
Saat tiba di koridor rumah sakit yang sepi, Arumi mencekal lengan pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi kekasihnya.
"Ray, kita perlu bicara berdua."
Wanita itu lalu membawa Rayyan menuju tangga darurat. "Kenapa kamu bicara tidak sopan pada Papamu?" tanyanya penuh selidik. "Aku perhatikan setiap kali bertemu dengan beliau, kamu selalu bersikap sinis. Memangnya ada apa?"
Rayyan menarik napas panjang dan dalam. Tangan kekar yang biasa digunakan untuk membantu pasien di kamar operasi, menangkup wajah Arumi.
"Babe, ada banyak alasan mengapa aku bersikap sinis terhadap Papaku sendiri. Aku ingin berbagi cerita itu padamu. Akan tetapi, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Suatu hari nanti, aku akan menceritakannya semua padamu." Ia mengusap lembut kedua pipi kenyal seperti kue mochi milik sang kekasih.
Arumi melepaskan cekalan di lengan Rayyan. Ia memejamkan mata seraya menikmati setiap sentuhan yang diberi oleh rekan kerja yang kini berubah status menjadi kekasih.
"Tolong beri aku waktu untuk menyiapkan hati ini agar ketika menceritakan semua masa laluku, aku tidak berubah menjadi anak kecil yang cengeng dan berakhir dalam pelukanmu, Babe," pinta Rayyan tulus.
Arumi tak lagi sanggup berkata. Wanita itu hanya menganggukan kepala. "Tidak masalah, Honey! Kapan pun kamu siap, aku bersedia menjadi pendengar setia."
Pria dalam balutan snelli putih menarik Arumi dan memeluknya dengan erat seakan ia takut jika wanita itu pergi dari sisinya.
Arumi terdiam. Ia pasrah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rayyan. Lagipula, wanita itu pun menikmati setiap detak jantung sang kekasih. Menghirup aroma parfum milik sang jantan. Tubuh kekar dengan lipatan robi sobek di area sekitar perut menguarkan aroma woody, bernuansa kekayuan yang maskulin membuat Arumi merasa nyaman berada dalam pelukan pria itu.
***
"Aku masih ada operasi sore ini. Tidak masalah 'kan kalau aku tak mengantarmu hingga ke depan parkiran?" tanya Rayyan saat mereka berjalan menuju ruangan khusus yang diperuntukan untuk para dokter yang berjaga.
Arumi menggelengkan kepala cepat. "Tidak masalah. Lagi pula, aku bukan anak kecil lagi yang harus diantar oleh seseorang."
Pria bertubuh jangkung itu terkekeh sambil mengusap lembut rambut hitam legam milik sang kekasih. "Lain waktu, aku akan mengantarmu hingga ke depan sana."
Maka berpisahlah mereka berdua. Rayyan hanya mengantarkan Arumi hingga ke depan pintu masuk rumah sakit. Wanita itu melangkah menuju parkiran yang ada di selasar barat gedung rumah sakit.
Seperti biasa, Arumi akan menyalakan musik lewat sambungan USB yang ada di mobil miliknya.
Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa
__ADS_1
Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh salah satu jebolan ajang pencarian bakat musim ke enam menjadi teman Arumi selama di perjalanan.
Judul lagu Aku Pasti Bisa sangat cocok dengan suasana hati Arumi saat ini. Meskipun lagu jadul tetapi isi lagunya asyik serta memberi semangat pada wanita cantik itu untuk bisa move on dari masa lalu.
Mengetuk-ngetuk jari di atas stir sambil sesekali menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri sesuai irama lagu. Hinggat tak terasa, mobil mewah itu telah tiba di depan gerbang sebuah rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh dari panasnya sinar matahari dan dari derasnya air hujan.
"Bu Arumi mau dibuatkan minum?" tanya Mbak Tini. ART yang dulu bekerja di rumahnya terdahulu menyambut hangat sang majikan.
Semenjak Arumi memutuskan menyewakan rumah yang diberikan Mahesa sebagai harta gono gini, ia memboyong dua pekerja setia di rumah itu. Ingin memecat mereka tetapi wanita itu tak tega sebab Burhan dan Tini sudah sangat setia bekerja di rumah itu. Akhirnya, ia mempekerjakan mereka di rumah Nyimas sesuai dengan tugas masing-masing.
Burhan, bertugas mengantar jemput Arumi maupun Nyimas pergi ke suatu tempat. Sementara Tini membantu Mbok Darmi mengurus rumah dan menemani Nyimas di kala ia sedang tugas ke luar kota atau tiba-tiba saja diminta pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi mendadak.
"Tidak, Mbak. Saya mau langsung naik ke kamar saja."
Ia melangkah masuk menaiki anak tangga. Namun, baru saja menaiki dua anak tangga, wanita itu menoleh ke belakang. "Tolong buatkan saya oseng kulit melinjo dicampur daging dan irisan cabe hijau. Satu lagi, saos tiramnya jangan lupa."
Tini tersenyum ramah sambil menjawab, "Baik, Bu. Akan saya masakan khusus untuk Ibu."
