Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Will You Marry Me?


__ADS_3

Tidak sampai satu jam, mobil mewah itu telah terparkir rapi di parkiran VIP di dekat pintu masuk sebuah mall. Aldo melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuh.


Ia turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Mahesa. "Silakan, Pak. Kita sudah sampai di tujuan dengan selamat," ujar Aldo.


Dengan gagah berani, Mahesa melangkah masuk ke dalam mall. Ia mencoba bersikap profesional meski bangunan empat lantai itu banyak menyimpan kenangan manis saat masih menjalin kasih bersama Arumi. Mall itu menjadi salah satu tempat favorit bagi dua insan manusia yang sedang dimabuk cinta.


Lokasi mall yang cukup dekat dengan kampus membuat Mahesa dan Arumi sering melakukan kencan disela-sela rutinitas sebagai mahasiswa. Setiap ada waktu luang mereka akan menghabiskan waktu bersama di mall tersebut. Jadi tak heran jika bangunan itu menjadi sejarah betapa bucinnya Mahesa dulu terhadap Arumi.


Ketika memasuki restoran, seorang pelayan wanita yang memakai seragam serba hitam dengan bagian kerah serta ujung pakaian berwarna merah datang menyambut kedatangan Mahesa.


"Selamat siang, Pak. Apakah Bapak sudah melakukan pemesanan tempat sebelum datang ke sini?" Salah satu pelayan restoran tersenyum ramah ke arah pria itu.


Alih-alih menjawab pertanyaan pelayan itu, Mahesa malah memijat pelipisnya yang terasa semakin sakit. Ingin rasanya pria itu membentak pelayan wanita dalam balutan seragam restoran karena semakin membuat mood-nya hancur. Namun, ia tersadar jika Mahesa melakukan itu maka tidak menutup kemungkinan nama baik Adiguna akan tercemar karena tindakan bodoh yang dilakukan olehnya.


Akhirnya Mahesa hanya bisa menghela napas panjang untuk mengurai rasa kesal di dalam dada. Belum sempat ia membuka mulut, Aldo sudah terlebih dulu menjawab pertanyaan pelayan itu.


"Kami memang belum melakukan reservasi di restoran ini, Mbak, sebab kedatangan Bos saya ke sini ingin bertemu dengan kliennya yang bernama Pak Ilham. Mungkin, adakah salah satu pengunjung restoran ini yang telah melakukan reservasi atas nama Ilham Kusuma?"


Pelayan wanita itu tampak berpikir sejenak. Dia mengingat kembali nama-nama pelanggan restoran yang melakukan reservasi di hari itu. Untuk memastikan jika dugaannya benar, dia mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam saku celemek yang digunakan.


"Ada, Pak. Pak Ilham telah melakukan reservasi untuk dua orang. Apakah, Bapak yang bernama Pak Mahesa Putra Adiguna?"


"Bukan saya, tetapi Pria inilah yang bernama Mahesa. Bos saya ini adalah orang yang akan makan siang bersama dengan Pak Ilham," jawab Aldo. Pria berambut cepak itu untuk sementara waktu mengantikan posisi Mahesa untuk menjawab setiap pertanyaan yang ditujukan pada majikannya.


"Baiklah. Kalau begitu, mari saya antar." Pelayan wanita itu melangkah hingga tiba di sebuah ruangan VIP yang terpisah dari meja pengunjung.

__ADS_1


Meskipun tertutup tetapi para pengunjung dapat melihat kegiatan yang dilakukan oleh seluruh tamu VIP di dalam sana sebab ruangan itu terdapat sebuah kaca besar yang memisahkan antara ruangan VIP dengan koridor restoran.


"Bapak bisa menunggu Pak Ilham di dalam. Nanti akan saya bawakan buku menu sehingga Bapak bisa memesan camilan ataupun minuman sambil menunggu kedatangan Pak Ilham."


Setelah punggung pelayan itu tak lagi terlihat, Mahesa masuk ke dalam. Pria itu mengedarkan pandangan, mengamati dan menilai ruangan. Ruangan itu adalah ruangan yang dulu pernah dipesan olehnya untuk mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan khusus bagi Arumi. Di dalam ruangan itu pula, ia berlutut di hadapan Arumi dan beberapa teman dekat mereka untuk melamar sang kekasih.


