Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Maafkan Aku, Arumi


__ADS_3

Mendengar suara Arumi dari balik pintu, Kayla langsung membuka suara. "Rumi, ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Bisakah kita berbicara empat mata?"


"Mau bicara apa? Bukankah di antara kita berdua sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas." Pintu apartemen Arumi masih dalam keadaan tertutup.


Dia tidak berani mempersilakan sembarangan orang masuk ke dalam istana yang dibelikan oleh Rayyan sebagai mahar pernikahan. Tidak mau kesalahan di masa lalu terulang kembali, terlebih yang ada di balik pintu adalah wanita yang pernah merusak rumah tangganya.


"Tidak, Rumi! Di antara kita masih ada satu masalah yang belum terselesaikan. Aku ...." Kayla tidak melanjutkan kalimatnya tatkala mendengar suara derap langkah menuju ke lorong apartemen Arumi. "Ehm ... tidak bisakah kita bertatap muka terlebih dulu?"


Arumi terdiam sebentar mendengar permintaan Kayla. Wanita itu tampak kebingungan antara membukakan pintu untuk Kayla atau tetap dalam posisi yang sama.


Ketika Arumi tengah berperang dengan hatinya sendiri, di saat bersamaan, wanita itu mendengar suara berat seorang pria berseru dari jarak tidak terlalu jauh dari apartemennya.


"Sedang apa Bu Kayla di sini!" seru pria itu yang tak lain adalah Burhan, sopir pribadi Arumi.


Pria itu bergegas mengendarai kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen sang majikan setelah mendapat panggilan telepon dari mbak Tini. Mendapat kepercayaan untuk menjaga Arumi selama Rayyan tidak ada di apartemen, membuat pria paruh baya itu merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan Arumi. Dan di sini dia berada sekarang, di lorong apartemen tempat kediaman sang majikan.


Sontak, Kayla terperanjat ketika mendengar suara bariton Burhan yang berdiri dari jarak sekitar lima meter dari posisinya saat ini.


Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Arumi, Burhan berjalan setengah berlari mendekati mantan sahabat dari sang majikan.


Tanpa ada rasa takut sedikit pun, dia terus melangkah hingga suara derap langkah berasal dari sepatu pentofel hitam milik pria itu menggema memenuhi lorong apartemen. Dengan modal ilmu bela diri, dia yakin bisa menghadapi musuh di hadapannya.

__ADS_1


Walaupun usia sudah tak lagi muda, tetapi skill di bidang ilmu bela diri tak perlu diragukan lagi. Sewaktu muda dia pernah berlatih pencak silat dan rupanya ilmu itu sangat bermanfaat di usianya yang sekarang. Dia bisa menggunakan kemampuannya itu untuk melindungi Arumi dan juga Nyimas dari orang-orang yang berniat jahat.


"Bu Kayla mau apa di depan apartemen Bu Arumi? Jika Ibu berniat jahat, sebaiknya pergi dari sini karena saya tidak akan membiarkan satu orang pun mengganggu apalagi menyakiti Bu Arumi."


Kayla melangkah mundur saat Burhan berdiri persis di hadapannya. Sosok pria bertubuh tegap dengan tinggi badan sekitar 180 cm membuat mantan model itu sedikit ketakutan.


"Ehm ... a-aku hanya ingin menemui Arumi. B-bapak jangan berburuk sangka dulu kepadaku," jawab Kayla terbata-bata. "Aku tidak berniat buruk, Pak."


Akan tetapi, Burhan tak mudah percaya begitu saja. Dia tetap berdiri tegap sambil menatap lekat ke arah Kayla. Memperhatikan penampilan wanita itu dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Setiap gerak geriknya tidak luput dari pandangan Burhan.


'Ya Tuhan, besar sekali rintangan yang menghadangku. Aku cuma mau meminta maaf tapi mengapa banyak sekali kerikil yang menghadang,' batin Kayla. Merasa miris dengan keadaannya saat ini. Akibat pengkhianatan yang pernah dilakukan olehnya, kini tak banyak orang yang percaya dengan ucapan wanita itu.


Akhirnya Kayla mengalah. Mungkin ini memang salah satu langkah yang harus dihadapi untuk bisa mendapatkan maaf dari wanita yang dulu pernah suaminya direbut oleh dia.


