
Hari ini adalah hari terakhir bagi Rayyan dan Arumi berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Banyak tempat wisata yang telah dikunjungi oleh pasangan suami istri itu selama berbulan madu. Mulai dari Gala Yuzawa di Jepang, Tembok Besar Cina di Cina hingga Suria KLCC di Kuala Lumpur, Malaysia. Waktu dua minggu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Rayyan untuk menaburkan benih pada sang istri.
Besok pagi mereka akan kembali ke Indonesia, melakukan rutinitas seperti biasa dengan status baru. Oleh karena itu, sejak sore hari, Rayyan sengaja mengajak Arumi pergi jalan-jalan membeli oleh-oleh sambil menikmati senja di negara bagian Asia Tenggara.
"Menurutmu, semua oleh-oleh ini cukup jika kita bagikan untuk keluarga serta teman-teman di rumah sakit?" tanya Rayyan sambil mengaduk-aduk isi kantong belanja berukuran besar dari tangannya. Satu kantong besar itu terdiri dari berbagai jenis cinderamata yang akan diberikan pada Nyimas, keluarga Rio serta rekan sejawat yang berada di bangsal Bougenville.
Tepat pukul empat sore waktu setempat, Rayyan sengaja mengajak Arumi pergi ke Chinatown yang berada di Jalan Petaling, Kuala Lumpur, Malaysia. Konon katanya, tempat ini merupakan tempat terbaik untuk berbelanja oleh-oleh sambil mengeksplorasi tempat wisata yang ada di sekitar. Untuk itulah, pria keturunan Tionghoa itu menyempatkan diri berbelanja souvenir untuk keluarga dan teman-teman yang ada di Indonesia.
Arumi mengikuti ke mana arah pandang Rayyan. Menimbang seraya mengira-ngira apakah semua oleh-oleh tersebut cukup jika dibagikan kepada sang mama, keluarga Rini serta rekan sejawatnya yang berada di bangsal Bougenville.
"Kurasa ... semua barang ini sudah lebih dari cukup, Ray. Jadi, tidak perlu membeli oleh-oleh lagi," jawab Arumi. Tampak Rayyan menganggukan kepala, setuju dengan jawaban istrinya.
Raut wajah pria itu terlihat begitu puas, karena mendapatkan harga yang cukup miring saat membeli oleh-oleh untuk dibagikan nanti. Bagaimana tidak, ia memanfaatkan wajah oriental yang dimiliki serta menggunakan bahasa mandarin ketika melakukan transaksi dengan para pedagang.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi ke lokasi lain." Rayyan melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum panjang sudah menunjukan angka enam dan matahari pun sebentar lagi kembali ke peraduan. "Kita akan makan malam di Jalan Alor. Lokasinya hanya sepuluh menit dari sini jika menggumakan taxi."
Maka, Rayyan dan Arumi pun mengayunkan kaki melangkah keluar meninggalkan lokasi tersebut. Sepasang suami istri itu berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taxi online tiba di titik penjemputan.
Sebenarnya jarak antara Chinatown dan Jalan Alor hanya berjarak sekitar 2.3 KM. Namun, karena tidak ingin Arumi kelelahan dan Rayyan pun membawa kantong belanja yang cukup besar sehingga pria itu lebih memilih menggunakan taxi online untuk mengantarkan mereka ke lokasi tujuan.
Selama di perjalanan, Rayyan dan Arumi memandangi keindahan pemandangan sekitar lewat kaca mobil. Sesekali pasangan suami istri itu saling menatap dan melempar senyum satu sama lain.
Dua belas menit berlalu, kini Rayyan beserta Arumi telah tiba di Jalan Alor, Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia. Satu tangan kekar pria itu menjinjing kantong belanjaan yang cukup besar, sementara tangan yang lain menggenggam erat jemari sang istri.
"Perhatikan jalanmu, jangan sampai tersandung." Rayyan mengingatkan Arumi agar lebih berhati-hati, sebab keadaan sekitar sudah mulai ramai dipadati para pengunjung yang hendak menikmati wisata kuliner di sepanjang jalan Alor.
__ADS_1
Arumi yang saat itu tengah mengedarkan pandangan ke sekitar, memperhatikan para pedagang kaki lima sedang melayani para pembeli, refleks menoleh ke sumber suara. Suara magnetis itu mampu menghipnotis dokter cantik itu beberapa saat. Cahaya lampu yang menyala di setiap kedai yang ada di jalan Alor menerpa wajah suaminya dari sisi kanan. Fitur wajah pria itu bisa dikatakan cukup tampan dengan hidung mancung tegas, alis tebal yang terangkat tinggi serta bibir seksi yang selalu mengecup bibir ranum miliknya.
Terlalu fokus memandangi wajah tampan Rayyan, ia tak menyadari jika di depan sana ada kubangan air sisa hujan tadi siang. Air kubangan itu tanpa sadar terinjak dan terciptar mengenai sepatu kets putih milik Arumi.
