
"Semua barang-barang sudah dipastikan tidak ada yang tertinggal?" tanya Rayyan ketika ia dan Arumi berjalan melewati jalan setapak yang menghubungkan antara vila dengan lobi penginapan.
Arumi kembali mengecek isi tasnya. "Dompet, telepon genggam, sanitizer, alat tulis dan alat make up. Semuanya sudah ada di dalam tas," gumam wanita itu.
"Ya sudah, jika memang semua barang-barangmu tidak ada yang tertinggal. Kita langsung ke auditorium."
Di depan pintu masuk lobi, dua insan manusia itu berdiri. Menunggu bus yang menjemput para peserta seminar. Meskipun jarak antara lokasi seminar dengan vila mereka cukup dekat, berkisar satu kilometer tetapi jika ditempuh dengan jalan kaki cukup menguras tenaga. Akhirnya Rayyan memutuskan untuk menaiki bus shuttle yang disediakan khusus oleh pihak penginapan, kebetulan lokasi seminar dilalui oleh bus tersebut.
Suasana di dalam bus cukup ramai sehingga para penumpang berdesak-desakan.
"Permisi, Pak. Bisa tolong geser sedikit!" pinta Arumi pada salah satu penumpang pria berambut pendek. Posisi wanita itu berada di dekat pintu bus. Ia dikelilingi oleh empat orang laki-laki. Membuatnya merasa risih dan khawatir terjadi tindakan pelecehan.
"Brengsek! Kenapa keempat laki-laki itu mengelilingi Arumi!" maki Rayyan.
Tidak ingin terjadi hal yang diinginkan, pria itu berjalan menghampiri Arumi. "Ikut saya! Di sana lebih aman daripada di sini."
Arumi mendongakan kepala. Dua insan manusia itu bertemu pandang. Lalu, detik berikutnya wanita itu menurunkan pandangannya lagi. "Jika saya pindah ke sana, lalu Dokter akan berdiri di mana?"
"Saya akan berada di belakangmu," bisiknya seraya menarik tangan Arumi melewati kerumunan para perumpang.
"Hati-hati! Perhatikan gerakanmu. Jangan sampai menyentuh tubuh pria lain!" ujar Rayyan disela-sela langkahnya menuju tempatnya semula.
Setelah memastikan posisi Arumi aman dan tidak terjamah oleh pria lain, Rayyan berdiri di belakang wanita itu. Kemudian tangannya memegang pegangan bus yang menggantung di atas kepala.
Deg!
Tubuh Arumi membeku ketika Rayyan berdiri tepat di belakangnya. Posisi mereka terlalu intim hingga membuat wanita itu tidak leluasa bergerak.
"Meskipun posisi kita begitu intim tetapi saya janji tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Rayyan lembut di telinga Arumi.
Napas wanita itu pun tercekat. Aroma parfum woody menguar hingga ke hidung membuat wanita itu menjadi gelisah. Jantung wanita cantik berparas bak bidadari itu berdegup lebih kencang. Organ terpenting bagi manusia rasanya sedang berparade di dalam sana. Apalagi saat kulit mereka saling bersentuhan, menimbulkan gelenyar aneh menelisik hingga ke dalam jiwa.
"Tuhan, gelenyar aneh apa ini? Kenapa aku merasakan seperti tersengat aliran listrik ketika kulit kami bersentuhan," batin Arumi.
"Ehm ... i-iya, Dok. Saya percaya Dokter adalah pria baik-baik," sahut Arumi. Meskipun gugup, ia berusaha bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
__ADS_1
Lima menit berlalu, kini Arumi dan Rayyan sudah tiba di auditorium. Tempat diselenggarakannya acara seminar nasional. Seluruh dokter berprestasi turut hadir dalam acara tersebut. Dari berbagai kota, provinsi berkumpul di pulau Dewata.
"Selama acara seminar berlangsung, kita akan duduk berdekatan. Jangan sampai terpisah sebab saya tidak mau kelelahan hanya untuk mencari keberadaanmu!" ucap Rayyan santai. Memasang lagi wajah dingin bagaikan es yang tak pernah mencair.
"Dasar bunglon! Sikapnya berubah-ubah dalam hitungan detik!" gerutunya dalam hati. "Anehnya lagi, kenapa aku sempat tersentuh oleh perhatian yang diberikan olehnya."
***
Waktu terus berputar, tak terasa hari semakin senja. Acara seminar hari pertama berjalan dengan lancar. Seluruh peserta banyak mendapatkan ilmu seputar dunia kedokteran.
