
Para warga telah dipersilakan kembali ke rumah masing-masing, begitu pun dengan Reza beserta kedua orang tuanya. Ikbal memperbolehkan pemuda itu pulang, tetapi tak mengizinkannya bepergian ke mana pun. Bila dia sampai melanggar maka ketua RW bisa menemukannya walau bersembunyi di lubang semut sekalipun masih bisa ditemukan.
Yang tersisa hanya Husni dan Ikbal serta suami Mona di kediaman Kayla. Ayah kandung Tasya bergegas pulang setelah mendengar insiden pengeroyokan yang terjadi kepada Alvin.
"Pak RT, Pak RW, silakan diminum dulu tehnya. Maaf, hanya bisa menghidangkan minuman ini saja," tutur Mona seraya menyodorkan gelas ke hadapan Ikbal dan Husni.
"Tidak usah repot-repot, Bu Mona. Kami hanya ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja sebelum saya dan Pak Husni pulang ke rumah," sahut Ikbal. "Benar begitu, 'kan, Pak Husni?" Melirik sekilas ke arah keponakannya yang masih menundukan kepala. Entah apa yang dipikirkan oleh duda beranak satu. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.
"Eh ... b-bagaimana, Om?" Husni menjawab dengan suara terbata-bata. Netra pria itu tanpa sengaja mengarah kepada iris coklat milik Kayla.
Sesaat, Husni dan Kayla bertatapan begitu dalam seperti tengah tersesat pada sebuah dimensi lain dan hanya ada mereka saja di sana.
Ikbal yang kebetulan sedang memperhatikan tingkah laku mereka menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar. Melihat keponakannya menatap intens serta membela Kayla habis-habisan sampai rela menghajar lelaki lain demi wanita di hadapannya, dia begitu yakin kalau Husni memang menyimpan rasa kepada sang mantan model.
"Bu Kayla cantik ya, Pak Husni?" celetuk Ikbal. Alih-alih mengulang kembali perkataannya, dia malah sengaja menjebak ketua RT dengan pertanyaan lain.
"Sangat cantik, Pak. Seperti Bidadari yang turun dari Kayangan," sahut Husni tanpa sadar. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa dipikir terlebih dulu olehnya.
Sontak, semua orang yang ada di ruang tamu terkekeh mendengar jawaban Husni. Sementara Kayla menundukan wajah, menyembunyikan rona merah di wajahnya yang polos.
Sadar bila dirinya telah mengatakan sesuatu perkataan yang tidak pas, Husni mengerjapkan mata berkali-kali berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat melayang saat memandangi keindahan ciptaan Tuhan di depannya.
"Ehm ... maaf, tadi saya sempat melamun." Berkata kikuk sambil mengarahkan pandangan ke arah lain.
Tidak ingin membuat Husni semakin tak punya muka di depan warganya, Ikbal mengalihkan topik pembicaraan. "Sementara ini, biarkan Pak Alvin tinggal di sini untuk beberapa saat. Saya akan meminta Imran dan Ahmad berjaga di sini sambil menunggu kesehatan teman Bu Kayla membaik. Setelah itu, baru menanyakan langkah apa yang ingin diambil olehnya. Ingin menempuh jalur hukum atau berdamai."
"Sambil menunggu, kalau bisa saya minta Bu Kayla mengungsi sementara waktu di rumah Bu Mona. Menghindari fitnah yang sengaja ditebar demi menjatuhkan nama baik Ibu," sambung Ikbal mengutarakan keinginannya. Sebagai ketua RW, tentu saja dia tidak mau kabar burung semakin luas beredar dan malah memperkeruh suasana.
Masih dalam posisi menunduk, Kayla menjawab, "Saya pasti menerima saran Pak RW. Mulai malam ini akan tidur di rumah Mona."
__ADS_1
Usai menghabiskan hidangan yang disediakan oleh tuan rumah, Ikbal dan Husni undur diri. Kedua lelaki itu pergi meninggalkan rumah Kayla.
Saat ini, mantan jawara dan sang keponakan tengah berada dalam perjalanan pulang. Mengendarai kendaraan roda dua menyusuri jalanan kampung yang sepi.
"Husni, Om tahu bagaimana perasaanmu terhadap Bu Kayla," ucap Ikbal memecah keheningan. "Bila kamu menyukainya utarakan saja. Jangan terus dipendam seorang diri."
Husni melebarkan bola mata dengan sempurna, tidak menyangka kalau orang lain tahu apa yang dirasakan olehnya selama ini. Susah payah menyembunyikan rasa cinta, rupanya adik dari sang ibu mengetahui perasaan pria itu terhadap Kayla.
"Om ini sudah lama merasakan asam manisnya kehidupan. Bahkan, pernah merasakan bagaimana hidup di dalam sel tahanan. Hanya melihat matamu, Om tahu kalau kamu menaruh hati kepada wanita itu. Saran Om, temui dia dan ungkapkan perasaanmu kepadanya."
Menghela napas kasar, lalu menyahut, "Tapi aku takut ditolak. Om tahu sendiri, pendidikanku hanya tamatan SMA. Duda beranak satu, pekerjaan hanya ketua RT dan berdagang sembako di pasar. Bagaimana bisa membahagiakan Bu Kayla yang tak lain adalah mantan model. Jika dibandingkan dengan pria yang pernah digosipkan menjadi selingkuhan wanita itu, aku tak ada arti apa-apa. Cuma butiran debu yang kalau ditiup maka terbang entah ke mana."
