Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Dendam Arman pada Firdaus dan Lena


__ADS_3

Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, Lena sudah berada di pekarangan unit apartemen miliknya. Hari ini ia cukup bahagia karena bisa sedikit melepaskan perasaan yang mengganjal di dalam dada.


Rupanya berbincang dengan Puspa cukup menyenangkan, begitulah yang dirasakan oleh ibu kandung Raihan. Selama ini hanya memendam rasa, dan jarang sekali mengungkapkannya kepada orang lain. Sehingga saat berbincang dengan perawat pribadinya, ia seakan mendapatkan teman ngobrol yang dapat dipercaya dan diandalkan sebab itu wanita paruh baya itu menceritakan seluruh isi hatinya kepada Puspa.


Saat tiba di depan pos keamanan, Lena melihat penjual bubur ayam yang tengah mangkal di dekat unit apartemen. Hatinya tergerak untuk membelikan dua bungkus makanan tersebut dan memberikannya kepada security yang berjaga.


"Puspa, saya minta tolong belikan bubur ayam yang di sana dan bagikan pada dua orang security yang bertugas. Saya yakin, mereka pasti belum sempat sarapan," minta Lena pada Puspa. Ia melihat wajah kedua pria bertubuh tegap itu bukanlah yang dilihat olehnya sebelum meninggalkan apartemen. Tampaknya telah terjadi pergantian shift di antara para security tersebut.


Puspa menerima uang lembaran lima puluh ribu dari dompet Lena sambil berucap, "Ibu tunggu di sini, jangan ke mana-mana sebelum saya kembali!"


Lena tersenyum hangat sembari menjawab, "Iya. Belikan sarapan berikut lauk pauk untuk mereka. Habiskan saja uangnya, tidak apa-apa. Setelah itu kita kembali ke apartemen. Saya ingin segera rebahan. Punggung saya terasa pegal."


"Baik, Bu. Kalau begitu saya tinggal dulu." Puspa meninggalkan Lena setelah mencarikan tempat aman bagi wanita itu.


Bola mata Lena bergerak ke sana kemari, memindai lingkungan sekitar. Menoleh ke samping kanan kiri, seolah sedang mencari sesuatu. "Aneh, kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang tengah membuntutiku." Kembali mengedarkan pandangan, memperhatikan sekitarnya dengan seksama. Akan tetapi, tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. "Ah ... paling cuma perasaanku saja."


Beberapa menit kemudian, Puspa telah kembali dengan tangan kosong. "Bu Lena, kedua security itu menyampaikan ucapan terima kasih karena sudah dibelikan buryam gratis. Kata mereka, lumayan jatah uang sarapan dapat disimpan dan dibelikan kebutuhan pokok lainnya," ucap Puspa. Tugas yang diberikan kepadanya telah dijalankan dengan baik tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.


Senyuman lebar terukir di wajah Lena. "Ya ... sama-sama. Ayo, Pus, segera antarkan saya pulang." Tanpa mengucap sepatah kata, Puspa bergegas membelokkan kursi roda milik Lena, lalu mendorongnya masuk ke dalam gedung apartemen berlantai dua belas.


Sementara itu, seorang pria tengah bersembunyi di balik tembok pos keamanan. Ia menatap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi ke awang. Unit apartemen mewah di kawasan Jakarta Barat terlihat megah walau terlihat dari luar.


"Tampaknya kehidupanmu semakin bahagia semenjak kita berpisah, Lena. Ehm ... seandainya saja waktu itu si Berengsek tak mengancam ingin melaporkanku ke polisi demi mendapatkan tanda tangan gugatan cerai, mungkin saat itu diriku tidak perlu susah-susah merampok di rumah orang dan mengakibatkanku masuk penjara karena ada kamu yang menjadi sumber tambang emas."


"Kini, setelah bebas dari penjara dan bertemu denganmu lagi, aku berjanji akan membalas dendam pada kalian berdua karena telah membuat hidupku menderita. Tunggu saja pembalasanku! Kamu dan suamimu itu akan mendapatkan balasan setimpal karena telah bermain-main denganku!" Pria itu menyeringai sembari menatap sinis ke arah dua orang wanita yang tengah melangkah masuk ke dalam lobi.


Langkah pria asing itu cepat bergerak menuju lobi apartemen sebelum mangsanya menghilang dari pandangan. Ketika berpapasan dengan penghuni apartemen ataupun petugas keamanan, ia mencoba bersikap biasa-biasa saja tak menunjukan bahwa dirinya tengah membuntuti seseorang. Tersenyum ramah menyapa mereka seolah dia merupakan salah satu dari penghuni unit apartemen tersebut.


