Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Halo, Om Putra. Apa Kabar?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tak ada perbincangan antara Arumi dan Rayyan. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sejujurnya, pria yang tengah mengemudikan kendaraan kesayangannya ingin sekali mengisi keheningan di dalam mobil dengan percakapan yang dapat memecah kesunyian. Akan tetapi, niatnya ia urungkan kala netranya tanpa sengaja melihat jemari lentik sang istri tengah memilin ujung dress milik wanita itu dengan gugup. Ia tahu mungkin saat ini Arumi tengah dirundung kecemasan karena akan bertemu kembali dengan Mahesa setelah sepuluh bulan lamanya tidak bertemu.


Pria itu mengulurkan satu tangan untuk menangkup punggung tangan yang masih ada di atas paha sang wanita. Mengusapnya dengan lembut sambil berkata. "Everything gonna be okay." (Semuanya akan baik-baik saja).


Tubuh Arumi seperti terkena aliran listrik saat bersentuhan dengan Rayyan. Pria itu selalu sukses menimbulkan debaran lembut dalam diri setiap kali mereka melakukan kontak fisik. Bahkan saat saling mencumbu sekalipun, ia dimabuk kepayang seolah tubuhnya terbang ke angkasa.


"Nanti, kalau kamu memang tidak nyaman berada terlalu lama di dalam ruangan, bilang saja padaku. Jangan memaksakan diri hanya karena tidak enak hati pada Pak Putra ataupun Kayla, akhirnya kamu mengabaikan peringatan yang bersumber dari tubuhmu sendiri. Mengerti?" Rayyan kembali berucap. Ia tak mau jikalau pertemuan kali ini malah memberikan efek buruk terhadap kondisi kesehatan Arumi beserta ketiga anak dalam kandungan sang istri. Oleh karena itu, ia mencoba menasihati wanita itu untuk tidak memaksakan diri jika memang sudah tak sanggup berada dalam ruangan yang sama dengan Mahesa.


Arumi menganggukan kepala sebagai jawaban. "Mengerti, Mas."


Rayyan terkekeh pelan. Kali ini tangan kekar pria itu beralih ke puncak kepala Arumi, mengusap dengan lembut seraya berkata. "Good girl!" ujarnya seolah ia sedang memuji anak kecil berusia lima tahun.


Arumi mencebikkan bibir, dan memutar bola matanya dengan malas. "Ck! Bukan good girl, tapi good woman!"


Rayyan yang tengah sibuk mengemudikan kendaraan semakin tersenyum lebar, karena berhasil membuat Arumi kembali ke mode seperti biasa. "Baiklah. Aku ralat ucapanku. Good woman. Benar begitu?" Arumi membalas ucapan pria itu dengan senyuman.


Setelah kejadian itu, sikap Arumi mulai sedikit berubah, sudah tak lagi terlihat gugup dibanding sebelumnya. Sepanjang perjalanan, kedua insan manusia itu terus berbincang hingga tanpa terasa mobil memasuki area parkir VVIP yang dikhususkan bagi petinggi rumah sakit dan tamu penting.

__ADS_1


Sebagai seorang lelaki sejati, Rayyan memperlakukan istrinya bagai seorang ratu. Membukakan seat belt yang melingkar di tubuh. "Kamu tunggu di sini. Biarkan aku yang membukakan pintu." Arumi patuh, ia menunggu sang suami turun dan membukakan pintu untuknya.


Kini, pasangan suami istri itu berjalan bersisian. Melangkah masuk ke dalam bangunan yang cukup mewah bagai hotel bintang lima. Tak jarang saat mereka berjalan, seluruh mata tertuju kepada Rayyan dan Arumi. Para pengunjung rumah sakit berdecak kagum akan dua sosok makhluk ciptaan Tuhan yang nyaris mendekati sempurna.


Setiap kali karyawan yang bekerja di Persada International Hospital menyapa Rayyan dan Arumi, pria tampan berwajah oriental membalas sapaan dari para tenaga medis ataupun karyawan yang bekerja di rumah sakit tersebut dengan wajah datar tanpa mengulum senyum sama sekali.