"Dengan teganya aku merebut suami dari sahabatku sendiri padahal aku tahu bagaimana hubungan rumah tanggamu bersama Mas Maehsa dulu. Kalian saling mencintai dan hidup bahagia. Namun, karena dendam yang telah mendarah daging, membuatku gelap mata dan mau menerima tawaran Tante Naila untuk merebut Mas Mahesa dari tanganmu," papar Kayla.


"Kini, aku sadar jika yang kulakukan di masa lalu adalah perbuatan salah. Kamu dan aku sama-sama wanita, tapi aku tega menyakiti perasaan wanita lain demi kebahagiaanku sendiri. Aku ... menyesal, Rumi."


Mata Kayla mulai berkaca-kaca, mengingat bagaimana dulu dengan teganya dia merebut apa yang telah menjadi milik orang lain. Demi balas dendam, hati nurani wanita itu telah mati hingga tak memikirkan perasaan orang lain. Dampak buruk apa yang akan ditanggung olehnya atas semua perbuatan yang dia lakukan, wanita itu sama sekali tak memikirkannya.


Di seberang sana, tampak Arumi tengah berdiri dengan debaran jantung tak beraturan. Perasaan wanita itu campur aduk antara sedih dan bingung. Wanita itu tak mengerti mengapa suasana hatinya cepat berubah-ubah. Mungkinkah memang hormon kehamilan yang memperngaruhi Arumi menjadi mudah emosional ataukah memang pada dasarnya hati wanita itu rapuh bagai kayu yang berusia puluhan tahun, apabila disentuh maka akan terpecah berai.

__ADS_1


"Aku tahu, hanya dengan mengucapkan kata maaf saja tidak bisa mengembalikan semuanya. Tidak juga dapat menyembuhkan rasa sakit yang kutorehkan di dalam hatimu. Namun, setidaknya dapat membuat hidupku lebih tenang tanpa harus dihantui rasa bersalah yang tak berujung," timpal Kayla. Bibir wanita itu gemetar, dan bulir air mata pun mulai membasahi wajah cantik sang model.


Tak kuasa menahan butiran kristal itu agar tak jatuh berderai. Dia menangis terisak mencurahkan isi hatinya yang terdalam. Sudah tak memedulikan lagi bagaimana jika para tetangga Arumi mendengar suara tangisan itu, dan menjadikan dirinya sebagai bahan berita di dunia maya. Yang terpenting bagi Kayla saat ini adalah meluapkan rasa sakit hati atas penyesalan yang dirasakan olehnya selama ini.


Mbak Tini yang sedari tadi setia berdiri menemani Arumi, tampak begitu mengkhawatirkan keadaan sang majikan sebab dia tanpa sengaja melihat air mata meluncur begitu saja di antara kedua pipi dokter cantik itu. Dia takut majikannya itu akan menangis tergugu sampai tak dapat mengendalikan emosi.


"Bu Arumi?" ucap Mbak Tini seraya menyentuh bahu sang majikan. Pandangan mata memperhatikan raut wajah Arumi yang diselimuti kesedihan.


Arumi tersentak kaget ketika telapak tangan mbak Tini menyentuh pundaknya. Lantas, dia menarik napas panjang sambil mengendalikan diri agar dirinya kuat dan tak mudah menangis.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Arumi mulai membuka suara menanyakan sesuatu yang mengganjal isi pikirannya. Satu kalimat menarik yang sukses membuat wanita itu penasaran.


Dengan sedikit ragu, Arumi membuka suara. "Dendam apa yang kamu simpan sehingga tega merebut apa yang kumiliki? Memangnya aku salah apa padamu, Kay? Selama ini, aku selalu bersikap baik padamu, melindungimu dari kenakalan anak-anak panti dan selalu menjadikan tubuhku sebagai perisai. Tapi ... kamu malah membalas semua kebaikanku dengan sebuah pengkhianatan. Kamu benar-benar jahat, Kayla!" ucap Arumi, mengeluarkan isi hati yang dipendam olehnya selama ini.


Tubuh wanita itu nyaris terjatuh ke lantai. Beruntungnya mbak Tini dengan sigap memeluk Arumi dan membantunya duduk di bangku kayu yang sengaja disediakan khusus bagi penghuni apartemen ketika memasang dan melepas alas kaki.


Masih dalam keadaan menangis, Kayla menjawab. "Itu semua karena--"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2