Di dalam kamar, Arumi segera merebahkan tubuh di atas ranjang empuk miliknya. Ia merasa seluruh tenaga terkuras habis padahal pekerjaannya hari ini tidak terlalu berat. Hanya visit pasien, melakukan operasi ringan dan menghadiri rapat untuk menyambut kedatangan mahasiswa magang di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Apa mungkin karena bertemu dua manusia berhati iblis membuat energi dalam tubuhku habis terkuras," gumam Arumi.
Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Sudah waktunya bagi Arumi dan Nyimas makan malam. Wanita berparas cantik itu turun ke lantai satu menuju dapur. Di sana sudah ada Mbak Tini sedang mengolah makanan.
"Mbak Tini, sini biar saya bantu." Arumi berdiri di sisi sang ART.
"Tidak perlu, Bu. Ini sudah menjadi kewajiban saya menyiapkan makanan untuk Ibu dan Nyonya besar." Mbak Tini mencoba mengingatkan.
"Dih, Mbak Tini!" Wanita itu mencebik. "Biasanya juga saya membantu Mbak di rumah Orchid." (Komplek perumahan yang dibeli oleh Mahesa dan Arumi).
"Tapi, Bu---"
"Sudah. Tidak ada tapi-tapi. Cepat kamu tolong siapkan piring untuk menaruh makanan ini."
"Baik, Bu!" sahut Mbak Tini tanpa membantah. Lalu ia menuruti perintah majikannya.
Aroma harum dari bumbu masakan yang diolah oleh Mbak Tini membuat Arumi menelan air liurnya. Ia benar-benar tidak sabar ingin segera menikmati oseng kulit melinjo makanan kesukaannya.
__ADS_1
"Tumben sekali kamu meminta Mbak Tini membuatkan oseng melinjo." Nyimas melangkah masuk ke dalam rumah. Mbok Darmi mengekori dari belakang.
Wanita paruh baya itu baru saja tiba. Ia diantara Burhan dan ditemani Mbok Darmi pergi ke panti asuhan tempat Arumi diasuh dulu. Sudah lama ia tak mengunjungi anak-anak di panti asuhan itu.
Semenjak dokter memvonis ia terkena serangan jantung, Arumi sangat ketat mengawasi kesehatan sang mama. Meskipun bukan putri tercinta yang bertanggung jawab akan kesehatannya tetapi sebagai dokter, Arumi berhak mengingatkan Nyimas apabila ia lalai menjaga kesehatannya.
Arumi yang saat itu sedang menata menu hidangan di atas meja makan, menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum kala netranya melihat Nyimas berjalan dipapah oleh Mbok Darmi.
"Mama sudah pulang?" Arumi menerbitkan senyum ramah. Ia mengambil alih tugas Mbok Darmi. "Iya nih, Ma. Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin sekali memakan oseng kulit melinjo untuk disantap malam ini. Mungkin karena Mbak Tini sudah lama tidak membuatkan sayur kesukaannku makanya aku jadi kangen pada makanan olahan yang satu ini."
Nyimas kembali tersenyum. "Kalau begitu, cepat kamu habiskan! Tidak enak jika disantap dalam keadaan dingin."
Dua wanita beda usia itu duduk berhadapan. Arumi begitu menikmati hidangan yang ada di atas meja.
"Rumi, Mama perhatikan dari tadi raut wajahmu sangat berbeda dari kemarin siang. Ada apa?" tanya Nyimas penuh selidik.
Wajah Arumi tampak berseri-seri. Rona kebahagiaan terlukis di sana. Padahal satu hari lalu ia begitu sedih dan wajahnya murung sebab ikatan pernikahan yang dibina selama lima tahun akhirnya kandas begitu saja. Dan kini, kesedihan itu telah tergantikan oleh segurag kebahagiaan terlukis i wajah.
Arumi tampak terkejut ketika suara lembut bernada penuh selidik menghentikan kegiatannya. Ia menggeleng cepat. Menggenggam erat sendok di tangan dengan erat.
"Jangan sampai Mama tah**u jika aku telah memberikan kesempatan kepada pria lain untuk menggantikan posisi Mas Mahes di hati ini. Jika itu sampai terjadi maka akan membuat Mama kaget dan berakibat fatal bagi kesehatan jantungnya."
"Kamu yakin tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama?" Nyimas langsung meletakan satu set alat makan di sisi piring. Mengusut sisa makanan yang tertinggal di sudut bibir menggunakan tisu.
"T-tidak ada ... tidak ada, Ma." Arumi gugup. Semakin mengeratkan pegangan pada alat makan yang terbuat dari stainless.
Mata indah Nyimas menelisik ke dalam bola mata putri tercinta. Biasanya Arumi akan membalas tatapan mata sang mama tetapi kini ia malah menundukan pandangan. Menghindari tatapan Nyimas.
"Pasti ada hal yang disembunyikan Arumi. Namun, mengapa ia tidak jujur padaku?" batin Nyimas.
"Ya sudah, lebih baik segera habiskan makananmu. Setelah itu, temani Mama nonton televisi. Sebentar lagi sinetron kesayangan Mama akan tayang."
TBC
.
.
__ADS_1
.