Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
OTW Karma Lagi


__ADS_3

Beberapa hari setelah berbincang dengan Naura, Kayla lebih sering termenung seorang diri di dalam apartemen miliknya. Duduk di atas sofa yang menghadap ke sebuah jendela besar, memperlihatkan keindahan kota Jakarta dari lantai delapan. Apartemen mewah itu dibeli dari hasil kerja kerasnya selama bekerja menjadi seorang model.


Sudah beberapa hari ini Kayla berdiam diri di apartemen. Perkataan Naura bagaikan sebuah cambuk keras yang mampu mengoyahkan tekadnya untuk membalas dendam pada mantan sahabatnya, bernama Arumi. Beruntungnya selama dua hari ini ia tak memiliki jadwal pemotretan, sebab seluruh kru tengah menyiapkan lokasi pemotretan yang baru untuk produk kecantikan.


Selama dua hari pula, ia tidak menemani Mahesa di rumah sakit, sebab dirinya mendapatkan kabar bahwa Naila sedang berada di rumah sakit. Untuk menghindari pertengkaran di antara dua wanita itu, perawat yang berjaga mengirimkan pesan singkat kepada Kayla.


Manik coklat wanita itu melirik ke arah jam dinding yang ditempel di atas kabinet televisi di ruang keluarga. Jarum jam telah menunjukan pukul satu siang.


"Ehm ... pantas saja perutku keroncongan. Rupanya sudah waktunya makan siang," gumamnya lirih.


Wanita itu bangkit dari sofa, melangkah menuju lemari es yang ada di dapur. Jemari lentik panjang nan ramping membuka pintu lemari es dua tingkat berwarna silver.


Berdiri di sisi lemari seraya menghembuskan napas kasar. "Dasar pikun! Kenapa Mbok Diah bisa lupa memberitahuku kalau di dalam lemari es sudah tidak ada makanan yang dapat diolah. Seharusnya dia bilang sebelum pulang kampung. Kalau begini, terpaksa aku harus ke supermarket, membeli persediaan makanan selama beberapa hari ke depan," keluh Kayla.


Wanita muda itu merutuki kelalaian asisten yang bekerja di apartemennya. Ingin rasanya memaki wanita tua yang telah bekerja selama hampir lima tahun, namun percuma saja karena orang bersangkutan tidak ada di tempat. Hanya membuat energinya terbuang sia-sia dan perutnya terasa semakin lapar.


Mengayunkan kaki menuju kamar, meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Kemudian mengambil hoddie berwarna cream yang tergantung di standing holder, di belakang pintu kamar. Wanita itu mengenakannya sambil melangkah keluar apartemen.


Cuaca kota Jakarta yang diguyur hujan membuat jalanan sedikit lenggang, sebab para pengendara motor memilih berteduh di warung atau toko-toko di pinggir jalan menunggu hingga hujan reda. Meski begitu, bagi pengendara roda empat atau pengendara roda dua yang terpaksa menerobos guyuran air hujan harus tetap berhati-hati karena jalanan licin dan dapat menyebabkan kecelakaan.


Siang itu, Kayla lebih memilih pergi sendiri ke sebuah mall di kawasan Jakarta Pusat tanpa diantar oleh sang sopir. Ia ingin menikmati hari libur tanpa diganggu oleh siapa pun termasuk Mona--sang asisten.


Hampir satu jam lamanya Kayla mengendarai kendaraan roda empat miliknya. Akibat kecelakaan beberapa bulan lalu membuat wanita itu sedikit trauma sehingga ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan 40 KM/jam.


Menarik napas panjang kala mobil yang dikendarainya telah terparkir rapi di basement. "Akhirnya aku bisa sampai tujuan dengan selamat," gumam wanita itu seraya mematikan mesin mobil. Usai memastikan kendaraannya terkunci dan tidak ada barang yang tertinggal di dalam mobil, ia melangkahkan kaki jenjang itu masuk ke dalam gedung mall.

__ADS_1


Saat tiba di dalam supermarket, Kayla langsung mendorong troli belanjaan dan berjalan secara perlahan mencari bahan makanan yang sekiranya dapat diolah dengan mudah. Walaupun wanita itu tidak begitu pandai memasak tapi kalau sekadar memasak sayur sop dan menggoreng 3T (tahu, tempe, telur) dan membuat salad buah tentu saja ia bisa namun untuk mengolah makanan yang membutuhkan keahlian khusus, Kayla angkat tangan.


