
🔞 HARAP BIJAK DALAM MEMBACA
Dengan langkah panjang Arumi berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Matanya mulai berkaca-kaca dan hidungnya terasa masam. Berkali-kali wanita itu mendongakkan kepala berusaha untuk menghalau agar cairan bening itu tidak meluncur tanpa seizin darinya.
Saat berpapasan dengan beberapa perawat dan dokter yang berjaga, ia tetap memberikan senyuman yang dipaksakan. Meski hati sakit tetapi ia harus tetap tersenyum di hadapan semua orang. Bukan perkara mudah bagi wanita itu tersenyum di kala hatinya sedang terluka. Butuh perjuangan baginya untuk menutupi perasaan itu dari dunia luar.
"Dasar pria aneh!" teriak Arumi saat berada di rooftop rumah sakit. Dadanya kembang kempis akibat menahan emosi.
Membayangkan begitu tajamnya lidah pria itu saat mengucapkan kata-kata yang bernada sindiran dan intonasi tinggi, membuat tubuh Arumi seketika luruh ke lantai. Ia memeluk kedua lutut dan menenggelamkan di sana. Tubuhnya gemetar dan detik berikutnya air mata wanita itu pun meleleh.
"Salah aku apa hingga dia memperlakukanku dengan tidak adil! Seharusnya dia memberikan kesempatan padaku untuk membela diri, bukan malah memberikan hukuman dan mengusirku begitu saja."Lagi-lagi air mata Arumi mengalir deras. Rasanya, ia sudah tidak sanggup bila harus bekerjasama dengan pria itu.
Setiap hari, Arumi menjadi pelampiasan kemarahan Rayyan. Pria itu tidak bosan mencari celah untuk bisa memarahi Arumi. Padahal wanita itu selalu melakukan semua pekerjaan dengan baik namun di mata sang atasan ia selalu salah.
***
Matahari menyinari kota Jakarta begitu cerah. Sang Surya seolah ingin menunjukan cahayanya pada seluruh insan di bumi ini. Selepas mengerjakan urusan pekerjaan, Mahesa memutuskan menemui kekasihnya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat.
Entah mengapa, hari ini Kayla meminta dirinya untuk bertemu dengan gadis itu di sebuah hotel. Tanpa menaruh curiga, ia menyetujui kekasihnya itu dan kini kendaraan roda empat milik pria itu sudah terparkir rapi di basement.
Saat tiba di depan kamar hotel, Mahesa segera menekan bel dan detik berikutnya Kayla membukakan pintu. Gadis itu menyambut kedatangan sang kekasih dengan mata berbinar bahagia.
Hari ini Kayla begitu cantik, mengenakan dress super seksi berwarna hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya.
"Mas Mahesa." Senyuman di wajah Kayla terlukis melihat Mahesa ada di hadapannya. Gadis itu langsung berhambur, memeluk Mahesa. Baru satu hari tidak bertemu, ia sudah dilanda rasa rindu yang teramat mendalam.
"Aku sangat merindukanmu, Mas. Kamu tahu tidak, tadi malam aku tak dapat memejamkan mata sama sekali. Aku mencoba menghubungimu, tetapi nomormu tidak aktif." Gadis itu mengurai pelukan, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Kamu sudah ingkar janji!" ucapnya lirih. "Padahal, kemarin kamu bilang akan langsung datang menemuiku kapan pun aku merindukanmu tapi nyatanya nomormu malah tidak aktif."
__ADS_1
"Maafkan aku, Baby. Semalam aku langsung tidur karena terlalu lelah bekerja hingga lupa mengisi daya ponselku," jawab Mahesa seraya memeluk kekasihnya dari arah belakang, mencoba agar Kayla tidak sedih sebab ia khawatir kalau gadis itu bersedih maka janin dalam kandungannya akan ikut bersedih.
"Kamu tidak bohong padaku 'kan?" tanyanya untuk memastikan kalau Mahesa tidak membohonginya.
"Sumpah demi apa pun, aku tidak membohongimu, Baby." Mahesa membalikkan tubuh Kayla, menatap mata gadis itu dengan intens. "Kumohon, percaya-lah padaku," pintanya bersungguh-sungguh.
"Aku takut kamu akan lari dari tanggung jawab setelah mendapatkan apa yang diinginkan." serunya dengan mata mulai berkaca-kaca. "Dan kamu membiarkan aku membesarkan anak ini seorang diri tanpa kehadiran sosok Papa di sampingnya."
Butiran air mata Kayla menetes jatuh membasahi pipi. Hatinya terasa sakit bila mengingat Mahesa pergi meninggalkannya dalam keadaan berbadan dua. Membayangkan pria itu kembali ke pelukan Arumi membuatnya semakin sesak hingga tubuhnya lemah dan terduduk perlahan di atas sofa.