"Oh astaga. Sepatuku!" pekik Arumi. Wanita itu menghentikan langkahnya, lalu melepaskan genggaman tangan dari tangan sang suami. Bola mata indah itu bergerak, memindai sepatu putih miliknya. Sepatu putih yang awalnya bersih, kini berubah menjadi sedikit kecokelatan karena kubangan sisa air hujan.
Menyadari jika genggaman tangan terlepas dari jemari lentik Arumi, Rayyan menoleh ke belakang. Lantas, berjalan tergesa mendekati wanita itu.
Wajah Rayyan terlihat panik, mencemaskan keadaan Arumi. Khawatir jika istrinya terluka. "Babe, kamu kenapa? Apa ada yang terluka hem?"
Pria itu meletakkan kantong belanjaan di tanah, tak peduli jika oleh-oleh itu hilang digondol orang. Saat ini dalam pikirannya hanya ada Arumi seorang. Tanpa ragu sedikit pun, mantan musuh dokter cantik berjongkok seraya memperhatikan anggota tubuh bagian bawah istrinya.
Netranya berhenti pada bercak cokelat yang menempel di sepatu kets milik Arumi. "Kenapa bisa kotor begini sih?" Tanpa diminta oleh Arumi, tangan kelar itu membuka sling bag milik istrinya. Kemudian mencari tisu untuk membersihkan noda tersebut. "Aku 'kan sudah bilang, hati-hati. Kamu malah tidak fokus!"
Arumi menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Perhatian Rayyan begitu besar hingga membuatnya sedikit tidak nyaman. Banyaknya orang lalu lalang, serta posisi pasangan suami istri itu berada di tengah jalan menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung.
Akan tetapi, Rayyan tak memedulikan sikap protes yang ditujukan kepadanya. Ia masih sibuk membersihkan sepatu milik sang istri.
"Coba lihat, pria tampan itu so sweet sekali. Dia bersedia membersihkan sepatu kekasihnya," celetuk salah satu pengunjung pada temannya. Dua wanita muda melintas saat Rayyan dan Arumi berdiri di tengah jalan.
"Benar. Aduh, romantis sekali! Aku juga ingin diperlakukan begitu," timpal yang lain.
Itulah segelintir perkataan dari beberapa pengunjung yang lewat kala melihat dirinya dan Rayyan sedang membeku di tempat.
Tidak mau jadi pusat perhatian semua orang, Arumi menarik sepatunya yang saat itu sedang dibersihkan oleh Rayyan.
__ADS_1
Melihat gerakan itu, Rayyan tersentak. Pria itu mendongakan kepala, dan menatap wajah istrinya. Mengernyitkan kening petanda bingung.
"Aku belum selesai membersihkan sepatumu, Babe. Sini ... biar aku bersihkan lagi." Bersiap menarik kembali sepatu yang tengah dipakai Arumi.
Namun, Arumi mundur satu langkah ke belakang. Seolah tak memberikan izin Rayyan untuk membersihkan sepatu kets miliknya.
"Kenapa?" tanya Rayyan.
"Um ... itu ... aku, tidak nyaman jika menjadi pusat perhatian semua orang. Jadi tolong, sebaiknya jangan membersihkan lagi sepatuku. Biarkan saja kotor. Toh, setelah kembali ke Indonesia sepatu ini akan bersih kembali."
Rayyan memandangi keadaan sekitar. Memang benar mereka kini tengah menjadi pusat perhatian banyak orang. Pria itu menarik napas dalam.
"Baiklah. Aku tidak akan membersihkannya lagi." Suara Rayyan sangat pelan dan lembut.
Kemudian, secara perlahan Rayyan bangkit dari jongkoknya. Menepuk-nepuk kedua tangan agar telapak tangan bersih kembali, tidak ada debu kotoran yang menempel di tangan.
"Sebaiknya kita langsung cari restoran saja. Jangan sampai tiba di hotel larut malam. Masih banyak barang yang belum dimasukan ke dalam koper." Rayyan mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang. "Kamu ... mau makan apa?" Tangan Rayyan kembali menggenggam erat jemari Arumi. Namun, sebelum itu, Rayyan telah lebih dulu menuangkan sanitaizer menyentuh tangan istrinya.
"Aku ingin makan masakan Cina. Tapi, kamu belikan dulu aku buah jeruk ya. Cari yang rasanya sedikit masam. Aku sedang tidak ingin makan buah yang terlalu manis," pintanya pada Rayyan.
Rayyan terdiam sejenak, otaknya sedang mencerna perkataan yang terucap dari bibir Arumi. Detik berikutnya mulut pria itu terbuka. "Seperti orang ngidam saja, minta buah-buahan yang masam." Kendati begitu, pria itu tetap menuruti permintaan istrinya.
.
.
__ADS_1
.