Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pupus Harapan


__ADS_3

Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela, menyentuh wajah Kayla. Pasca dilakukan operasi, wanita berusia dua puluh lima tahun itu terlelap hingga nyaris tak terbangun dari tidurnya yang panjang. Entah karena pengaruh obat bius atau memang ia terlalu nyaman bergelung di bawah selimut rumah sakit hingga membuat Kayla enggan membuka kelopak mata.


Ketika sinar rembulan telah tergantikan oleh sinar matahari, Kayla baru sadarkan diri. Perlahan, wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali. Saat kelopak matanya terbuka sempurna, ia memindai isi ruangan itu. Tempat itu begitu asing bagi Kayla.


Wanita itu hendak bangkit dari tidur tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit apalagi di bagian perut. Tak sengaja ia menyentuh luka bekas operasi hingga membuat Kayla meringis kesakitan.


"Aw!" ucap Kayla lirih. Menahan rasa sakit yang merambat ke seluruh tubuh.


Dari jarak sekitar satu meter, ia melihat seorang wanita tengah tertidur di atas sofa panjang yang ada di ruang perawatan. Walaupun wajah wanita itu tak begitu jelas karena menghadap ke arah sandaran sofa tetapi Kayla yakin kalau itu adalah Mona--asistennya.


"Mona ...." ucap Kayla lirih. Sekuat tenaga ia menggunakan kemampuan yang tersisa untuk memanggil asistennya tersebut. Percobaan pertama gagal lalu wanita itu mencoba memanggil Mona tuk kedua kali.


Merasa ada yang memanggil namanya meski terdengar lirih tetapi Mona dapat mendengar jelas panggilan itu. Ia bangkit dari sofa kemudian menghampiri Kayla.


"Kayla ... syukurlah kamu sudah sadar." Rona kebahagiaan terlukis di wajah Mona. Bola mata wanita itu berpendar bahagia. "Kamu membuatku cemas karena hampir seharian tidak sadarkan diri."


"Kamu tahu, sudah berapa lama dirimu tertidur di atas ranjang ini?" Wanita itu menarik kursi bundar yang ada di sisi ranjang, lalu duduk secara perlahan. Kayla menggelengkan kepala lemah sebagai jawaban.


"Kurang lebih selama dua puluh jam." Mona menekankan setiap kalimat yang terucap di bibir wanita itu. "Kamu itu sudah hampir menyerupai koala karena tidur selama hampir dua puluh dua jam."


Kayla memutar bola matanya dengan malas. Mendengar omong kosong terucap dari bibir Mona membuat ia jengah. Meskipun kondisi tubuh lemah tetapi wanita itu masih memiliki energi untuk memarahi seseorang.


"Jangan samakan aku dengan hewan itu! Jelas-jelas aku lebih cantik dan lebih sempurna dari dia!" dengus Kayla kesal. Ia tak terima jika disamakan oleh hewan berkantung khas dari Australia.


Lalu, netra wanita itu tak sengaja melihat selang infus menancap di punggung tangan. Tiba-tiba sekelebat kejadian kemarin siang terlintas di benak Kayla. Saat ia melabrak seorang wanita tengah berbincang hangat bersama suami tercinta sampai detik-detik sebelum kejadiaan naas itu menimpa dirinya terekam jelas dalam memori ingatan wanita itu.


"Mona, katakan padaku apa yang terjadi setelah kecelakaan kemarin siang?" tanya Kayla penasaran sebab setelah kecelakaan itu, ia tak sadarkan diri.


"Mona! Cepat katakan, apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya seluruh tubuhku terasa sakit dan perutku--" Perkataan Kayla terhenti di udara. Susah payah ia menyingkap selimut dan pakaian rumah sakit yang dikenakan. Bola mata wanita itu melebar kala melihat ada luka yang tertutup kain kasa di bagian perut Kayla.

__ADS_1


"K-kenapa ada luka di perutku, Mona?" tanya wanita itu terbata-bata. Tangan wanita itu mengusap bagian perut yang tak terkena perban. "Apakah terjadi sesuatu pada kandunganku?" Raut wajah wanita itu berubah mendung. Ia menahan sesuatu di peluk mata agar tak ada yang jatuh membasahi pipi.


Mona menarik napas panjang. Wanita itu sadar akan ada saatnya di mana Kayla bertanya mengenai kondisi bayi dalam kandungannya. Ia sudah mempersiapkan mental serta kalimat yang tersusun rapi untuk disampaikan pada temannya itu.


Jemari tangan Mona menyentuh lembut lengan Kayla. Lagi dan lagi, ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang telah ia persiapkan sebelum temannya itu tersadar dari pengaruh obat bius.


"Akibat benturan yang sangat keras menyebabkan kandunganmu tak bisa diselamatkan. Kamu mengalami pendarahan hebat sehingga dokter memutuskan melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawamu. Bukan hanya itu saja, dokter pun terpaksa melakukan operasi histerektomi atau pengangkatan rahim karena rahimmu sudah rusak."


"Itu artinya, selamanya aku tidak akan pernah bisa hamil lagi?" tanya Kayla ragu. Mona hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


Suara Mona bagaikan suara gemuruh petir di siang bolong. Begitu mengejutkan Kayla hingga membuat tubuh wanita itu semakin lemas. Ia merasakan bumi tempatnya berpijak tak lagi berputar. Seisi dunia runtuh mengenai tubuh dan mengubur wanita itu hidup-hidup.