Flashback on


Lima tahun silam


Saat itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, dara cantik asal kota Kembang tengah merayakan acara pesta ulang tahun kecil-kecilan di restoran Shake And Shake yang ada di lantai dua sebuah bangunan mall terkenal di kawasan Jakarta Selatan. Acara itu dibuat khusus oleh Mahesa sebagai bentuk ucapan terima kasih karena selama ini wanita cantik itu selalu ada di saat ia sedang mengalami kesulitan. Selain itu, Mahesa pun ingin memberikan hadiah kejutan untuk orang terkasih.


"Rio, saat semua orang sedang larut dalam acara pesta ulang tahun, tolong kamu matikan lampu lalu nyalakan layar LCD di depan sana. Putarkan slide foto mulai dari pertama kali aku bertemu dengan Arumi hingga aku mengutarakan isi hatiku padanya," bisik Mahesa sebelum pesta dimulai. Ia meminta adik sepupunya, bernama Rio agar membantunya untuk melamar kekasihnya itu.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjalankan tugas dengan baik. Yang penting saat ini, persiapkan mentalmu untuk melamar Arumi. Jadikan malam ini adalah malam paling bersejarah dalam hidupmu." Rio menepuk pundak Mahesa.


Acara pesta pun dimulai. Seluruh tamu yang hadir turut berbahagia. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Arumi. Memberikan do'a terbaik bagi gadis cantik yang sebentar lagi lulus menyandang gelar dokter.


Ketika semua orang larut dalam euforia, Rio menjalankan tugasnya. Ia mematikan saklar lampu, lalu menyalakan proyektor. Perlahan, layar LCD di depan sana menampilkan beberapa slide foto Mahesa dan Arumi sejak pertama kali mereka bertemu.


Saat proyektor itu masih menyala, Mahesa melangkah mendekati Arumi. Tanpa disangka, pria itu menekuk lututnya di lantai, kemudian merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak berwarna coklat tua.


"Arumi Salsabila, will you marry me?" Perkataan singkat tetapi mampu memporakporandakan perasaan Arumi dalam seketika.


Kilauan cincin yang diterpa cahaya lampu sorot begitu memukau hingga membuat Arumi terkesiap beberapa saat.

__ADS_1


"Aku masih menunggu jawabanmu, Sayang," ujar Mahesa ketika melihat Arumi membeku di tempat.


Suara merdu itu mengembalikan kembali kesadaran Arumi. Ia sedikit linglung tetapi gadis itu mampu mengendalikan diri.


"Yes ... I will! Aku mau menikah denganmu Mahesa." Arumi menganggukan kepala, lalu berhambur dalam pelukan sang kekasih.


Semua tamu undangan terharu saat menyaksikan penyatuan dua insan yang berbeda. Bahkan ada sebagian orang menangis karena tak menyangka jika acara ulang tahun ini akan menjadi momen bersejarah bagi sepasang kekasih itu.


Flashback off


Itulah alasannya mengapa Aldo sebelumnya bertanya pada Mahesa, apakah pria itu akan baik-baik saja jika pertemuan sang bos diadakan di restoran Shake And Shake, sebab restoran inilah menjadi saksi bisu awal perjalanan Mahesa dan Arumi dalam mengarungi biduk rumah tangga.


"Masih sama seperti dulu," ucap Mahesa lirih. Pria itu berjalan mendekati kursi yang dulu pernah di duduki oleh Arumi. Mengusap permukaan kursi dengan lembut. "Sayang, aku benar-benar merindukan saat kita berdua masih bersama. Tidak adakah sedikit rasa yang tertinggal di dalam hatimu untukku?"


"Seandainya rasa itu masih ada, aku bersedia menceraikan Kayla dan memulai hidup baru bersamamu serta bayi yang ada di dalam kandungan istri siriku itu. Kita berdua akan membesarkan anak itu bersama-sama tanpa ada campur tangan Kayla ataupun Mamaku."


Aldo yang tengah berdiri di ambang pintu dibuat terkejut oleh perkataan Mahesa. "Pak Mahes ... Pak Mahes ... tampaknya otakmu sudah mulai bergeser. Mana mungkin Nona Kayla bersedia memberikan anak itu dengan suka rela. Yang ada, dia akan semakin dendam pada Bu Arumi karena telah merebut apa yang sudah menjadi haknya."


Di saat Mahesa sedang bermonolog, pintu ruangan VIP terbuka lebar. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk ke dalam ruangan.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2