
Arumi melihat air muka Rayyan berubah suram bergegas mengecilkan volume suara televisi, lalu beringsut mendekati suaminya. "Mas, kamu kenapa? Apa ada masalah besar di rumah sakit?" tanya wanita itu penasaran.
Rayyan mendongakan kepala, menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Sorot mata memancarkan kesedihan yang begitu mendalam. Akan tetapi, ia sulit mengatakan kepada wanita itu apa yang terjadi kepadanya. Mulut terkunci rapat, lidah terasa kelu disertai jantung yang terus memompa dengan cepat dan rasanya mau meledak.
Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Arumi memberanikan diri meraih telepon genggam milik Rayyan. Tubuh wanita itu lemas seketika, tangan gemetar hebat hingga membuat benda pipih itu terjatuh ke lantai.
Brak!
Arumi begitu terkejut kala bola matanya yang indah membaca setiap kalimat di layar ponsel milik suaminya. Walaupun nama pengirim tidak tertera di sana, tetapi isi dari pesan tersebut mampu membuat suasana hati wanita itu dan Rayyan berubah seketika.
Lantas, ia menatap Rayyan, ragu. "Mas ... apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apakah ... kamu tetap berdiam diri di sini atau pergi ke rumah sakit menemui Papa?" tanyanya hati-hati. Suara wanita itu pun terdengar lirih dan gemetar, seakan sedang menahan sesuatu agar tidak meluncur di sudut mata.
Sebagai seorang menantu, tentu saja Arumi begitu mencemaskan kondisi Firdaus dan Lena meski hubungan antara mereka tidak begitu dekat tetap saja kedua pasangan paruh baya itu adalah sosok orang tua yang perlu dihormati. Terlebih, Firdaus adalah pria yang telah menyumbangkan bibit unggulnya ke dalam rahim Mei Ling sehingga Rayyan terlahir ke dunia walau hubungan itu di bawah pengaruh obat per*ngs*ng.
Rayyan menggeleng. "Aku tidak tahu, Rumi apa yang akan kulakukan. Aku bingung," jawabnya. Ayah tiga bayi kembar itu tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, pikirannya kacau saat ini tidak dapat berpikir jernih dan mengambil keputusan.
Jauh dari dalam sanubari, sebenarnya terbesit keinginan untuk menemui Firdaus di rumah sakit. Bertemu sosok super hero idola masa kecilnya, jauh sebelum Lena hadir dan merusak kebahagiaan kecil Rayyan. Bagi Rayyan, mantan direktur rumah sakit itu adalah pahlawan yang selalu hadir di kala ia sedang bersedih dan kesusahan.
Arumi menangkup wajah Rayyan dengan telapak tangan. Dari sorot mata terpancar jelas jika pria itu ingin sekali pergi membesuk sang papa, tetapi rasa benci dalam diri telah mengalahkan segalanya. Terlebih, di sana ia pasti bertemu dengan wanita yang telah menyebabkan ibu kandung dari suaminya meninggal dunia.
"Tanyakan pada hatimu yang terdalam. Jika kamu ingin bertemu dengan Papa di rumah sakit maka bergegaslah sekarang! Namun, apabila kamu berpikir kalau Papa bukanlah orang penting dalam hidupmu, sebaiknya kita tidur. Aku ingin memelukmu hingga sinar mentari kembali menunjukan pesonanya."
__ADS_1
Hati Arumi sakit kala mengucapkan kalimat itu. Bagaimana mungkin ia dapat tidur nyenyak setelah tahu kondisi Firdaus dan juga Lena. Meskipun nyatanya dua manusia itu telah menorehkan luka yang teramat dalam di dalam hati suaminya, tetapi ia juga manusia biasa mempunyai hati nurani untuk bisa merasa empati terhadap orang lain terlebih lagi salah satu dari orang itu adalah mertuanya sendiri.
Cukup lama Rayyan berpikir, menanyakan pada hatinya yang terdalam mengenai perasaannya sendiri. Arumi masih setia, duduk di samping suaminya sambil menggenggam erat jemari tangan pria itu.
"Aku tahu memang berat rasanya bertemu kembali dengan orang yang pernah menyakiti perasaan kita, Mas. Itu pun yang kurasakan dulu saat hendak bertemu dengan Mas Mahesa. Bayangan masa lalu terus bermunculan ketika mengingat betapa jahatnya mereka bermain api di belakangku," ucap Arumi saat kebimbangan menyelusup ke dalam hati sang lelaki.
"Pengalaman masa laluku denganmu memang berbeda. Aku memang tidak melihat secara langsung bagaimana kesedihan Mama Mei Ling saat melihat Papa Firdaus nyaris melakukan hubungan dengan Tante Lena, tetapi aku dapat merasakan betapa hancurnya hati beliau kala suami yang dicintainya tengah bercumbu dengan orang lain." Arumi menjeda kalimatnya. "Aku pernah berada di posisi Mama Mei Ling, menyaksikan sendiri pergulatan mantan suami dan mantan sahabatku di atas ranjang."
