
"Bangunlah, Ma! Jika Mama bangun, aku berjanji kelak tak 'kan pernah membentakmu lagi. Cukup sekali aku memarahimu di hadapan Papa. Di kemudian hari, kejadian itu tidak akan terulang lagi 'tuk kedua kali. Jika sampai terulang kembali, Mama boleh memukulku menggunakan rotan sampai badanku biru-biru, aku ikhlas ... asalkan Mama mau bangun dan tetap berada di sisiku selamanya."
Raihan kembali menatap wajah Lena yang nyaris dipenuhi luka bakar. Ia menghela napas kasar. Sebenci apa pun dia kepada sang mama, namun saat melihat wanita itu tak berdaya hati kecilnya tetap menangis, menjerit karena tidak tega melihat penderitaan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Meskipun masa lalu Lena kelam tapi wanita itu tetaplah ibu kandungnya yang patut dihormati dan disayangi, sebab surganya Raihan ada di bawah telapak kaki sang mama.
"Ma, maaf. Aku tidak bisa menemanimu lama-lama. Aku harus membesuk Papa di ruangan sebelah. Kata dokter, kondisi Papa pun kritis tapi aku tidak tahu bagaimana kesehatannya sekarang. Kalau sudah dapat informasi dari dokter, aku datang ke sini dan menceritannya kepada Mama. Mama, pasti kepo juga 'kan?" Raihan mencoba tersenyum dipaksakan. "Ya sudah, aku pergi dulu. Bye, Mama! Aku harap, saat kembali ke sini menemukan Mama sudah terbangun." Pria muda itu mencium punggung tangan Lena sebelum meninggalkan ruangan sang mama.
***
Membuka pintu ruangan dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara bising apa pun saat menemui papanya. Melangkah maju ke depan, mendekati kursi di sebelah ranjang rumah sakit. Ia dudukan bokongnya di atas kursi bundar yang tadi digunakan oleh Rayyan, kakaknya.
Hangat! Itulah yang ia rasakan saat pertama kali menduduki kursi kayu berbentuk bundar. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari jejak tersisa untuk mengetahui siapakah gerangan yang datang bertandang, menemui Firdaus? Mungkinkah Rayyan, kakak kandungnya?
Raihan menggelengkan kepala cepat sambil bergumam, "Mana mungkin Kak Rayyan datang ke sini. Dia 'kan sangat membenci Papa." Hingga detik ini, ia belum tahu jikalau Rayyan dan Arumi berada di gedung rumah sakit yang sama dengannya.
Tak ingin larut dalam pikirannya sendiri, ia menatap Firdaus yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Pemandangan di depan sana terlalu sedih untuk dilukiskan.
Untuk ke sekian kali, anak bungsu hasil pernikahan siri Firdaus dengan Lena berlinang air mata memandang kehancuran papa tercinta. Pria tampan di depan sana dalam keadaan lemah tak berdaya. Kemudian ingatan akan masa lalu saat dirinya masih kecil menari indah di pelupuk mata.
__ADS_1
"Papa ... ini aku, Raihan, anak bungsumu," ucapnya dengan bibir gemetar. Suara pria itu tercekat di tenggorokan. Hatinya benar-benar hancur kala di depan mata kepalanya sendiri menyaksikan bagaimana papa tercinta tak sadarkan diri dengan luka bakar parah nyaris menutupi tubuhnya yang gagah. "Maafkan aku, Pa, karena selama Papa dirawat di rumah sakit, tidak sekalipun aku membesukmu."
"Bukannya aku tidak mau bertemu dengan Papa dan Mama. Hanya saja, rasa sakit di hatiku akibat kebohongan yang kalian lakukan selama ini belumlah kering." Raihan kembali berucap. Ia mencoba memberikan penjelasan kepada sang papa walau tahu jika pria itu tak bisa merespon, tetapi dosen berwajah tampan itu tetap mengajak papa-nya berbicara.
Siapa tahu, ada tanda-tanda bahwa pria paruh baya yang pernah menjabat sebagai direktur rumah sakit menunjukan tanda-tanda bahwa tersadar dari koma dan dapat melewati masa kritis. Kita semua tidak ada yang tahu sebelum mencobanya, bukan?