Ikbal terkekeh pelan setengah berkelakar. "Memangnya kenapa kalau Bu Kayla adalah mantan model? Kamu minder bersanding dengan dia?" Husni hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Nak, kamu memang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekasih Bu Kayla terdahulu. Namun, kamu mempunyai hati yang tulus dan cinta suci untuk diberikan kepada wanita itu. Om yakin, Bu Kayla pasti menghargai perasaanmu ini. Jangan mudah menyerah dulu sebelum berperang!"
"Jadi, menurut Om, aku harus bagaimana?"
Husni melirik Ikbal dari kaca spion, kemudian menarik napas dalam. "Baiklah, aku akan mencobanya. Do'akan aku ya, Om."
Ikbal menepuk pundak Husni dengan pelan. "Om selalu mendo'akan yang terbaik untukmu dan juga Adinda."
***
Sebagai seorang dosen di fakultas keperawatan membuat Raihan disibukan oleh segudang kegiatan di kampus. Bukan hanya mengajar, tetapi dia juga dipercaya menjadi dosen pembimbing skripsi mahasiswa S1 bidang studi ilmu keperawatan. Rektor kampus tempatnya bekerja merupakan kenalan anak bungsu mendiang Firdaus saat mereka mengikuti pelatihan tingkat nasional di kota Bogor dua tahun lalu. Sejak saat itu, mereka menjadi dekat dan berteman baik.
Raihan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Saat ini, ia dan Lena sedang menikmati sarapan di ruang makan.
"Ma, aku harus berangkat sekarang. Pukul setengah sepuluh nanti ada janji dengan salah satu mahasiswaku untuk bimbingan skripsi. Aku tidak mau sampai telat tiba di kampus," ucap Raihan. Meraih tisu yang ada di atas meja makan, kemudian mengusut sisa makanan di sudut bibir.
__ADS_1
Lena meletakkan satu set alat makan di atas piring, lalu menjawab, "Iya, kamu hati-hati di jalan. Ingat, jangan ngebut!" nasihatnya sebelum Raihan berangkat meninggalkan rumah menuju kampus.
"Mama tenang saja. Aku akan selalu mengingat nasihatmu." Raihan mencium punggung tangan Lena. "Aku pergi sekarang."
Usai berpamitan dan memberikan sedikit wejangan kepada Puspa serta mbok Darmi, Raihan melanjukan kendaraan roda empat miliknya ke sebuah universitas terkenal di kota Yogyakarta. Universitas yang dikenal telah banyak mencetak lulusan berprestasi disegala bidang baik akademik maupun non akademik.
Berparas rupawan dengan hidung mancung, alis tebal dan melengkung indah di atas sepasang mata tajam serta memikat membuat siapa saja yang melihat akan tertarik seketika. Tak jarang banyak mahasiswa keperawatan berbisik dan tersenyum melihat ketampanan dan kegagahan sang dosen muda. Angan mereka berandai-andai bagaimana jadinya bila sosok pria itu menjadi kekasih dunia akhirat.
"Lihat, bukankah itu dosen pembimbing yang menggantikan Pak Abdullah? Bila diperhatikan, Pak Raihan memang cukup tampan dan memenuhi kriteria menjadi calon suami. Pantas saja para mahasiswi kampus ini berlomba-lomba menarik perhatian beliau," ucap salah satu mahasiswi semester akhir--bernama Clara.
Seorang gadis berusia dua puluh satu tahun mengikuti arah pandang sang sahabat. Berjarak sekitar dua meter dari posisinya berdiri tampak Raihan sedang berjalan di depannya.
Tanpa sengaja, tatapan mata bertemu dengan iris coklat jernih dan begitu menenangkan. Lalu, gadis itu menyunggingkan seulas senyuman di sudut bibir. "Kamu benar, Pak Raihan memang tampan. Hanya saja dia sedikit dingin terhadap wanita. Tapi, aku sangat yakin suatu saat nanti gunung es dalam diri pria itu bisa mencair berkat kegigihanku."
"Kegigihanmu? Maksudnya, kamu berniat mendekati Pak Raihan, begitu?" tanya Clara, memastikan kalau ia tak salah mengartikan maksud dari perkataan sang sahabat.
Gadis cantik berwajah oval mengangguk cepat. "Yeah! Sedingin-dinginnya lelaki maka ada satu titik di mana dia akan luluh dan mencair meski gunung es dalam diri pria itu begitu kokoh."
Mendengar jawaban Valerie, Clara terbahak hingga membuat beberapa orang di sekitar memandang aneh ke arah mereka. Tak ingin membuat kebisingan, ia membungkam mulut menggunakan telapak tangan.
"Oh astaga, Va. Jadi, kamu berniat meluruhkan gunung es dalam diri Pak Raihan. Begitu?" tanya Clara lirih setengah berbisik.
"Betul. Aku yakin dengan kecantikan serta pesona yang kumiliki, Pak Raihan akan jatuh ke dalam pelukanku." Valerie menoleh ke arah Clara dan kembali berkata, "Mau taruhan?"
Clara memicingkan mata tajam, lalu menjawab, "Siapa takut! Bila kamu berhasil mendapatkan Pak Raihan maka mobil sport yang baru saja dibelikan Papa-ku berhak menjadi milikmu. Namun, apabila kamu gagal maka mobil kesayanganmu itu harus jatuh ke tanganku. Bagaimana, deal?" Anak tunggal pemilik real estate di beberapa kota besar mengulurkan tangan ke depan.
"Oke, deal!" sahut Valerie singkat sambil menjabat tangan Clara sebagai bentuk kesepakatan.
.
__ADS_1
.
.