
Perawat yang sedang mencatat hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pasien segera menghentikan sejenak kegiatannya. Ia tajamkan indera pendengaran ketika mendengar suara gumaman lirih bersumber dari Lena. Pandangan mata beralih pada sebelah tangan yang tak terkena luka bakar. Tangan sebelah kanan Lena berkedut lemah. Meskipun begitu, netra wanita berseragam perawat dapat menangkap gerakan tersebut.
Tak ingin membuat waktu terlalu lama, perawat wanita itu segera menekan tombol di samping ranjang memberitahu jika pasien di ruang ICU telah menunjukan tanda-tanda bahwa dia sudah melewati masa kritis.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit, dokter senior berambut keperakan berhambur mendekati pembaringan Lena. "Bu Lena, apakah Anda dapat mendengar suara saya? Jika iya, tolong gerakan tanganmu lagi."
Sekuat tenaga Lena melakukan perintah dokter Imam. Wanita itu melipat jemari tangan hingga membentuk sebuah kepalan.
Seulas senyuman terlukis di wajah dokter Imam. Merasa bahagia karena akhirnya Lena telah sadarkan diri. Walaupun sempat mengalami koma selama dua hari, tetapi wanita itu dapat selamat dari insiden kebakaran yang terjadi beberapa hari lalu.
"Alhamdulillah, pasien berhasil melewati masa kritis," ucap Dokter Imam. "Suster, segera hubungin keluarga pasien dan beritahu jika Bu Lena telah siuman."
"Baik, Dokter Imam." Lantas, perawat wanita itu melangkah meninggalkan ruang ICU.
***
Raihan masih mematung di tempat, menatap kepergian sang kakak dengan sejuta rasa. Perasaan pria itu campur aduk saat ini antara sedih, kecewa membaur menjadi satu. Ia pikir dengan meminta maaf dapat mengembalikan ikatan persaudaraan antara dirinya dengan Rayyan. Namun, ternyata kakaknya itu malah menginginkan menjaga jarak dengannya.
Alih-alih memulai dari awal, Rayyan ingin kalau Raihan menjauh dan tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di hadapan pria itu. Dosen tampan itu sadar untuk dapat mengobati luka yang ditorehkan oleh Lena membutuhkan waktu cukup lama atau bisa saja tak akan pernah sembuh seumur hidup.
Raihan menghela napas begitu lirih. Dalam hati berharap semoga Tuhan membantu dirinya untuk dapat berbaikan dengan Rayyan dan kakaknya bersedia menerima pria itu sebagai adik kandungnya. Walaupun kemungkinan itu kecil, tetapi ia yakin kalau Tuhan sudah berkendak maka terjadilah.
__ADS_1
Ketika pria itu tengah asyik termenung, suara dering ponsel mengembalikan kesadarannya. Ia terkesiap dan terlonjak kaget ketika benda pipih berukuran 6.5 inci bergetar dari dalam saku celana bahan warna hitam.
Kedua alis saling tertaut satu sama lain saat melihat ID pengirim tidak ada di daftar buku telepon. "Nomor tidak dikenal," gumam Raihan sambil terus menatap layar ponsel. Di depan sana terpampang 021, yang merupakan kode nomor telepon area Jakarta.
Diselimuti rasa penasaran, pria itu menekan tombol hijau untuk memastikan apa yang diinginkan oleh si penelepon. "Halo, ini siapa ya?" tanyanya setelah sambungan telepon terhubung.
"Dengan Pak Raihan? Saya Dela, dari ruang ICU Rumah Sakit Harapan Indah. Ingin memberitahukan bahwa saat ini Bu Lena telah sadarkan diri. Dokter Imam meminta Bapak segera datang ke rumah sakit saat ini juga," ucap perawat wanita di seberang sana.
"Apa? M-mama ... saya sudah siuman! Sungguh? Suster ... tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Raihan, memastikan apa yang didengarnya bukannya halusinasi. Sedikit tidak percaya kalau sang mama telah melewati masa kritis.
Perawat di seberang sana menyunggingkan sebuah senyuman. "Tidak, Pak. Bu Lena sungguh telah sadarkan diri. Baru saja dilakukan pemeriksaan oleh Dokter Imam. Oleh karena itu, beliau meminta saya menghubungi Bapak untuk menyampaikan kondisi Bu Lena pasca terbangun dari koma."
