Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Fitnah Keji (S2)


__ADS_3

"Kamu kenapa, Mona?" tanya Kayla saat melihat mantan asisten pribadinya berjalan setengah berlari dari ambang pintu menuju ruang tamu sambil menggendong seorang bayi cantik berusia dua bulan.


Saat ini, Kayla tengah kedatangan tamu seorang lelaki yang tak lain adalah fotografer saat wanita itu masih menjadi model. Kebetulan Alvin, nama rekan kerja Kayla tengah bertugas dan lokasi pemotretan tak jauh dari kediaman mantan sang model.


Alvin mendapatkan alamat Kayla dari wanita itu sendiri. Meskipun Kayla sudah tak lagi menjadi model tetapi komunikasi masih terjalin baik. Jadi tidak heran, jikalau malam ini ia kembali bertemu dengan mantan istri siri Mahesa.


Sang fotografer terkenal dengan jam terbang tinggi hendak meraih satu buah jeruk di atas meja menghentikan sejenak kegiatannya. Ia mengalihkan perhatiannya dari salah satu buah berkulit warna orange.


Mengerutkan kedua alis sambil berkata, "Mon, apa terjadi sesuatu pada Tasya hingga kamu berjalan tergesa-gesa? Apakah anakmu sakit? Mau aku bantu antarkan ke puskesmas?" Khawatir jika bayi mungil dalam gendongan Mona sakit dan membutuhkan pertolongan segera.


Dada Mona bergerak turun naik. Deru napas memburu dan wajah wanita itu pun pucat. Ia bergerak gelisah seperti tengah dikejar sesuatu.


"Mona?" tegur Kayla sambil terus memandangi mantan asistennya. Akan tetapi, Mona bergeming. Lidah terasa kelu, bibir terkunci rapat dan pikiran wanita itu tak dapat berpikir jernih.


Melihat perubahan sikap Mona yang tak wajar, Kayla bangkit dari sofa dan mendekati teman sekolahnya. Mengulurkan kedua tangan, menyentuh pundak dan berkata, "Katakan padaku, apa yang sedang terjadi. Kenapa wajahmu begitu pucat? Lalu, di mana gorengan yang aku minta. Bukankah tadi aku nitip kamu membelikan cireng kesukaan Alvin?" cecarnya dengan berbagai pertanyaan. Ia tidak tahu kalau saat ini ancaman besar tengah menghampiri kediamannya.


"Ehm ... a-anu, Kay. A-aku ...." Belum usai Mona menjelaskan alasannya kenapa dia kembali dengan tangan kosong, terdengar suara keributan di luar sana. Suara teriakan memanggil nama Kayla begitu memekikan gendang telinga.


"Kayla! Keluar kamu! Kami tahu kamu ada di dalam! Cepat keluar!" seru seseorang. Suara cempreng menggelegar bagai gemuruh petir di siang hari.


"Cepat keluar! Sebelum kami bakar rumahmu ini!" timpal yang lain.

__ADS_1


Sontak, Kayla membelalakan mata ketika mendengar rumahnya akan dibakar. Dalam hati bertanya-tanya, memangnya dia telah melakukan kesalahan apa hingga rumah sederhana yang dibeli dari hasil menjual sisa aset kekayaan ketika dirinya masih menekuni dunia modelling harus dibakar.


Di saat Kayla tengah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang dari luar sana melempar sebongkah batu kecil ke arah jendela rumah hingga menyebabkan pecahan kaca berserakan di lantai.


"Aah!" pekik Kayla sambil menutup kedua telinga menggunakan telapak tangan. Mona tak kalah terkejutnya dari Kayla. Ia pun ikut menjerit histeris dan membuat Tasya menangis kencang dalam gendongan.


Suasana semakin menegang ketika seruan kembali terdengar tetapi bernada penuh ancaman. Bukan cuma itu saja, beberapa pot bunga yang atas di teras menjadi sasaran amukan para warga.


"Kayla, jika kamu tidak keluar maka bersiaplah mati terbakar bersama dosa-dosamu!"


