Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Gala Yuzawa, Jepang


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan USG dan menebus resep yang dituliskan oleh dokter Anin, Rayyan bergegas mengajak Arumi pergi ke stasiun kereta. Pria itu berencana membawa istri tercinta bermain salju di Resort Ski Gala Yuzawa.


Selama berada di dalam kereta, genggaman tangan Rayyan tak pernah lepas dari jemari lentik Arumi. Pria itu begitu posesif terlebih setelah tahu jika malam pertamaa mereka dilakukan setelah beberapa hari Arumi bersih dari tamu bulanan. Secercah harapan untuk memiliki malaikat kecil dalam rahim istri tercinta muncul dalam hati pria berwajah oriental. Ia berharap dari banyaknya cairan kenikmatan yang disemburkan ke dalam rahim sang istri ada satu atau dua sel telur yang berhasil dibuahi sehingga tumbuh calon buah hati mereka.


"Ray, apakah setiap musim dingin tiba dan waktu liburan selalu ramai seperti sekarang?" bisik Arumi saat ia dan Rayyan tengah duduk di dalam kereta. Pasangan suami istri itu berbaur dengan pengunjung lain yang hendak pergi ke Gala Yuzawa.


Banyak wisatawan yang berbondong-bondong menaiki kereta Shinkansen untuk pergi ke resort ski Gala Yuzawa, terletak di prefektur Niigata, sebelah utara Tokyo dan ada juga yang memang berhenti sebelum stasiun Gala Yuzawa.


Rayyan yang duduk di sebelah Arumi mengedarkan pandangan ke sekitar, karena terlalu sibuk memandangi kecantikan wajah sang istri, ia sampai tak menyadari jika saat ini kereta cepat tersebut telah terisi oleh para pengunjung yang sebagian hendak pergi ke tujuan yang sama dengannya.


"Tentu saja. Hampir semua penduduk Jepang dan wisatawan jika ingin pergi ke tempat wisata yang jaraknya cukup jauh, mereka akan menggunakan moda transportasi ini. Ya, walaupun ada beberapa orang yang memilih menggunakan kendaraan pribadi, tapi kereta cepat ini menjadi primadona di negara ini," tutur Rayyan panjang lebar.


Tampak Arumi menganggukan kepala sebagai jawaban. "Lantas, apakah lokasi yang akan kita datangi ini tetap buka meskipun para pengunjung datang bukan di saat musim dingin tiba?" Kembali bertanya pada suaminya.


"Hu'um, masih. Namun, sensasinya terasa berbeda antara datang saat musim dingin tiba dan saat musim dingin telah berlalu."


"Ehm ... pantas saja kamu memilih negara ini sebagai destinasi bulan madu. Rupanya kamu ingin aku mendapatkan pengalaman bermain salju di resort ski yang sangat populer di negeri Sakura ini. Benar 'kan?" Sedikit memicingkan mata ke arah Rayyan.


Rayyan terkekeh pelan. Mengulurkan tangan ke depan, lalu mengusap puncak kepala istrinya yang tertutup topi beanie (bobble hat)--bentuknya seperti topi kupluk dan terbuat dari bahan cukup tebal yang biasanya dirajut.


"Benar, karena aku yakin mantan suamimu itu belum pernah mengajakmu liburan ke Jepang. Pria itu terlalu sibuk bekerja hingga lupa meluangkan waktu tuk berduaan dengan istri tercinta. Oleh karena itu, aku bertekad mengajakmu ke sini agar dapat melihat bentuknya salju seperti apa."


Arumi mencebikan bibir seraya memutar bola mata malas. "Kalau tidak begitu, mantan mertuaku akan mengoceh tiada henti, Ray. Bahkan, mengambil cuti hanya 2 hari sudah diprotes padahal tujuan aku dan mantan suamiku cuti untuk berobat. Tapi ... Tante Naila tetap tidak terima dan malah menyalahkanku."


