Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tingkah Absurb Bumil (Ibu Hamil)


__ADS_3

Suasana ramai berubah hening seketika saat mendengar suara lantang seseorang dari arah belakang. Seluruh tamu undangan tidak ada yang berani membuka suara. Sorot mata menatap tajam ke arah sosok itu. Akan tetapi, wanita cantik yang berdiri di depan meja penerima tamu tak merasa terintimidasi sama sekali, ia terus menghunuskan tatapan tajam mengarah ke depan.


Wanita cantik itu berdiri seraya menatap sengit ke arah sepasang suami istri yang tengah membulatkan mata dengan sempurna karena terkejut akan kedatangannya. Bagaimana tidak, wanita itu datang lalu berteriak di tengah acara berlangsung sehingga membuat seluruh tamu undangan menghentikan kegiatan mereka yang tengah asyik menikmati hidangan yang disediakan oleh sang empunya rumah.


Dari arah belakang, seorang pria berusia sekitar dua puluh delapan tahun menggelengkan kepala. Tahu betul bahwa saat itu sang istri sedang emosi karena ia tak diberitahu jikalau hari ini akan ada acara spesial di kediaman Nyimas. Ditambah hormon estrogen dan progresteron meningkat sslama masa kehamilan sehingga membuatnya mengalami perubahan suasana hati yang sering berubah-ubah dalam hitungan detik.


"Sudah, Baby. Jangan marah lagi. Positive thinking saja, siapa tahu mereka lupa memberitahumu," bujuk Rio pada Rini.


Ya, benar sekali. Wanita itu adalah Rini, sahabat Arumi sedari kecil. Rasa kesal bercampur marah terlukis jelas di raut wajah dokter cantik yang mengambil spesialis kesehatan jiwa. Ia kesal karena tak diberitahu perihal kehamilan sang sahabat yang telah memasuki usia kehamilan minggu ke-20 padahal dirinya selalu menjadi orang nomor kedua setelah Nyimas saat istri cantik dari Muhammad Rayyan Firdaus sedang berbahagia. Namun, kali ini ia tidak berada di urutan kedua semenjak Arumi menikah dengan Rayyan.


Ehm ... mungkinkah Rini tengah cemburu karena posisi wanita itu di hati Arumi mulai tergantikan oleh Rayyan? Entahlah, hanya ia dan Tuhan saja yang tahu isi hati wanita itu.


Rini berdecak kesal. "Bagaimana tidak marah, mereka tak memberitahuku jikalau ada acara di rumah Tante Nyimas," sahutnya dengan emosi mengebu-ngebu. Kedua tangan mengepal sempurna di samping tubuh.


Rio masih ingin berbicara, mencoba membujuk Rini agar tak meluapkan kekesalannya. Ia khawatir jikalau istrinya itu akan menghancurkan acara yang susah payah disusun oleh Rayyan, sahabatnya sendiri.


Di saat mulut Rio terbuka, Rini sudah terlebih dulu menginterupsi. "Sebaiknya kamu diam saja, Mas. Jika tidak mau kusuruh tidur di kamar tamu!" ancamnya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Aku akan mendekati mereka dan membuat perhitungan karena tidak mengajakku bersenang-senang."


Usai meminta sang suami menunggunya di tempat mereka berdiri saat ini, Rini mengayunkan kaki melangkah maju ke depan. Dada bergerak turun naik, serta wajah memerah menahan amarah. Wanita itu tak memedulikan tatapan aneh yang ditujukan kepadanya, ia terus melangkah hingga berdiri di depan sofa berwarna putih yang biasa digunakan saat seseorang mengadakan resepsi pernikahan.

__ADS_1


Acara tasyakuran 4 bulanan Arumi, atas izin Nyimas, Rayyan menggunakan dua tempat yang berbeda. Untuk pengajian atau acara inti, seluruh tamu undangan beserta pemangku hajat berada di dalam ruangan (indoor) sedangkan untuk acara ramah tamah, menggunakan halaman depan rumah (outdoor) yang cukup luas mampu menampung kurang lebih empat puluh orang sehingga para tamu dapat duduk santai sambil menikmati hidangan yang tersedia.


Hari ini, halaman depan rumah Nyimas disulap sedemikian rupa. Dekorasinya tampak mewah dan meriah. Rayyan sengaja memilih backdrop dari fake grass ditambah dengan tirai vitrase, cermin antik dan vase bunga berwarna silver menjadikan halaman depan rumah terlihat begitu elegan. Beberapa pot bunga sengaja diletakkan di spot tertentu untuk menciptakan suasana segar layaknya berada di taman bunga.


