Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Biarkan Aku Melenyapkannya!


__ADS_3

Berjarak sekitar lima meter dari tempatnya berdiri, Arumi memandangi punggung wanita itu seraya mengumpulkan keberanian untuk bertemu kembali dengan mantan mertuanya yang merupakan dalang utama di balik hancurnya rumah tangga wanita muda itu dengan Mahesa. Sungguh, Arumi belum siap jika harus bertatap muka lagi dengan wanita itu. Sekalipun sudah melupakan kejadian di masa lalu, tetapi tetap saja ada sedikit rasa tak nyaman di dalam hati jika dipertemukan kembali dalam satu atap yang sama.


Sementara Naila, mendengar suara wanita yang begitu familiar di telinga, tersenyum smirk karena setelah sekian lama akhirnya dapat bertemu kembali dengan mantan menantu yang selama ini tidak pernah dianggap olehnya. Lantas, ia membalikan badan dan langsung menghunuskan tatapan sinis kala menatap iris coklat tua milik Arumi. Kedua wanita itu saling berhadapan dengan sorot mata berbeda-beda.


"Kedatangan saya ke sini ingin membuat perhitungan karena kamu sudah berani menemui Mahesa tanpa persetujuan saya sebagai orang tua dari pasien!" Naila sengaja meninggikan nada suaranya agar semua orang yang ada di bangsal itu mendengar. Ia ingin reputasi Arumi sebagai dokter terbaik di rumah sakit itu hancur.


"Saya heran deh sama kamu. Di antara kamu dengan anak saya sudah tidak ada hubungan apa pun. Namun, kamu masih saja menemuinya secara diam-diam." Naila melipat kedua tangan ke depan dada seraya mendengkus kesal. "Apakah kamu memang berniat menjalin kasih di belakang suamimu itu hem?"


"Jangan sembarangan bicara, Bu Naila! Saya bukan wanita seperti yang Anda tuduhkan!" sergah Arumi cepat. Tidak terima dengan tuduhan yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu.


Melihat dirinya dan Arumi menjadi bahan tontonan semua orang, Naila tersenyum bahagia dalam hati. Akhirnya misi wanita itu untuk menjatuhkan dokter cantik di hadapannya berjalan mulus tanpa ada halangan sedikit pun.


"Lantas, kenapa kamu masih menemui anak saya? Kalau bukan karena ingin balikan dengan sang mantan, lalu untuk apa lagi? Tidak ada ceritanya ya, seorang istri secara diam-diam bertemu mantan suami di belakang suaminya sendiri. Cih, sungguh menjijikan!"


"Sudah mandul, tukang selingkuh lagi!" lanjut Naila. Wanita itu menatap sinis ke arah Arumi. Entah mengapa ia semakin membenci mantan menantunya itu.


Terlebih lagi saat melihat perut Arumi yang terlihat semakin ... membuncit! Bola mata Naila langsung memindai seluruh tubuh Arumi, memperhatikan wanita muda di hadapannya dengan seksama. Mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, lalu berpindah lagi ke bagian perut yang terlihat menonjol ke depan.


Seketika tubuh Naila membeku, jantung wanita itu rasanya mau copot. Dada terasa sesak, seakan oksigen tidak lagi mampu memberikan pasokan ke dalam paru-paru.


A-apa yang terjadi dengan Arumi. K-kenapa perut wanita itu buncit? Mungkinkah dia--?


Sejuta pertanyaan hadir dalam pikiran Naila. Ia benar-benar shock melihat perubahan Arumi saat ini. Perut buncit dengan pipi chubby serta mengenakan dress khusus ibu hamil membuat Arumi terlihat seperti wanita sedang hamil.


Walaupun berada dalam satu atap yang sama dengan Arumi, namun ia memang sangat jarang berpapasan dengan wanita itu. Selain enggan bertemu si pembawa sial, wanita sombong yang terkenal dengan mulut super pedas dan madam julid sangat jarang menemani Mahesa di rumah sakit. Dalam seminggu hanya dua kali saja ia datang ke bangunan mewah itu. Selebihnya ia akan menghabiskan waktu bersama geng sosialitanya.

__ADS_1


Arumi semakin geram saat dituduh berselingkuh di belakang Rayyan. Bagaimana Naila bisa tega menuduhnya tukang selingkuh sedangkan ia selalu menjaga diri di saat sang suami tidak ada di rumah.


Amarah dalam diri Arumi meledak sudah, bagai semburan lahar pijar yang meluluhlantakan di sekitarnya. Kesakitan di dalam hati Arumi terpampang nyata.


Wajah memerah, dada kian kembang kempis dan kedua tangan mengepal di samping. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Tak percaya jika dirinya dituduh tukang selingkuh padahal dulu dirinyalah korban atas perselingkuhan antara Mahesa dengan Kayla dan itu atas bujukan dari Naila sendiri. Benar-benar gila!