Seketika, air muka Arumi berubah murung. Sekelebat bayangan saat masih berumah tangga dengan Mahesa kembali terlintas dalam benaknya. Rasanya, perkataan pedas, hinaan, cacian yang diucapkan oleh Naila masih terekam jelas di indera pendengaran wanita cantik itu.


Melihat wajah istri tercinta berubah murung, Rayyan menghela napas panjang. Memang berat melupakan apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Hingga detik ini, ia pun belum dapat melupakan bagaimana buruknya perlakuan Firdaus terhadap mendiang Mei Ling saat Lena berada di tengah-tengah keluarganya. Sungguh, sangat menyakitkan sekali.

__ADS_1


Pria tampan berusia dua puluh delapan tahun menundukan dan mengecup punggung tangan yang tertaut dengan tangannya. "Sudah, jangan diingat lagi. Yang penting, sekarang bagaimana cara kita bersenang-senang. Kamu ingat 'kan kata Dokter Anin apa?"


Walaupun wajah masih terlihat murung, tapi Arumi mencoba tersenyum. Menganggukan kepala sambil berkata, "Tidak boleh stres. Harus bahagia selalu dan tetap tersenyum."


Rayyan kembali memperhatikan wajah Arumi dan kini beralih pada bibir ranum merah muda. Bibir itu benar-benar menggoda. Ia sungguh tidak bisa menahan dirinya. Seandainya saja saat ini mereka berada di dalam kamar, mungkin pria bermata sipit itu telah mengungkung istrinya lalu melalukan penyatuan dan bersama-sama terbang ke nirwana.


Akan tetapi, ia sadar jika tujuannya datang ke Jepang bukan sekadar melakukan penyatuan saja, tapi ada hal lebih penting lagi selain itu. Yaitu, mengajak istrinya jalan-jalan, bertamasya berkeliling-keliling negeri sakura dan siapa tahu mendapat bonus hadiah selepas mereka pulang berbulan madu. Ah ... sungguh, Rayyan menantikan saat itu tiba. Saat di mana ia menjadi ayah bagi anak-anaknya kelak.


Hampir memakan waktu sekitar dua jam lebih lamanya, akhirnya Rayyan dan Arumi telah tiba di stasiun Gala Yuzawa. Berjalan sebentar keluar pintu karcis, mereka menemukan counter tiket yang menjual tiket masuk dan peralatan bermain. Namun, karena Arumi baru pertama kali datang ke Jepang dan Rayyan pun tidak berniat mengajak istrinya bermain ski maka mereka memutuskan tidak menyewa peralatan ski. Sepasang suami istri itu hanya ingin menikmati pemandangan dari atas lereng menggunakan gondola dan bermain papan seluncur di atas tumpukan salju berwarna putih.


"Bagaimana, pemandangannya bagus tidak?" tanya Rayyan saat mereka berada di atas menara Bell Of Love observation deck yang terkenal akan pemandangan indah dan spot yang sangat cocok untuk berfoto bersama keluarga atau pasangan.


Sejauh mata memandang, netra kita diperlihatkan akan keindahan alam yang diselimuti salju. Butiran salju lembut itu hinggap di dahan pohon kering. Sinar mentari pun tetap bersinar meski tak secerah hari biasanya.


Arumi mengangguk seraya tersenyum lebar. "Sangat indah. Tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya akan datang ke tempat ini bersamamu."


Rayyan merubah posisinya, sehingga pria itu berada di belakang Arumi. Merengkuh pinggang wanita itu dan meletakkan ujung dagu di bahu sang istri.


"Kalau kamu suka, aku akan sering mengajakmu liburan ke Jepang bersama Mama Nyimas dan anak-anak kita. Kita bisa agendakan satu tahun sekali pergi berlibur bersama keluarga. Bagaimana menurutmu?" Menghidu aroma wangi tubuh sang istri walau tertutup oleh syal yang melilit di leher.


"Sungguh?" tanya Arumi memastikan jika suaminya tidak sedang bercanda.