"Baby. Aku tidak mungkin lari dari tanggung jawab. Sungguh, aku tidak akan membiarkanmu menanggun beban ini sendirian. Janin itu adalah anakku dan aku bersedia bertanggung jawab." Mahesa berjongkok sambil mencium tangan Kayla.
"Tanggung jawab apa yang akan kamu berikan? Menikahiku?" Menatap Mahesa dingin.
"Ehm, kalau untuk menikahimu, aku--"
Kayla menepis tangan Mahesa, lalu ia bangkit dari sofa. "Kamu pasti tidak akan menikahiku 'kan karena hatimu masih mencintai Arumi!" Gadis itu menyeka air mata yang semakin deras membasahi pipi.
Kayla hendak meraih sling bag yang tergeletak di atas meja. Namun, tiba-tiba saja tangan gadis itu dicekal oleh Mahesa. Pria itu membawa tubuh Kayla dalam gendongan kemudian menjatuhkannya di atas ranjang kamar hotel.
Brugh!
"Kamu apa-apaan sih, Mas!" sungut Kayla. Merasakan tubuhnya sakit ketika Mahesa membantingnya di atas ranjang. Meskipun ranjang itu empuk tetapi tetap saja hentakan itu memberikan efek pada tubuhnya.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkanmu menggugurkan janin itu!" bentak Mahesa.
Napas Mahesa memburu. Menunjukan emosi yang tertahan. Membayangkan darah daging yang selama ini didambakan olehnya lenyap hanya karena keegoisan pria itu membuatnya frustasi, ditambah pakaian minim yang dikenakan oleh Kayla semakin memancing gairah dalam diri untuk segera menggauli kekasihnya itu.
Dengan gerakan cepat, ia segera menanggalkan semua helai benang yang menutupi tubuh. Lalu merangkak naik ke atas ranjang.
__ADS_1
Kayla mundur ke belakang, hingga tubuhnya membentur sandaran ranjang. Kilatan amarah terpancar jelas di mata Mahesa. Selama mengenal pria itu, ini pertama kalinya Kayla melihat sang pujaan hati dalam keadaan emosi yang meluap-luap.
"Mas, menyingkir dariku!" pekik Kayla saat tangan kekar itu menarik kaki jenjang kekasihnya itu.
"Diam!" bentak Mahesa dengan emosi. Lalu, pria itu ******* bibir ranum Kayla dengan sangat rakus.
Tubuh gadis itu meremang seketika kala mendapatkan serangan tiba-tiba. Semakin lama, ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Kayla semakin hanyut dan terbuai. Tanpa sadar, ia membuka mulut lebar. Memberikan akses pada Mahesa untuk memudahkannya menikmati isi rongga mulut gadis itu.
"Eugh!" Mahesa mengerang dengan suara serak ketika Kayla membalas ciumannya dengan penuh hawa napsu.
Pria itu menarik tengkuk Kayla dan memperdalam ciumannya. Sementara tangan satu lagi bergerak mencari titik sensitif yang dapat membawa gadis itu terbang ke nirwana.
"Mas. Aku ... sudah tidak tahan lagi," ucap Kayla di sela-sela ciuman panas mereka. "Ayo, cepat lakukan! Jangan membuatku menunggu terlalu lama."
Kabut gairah sudah menutupi sebagian kelopak mata gadis itu. Tatapan matanya sayu, deru napas memburu. Rasanya ia sudah tidak tahan dengan permainan panas yang diberikan oleh kekasihnya itu.
"Baik. Aku akan melakukannya sekarang," jawab Mahesa dengan suara serak. "Namun, kamu harus berjanji tidak akan mengancamku dengan mengatakan akan menggugurkan anak itu!"
"Oke, aku tidak akan mengancammu lagi tapi kamu juga harus berjanji akan menikahiku. Aku bersedia meski pernikahan kita nanti hanya pernikahan siri. Asalkan status anak ini jelas, aku tidak keberatan."
"Tenang saja. Dalam waktu dekat, kita akan melangsungkan pernikahan," bisik Mahesa di telinga Kayla.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Mahesa menindih tubuh Kayla. Memberikan ciuman seraya menarik ke atas bagian bawah dress gadis itu sehingga memperlihatkan bagian inti sang gadis yang tertutupi oleh kain tipis berwarna hitam. Dengan gerakan cepat, ia langsung melempar bagian penghalang itu ke sembarang tempat.
Mahesa membuka lebar kedua paha mulus nan putih milik Kayla dan dalam sekali hentakan benda pusakan milik pria itu sudah terbenam sepenuhnya di dalam inti tubuh sang kekasih hingga membuat sang empunya menjerit karena merasakan sesuatu di bawah sana terasa nyeri akibat penyatuan secara tiba-tiba.
TBC
.
__ADS_1
.
.