"Tidak ... ini tidak mungkin terjadi padaku." Wanita itu menggelengkan kepala tidak percaya akan apa yang diucapkan oleh Mona. "Katakan padaku, Mona, kalau kamu sedang berbohong."


"Tidak, Kay. Aku tidak berbohong," ucap Mona lirih.


Air mata sudah jatuh membasahi pipi. Perlahan, Kayla meraba perutnya yang masih datar. Baru kemarin ia memeriksakan kandungan dan dokter mengatakan kalau calon anaknya itu dalam keadaan baik-baik saja. Namun, hari ini ia harus kehilangan anak itu untuk selamanya.


"Aku tidak mau kehilangan bayiku, Mon. Dia harapanku satu-satunya untuk dapat memiliki Mas Mahesa seutuhnya. Dia tidak boleh pergi meninggalkanku," ucap Kayla disela suara isak tangis menyayat kalbu.


"Kenapa kamu mengizinkan dokter melenyapkan nyawa bayiku dan mengangkat rahimku! Kenapa?" teriak Kayla dengan terisak-isak.


"Sabar, Kay. Anggap saja semua ini adalah teguran dari Tuhan atas semua kesalahan yang pernah kamu perbuat pada Arumi." Mona memeluk Kayla yang menangis sesegukan setelah mendengar suatu hal yang dapat menghancurkan harapannya untuk menjadi wanita seutuhnya.


Mendengar nama wanita yang sangat dibenci oleh Kayla, emosi wanita itu semakin bertambah. Ia mendorong tubuh Mona hingga nyaris terjerembab. Beruntungnya tangan wanita itu segera menahan dinding yang ada di belakang tubuh.


"Jangan pernah ucapkan nama Ja*ang itu lagi di hadapanku, Mon! Aku membenci wanita itu seumur hidupku!" teriak Kayla histeris.


"Kayla, tenanglah." Mona melangkahkan kaki mendekati ranjang. Walaupun Kayla telah mendorongnya tetapi ia tak tega melihat wanita yang telah dianggap keluarganya itu meratapi nasibnya seorang diri. Bagaimanapun, ia dan Kayla telah banyak menjalani lika-liku kehidupan ini bersama-sama. Jatuh bangun mereka bersama hingga berada di titik kesuksesan seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Kenapa Tuhan tidak pernah berlaku adil padaku? Kenapa, Mon?" tanya Kayla lirih. Kini, tubuh wanita itu ada dalam pelukan Mona. Ia menangis sesegukan dalam dekapan sang asisten.


"Sejak kecil aku hidup menderita. Tidak ada orang yang sayang padaku. Ayah dan Ibuku entah pergi ke mana. Mereka membuangku begitu saja seperti seonggok sampah yang tak diharapkan keberadaannya."


"Aku baru saja mengecap manisnya kebahagiaan tetapi kini Dia telah merampasnya kembali."


Mona mengeratkan pelukan, kemudian mengusap punggung Kayla dengan lembut. "Sudahlah, jangan bersedih lagi. Aku yakin, Mas Mahesa akan selalu mencintaimu walaupun kamu sudah tak bisa memberikan keturunan padanya. Kamu masih bisa bahagia meski tanpa kehadiran seorang anak di tengah pernikahan kalian."


Kayla mengurai pelukan. Menatap manik coklat Mona dengan lekat. Masih terlihat jelas air mata mengalir di pipi wanita itu.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu, Mon? Apakah benar Mas Mahesa masih mencintaiku kendati aku sudah tak lagi dapat memberikan anak untuknya?"


Tangan Mona terulur ke depan. Wanita itu mengusap air mata Kayla menggunakan tisu yang ia ambil dari atas nakas di sisi ranjang.


"Tentu. Aku sangat yakin suamimu itu sangat mencintaimu, Kay. Bukankah kamu bilang kalau dia begitu mencintaimu melebihi apa pun?"


Kayla bungkam. Keadaan ruangan itu hening seketika. Sebelum kejadiaan naas itu menimpa ia dan Mahesa, Kayla begitu yakin bahwa rasa cinta di dalam hati sang suami begitu besar padanya. Akan tetapi, kejadian kemarin siang membuat pikiran wanita itu terbuka jika posisi Arumi masih berada tepat di atas dirinya.


Membayangkan detik-detik sebelum kecelakaan terjadi, membuat Kayla tersulut emosi. Sebelah tangan wanita itu mengepal di samping, rahang mengeras dan deru napas tak beraturan.


'Ini semua gara-gara wanita itu. Andai saja Mas Mahesa tak lagi mencintai Arumi, mungkin saat ini bayiku masih ada di dalam perut dan aku bisa hidup berbahagia bersama keluarga kecilku tanpa ada bayangan masa lalu wanita itu.'


'Aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita Arumi. Demi calon bayiku yang telah meninggal. Tak kan kubiarkan kamu hidup bahagia di atas penderitaanku.'


"Ya sudah, kamu sebaiknya istirahat lagi. Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksamu." Mona menyingkirkan rambut Kayla yang menutupi sebagia wajahnya. Kemudian menarik selimut hingga menutup dada.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2