
Beberapa menit sebelum Rayyan datang ke pos keamanan.
"Ada apa, Om Putra?" tanya Kayla setelah pria paruh baya yang statusnya masih menjadi papa mertua bagi sang model masuk ke dalam ruang rawat inap kamar VIP.
Putra menghela napas dalam sambil memasukan telepon genggam miliknya ke dalam saku celana. "Om harus ke pos keamanan sebentar. Biasa, Ibu mertuamu buat masalah lagi," bisiknya ke telinga Kayla. Ayah kandung dari Mahesa tidak mau anak kesayangannya yang baru saja sadar dari koma terkejut mendengar mama tercinta diungsikan karena membuat keonaran di rumah sakit.
Kayla tak harus berkata apa. Wanita itu hanya menggelengkan kepala. "Kalau Om tidak keberatan, bolehkah aku menemani Mas Mahesa selama Om pergi? Aku ... merindukan kebersamaan kami," ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
Melihat Kayla tersipu malu saat mengucapkan kata 'rindu', membuat dua garis lengkung terlukis di wajah tampan anak pertama dari keluarga Adiguna. Di saat seperti ini, mantan model itu masih setia menampingi Mahesa walau kemungkinan dirinya untuk bisa merebut posisi Arumi di dalam hati Mahesa minim sekali, wanita itu terus berusaha hingga tetes darah terakhir.
"Om tidak keberatan. Lagi pula, statusmu masih menjadi istri sah dari anakku. Walaupun istriku sendiri sudah tak menganggapmu sebagai menantunya, tetapi di antara kamu dan Mahesa masih terikat pernikahan meski hanya pernikahan siri."
Putra kembali berucap seraya menepuk kedua pundak Kayla dengan lembut. "Tolong jaga Mahesa. Om mau pergi sebentar."
Kayla menganggukan kepala sebagai jawaban. "Baik, Om."
Sepanjang jalan menyusuri lorong rumah sakit, Putra terus bertanya-tanya mengapa Naila bisa sangat membenci Arumi. Padahal, wanita muda itu begitu baik dan selalu memperlakukan mereka berdua seperti orang tua kandungnya sendiri. Namun, entah mengapa di mata Naila, Arumi selalu saja dinilai salah meski sudah menjadi istri serta menantu yang baik.
Tepat ketika pintu lift terbuka, Putra langsung melangkah keluar bersamaan dengan beberapa penumpang yang lain. Pria itu semakin mempercepat langkahnya kala melihat sebuah bangunan tak cukup besar berada di dekat kolam ikan air terjun.
Hanya berjarak sekitar dua meter, netra Putra menangkap dua orang security sedang berdiri dengan tegap di depan pintu. Lalu, ia menatap daun pintu berwarna putih tertutup rapat. Berhubung kaca jendela yang digunakan merupakan kaca riben, jadi Putra tak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Aneh sekali. Kenapa dua orang security itu di luar sementara istriku di dalam ruangan tertutup?" gumam Putra.
Agar ia tidak semakin penasaran, pria itu mendekati kedua security. "Permisi, Pak. Saya suami dari Bu Naila. Ehm ... apakah istri saya ada di dalam?" tanyanya.
"Ada, Pak. Istri Bapak ada--"
Belum usai pria berseragam biru navy berkata, terdengar suara geraman seperti orang kesetanan disusul suara seseorang terbatuk membuat ketiga lelaki dewasa itu refleks menoleh ke belakang.
"Dokter Rayyan!" Salah satu dari dua security segera berlari dan meraih gagang pintu, lalu membukanya dengan sekali dorong.
Setelah pintu itu terbuka, alangkah terkejutkan mereka saat melihat kedua tangan Rayyan mencengkeram pangkal tenggorkan Naila dengan sangat erat. Wajah memerah hingga memperlihatkan urat leher menonjol ke luar. Dada bergerak kembang kempis dengan sorot mata mengerikan.
"Astaga!" seru Putra seraya berhambur ke arah Rayyan. "Hentikan, Dokter. Jangan melakukan hal konyol!" Putra berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rayyan dari pangkal leher Naila, tetapi sang dokter seakan tuli, tak mendengar ucapan yang dikatakan oleh pria itu.
"Dokter Rayyan, sudah hentikan! Anda bisa masuk penjara atas tuduhan pembunuh*n terhadap istri saya."