Maka, ketika melihat Lena tengah masuk ke dalam lift, pria itu memperhatikan angka digital yang tertera di atas pintu. Kemudian menyusul mantan istrinya menuju lantai tujuh menggunakan pintu lift yang lain. Ketika pintu lift itu berdenting dan terbuka, ia berderap keluar dan mencari keberadaan sang mantan.


"Sial! Ke mana perginya wanita itu! Jangan sampai aku kehilangan jejak dia!" umpat Arman, berdesis pelan. Mengamati deretan pintu di lantai tujuh. Ia mengerahkan kemampuannya untuk menemukan mantan istrinya itu.


***

__ADS_1


"Akhirnya, kita sampai juga ya, Bu. Mau langsung masuk ke kamar atau saya bantu Ibu rebahan di sofa sambil menonton televisi?" tawar Puspa. Meskipun tahu jika Lena ingin istirahat di kamar, tetapi apa salahnya jika bertanya kepada pasiennya. Siapa tahu Lena berubah pikiran.


Tampak Lena sedang berpikir, mempertimbangkan saran dari perawat pribadinya. "Bantu saya rebahan di atas sofa saja, Pus. Sepertinya lebih asyik jika duduk di depan sambil menonton televisi."


Puspa mendorong kursi roda mendekati sofa. Sebelum memindahkan tubuh Lena, terlebih dulu roda belakang kursi roda ditahan menggunakan kaki. Setelah itu barulah kedua tangan sang perawat menopang ketiak pasien pada bagian yang lemah atau sakit.


"Bagaimana, Bu, nyaman tidak dengan posisi ini? Kalau tidak, saya ambilkan lagi satu bantal di kamar," tanya Puspa sebelum meninggalkan Lena di ruang tamu.


"Sudah nyaman kok. Terima kasih, Puspa."


"Apakah Ibu membutuhkan hal lain sebelum saya menulis laporan yang ditugaskan oleh Suster Sarah?"


Dengan cepat Lena menggelengkan kepala. "Tidak ada. Kamu bisa kembali dan melanjutkan pekerjaanmu."


Sepasang pria dan wanita sedang duduk bersebalahan di kursi bar terbuat dari kayu jati pilihan. Mereka tampak serius menulis laporan kesehatan kedua pasiennya. Walaupun tak bekerja lagi di rumah sakit, suster Sarah mewajibkan kepada para perawat home care yang bekerja di bawah naungan Persada International Hospital membuat laporan sebagai bahan acuan ketika sang pasien melakukan rawat jalan. Selain itu, sebagai bukti jikalau para perawat tersebut menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dan benar.


"Za, istrimu tidak masalah 'kan selama beberapa hari ini ditinggal sendirian di rumah?" celetuk Puspa.


Reza melirik sekilas ke arah sepupunya sambil menjawab, "Jangan cemas, Pus. Meta bisa menjaga diri dan kandungannya dengan baik. Aku pun sudah menitipkannya kepada tetangga samping rumah. Jadi, kita bisa fokus mengurus Dokter Firdaus dan Bu Lena."


Reza terkekeh mendengar perkataan Puspa, saudara sepupu dari pihak ayah. "Alah ... jangan bicara begitu. Seharusnya aku berterima kasih padamu karena telah memberikan pekerjaan tambahan kepadaku, hingga mendapatkan penghasilan lebih untuk biaya persalinan si kecil nanti." Pria itu kembali menatap Puspa sambil tersenyum lebar. "Terima kasih, Mbak Puspa." Terdengar suara kekehan ringan bersumber dari pasangan pria dan wanita berseragam perawat itu.


Di saat kedua perawat beda jenis kelamin itu kembali menyibukkan diri, suara ponsel milik Reza nyaring berbunyi membuat sang empunya menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia mengambil telepon genggam itu dari saku celana. Sebuah pop up muncul di layar ponsel dari istrinya.


[Mas, kamu bisa pulang ke rumah sebentar? Saat ini aku berada di Klinik Bunda. Tadi pagi, aku kepeleset di kamar mandi dan terjadi pendarahan. Bersyukur bayi kita baik-baik saja. Dokter cuma memintaku istirahat selama tiga hari di sini.]


[Namun, aku membutuhkanmu untuk menemaniku. Aku masih trauma, Mas!]


Mendapat pesan singkat yang dikirim oleh istrinya, seketika raut wajah Reza berubah pasi. Merasakan bumi tempatnya berpijak tak lagi berputar pada porosnya. Tatapan mata kosong seakan jiwanya tak lagi menghuni raga lelaki itu.