"Halo, apakah Dokter adalah perwakilan rumah sakit terkenal di kota Jakarta?" Seorang pria berkacamata mendekati Arumi yang sedang berjalan menuju pintu keluar auditorium.
Seorang wanita cantik berjalan sendiri di tengah kerumunan banyak orang, menarik perhatian satu di antara ratusan peserta yang datang. Apalagi penampilan calon janda kembang itu begitu menggoda, pasti banyak kumbang yang berniat mendekati.
"Benar. Saya dari rumah sakit Persada," jawab Arumi. Seulas senyum terlukis di wajah memperlihatkan deretan gigi putih milik wanita itu.
"Wah ... itu 'kan rumah sakit bertaraf internasional yang sangat terkenal di Jakarta!" seru pria itu.
Arumi kembali tersenyum. Tak menyangka akan ada seseorang yang mengenal rumah sakit tempatnya bekerja. Apakah sehebat itu performa rumah sakit yang didirikan oleh Firdaus sehingga semua orang mengenal rumah sakit itu? Begitu pikir Arumi.
"Saya adalah--" Belum sempat Arumi menyelesaikan perkataannya, seorang pria berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.
"Saya Dokter Rayyan. Untuk perwakilan dari mana, Dokter pasti sudah tahu 'kan? Bukankah wanita ini sudah memberitahu Anda!"
Arumi dan dokter pria itu terkejut karena tiba-tiba saja dari ambang pintu Rayyan berjalan setengah berlari menghampiri mereka. Sorot matanya memancarkan aroma permusuhan pada pria asing itu. Seluruh tubuhnya terasa terbakar oleh percikan api tak kasat mata kala melihat rekan kerjanya itu berduaan dengan lawan jenis.
Pria asing itu tersenyum masam karena merasa terganggu oleh kehadiran Rayyan. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain. Sebagai seorang laki-laki, Rayyan tahu bahwa pria asing itu berusaha mendekati Arumi dan ia tidak mau hal itu terjadi.
"Ayo kita pergi dari sini! Hari semakin malam jika terus berada di sini, kita akan ketinggalan bus," ucap Rayyan sambil menggandeng tangan Arumi.
Arumi menuruti perintah Rayyan. Ia tak melakukan penolakan saat tangan kekar itu menggenggam erat jemari lentik miliknya.
"Dokter Rayyan benar-benar aneh. Aku tidak habis pikir dengan pola pikir pria ini. Kenapa bersikap seolah-olah aku ini adalah kekasihnya," batin Arumi sambil sesekali melirik ke arah Rayyan.
Ia terus memperhatikan wajah Rayyan. Netranya melihat rahang pria itu mengeras. Bahkan genggaman tangannya semakin erat. Seakan pria tampan berwajah oriental itu takut bila Arumi kabur dari sisinya.
__ADS_1
"Tampaknya Dokter Rayyan sedang kesal deh. Namun, kenapa dia kesal. Memangnya aku berbuat salah apa?"
Lagi dan lagi Arumi bermonolog. Wanita itu tidak berani mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya. Ia khawatir situasi akan semakin keruh apabila menyampaikan isi hatinya.
Malam itu, Rayyan memesan taxi online untuk pergi ke suatu tempat. Masih mengenakan pakaian yang sama, pria yang menjabat sebagai wakil direktur rumah sakit itu meminta sang supir mengantarkannya ke sebuah café terkenal di kawasan Jimbaran.
"Loh, Dok, ini bukan jalan ke arah penginapan kita!" sergah Arumi ketika melihat kendaraan yang ditumpanginya melewati penginapan tempat ia dan Rayyan menginap. Kendaraan roda empat itu terus melaju tanpa berhenti sama sekali.
"Yang bilang akan pulang ke vila siapa?Perasaan saya cuma mengajakmu pergi dari tempat itu bukan mengajak pulang ke vila!" dengus Rayyan. Pandangan mata lurus ke depan. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Arumi.
Rayyan masih kesal sebab wanita yang duduk di sampingnya tidak memedulikan nasihatnya. Baru saja ditinggal sebentar ke toilet, sudah ada pria lain yang mendekatinya.
TBC
.
.
.
Halo semua, otor mau promosiin lagi nih cerita milik bestie otor.
Judul : Bukan Sekadar Istri Siri
Nama pena : Aisy Arbia
Blurb : Sekadar Istri Siri
Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
__ADS_1