Saat pintu lift berdenting dan terbuka, Rayyan mempersilakan istrinya masuk terlebih dulu. Setelah itu, barulah ia masuk dan memposisikan diri mencari tempat nyaman untuk melindungi sang istri dari sentuhan pria asing di sekitar mereka. Ia tak membiarkan tubuh Arumi bersentuhan dengan pria lain selain dirinya.


"Dasar posesif," gumam Arumi disertai senyuman tipis saat tubuh Rayyan nyaris memeluk dirinya karena beberapa orang memaksa masuk ke dalam lift padahal kapasitas benda berbentuk persegi terbuat dari besi sudah melampaui batas.


"Biarkan saja. Dari pada mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan, lebih baik aku melindungimu," balas Rayyan dengan nada santai.


Perlahan, benda persegi itu membawa tubuh Rayyan dan Arumi naik ke lantai lima, ruangan khusus yang diperuntukan bagi pasien ICU.


Sepanjang jalan menuju kamar perawatan, Arumi mengatur napas karena degup jantung wanita itu berdegup tak beraturan. Ia semakin erat menggenggam tangan Rayyan guna menetralkan kegugupan dalam hati. Meskipun ia sudah mencoba sedikit lebih rileks, tapi tetap saja kegugupan itu masih hinggap dalam dirinya.


Dari jarak sekitar tiga meter, Arumi dapat melihat jelas dua sosok pria dan wanita tengah duduk dengan gelisah di kursi panjang yang terbuat dari stainless. Gemuruh dalam hati dokter cantik itu semakin kencang kala netranya beradu pandang dengan manik coklat milik mantan sahabatnya.


Seketika Arumi merasa dadanya sesak bagai dihimpit bongkahan batu besar. Udara sekitar seolah tak cukup baginya untuk bernapas. Setiap kali melihat Kayla, ia kembali teringat bagaimana liarnya mantan model itu saat bergumul dengan Mahesa di atas ranjang kamar hotel. Suara ******* bersahutan bagaikan kaset rusak yang terus terekam di indera pendengarannya.

__ADS_1


Perubahan raut muka wanita itu tertangkap oleh sepasang mata sipit Rayyan. Seolah mengerti akan isi hati wanita itu, Rayyan mendekatkan wajah lalu berbisik. "Tenang saja. Aku akan selalu berada di sisimu ... selamanya."


Bagai mendapat guyuran air hujan di musim kemarau panjang, wajah Arumi kembali berseri. Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas.


'Ayo, Arumi. Kamu pasti kuat! Tunjukan pada mereka kalau kamu bukan wanita lemah,' batinnya.


Suara derap langkah begitu jelas terdengar kala Rayyan dan Arumi semakin mendekati kursi panjang tempat Putra dan Kayla duduk.


"Om, itu Arumi dan suaminya," bisik Kayla di telinga Putra.


Putra yang saat itu terlalu sibuk dengan pikirannya, tak menyadari kalau mantan menantu yang pernah disakiti olehnya telah berada sekitar satu meter dari posisinya berada. Mendengar suara Kayla, refleks pria itu menoleh ke arah Arumi. Tampak jelas pendar bahagia tersirat di bola mata pria itu kala melihat orang yang dinantikan sedari tadi muncul di hadapannya.


"Arumi! Akhirnya kamu datang juga, Nak," ucap Putra dengan bibir gemetar. Bola mata berkaca-kaca. Perasaan pria itu terasa seperti diaduk-aduk. Perpaduan antara rasa haru dan sedih berpadu menjadi satu membentuk sebuah bola besar yang mampu menghantam keras relung hati yang terdalam.


Kembali mengingat kejadian di masa lalu, membuat dada Putra terasa sesak. Ia merasa tangan tak kasat mata tengah menusuknya dengan sebilah pisau tajam hingga menembus tulang sumsum yang terdalam. Sakit hingga membuat pria itu seakan ingin menghilang dari muka bumi ini selamanya. Pria paruh baya itu malu bila teringat bagaimana kejamnya dia, membiarkan istri dan anaknya menyusun strategi agar bisa bermain api di belakang Arumi.


Langkah kaki terhenti saat Arumi berdiri tepat di depan Putra. Wanita itu menarik napas dalam seraya memejamkan mata sejenak. Setelah dirasa cukup tenang, wanita itu membuka mulut dan berkata. "Halo, Om Putra. Apa kabar?" Tersenyum hangat seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2