Setelah berada di hadapan Arumi dan juga Rayyan, Rini berkacak pinggang sambil mendengus kesal. "Kalian berdua menganggapku apa! Kenapa tak ada yang memberitahuku tentang kabar kehamilanmu!"


Meledak sudah bom waktu dalam diri Rini yang sedari tadi sudah memberikan sinyal bahaya. Ledakan bom itu berhasil meluluhlantakan semua yang ada di sekitar. Sahabat terbaik Arumi berubah menjadi sosok paling menyeramkan di bumi ini.


Arumi yang masih terkejut akan kedatangan Rini terpana dan bingung, mengapa sahabatnya ada di hadapannya saat ini. Padahal ia sengaja tidak memberitahu Rini ataupun Rio sebab ingin datang ke rumah mereka memberikan kabar bahagia itu sekaligus mengadakan acara tasyakuran yang hanya dihadiri oleh Rini, Rio, si kembar beserta mama Rio.


Wanita itu bingung sendiri hendak bercerita mulai dari mana, sebab isi pikirannya saat ini kosong melompong. Ia tak dapat berpikir jernih karena semua terjadi begitu tiba-tiba.


"Kami memang sengaja tak memberitahumu karena rencananya ingin datang langsung ke rumahmu sekalian mengadakan acara tasyakuran yang hanya dihadiri oleh keluarga Rio. Lagi pula, aku dengar dari suamimu kalau kamu tengah hamil muda. Oleh karena itu, aku dan Arumi sepakat untuk tidak memberikan undangan padamu," jelas Rayyan. Mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara sang istri dengan Rini.


Susah payah Rayyan menjelaskan alasan mereka mengapa tak mengundang Rini, namun wanita itu sama sekali tidak mau mengerti. Masih tak terima dengan alasan yang dikatakan oleh pria bermata sipit.


"Ck! Alasan. Bilang saja kalian sudah tak mau menganggapku sebagai bagian dari anggota keluarga mendiang Papa Zidan, iya 'kan?" dengkus Rini jengkel karena merasa dirinya diabaikan.


Mendengar penuturan Rini, Arumi menjadi gelagapan. Mana mungkin ia tak menganggap wanita itu lagi menjadi bagian dari keluarga Zidan, sedangkan telah banyak cerita yang dilaluinya bersama sahabatnya itu.

__ADS_1


"Eeh ... m-mana bisa begitu. A-aku sama sekali tidak kepikiran ke sana, Rini." Saking paniknya, Arumi sampai bangkit dari kursi dan mengusap pundak Rini.


"Kamu jahat, Arumi. Jahat!" ucap Rini lirih. Lalu, wanita itu mulai meneteskan air mata. Kedua pundak bergerak turun naik.


Sama-sama tengah berbadan dua, dan mengalami suasana hati yang sering berubah-ubah membuat Arumi ikut menangis. Buliran air mata membasahi pipi. Dua orang sahabat itu menangis sesegukan, hingga membuat para tamu undangan menatap cengo ke arah mereka.


"Lah, kenapa pemangku hajat malah ikutan menangis?" celetuk salah satu tamu undangan. Tamu itu menyendokan nasi ke dalam mulut seraya menonton drama langka yang disiarkan secara live.


"Bukankah itu Rini, ya, sahabat Mbak Arumi?" timpal tamu undangan yang duduk di sebelahnya. "Eeh ... sepertinya dia sedang mengandung juga. Pantas saja dia menangis tergugu. Lah wong sama-sama sedang mengalami mood swing." Tamu itu terkekeh karena baru sadar alasan apa yang membuat dua dokter cantik itu menangis.


Rayyan mendes*h panjang. "Begini nih kalau dua ibu hamil dipertemukan dan suasana hati sedang melow, jadi mudah menangis."


"Hanya karena salahpaham, malah jadi bahan tontonan," gumam Rio seraya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


Rayyan dan Rio saling memandang. Detik berikutnya mereka tertawa. Kedua pria tampan itu tak kuasa menahan rasa geli yang menggelitik di perut. Takjub akan kekuatan ibu hamil, yang dapat menangis, marah, sedih dan bahagia di waktu hampir bersamaan.


"Aya-aya weh!" ujar Rayyan lirih seraya tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2