
"Saya ingin Dokter Rayyan menjadi imam bagi saya dan anak-anak kita kelak," sergah Naura cepat. Tanpa rasa malu sedikit pun, wanita cantik itu berbicara tegas dan lantang di hadapan semua orang. Sontak, perkataan Naura membuat Firdaus, Lena, Arya dan Rayyan menoleh ke arahnya.
Rayyan menghunuskan tatapan tajam pada wanita yang tengah bangkit dari kursi. Sorot mata penuh ketidaksukaan terlukis jelas di wajah pria itu.
Rayyan bukalah tipe pria yang mudah jatuh cinta, apalagi dengan penyakit langka yang diderita olehnya semenjak kepergian Mei Ling. Trauma masa lalu menimbulkan efek samping bagi pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut. Ia menjadi lebih sensitif terhadap lawan jenis sehingga di usianya yang menginjak remaja, tidak ada satu gadis pun yang mampu mendekatinya.
Pria itu seolah membangun benteng tinggi, hingga tak ada satu gadis pun yang berani merobohkannya. Hingga suatu hari, Arumi Salsabila--mantan musuh sekaligus partner kerjanya hadir dalam kehidupan pria itu. Wanita cantik itu mampu merobohkan kerasnya benteng pertahanan yang telah dibangun oleh Rayyan selama ini.
Mendengar kalimat Naura, sontak membuat Rayyan menggeram. Rahang pria itu mengeras, dengan kelopak mata memerah, serta kedua tangan mengepal di samping.
"Jangan mimpi!" pekik Rayyan. "Sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah menjadi makmum bagi saya!"
"Rayyan!" bentak Firdaus dengan suara menggelegar. "Jaga ucapanmu! Tidak pantas bagimu berkata kasar seperti itu pada calon istrimu."
Pria paruh baya itu menggertakan gigi seraya mengepalkan kedua tangan. Tak menyangka jikalau putra sulungnya akan berkata kasar di hadapan calon besannya.
"Kenapa, Pa? Apakah ada perkataanku yang salah hem?" tantang Rayyan.
Nyali pria itu semakin tinggi tatkala melihat emosi sang papa terpancing. Memang terkesan kurang ajar dan tidak sopan tetapi apakah ia harus menghormati pria yang telah menorehkan luka di hati mendiang ibunda tercinta? Seorang pria yang selalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan anaknya sendiri.
"Dasar anak kurang aj*r!" hardik Firdaus. Ia mengangkat tangan ke udara, bersiap melayangkan telapak tangan di wajah mulus putra tercinta. Namun, gerakan itu terhenti. Jemari lembut seorang wanita mencekal pergelangan tangan Firdaus.
"Jangan lukai anakku, Pa!" ucap Lena tegas. "Sekali saja kamu menampar Rayyan maka aku bersumpah akan meninggalkan rumah ini selamanya!"
__ADS_1
Wanita sialan. Untuk apa dia ikut campur dalam urusanku! gerutu Rayyan dalam hati.
Sementara itu, Arya dan Naura terpaku di tempat. Menyaksikan keributan antara Rayyan dan Firdaus membuat bulu kudu mereka merinding, sebab ini kali pertama sepasang ayah dan anak itu melihat bagaimana kemarahan Firdaus terhadap putra sulungnya itu. Namun, Arya tak bisa mundur karena ia sudah terlanjur menyetujui permintaan Naura.
Selama ini Firdaus dikenal akan sosok pemimpin yang penuh wibawa, bijaksana dan tak pernah emosi dalam menghadapi setiap masalah yang muncul. Selalu bersikap tenang dan jernih dalam berpikir. Oleh karena itu, kala melihat emosi Firdaus memuncak, kedua insan manusia itu membeku di tempat.
Rayyan mendengus dan membuang muka. Menatap wajah Lena membuat luka dalam hatinya semakin terkoyak. Bayangan di masa lalu kembali terekam jelas dalam benak pria itu.
"Sekali lagi aku tegaskan pada kalian semua, selamanya wanita itu tidak akan pernah menjadi istriku, sebab aku sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi kami akan menikah." Menatap sinis ke arah dua orang lanjut usia di hadapannya, lalu beralih ke arah Arya dan terakhir kepada Naura.