__ADS_1
"Saya tidak peduli! Wanita ini memang pantas mat* karena terus menyakiti istriku!" teriak Rayyan sambil terus menekan pangkal tenggorokan Naila. Wajah Naila sudah memerah, dengan napas tersengal-sengal seperti ikan yang kehabisan air.
"Jangan kotori tangan suci ini dengan darah dari istri saya yang hina ini, Dokter. Tangan Anda terlalu berharga hanya untuk melenyapkan nyawa istri saya," bujuk Putra. Bibir pria itu gemetar hebat, gemuruh dalam dada semakin kencang kala melihat wajah wanita yang teramat dicintai olehnya semakin memerah. "Setidaknya, tolong pikirkan nasib ketiga calon buah hatimu. Apakah Anda mau mereka terlahir ke dunia ini tanpa ditemani oleh ayahnya tercinta?"
Rayyan seketika tersadar ketika mendengar Putra menyebut ketiga buah cintanya bersama Arumi. Tiga bayi yang kelak menjadi penghibur di saat duka lara, pelita di saat gelap gulita dan sumber kebahagiaan bagi setiap orang tua di belahan bumi manapun.
Kesempatan ini digunakan oleh Naila untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Seandainya saja Putra dan kedua security itu terlambat datang, mungkin malaikat maut sudah menjemput. Nyawa wanita itu sudah melayang entah dibawa ke mana.
Putra melambaikan tangan ke arah dua security, mengintruksikan mereka agar mendekat. "Bawa Dokter Rayyan duduk di kursi!"
Setelah memastikan Rayyan duduk tenang di kursi, barulah Putra mendekati Naila yang masih terduduk lemas di lantai. Kedua tangan wanita itu sedang mengusap dada, berusaha mengembalikan kembali degup jantung yang sempat tak beraturan.
Putra berjongkok, sambil mengulurkan tangan ke depan. Membantu Naila bangkit secara perlahan. "Kamu baik-baik saja, Ma?" tanya penuh dengan sorot mata kecemasan. Walaupun ia sangat marah atas sikap Naila, tetapi wanita itu tetaplah istrinya yang telah mendampingi dirinya selama hampir tiga puluh tahun lamanya. Seorang wanita yang telah merubah statusnya dari seorang suami menjadi seorang ayah dari anak semata wayangnya.
Naila menatap sinis ke arah Putra. "Tidak apa-apa bagimana! Mama nyaris saja mati di tangan anak tiri si Pelakor, Lena! Papa malah masih bertanya aku tidak apa-apa!" semburnya. "Lagi pula, Papa itu lamban sekali sih! Mama sudah telepon sejak tadi, tapi kenapa baru datang sekarang!"
Putra terhenyak beberapa saat mendengar kalimat yang terucap dari bibir Naila. Dalam keadaan sekarat, wanita itu masih saja berani memarahinya di depan umum. Padahal ia baru saja menyelamatkan sang istri dari malaikat mau yang nyaris saja mengambil nyawa wanita itu. Sungguh, pria itu tak habis pikir dengan cara berpikir Naila.
"Beri dia pelajaran, Pa, karena berani-beraninya memperlakukanku dengan cara seperti itu. Hajar dia sampai babak belur. Kalau perlu, lenyapkan dia agar si Mandul itu jadi janda dan tidak ada satu orang pria pun mau menikahinya," pinta Naila. Wanita itu kembali memasang sikap angkuh di hadapan semua orang. Merasa berada di atas awang setelah Putra datang menyelematkannya.
"Dasar wanita tua tidak tahu diri! Beraninya kamu menghina istri saya!" teriak Rayyan hingga suara nyaring memenuhi seluruh penjuru ruangan. Pria itu telah bangkit dari kursi, namun dengan sigap kedua security memeluk tubuh Rayyan agar tak kembali menyerang Naila.
"Lepaskan saya! Biarkan saya mencekik wanita itu lagi!" Akan tetapi, dua orang pria berbadan tegap tak membiarkan Rayyan mendekati Naila.
Bersikap jumawa di hadapan Rayyan. Naila tersenyum mengejek ke arah pria muda di hadapannya. "Memang kenyataannya begitu kok. Istri kamu itu mandul. Sekali mandul ya tetap mandul."
"Jaga bicaramu, Ma! Jangan menghina orang sembarangan!" sembur Putra. Merasa ikut tersulut emosi melihat sikap angkuh sang istri.
Naila mengerutkan kening, menatap penuh tanya. "Menghina bagaimana, Pa. Memang itu kenyataannya. Arumi itu mandul. Buktinya, dia belum juga hamil sampai sekarang."