Suasana ruangan kembali hening, bahkan suara televisi dari ruang tamu sudah tak lagi terdengar. Mungkin Lena sudah mematikannya sebelum akhirnya wanita itu tertidur di atas sofa.


Puspa yang kebetulan sedang menoleh ke arah Reza sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi wajah sepupunya itu. Lalu, ia berkata, "Za, kamu kenapa? Memangnya, tadi siapa yang mengirimkan pesan kepadamu?"

__ADS_1


"Reza! Reza!" panggil Puspa kala pria itu tak merespon ucapannya. Ia merubah posisi duduk menghadap ke arah Reza, lalu menyentuh pundak dan mengguncangnya. "Sadar, Za!" ucapnya seraya mengguncangkan pundak pria itu secara bersamaan.


Mendengar suara nyaring serta tubuhnya teeguncang, kesadaran pria itu akhirnya kembali. Walaupun belum seratus persen tersadar, tetapi ia berusaha memanggil kembali raganya yang sempat menari ke atas awan.


"Pus, sepertinya aku harus pulang sekarang. Telah terjadi sesuatu kepada istriku," ucap Reza kala ia tersadar dari lamunannya.


Puspa cukup terkejut mendengar kabar tentang Meta. Padahal baru saja membicarakan wanita itu, tetapi kini mendapat berita buruk mengenai istri dari sepupunya itu.


"M-memangnya ... apa yang terjadi pada Meta? Katakan padaku, Za!" Mencengkeram pundak Reza dengan sangat kerasa. Merasa bersalah karena dirinya telah meminta Reza lembur sementara istri dari pria itu tinggal sendirian di kontrakan dalam keadaan tengah berbadan dua. Ia merasa bertanggung jawab bila terjadi hal buruk menimpa Meta. Entah harus berkata apa pada orang tua Reza jika mereka tahu kalau Meta celaka akibat dirinya.


"Tadi pagi Meta terpeleset di kamar mandi, lalu dia mengalami pendarahan. Dia sudah ditangani oleh dokter. Namun, aku tak tenang bila membiarkan istriku sendirian di sana."


"Ya sudah sana pergi. Temani istrimu. Aku yakin, dia pasti membutuhkanmu saat ini!" seru Puspa tak kalah cemas.


Alih-alih bergegas menuju ruang baca, ruangan yang dijadikan kamar sementara bagi Reza, pria itu membeku di tempat. Menatap luruh ke manik coklat milik Puspa. "Kalau aku pergi, lamu bagaimana dengan Dokter Firdaus. Siapa yang mengurusinya sedangkan dirimu telah sibuk merawat Bu Lena?"


Puspa memutar bola matanya dengan malas. Tak percaya kalau sepupunya itu masih mencemaskan dirinya dan juga sang pasien. "Pergilah! Aku bisa merawat mereka berdua secara bergantian. Jangan mencemaskan keadaanku dan Dokter Firdaus, kami baik-baik saja di sini," ucapnya lembut. "Sudah sana, minta izin terlebih dulu pada Bu Lena agar dia tak kelimpungan mencarimu." Reza mengangguk singkat, lalu bergegas menuju ruang baca.


Membawa keperluan penting miliknya ke dalam tas ransel, pria itu melangkah menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Lena yang duduk di sofa ditemani Puspa. "Bu Lena, saya izin pulang dulu. Kalau keadaan istri saya membaik, pasti kembali lagi ke sini," ucap Reza mantap.


"Jangan memikirkan masalah itu, Mas Reza. Yang penting, kamu temui dulu istrimu. Setelah selesai, baru dipikirkan kembali."


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu. Tolong sampaikan permintaan maaf pada Dokter Firdaus karena pergi tanpa berpamitan terlebih dulu."


"Suami saya pasti mengerti kenapa kamu pergi secara tiba-tiba," sahut Lena.


Usai berpamitan, Reza mengayunkan kaki menuju parkiran basement tempat sepeda motornya di parkir. Saat ia berjalan setengah berlari, Arman melihat perawat pria itu melangkah dengan tergesa-gesa. Seragam putih yang membungkus tubuh membuat mantan suami Lena yakin jika unit apartemen yang ditinggalkan oleh Reza adalah tempat tinggal Lena dan suami barunya.


Akan tetapi, ia belum berani masuk ke dalam. Menunggu hingga perawat wanita yang bersama Lena keluar apartemen, barulah pria itu memulai aksinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2