Air muka murung menyelimuti wajah cantik Naura. Wanita itu mulai berkaca-kaca. Mendapat penolakan secara langsung di hadapan ayah serta pria yang teramat dicintainya membuat tubuh wanita itu gemetar hebat.
Gerakan kecil itu sukses tertangkap oleh netra Arya. Sebagai ayah yang begitu menyayangi sang putri membuat naluri sebagai seorang ayah bangkit untuk melindungi anak tercinta.
"Tidak kusangka, seorang dokter teladan seperti Dokter Rayyan tega melukai perasaan wanita lugu seperti putri saya," sindir Arya. "Memangnya sebaik apa calon istri Dokter Rayyan sehingga menolak mentah-mentah lamaran kami?"
"Memang tidak ada larangan dalam agama kita untuk meminang seorang pria tuk dijadikan pendamping hidup. Bahkan, Rasulullah saja dulu pernah dilamar oleh salah satu istrinya. Namun, saya bukanlah Rasulullah. Saya hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Terlebih, saya tidak mengenal dekat siapa wanita ini. Baik dari segi akhlak, sikap apalagi agama, saya tidak tahu," papar Rayyan mengungkapkan alasannya mengapa menolak Naura.
"Jikalau kalian ingin memaksa saya untuk menerima wanita ini, itu sama saja seperti kalian menjeruskannya pada jurang penderitaan karena sampai kapan pun, hati dan cinta saya sudah dimiliki wanita lain. Oleh karena itu, sebaiknya kalian pulang. Jangan menghabiskan energi untuk membujuk saya agar menerima wanita ini sebagai pendamping hidup."
Tanpa memedulikan mereka, Rayyan melangkahkan kaki menuju lorong penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga. Berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Semua orang bergeming, tak ada satu orang pun berani berucap. Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara isak tangis bersumber dari Naura.
__ADS_1
Air mata wanita itu jatuh berderai. Semua ucapan Rayyan bagaikan ribuan anak panah yang melesak, menancap ke dalam jantung. Hati Naura terluka tetapi tak mengeluarkan darah. Angan-angan untuk dapat dipersunting oleh pujaan hati sirna begitu saja.
Emosi Arya memuncak seketika. Rahang pria itu menonjol keluar serta sorot mata memerah menyiratkan jika ia sedang menahan amarah. Ia tak terima jika anak kesayangannya dipermalukan di depan orang banyak.
Arya melangkah maju, menghampiri Firdaus. Meski Firdaus adalaha atasannya tapi untuk urusan kebahagiaan Naura merupakan hal utama bagi pria itu.
Tanpa mengindahkan etika serta tata krama, Arya berucap dengan suara lantang di depan Firdaus.
"Jadi, seperti inikah balasan atas semua jasa dan pengorbanan yang telah saya berikan terhadap Dokter Firdaus dan rumah sakit? Saya hanya meminta satu permohonan tapi ternyata Dokter Firdaus tak dapat mengabulkan permintaan itu."
"Bahkan, Dokter Firdaus tak menegur Dokter Rayyan saat anak muda itu menghina putri saya. Ck! Sungguh mengecewakan!" sindir Arya.
Tangan pria paruh baya itu menarik tangan Naura dengan kasar. Berada lama dalam satu atap yang sama dengan Rayyan membuat dadanya terasa sesak dan emosi semakin meluap-luap.
"Ayo pulang! Papa tidak sudi berlama-lama di rumah ini. Masih banyak pria lain yang lebih baik dari Dokter sombong itu!" sungut Arya berapi-api.
Tanpa menunggu jawaban Naura, tubuh wanita itu telah mengekori di belakang. Arya menarik paksa Naura melangkah keluar rumah dua tingkah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bernaung bagi Firdaus dan seluruh anggota keluarganya dari terik sinar matahari dan guyuran air hujan.
Kini tersisa Firdaus dan Lena di ruangan itu. Si wanita tampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sementara Firdaus begitu geram dengan tingkah putra sulungnya itu.
"Keterlaluan!" murka Firdaus seraya naik ke lantai dua.
.
__ADS_1
.
.