jantung pria di atas ranjang rumah sakit memang terlihat lemah, tidak ada perkembangan sama sekali sebelum dan sesudah dirinya datang ke sana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2