Arumi mendengkus kesal, membalas tatapan Naila dengan tak kalah sinis. "Bisa-bisanya Bu Naila menuduh saya seperti itu! Memangnya Ibu tahu apa yang saya lakukan di ruangan itu?"


"Saya datang menemui putra Ibu yang sedang koma karena ingin membantunya agar kembali tersadar. Apakah seperti itu disebut berselingkuh?" skak Arumi. "Coba Bu Naila pikirkan dengan baik, bagaimana bisa saya selingkuh dengan orang koma. Logikanya di mana, Bu?"


"Kalau mau fitnah orang, lihat kondisi. Jangan asal bicara, yang ujungnya malah membuat diri sendiri malu." Arumi menarik sudut bibirnya ke atas. Entah dari mana ia memiliki keberanian untuk membalas setiap perkataan yang diucapkan oleh Naila.


"Lagi pula, saya bukanlah wanita kesepian yang membutuhkan belaian kasih sayang dari seorang pria. Kasih sayang yang diberikan oleh suami saya sudah lebih dari cukup. Dia memperlakukan saya dengan sangat baik. Jadi, mana mungkin saya selingkuh dengan pria yang dulu pernah selingkuh dengan sahabat dari mantan istrinya sendiri!"


"Dan lebih gilanya lagi, semua itu terjadi atas desakan dari ibu si pria itu yang tak lain adalah Ibu Naila sendiri." Tersenyum mengejek karena merasa geli atas sikap Naila.


Berhambur mendekati Arumi dengan sorot mata memancarkan kemarahan. Mengepalkan telapak tangan di samping dan bersiap melayangkan jejak kelima jari di pipi mulus Arumi.


"Dasar mandul! Pembawa sial!" Naila hendak melayangkan sebuah tamparan, namun segera ditepis oleh Arumi.


"Bu Naila tidak punya hak menampar saya, karena Anda sudah bukan mertua saya lagi!" Lantas, Arumi menghempaskan tangan Naila dengan kasar.


Namun, rupanya tindakan Naila tidak hanya sampai di situ saja. Ia mencari cara lain untuk membalas rasa malu yang dirasakan olehnya.


Melihat banyak kesempatan, akhirnya Naila mencoba mendorong tubuh Arumi hingga nyaris terjerembab ke belakang. Beruntungnya saat itu di belakang Arumi ada salah satu pengunjung yang kebetulan baru keluar dari ruang rawat inap di bangsal tersebut. Dengan sigap dia menangkap wanita cantik itu.

__ADS_1


Tak puas, Naila ingin menyerang lagi akan tetapi dua orang security segera datang lalu menjauhkan wanita paruh baya itu dari Arumi.


Rupanya, suster Amira segera menelepon pihak keamanan untuk naik ke lantai tiga. Melihat situasi semakin tidak terkendali, perawat senior itu yakin akan terjadi hal buruk menimpa Arumi. Merasa memiliki tanggung jawab melindungi menantu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, wanita itu memutuskan mencari bantuan.


"Lepaskan! Lepaskan aku!" Naila memberontak saat kedua petugas keamanan berseragam biru navy menahan tangan wanita paruh baya itu. "Heh, dasar bodoh! Apakah kalian tidak tahu siapa saya! Saya ini orang kaya! Saya bisa membeli kalian berdua dengan uang yang saya miliki!" Terus berteriak histeris seraya mencoba melepaskan diri dari cekalan para petugas keamanan.


"Bu, tolong jangan berteriak. Ini rumah sakit," ujar salah satu petugas keamanan.


"Bodo amat! Saya tidak peduli. Yang penting saya bisa melenyapkan wanita pembawa sial itu dari muka bumi ini selamanya!" Menatap nyalang ke arah Arumi. "Heh mandul, awas ya kamu. Akan saya habisi kamu!"


Tanpa memedulikan suara teriakan Naila, kedua petugas keamanan itu membawa ibu kandung Mahesa menjauh dari kerumunan orang banyak.


"Kita bawa saja ke pos keamanan untuk dimintai keterangan."


Suara teriakan Naila masih menggema di segala penjuru ruangan, hingga akhirnya ruangan itu kembali sunyi.


"Dokter Arumi!" Suster Amira segera berlari dan membantu Arumi duduk di kursi panjang terbuat dari stainless. Raut wajah cemas terlukis di wajah kala melihat tatapan mata Arumi kosong. Ia yakin saat ini wanita muda itu sangat shock akan kejadian tadi.


"Suster Linda, tolong bantu saya membawa Dokter Arumi ke ruangan Dokter Rayyan," titah Suster Amira pada salah satu perawat di bangsal itu. "Suster Tiara, panggilkan Dokter Rayyan dan sampaikan padanya tentang keadaan Dokter Arumi saat ini."


Tanpa menunggu lama, kedua perawat yang disebutkan namanya segera menjalankan titah dari suster Amira.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2