Setibanya di rumah sakit, Raihan bergegas naik menuju lantai nomor 3. Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, pria itu berderap menyusuri koridor rumah sakit.
Membuka pintu dengan sangat hati-hati, menjaga agar suasana ruangan tetap tenang. "Mama! Ya Tuhan, Mama sudah sadar?" seru Raihan seraya berhambur mendekati ranjang rumah sakit. Di atas pembaringan itu seorang wanita paruh baya terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis terpasang di tubuh.
"Mama, ini aku, Raihan! Bicaralah, Ma!" Raihan kembali berucap. Terlalu bahagia hingga bola mata pria itu mulai berkaca-kaca. Ia ciumi punggung tangan Lena yang tidak terkena luka bakar. Mengusap lembut puncak kepala wanita itu dengan penuh cinta. Walaupun sebagian wajah sang mama terbakar, tak tampak sedikit pun rasa jijik pada pria muda itu.
Segera duduk dan memandangi ranjang Lena. "Mama, bangun. Ini aku, Raihan. Aku ... rindu sekali padamu, Ma!" ucap Raihan lirih.
Kelopak mata Lena mengerjap lemah. Bulu mata lentik itu bergerak perlahan. "Raihan?" Lena masih tidak bisa mengingat kejadian terakhir. Bingung, karena melihat anaknya ada di rumah sakit. Pasalnya, anak lelakinya itu telah pergi meninggalkan rumah beberapa bulan lalu. Namun, kenapa sekarang ada di hadapan wanita itu. "Mama, di mana, Nak? Lalu, kenapa kamu ada di sini?"
__ADS_1
Menautkan jemari tangan, lalu menciuminya dengan lembut. "Mama ada di rumah sakit. Unit apartemen yang ditinggali oleh Mama dan Papa kebakaran."
"Kebakaran?" Ingatan Lena kembali akan kejadian beberapa hari lalu, sesaat sebelum dirinya pingsan. "Papamu, di mana, Nak? Apakah ... petugas pemadam kebakaran berhasil menyelamatkannya?" Hal pertama yang dia ingat adalah Firdaus. Sosok pria tampan yang telah menikahinya secara siri.
"Saat itu terjadi kebakaran dahsyat di unit apartemen kami. Tampaknya, Puspa lupa mematikan kompor sebelum dia pergi ke mini market. Kemudian ... lelaki itu--" Lena tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kepingan kejadian saat Arman terbakar di depan mata kepalanya masih terekam jelas di memori ingatannya bagai sebuah film yang diputar di bioskop.
Tubuh wanita itu gemetar hebat. Bulu kudu merinding dan raut wajah menunjukan ekspresi ketakutan berlebih saat membayangkan kejadian itu.
"Ssst! Tenanglah, Ma. Semua sudah berakhir. Mama sudah selamat walau mengalami luka kabar. Tapi setidaknya Mama dapat selamat dan bisa berkumpul lagi denganku," jawab Raihan. Tak kuasa menitikan air mata. Dalam hati merasa bersyukur karena Tuhan telah menyelamatkan kedua orang tuanya. Walaupun pada akhirnya Firdaus harus meninggal dunia karena terlalu banyak menghisap asap kebakaran, tetapi dia dapat melihat sang papa untuk terakhir kali dan meminta maaf pada pria paruh baya itu.
Lena menatap ke arah Raihan, anak yang terlahir dari hasil hubungan terlarang dengan suami orang. "Raihan. Keadaan Papa-mu, bagaimana, Nak? Apakah dia baik-baik saja?"tanyanya. "Sebelum Mama sadarkan diri, Mama melihat Papa-mu pergi bersama Mbak Mei Ling. Mama menangis tersedu, memohon pada wanita itu untuk tidak membawa Papa. Namun, dia tetap membawa Papa pergi untuk selamanya."
"Dalam mimpi Mama sudah berlutut di hadapan wanita itu. Bahkan Mama pun meminta maaf padanya, tetapi dia tak mengindahkan suara Mama. Mama takut kalau Mbak Mei Ling benar-benar membawa Papa-mu pergi." Air mata Lena berlinang, ia mengadu kepada anaknya atas mimpi buruk yang dialaminya sebelum siuman. Mimpi itu tampak begitu nyata.
Raihan hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa. Lidah pria itu kelu, bibir terkunci rapat, suara tercekat hingga tak ada satu patah kata pun mampu terucap dari bibirnya.
.
.
.
__ADS_1