Rayyan memutar tubuh Arumi, hingga kini posisi mereka saling berhadapan. Mereka saling bertatapan dan melempar senyum satu sama lain. Debaran lembut kembali dirasakan oleh pasangan suami istri itu. Tak berucap apa-apa mereka tahu isi hati masing-masing.


"Tentu saja. Aku tidak mungkin berbohong padamu, Babe. Jika Tuhan memberikan kesempatan maka liburan yang akan datang, kita ajak Mama ke sini. Kita persiapkan semuanya dengan matang agar Mama Nyimas merasa nyaman selama liburan," jawab Rayyan lembut.


"Izinkan aku berbakti pada mertuaku, Rumi. Biarkan aku merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ibu. Hidupku terasa sepi semenjak kepergian Mama Mei Ling, walaupun pada akhirnya Papa menikah lagi tapi aku tidak pernah menganggap wanita itu sebagai Mama-ku," timpal Rayyan. Bibir pria itu gemetar kala mengucapkan kalimat terakhir.

__ADS_1


Ya, di usia Rayyan yang masih terbilang sangat remaja, ia harus kehilangan Mei Ling untuk selamanya. Di saat teman sebayanya hidup bergelimang kasih sayang dari kedua orang tua, Rayyan remaja melewati masa pubertasnya dengan air mata. Oleh karena itu, saat melihat Nyimas, ia seakan melihat sosok Mei Ling ada dalam diri mertuanya.


Nyimas dan Mei Ling sama-sama memiliki sifat lemah lembut. Jadi tidak heran jika Rayyan merasa nyaman berada di dekat wanita paruh baya itu dan juga sang istri, karena kedua wanita beda generasi itu mempunyai kesamaan yang hampir mirip.


Arumi menangkup kedua pipi Rayyan, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir suaminya. Kecupan penuh cinta sengaja diberikan kepada orang yang sangat spesial dalam hidupnya. Lewat ciuman itu, Arumi ingin Rayyan tahu jika ia mengizinkan suaminya untuk dapat berbakti pada Nyimas. Beruntungnya saat itu di lokasi tempat Arumi dan Rayyan berada cukup sepi, sehingga mereka leluasa berciuman.


Rayyan tidak melewatkan kesempatan itu, ia membalas ciuman Arumi dengan penuh hasrat. Semakin lama, ciuman itu menjadi ciuman menuntut hingga membuat tubuh keduanya terasa panas. Jantung pun berpacu dengan cepat hingga rasanya mau copot.


Ciuman terhenti kala keduanya hampir kehabisan oksigen. Rayyan mendekatkan kening Arumi ke keningnya, kemudian menyapukan kedua hidung mereka.


"Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, Babe. Sungguh, aku sangat beruntung bisa memiliki bidadari cantik sepertimu."


Wajah Arumi merah merona mendapat pujian dari Rayyan. Pria itu selalu dapat membuat hatinya berbunga-bunga.


Dengan tersipu malu Arumi menjawab. "Aku pun berterima kasih karena kamu mau menerima segala kekurangan yang ada dalam hidupku. Aku berjanji akan menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak kita kelak."


Rayyan tersenyum bahagia mendengar janji yang diucapkan oleh Arumi. Walaupun wanita itu tidak mengucapkan janji apa-apa, tapi ia tahu jika Arumi kelak menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak kembar mereka. Well ... Rayyan bercita-cita ingin memiliki anak kembar sama seperti nenek dari pihak sang mama. Oleh karena itu, ia berharap semoga Tuhan tidak hanya menitipkan satu orang bayi melainkan dua atau tiga bayi sekaligus agar apartemen yang ditinggali olehnya terasa ramai.


"I love you, Arumi Salsabila," ucap Rayyan lirih.


"I love you too, Muhammad Rayyan Firdaus." Segera berhambur dalam pelukan, menenggelamkan kepala di dada bidang sang suami.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2