Sedari tadi Alvin terdiam, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah Kayla. Kenapa orang-orang tak jelas itu mengganggu waktu istirahat.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus tahu apa yang diinginkan oleh mereka!" Akhirnya Alvin berinisiatif menghentikan keributan tersebut. Ia bangkit dari sofa dan hendak mengayunkan kaki. Namun, tangan Kayla mencekal lengan mantan rekan kerjanya.


Alvin berdecih kesal sambil menepis tangan Kayla. "Jika itu terjadi, maka aku tuntut mereka atas tuduhan penganiayaan. Serahkan semuanya kepadaku. Kamu dan Mona tunggu saja di sini. Ingat, jangan ke mana-mana."


Alvin memberanikan diri menemui para penduduk kampung, melangkah menuju teras rumah. Lagi dan lagi, pria itu dibuat tercengang atas apa yang terjadi di depannya. Puluhan warga datang membawa senjata tajam, balok kayu, beberapa jerigen yang tengah siap disiramkan oleh warga sekitar ke rumah Kayla.


"Apa kalian semua tak pernah belajar tata krama hingga datang ke rumah orang dengan tidak sopan!" sembur Alvin sesaat setelah dapat menguasai diri. "Perbuatan kalian ini telah mengganggu ketenangan orang lain dan bisa saya laporkan kepada pihak berwajib!"


"Saya tidak takut dengan ancamanmu!" seru pemuda bernama Reza. "Kami pun akan melaporkanmu atas tuduhan perzinahan! Betul tidak, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?" Reza menoleh ke belakang, meminta dukungan dari warga lain.

__ADS_1


"Betul itu! Betul!" sahut warga hampir bersamaan sambil mengangkat senjata tajam serta balok kayu ke udara.


Rahang Alvin mengeras mendengar tuduhan yang baginya sangat keji itu. Ia memang sering berganti-ganti pacar, tetapi tidak pernah sekalipun melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Ajaran serta didikan kedua orang tuanya masih membekas meski mereka telah lama meninggal dunia.


"Berzina? Dengan siapa?" tanya Alvin penasaran. "Kalian jangan sembarangan bicara, itu bisa jadi fitnah jika tidak ada bukti kuat."


"Jika tidak sedang berzina, lalu sedang apa kamu di rumah ini malam-malam begini?" tanya seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah suami Bu Kokom. "Seorang lelaki secara diam-diam bertamu ke rumah seorang pelakor. Kalau tidak ingin melakukan perbuatan hina, lalu mau apa!"


"Yang dikatakan suami saya benar. Apabila seorang pria dan seorang wanita berduaan di dalam rumah, selain mantap-mantap memangnya melakukan apa lagi?" celetuk Bu Kokom, ikut membela suaminya. Memandang sinis ke arah Alvin sambil melipat kedua tangan ke depan dada.


"Jangan sembarangan bicara kamu! Saya datang ke sini hanya ingin bertemu dengan Kayla karena kami sudah lama tak bertemu. Lagipula, di dalam ada Mona yang menemani. Jadi, saya dan Kayla tidak berduaan." Alvin masih berusaha membela diri di hadapan para warga.


"Mana ada maling ngaku. Kalau ngaku, penjara penuh!" Suami Bu Kokom kembali bersuara. Ia tersenyum smirk kala menyaksikan situasi semakin memanas.


"Heh, jangan sembarangan fitnah orang!" Alvin sudah tak dapat menahan diri lagi maka dia maju ke depan dan melayangkan sebuah kepalan keras ke wajah suami bu Kokom. "Berengsek! Bajingan! Enak saja kamu menuduhku telah berzina dengan Kayla!"


Perkelahian pun tak terelakan lagi. Seorang diri, Alvin melawan suami bu Kokom di hadapan beberapa warga. Ia menghajar pria paruh baya itu seperti orang kesurupan. Mantan rekan kerja Kayla menguasai medan pertempuran, tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama.


Melihat sang ayah menjadi sasaran amukan Alvin, Reza turut membantu. Ia menghajar mantan rekan kerja Kayla dibantu beberapa orang pria hingga membuat pria itu babak belur.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2