"Ma! Apa kamu sudah buta hingga tak melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Arumi terutama bagian perutnya yang lebih menonjol ke depan?"
Dengan santai tanpa merasa bersalah, wanita paruh baya itu menjawab. "Lihat kok. Memang lebih buncit tapi bukan berarti dia hamil. Ya, bisa saja itu hanya akal-akalan dia saja untuk menjerat suaminya yang jejaka ini agar tak meninggalkannya. Kalau dia menjadi janda, maka citranya di mata semua orang buruk."
"Jadi orang itu jangan naif, Pa. Di era modern ini banyak cara yang dapat digunakan agar seorang wanita terlihat seperti wanita hamil. Aku yakin, si Mandul itu melakukan trik licik seperti itu."
Plak!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulus Naila. Saking kerasanya hingga menimbulkan bekas lima jari kemerahan.
"Pa, kenapa kamu menamparku!" pekik Naila seraya memegangi wajahnya yang terasa perih.
"Hukuman itu pantas untuk kamu, Ma. Kamu seharusnya lebih menjaga lisanmu agar tak terus menerus menyakiti perasaan orang lain. Kamu sadar tidak, kalau wanita yang kamu hina adalah mantan menantu kita. Dia jugalah yang telah menolong anak kita hingga Mahesa tersadar dari koma."
"Seharusnya kamu mengucapkan terima masih pada Arumi, bukan malah terus menghina serta menjelek-jelekannya di hadapan suaminya." Habis sudah kesabaran Putra. Kali ini ia tak dapat mengendalikan emosi dalam dirinya.
Alih-alih menyadari kesalahannya, Naila ikut terpancing emosi. Wanita itu mendengkus kesal. "Cih! Untuk apa berterima kasih pada wanita itu. Lagi pula, Mama 'kan tidak minta dia datang menemui Mahesa. Lebih baik Mahesa meninggal daripada anak kita bertemu lagi dengan Arumi."
"Mama!" bentak Putra seraya menggebrak meja. Rahang pria itu menonjol ke luar disertai dada semakin kembang kempis. "Bisa-bisanya kamu menyumpahi anakmu sendiri! Ibu macam apa kamu yang tega mendo'akan hal buruk menimpa anakmu! Mahesa anakmu, darah dagingmu sendiri!"
"Iya, Mama tahu. Mama sendiri yang melahirkan Mahesa. Namun, Mama tidak sudi anak kesayangan kita bertemu lagi dengan si Arumi Mandul itu." Naila tampak begitu frustasi karena permasalahan hari ini terus berputar-putar pada bahasan yang sama.
"Sudah saya katakan, Arumi tidak mandul!" bentak Rayyan. Ia ikut menimpali percakapan pasangan suami istri itu.
Naila berkacak pinggang, lalu menatap sinis ke arah Rayyan. "Heh, anak tiri pelakor. Istri kamu itu mandul. Tahu tidak. Sekali mandul, selamanya akan mandul."
"Arumi itu mandul! Mantan menantuku itu mandul!" Naila tertawa terbahak sambil berjalan mendekati Rayyan, kedua security lalu terakhir suaminya. "Kalian semua dengar ya, Arumi itu mandul. Mandul. Mandul."
Detik berikutnya, air mata mulai mengalir membasahi pipi. Wanita paruh baya itu menangis terisak. "Pa, menantu kita Arumi tidak mandul 'kan, ya? D-dia ... ehm ... saat ini sedang hamil, Pa. Tadi Mama lihat perutnya membesar. Sebentar lagi punya cucu."
Naila berlari ke arah kursi yang dudukinya tadi, lalu meraih tas Kremes dan menimangnya layaknya seperti seorang bayi.
"Ululu ... cucu Oma yang tampan, jangan menangis. Ada Oma dan Opa di sini. Bobok ya, Sayang." Jemari tangan Naila menepuk-nepuk tas itu dengan sangat lembut.
Tampak raut kebingungan terlukis di wajah semua orang. Mereka berempat menatap cengo ke arah Naila.
"Sepertinya Ibu ini gila!" celetuk salah satu security yang berdiri di samping kanan Rayyan.
Rekan kerjanya menyenggol siku pria itu. "Hush! Jangan sembarangan ngomong. Tidak enak didengar oleh Bapak itu." Ia menunjuk Putra dengan gerakan mata. Lalu, suasana kembali hening. Hanya terdengar suara nyanyian pengantar tidur yang dinyanyikan oleh Naila.
.
.
.
__ADS_1