"Aku merasa seperti orang bodoh, membenci orang tak bersalah. Padahal kenyataannya dalang di balik kebencian Kak Rayyan bersumber dari Mama-ku sendiri. Seandainya saja aku tahu itu sejak lama, sudah pasti diriku tidak akan membenci dia. Hubungan kami pun mungkin tidak serenggang ini. Ehm ... mungkin ... kami bisa menjadi kakak adik seperti orang di luaran sana meski aku tak yakin jika Kak Rayyan mau menerimaku sebagai adik kandungnya." Tersenyum kaku ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Adik kandung? Bagaimana mungkin itu terjadi sedangkan hubungan mereka selama ini tidak pernah akur, selalu saja bertengkar walau hanya karena hal sepele. Aah ... rasanya otak Raihan telah bergeser beberapa centi dari tempatnya.
Raihan mengembuskan napas panjang. "Pa, tadi aku sudah bertemu dengan Mama. Kondisinya pun sama memprihatinkan sepertimu. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Seandainya saja saat itu aku tidak pergi dari rumah mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Papa Mama masih sehat walafiat dan dapat melakukan aktivitas apa pun tanpa bantuan dari siapa pun."
Raihan menatap Firdaus yang masih tak sadarkan diri. Tatapan mata menghangat sama seperti dulu, saat semua kebenaran belum terungkap. Ia menyondongkan tubuh ke depan, mengusap puncak kepala papa-nya dengan sangat hati-hati. "Malam ini aku akan menginap di sini, menjaga Papa dan Mama. Jadi, kalian tidak perlu takut pada hal apa pun karena ada aku yang menemani."
***
"Babe, ini sudah jam sembilan malam. Sebaiknya kamu pulang ke apartemen, anak-anak pasti menangis mencarimu."
__ADS_1
Arumi yang saat itu tengah duduk di bangku taman sambil menatap gemerlap bintang di atas langit menoleh ke samping. Menautkan kedua alis petanda bingung. "Aku ... pulang sendirian ke apartemen?" Menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuk.
Rayyan mengangguk cepat. "Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan menginap di sini, menemani Papa. Walaupun besar kemungkinan bertemu si Berengsek itu, aku tak peduli. Aku cuma mau berada di samping Papa di saat kritis seperti ini. Bagaimanapun buruknya Papa, dia tetap orang tuaku. Aku ... tidak bisa terus membenci dirinya."
Kedua sudut Arumi tertarik ke atas, seulas senyuman lebar terlukis di wajah. "Baiklah, kalau kamu memang sudah yakin akan menginap di sini aku tidak keberatan pulang ke apartemen sendirian."
Tangan kekar Rayyan terulur ke depan, ia menangkup wajah istrinya dan menatap lekat iris coklat milik sang pujaan hati. "Terima kasih, Arumi, karena kamu selalu ada di sisiku saat aku membutuhkan seseorang. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika bukan kamu yang menjadi istriku. Mungkin aku--"
"Sst!" Jari telunjuk berada tepat di depan bibir Rayyan. "Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi. Aku dan anak-anak akan selalu berada di sisimu, selamanya. Mengerti?"
Rayyan hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Dalam hati merasa bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan dia dengan wanita sebaik, seanggun dan secantik Arumi, istrinya.
Sambil menunggu pak Burhan datang menjemput, Rayyan mengajak Arumi menunggu di lobi rumah sakit. Tampak keduanya asyik berbincang hangat sambil sesekali terdengar kekehan ringan bersumber dari keduanya. Terlalu sibuk bersenda gurau bersama pujaan hati dua sejoli itu tak menyadari jikalau ada seseorang sedang berdiri di belakang, memperhatikan mereka dengan sorot mata yang tidak terbaca.
Merasa tengah diperhatikan oleh seseorang, Rayyan membalikan badan dan alangkah terkejutnya dia bertemu kembali dengan sosok pria yang begitu dibenci olehnya. "Kamu!" ucap kedua pria itu hampir bersamaan.
.
__ADS_1
.
.