"Dengan mata kepalaku sendiri, mantan suamiku begitu menikmati saat dia tengah bergumul bersama wanita lain. Dadaku sesak ketika Mas Mahes menyebut nama wanita lain ketika dia menghentakkan tubuh ke dalam inti tubuh mantan sahabatku. Hatiku hancur berkeping-keping, sakit dan kecewa melebur menjadi satu hingga membuatku ingin sekali berteriak kencang meluapkan perasaanku saat itu. Namun, aku terlalu lemah untuk melakukan itu semua. Aku hanya bisa menangis di hadapan orang-orang jahat itu."
"Akan tetapi, otakku masih dapat berpikir jernih hingga aku dapat mengambil keputusan tepat untuk berpisah dari jeratan Mas Mahes beserta keluarganya. Terbukti, setelah berpisah aku malah menemukan kebahagiaanku sendiri. Bertemu dengan lelaki lain yang tulus mencintaiku apa adanya."
Arumi kembali menatap iris coklat milik suaminya hingga tatapan keduanya beradu pandang. "Dari kisah ini, aku mencoba mengambil hikmah yang terjadi. Coba kamu bayangkan, jika aku tetap mempertahankan rumah tanggaku dengan Mas Mahes, mungkin kita tidak bisa duduk berdua di atas pelaminan. Dan juga tidak akan hadir Triplet di dunia ini. Mungkin ... aku masih tetap menjadi Nyonya Mahesa Adiguna bukan Nyonya Rayyan Wijaya Kusuma." Terkekeh pelan sambil tersenyum manis ke arah suaminya.
"Seandainya dulu, Papa Firdaus tidak ada affair dengan Tante Lena, belum tentu kamu setia kepadaku. Bisa saja kamu sama seperti Mas Mahes, terpikat oleh wanita lain dan berselingkuh di belakangku. Terlebih, parasmu lebih rupawan dibanding pria itu. Akan tetapi, akibat kejadian masa lalu membuatmu menjadi lelaki yang anti sekali terhadap wanita dan hanya jinak kepadaku. Jadi menurutmu, apakah pengalaman pahit di masa lampau tak ada hikmah yang dapat dipetik oleh kita?"
Arumi mendongakan kepala, lalu menangkup dan mengusap rahang suaminya. "Aku sedang belajar melupakan semua kejahatan yang dilakukan oleh Mas Mahes dan Kayla. Pun begitu denganmu, Mas. Aku harap kamu mau membuka sedikit hatimu untuk memaafkan Papa Firdaus sebelum semuanya terlambat."
"Kamu dan aku telah menjadi orang tua. Setiap tingkah laku serta gerak gerik kita dicontoh oleh Triplet. Kita tidak bisa sembarangan berbicara serta bertingkah laku semaunya di hadapan anak-anak, sebab mereka dapat meniru kelak. Bagaimana jika di kemudian hari hubunganmu dengan anak-anak tidak akur? Mereka memperlakukan kita sama seperti kamu memperlakukan Papa, apakah kita sanggup menerimanya?" tanya Arumi. "Oleh karena itu, yuk kita sama-sama mencoba berlapang dada, memaafkan kesalahan orang lain meski terasa berat."
Rayyan terdiam. Ucapan Arumi bagaikan sebuah anak panah yang melesak tepat ke sasaran. Apa yang dikatakan istrinya benar, jika tingkah laku dia dan sang istri kelak dicontoh oleh anak-anak.
__ADS_1
Menghela napas panjang. "Babe ... apakah mungkin Papa mau memaafkanku jika aku meminta maaf padanya? Apakah Papa tetap menyayangiku meski aku telah banyak berbuat salah kepadanya?"
Seulas senyuman manis menghiasi wajah cantik ibu dari tiga bayi kembar. "Tentu saja, Honey. Papamu itu bukanlah tipe pria pendendam. Walaupun mempunyai watak keras, tetapi aku yakin dia masih sangat menyayangimu."
"Seandainya aku pergi menemui Papa, maukah kamu menemaniku? Aku ... tidak percaya diri bila pergi sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun," ucap Rayyan lirih.
Lagi dan lagi, Arumi mengulum senyum. Binar bahagia terpancar di sorot matanya yang indah. "Tentu saja! Aku pasti menemanimu ke mana pun kamu pergi."
Rayyan merunduk dan mencecap manisnya bibir Arumi. Hanya sebentar, karena ia teringat akan pesan yang dikirimkan oleh perawat yang menjaga Lena. "Ayo siap-siap! Kita pergi ke rumah sakit bersama. Triplet, minta Mama dan Mbak Tini menjaganya." Arumi menganggukan kepala, menuruti perintah suaminya.
Nyonya Rayyan bergegas meraih jubah gaun yang ada di dalam kamar sebelum menemui sang mama. Setelah itu, barulah meminta tolong ibu angkatnya. "Ma, aku titip Triplet ya. Stock ASI sudah tersedia semua di freezer. Botol ASI pun sudah dicuci bersih."
Nyimas mengusap lembut pundak Arumi. "Iya. Kamu tenang saja. Jangan memikirkan anak-anak, mereka aman bersama Mama dan Mbak Tini."
"Ma, aku pergi dulu. Maaf sudah merepotkan," ujar Rayyan sambil mengenakan hoddie dengan warna senada dengan pakaian yang dikenakan Arumi.
"Jangan sungkan. Sudah sana, sebaiknya kalian berangkat. Hati-hati di jalan!" Usai menitipkan Triplet, dua sejoli itu melangkahkan kaki menuju parkiran basement.
.
.
__ADS_1
.