"Aku mau beli apa aja ya tadi?" Kayla merogoh telepon genggam yang ada di dalam tas slempang, lalu membaca catatan belanja.


Dengan teliti, Kayla memasukan satu per satu barang belanjaan ke dalam troli. Mulai dari buah, sayuran, susu rendah lemak camilan sehat seperti yogurt dan puding serta tak lupa mayonise dan keju sebagai pelengkap membuat salad.


Bola mata indah itu melirik keranjang miliknya, memastikan semua kebutuhannya tercukupi selama satu minggu ke depan.


"Kurasa semua barang yang dibutuhkan sudah masuk ke dalam troli." Jemari lentik itu membolak balikan isi troli untuk memastikan tidak ada barang yang belum terbeli.


"Sebaiknya aku segera pergi ke kasir, membayar semua barang-barang ini. Setelah itu baru pergi ke warung bakso tempat langgananku. Sudah lama sekali aku tidak mampir ke sana." Seulas senyum terlukis di wajah kala membayangkan mulutnya dipenuhi oleh olahan makanan, berbahan dasar daging sapi yang dibentuk bulat seperti bola pingpong.


***


Kini, wanita yang berprofesi sebagai model papan atas tengah berada di sebuah perkampungan di Kampung Rawa Geni. Sebuah kampung padat penduduk yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Kayla sebelum menjadi model terkenal. Kampung itu menjadi saksi bisu bagaimana kerasnya perjuangan Kayla hingga berada di titik tertinggi karirnya sebagai seorang model.


Ia mengulum senyum kala melihat warung bakso kesukaannya terlihat dari radius lima puluh meter. Warung bakso itu cukup ramai dipadati beberapa pembeli yang sengaja datang ke sana, menikmati kelezatan bakso urat buatan mang Ojan.


"Mang, saya pesan bakso satu mangkok lengkap dengan soun dan sayurannya ya," pesan Kayla pada pemilik warung bakso. "Oh ya, jangan lupa togenya ditambahin."


"Oke, Neng. Siap!" jawab Mang Ojan seraya mengangkat ibu jari ke udara. Pria itu dibantu sang istri segera meracik bakso pesanan Kayla dan beberapa pembeli yang sudah mengantri sedari tadi.


Kayla memilih meja di dekat pintu masuk warung bakso, sebab ia tak mau ada orang lain yang menyadari kehadirannya di warung bakso tersebut. Walaupun ia mengenakan kacamata hitam dan masker, tapi tidak menutup kemungkinan para pembeli itu menyadari kehadirannya di sana.


"Silakan, Neng. Bakso dengan soun dan toge yang banyak sudah Mamang buatkan," ucap Mang Ojan ramah. Meskipun tak mengenali jika wanita di hadapannya itu seorang model terkenal, sebagai pedagang Mang Ojan selalu bersikap ramah pada para pembelinya karena bagi pria setengah baya itu, pembeli adalah raja.

__ADS_1


Semangkok bakso urat berukuran besar dan tiga potong bakso kecil lengkap dengan soun dan toge telah tersedia di atas meja. Aroma khas bakso sapi serta kepulan asap menguar ke udara, menggelitik indera penciuman Kayla membuat air liur wanita itu mengalir dengan sendirinya.


Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Kayla meraih sendok dan garpu yang ada di hadapannya. Membersihkan satu set alat makan tersebut dengan satu lembar tisu antiseptik agar tetap terjaga kebersihan dari alat makan itu.


"Ehm ... lezat sekali," lirih Kayla ketika menyeruput kuah bakso itu. "Rasanya tak pernah berubah dari waktu ke waktu." Kayla bergegas memotong bulatan besar itu menjadi beberapa bagian agar lebih mudah ketika disantap.


Di saat Kayla tengah sibuk menikmati semangkok bakso urat kesukaannya, sayup-sayup terdengar dari kursi belakang sedang membicarakan seseorang.


.


.


.


"Dasar pelakor! Tidak tahu diri! Kok kamu tega merebut suami dari sahabatmu sendiri. Memangnya di dunia ini tidak ada pria lain selain suami sahabatmu?" sungut salah satu ibu-ibu berdaster berwarna hijau muda.


"Aku rasa, sepertinya di rumah dia tidak punya cermin sehingga wanita ini dengan penuh percaya diri pergi ke mana-mana tanpa merasa berdosa sedikit pun!"


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2